
"Hufttt..", sepertinya waktu di pagi ini enggan untuk berputar.Buktinya,pengajian di kelasku masih berlangsung.Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi,tapi entah kenapa suasana atmosfir di kelasku terasa sangat panas tidak seperti biasanya.
"Semoga besoknya ustadz Yusuf bisa hadir kembali,",ucapku dengan gaya malas.
"Kangen yaa,,"Nita mulai menggodaku,dan jangan lupakan kia yang juga selalu hadir menemani Nita untuk menggoda dan banyak hal lagi yang selalu dilakukan oleh kedua sahabat ajaibku ini.
"Fina,biasanya kamu semangat untuk bertanya,hari ini kok kelihatannya kamu lesu gitu?",tanya kia serius.
"Eumm,,iya nih aku lagi bad mood aja",jawabku menyipitkan mata, seperti layaknya orang tersenyum.
__ADS_1
"Fina,insting aku nih ya,ustadz Zul jatuh hati sama kamu",ujar Nita sedikit berbisik.
"Iya,udah beberapa kali ustadz Zul melirik kamu fin,."huft,aku tau itu.Sudah beberapa kali dari setelah ustadz Zul mengabsen namaku,pandangan kami berdua saling bertabrakan.Dan saat netraku beradu dengan netra sang ustadz,aku seperti merasakan perasaan gelisah dan sulit untuk bernafas."Aku tidak mau jatuh cinta sekarang",besitku dalam hati.
***
Ustadz Zul menerangkan,bab shadaqah dari kitab Nashaihul ibad.Kesimpulan yang aku peroleh,sekecil apapun itu bila kita niatkan untuk bershadaqah Allah lipatkan fahala kepada orang tersebut,bayangkan saja bila kita benar-benar bershadaqah,fahalanya akan lebih tinggi daripada fahala niat tadi.
Cukup berkesan menurutku,pertemuan dengan ustadz pertama yang menggantikan ustadz Yusuf.
__ADS_1
Ku lihat jam dinding di kelasku sudah menunjukkan pukul sebelas tiga puluh lima,pertanda pengajian hampir usai lima belas menit lagi.Ku lirik ustadz Zul yang sedang memasukkan kitabnya ke dalam tas.
"Degg",aku tertegun,jantungku lagi-lagi berdetak,ku kira ustadz Zul tak lagi melirikku karena bersiap-siap untuk pulang.Namun, dugaan ku sangat meleset.Kami saling melirik,dan lirikan kali ini membuat pandangan kami bertemu untuk yang terakhir kalinya.Melalui tatapannya yang tajam, menusuk jantung hatiku,seperti singa yang siap menerkam mangsanya.Aku takut tatapannya yang buas,bertambah senyum manisnya tidak terbit sedikitpun di wajah sang ustadz.
"Aku tidak kuat dengan tatapan ini,aku benci",sorakku dalam hati.Aku tidak memaki ustadz Zul,namun aku hanya takut dan tidak suka matanya yang tajam dan buas.Kutundukkan wajahku dengan cepat,dan kupejamkan kedua mataku yang tertangkap basah sedang melirik pemilik manik mata hitam yang buas itu.
"Baiklah semuanya,saya pamit pada antum sekalian.Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu."ujar ustadz Zul berpamitan dengan suara tegas.Tapi kali ini, ustadz Zul menampilkan senyum manisnya lagi.Dahiku mengernyit bingung melihat sosok ustadz yang ada di depan kami semua.Dalam hati ku berkata.
"Apa mataku mulai rabun yaa,masak baru tadi tatapan buas itu berubah menjadi manis seperti sekarang?"aneh,fikirku.
__ADS_1