Lasta Qais(Bukan Cinta Qais)

Lasta Qais(Bukan Cinta Qais)
Ustadz Zul,, MELEDAK


__ADS_3

Rasanya mata tak sabar untuk memandang,hati berdebar ingin menyapa,namun langkah ustadz Zul sangat berat dan seperti melayang di udara saat langkahnya hampir tiba di area kelas ustadz Zul memegangi dadanya yang deg-degan,sambil menghapus keringat dingin di dahinya dengan sapu tangan yang diambil dari sakunya.Dann,saat langkah ustadz Zul berhenti di depan pintu kelas yang ditunjukkan oleh ustadz Yusuf kemarinnya,hatinya bertalu-talu.


"Huft,,lebih berat dari ikut ujian semester terakhir dulu rupanya,"ustadz Zul memegangi dadanya,seolah membisikkan sesuatu.


"Tap,,tap,,tap,"suara langkah kaki seseorang dari arah kanan ustadz Zul mendekat ke arahnya.Dan,,


"Afwan ustadz,bukannya ini kelasnya ustadz Yusuf ya?"tanya ustadz Ali selaku pengawas kedisiplinan di pondok Al hidayah.


"Eumm,,iya ustadz,iniii,eum ustadz Yusuf nya lagi berhalangan.Jawab ustadz Zul gugup,dengan keringat semakin membanjiri permukaan wajahnya.


"Eumm,memangnya ustadz Yusuf kenapa tadz,sakit atau apaa?,kenapa nggak ada kabar ke saya?biasanya kalau guru pengajarnya berhalangan,pasti ada pemberitahuan ke saya."pertanyaan ustadz Ali sukses membuat ustadz Zul tegang,dan tak mampu bernafas.


"Astaghfirullah ya Allahhh,,kenapa aku sampai lupa kemarin!,"jerit hati ustadz Zul panik.

__ADS_1


"Ehemmm",ustadz Zul berdehem menetralkan kondisi jantungnya yang semakin kuat karena panik.


"Ini tadz,mungkin ustadz Yusuf lupa mengabari ustadz Ali.Soalnya,kemarin itu ustadz yusuf cuma suruh saya buat gantiin beliau,saya juga nggak sempat nanya apa-apa tadz."kilah ustadz Zul.Lain dengan isi hatinya yang sedang menjerit."Ya Allah ampuni dosa saya ya Allah,tapi saya tidak berbohong,karena memang faktanya kemarin itu mendadak rencana itu disepakati ustadz Yusuf.Engkau maha mengetahui ya Allah,ampuni hambamu ini."terlihat ustadz Ali menganggukkan kepalanya.Ustadz Zul pun mulai merasa lega,dan tersenyum simpul.Mungkin,alasan yang dia beri membuat ustadz Ali tidak bertanya lagi,fikirnya.


Namun,dugaannya salah.Menjadi seorang pengawas kedisiplinan itu harus tegas,dan harus jelas.Seperti ustadz Ali yang sangat pantas berada di posisi itu karena sifatnya yang tegas dan menyelidik.Ustadz Ali kembali meminta penjelasan kepada ustadz Zul.


"Afwan ustadz,bukannya ustadz juga ada kelas mengajar sendiri ya?"


"Waduhh,, ustadz Ali yang terhomattt,kenapa ingatan anda sangat kuat.."ustadz Zul berkata dalam hati.Kali ini ustadz Zul tidak bisa mengelak lagi.Haruskah dia menjawab dengan sebenarnya.


"Ustadz Zul,?"panggil ustadz Ali menuntut dengan suara tegas.


"Astaghfirullah,"kaget ustadz Zul dan secara spontan matanya melihat tatapan menuntut dari ustadz Ali.

__ADS_1


"Ya Allahhh,,aku pasrah kali ini"ucap ustadz Zul lemah,dalam hatinya.


"Ini ustadz,kemarin itu saya,,ini...."


"Ustadz Ali!,"panggil seorang wanita yang sedang berjalan menghampiri ustadz Zul dan ustadz Ali,kelihatannya dia adalah seorang ustadzah di sini.


"Tadz,anda dipanggil sama kiayi Rahman,"ujarnya dengar suara terengah-engah,dan sempat melirik ke arah ustadz Zul sekilas.


"Oh baik-baik,saya akan segera kesana.Ustadz Zul,iya kan anda ustadz Zul?"tanya ustadz Ali memastikan jika dia tidak salah orang.


"Iya ustadz,benar saya ustadz Zul."jawabnya lancar.Kali ini,ustadz Zul menampilkan senyum termanisnya karena dia terbebas dari interogasi ustadz Ali tadinya.Tanpa disadarinya,senyum itu membuat seorang ustadzah terpukau melihatnya.


"Saya permisi dulu ustadz Zul.Silahkan masuk ke kelasnya tadz."ujar ustadz Ali dengan senyum simpul.

__ADS_1


"Hufttttttttt, akhirnyaaaaaa,"gumam ustadz Zul menghembuskan nafas lega.


"Semoga aja ustadz Yusuf nggak muncul di hadapan ustadz Ali.Bisa gawat nantinya.Ya Allah tolong saya ya Allahhh,"ucap ustadz Zul dalam hati,memundukkan kepalanya."Dan,aksi selanjutnya di mulai."dalam hati ustadz Zul terkekeh sendiri dengan ucapannya.


__ADS_2