
Di teras rumah kiai Rahman,ustadz Zul duduk sendiri di sebuah bangku santai menunggu kiai Rahman keluar dari kamarnya.Tatapannya lurus ke depan memikirkan masa depan yang ingin dirajut bersama safinah.Sesekali ustadz Zul meraup wajahnya dengan kasar.
"Astaghfirullahhhhhh,,,,"Desah ustadz Zul menahan kegalauan dan rasa tak sabarnya ingin segera memiliki Safinah untuknya.
"Ya Allahhh,,,,kenapa rasa di hati ini semakin hari semakin besar menginginkan safinah.Bagaimana caranya aku mendekati safinah,jika dia saja mengabaikan aku.?,,hufttttttttt.."
"Ustadz zull,,"sapa kiai Rahman yang baru keluar dari arah pintu depan.
"Maaf,lama menunggu."kata kiai Rahman sedikit tak enak.
"Tidak apa-apa kiai."jawab ustadz Zul sopan sambil berdiri memberi hormat kepada kiai Rahman.
"Duduklah...!"perintah kiai Rahman yang sudah duduk di samping ustadz Zul.
"Jadi begini ustadz Zul,saya mau minta tolong sama ustadz,tapi jika ustadz Zul berkenan."Kata kiai Rahman dengan suara seraknya.
"Aduhhhh,,,kok perasaan aku nggak enak."bisik hati ustadz Zul.
"Insyaallah jika bisa,saya akan membantu kiai."jawab ustadz Zul dengan senyuman dan dengan nada sopan.
__ADS_1
Bibir kiai Rahman melengkung mendengar jawaban dari ustadz Zul.
"Begini ustadz,saya mau minta tolong antarkan kitab-kitab ini untuk murid saya yang ada di desa Bayuwangi,dekat pesantren tahfidh itu."jelas kiai Rahman.
"Ohh tentu kiai,kapan saya antarkan?,"tanya ustadz Zul tanpa menanyakan siapa murid tersebut.
"Besok-besok juga boleh,,"ucap kiai Rahman sedikit memperhatikan wajah ustadz Zul yang serius tanpa tanda tanya darinya.
Ustadz Zul menunggu pembicaraan kiai Rahman selanjutnya tanpa berani berpamitan terlebih dahulu.Hatinya tak sabar untuk melanjutkan pendekatannya dengan Safinah.Ustadz zul melirik kiai Rahman yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya.Tak ada pertanyaan dan pernyataan lain dari sang kiai.
"Ehmmm,,ustadz kalau mau pamitan silahkan!,,saya mau berangkat juga sekarang."akhirnya kiai Rahman mengatakan sesuatu yang ditunggu-tunggu dari tadi.
Sesampainya depan kamar ustadz Zul,beliau memilih bersantai di kursi kecil di sana.Suasana sunyi membuat sepi semakin melanda hati.Getaran asmara membuat otak tak jernih berfikir.Ustadz Zul mengambil telepon genggamnya di saku,dan mencari kontak Safinah.
"Tut,,"bunyi tombol panggil yang ditekan.
"Heummmm,"sepertinya Safinah tak akan pernah mau mengangkat telepon dari orang asing, ustadz Zul semakin depresi dibuatnya.
"Eumm,,coba aku SMS saja."gumamnya sendiri.
__ADS_1
send
"Assalamualaikum Safinah."tulis ustadz zul.
Ustadz Zul kemudian kembali memasukkannya ke dalam saku.
Dilihatnya sebuah kotak dalam kertas kresek putih yang baru saja diterima dari kiai Rahman.
"Kira-kira,ini kitab apa yaa?"tanyanya sendiri sambil menelisik kotak berwarna hitam tersebut.
"Kata kiai,besok juga boleh ngantarnya,, tapiii,kalau bisa hari ini,kenapa harus tunggu besok kan?"katanya lagi.
"Astaghfirullah,,,,aku lupa tanya sama kiai ini untuk perempuan atau laki-laki ya,?"
"Alamatnya,desa Bayuwangi,,rumah nomor tujuh belas."Saat ustadz Zul sedang berfikir alamat yang akan ditujunya nanti,tiba-tiba matanya berbinar.
"Bayuwangi,,?itukan,,,,tempat tinggalnya Safinah?,,ya Allahhh..."ustadz Zul tidak bisa berkata lagi,entah ini sebuah kebetulan atau apa.Yang jelas sekarang dada ustadz Zul bergemuruh merasa senang berbunga-bunga dengan apa yang sedang terjadi.
"Aku harus cari tau nanti..Ohhh aku tauuu...Askiaaa petunjuknya..!"ucapnya penuh harap.
__ADS_1