
"Assalamualaikum askia.." suara usatdz Zul memberi salam lewat telepon genggamnya.
"Waalaikum salam ustadzz,,"jawab kia dengan suara putus-putus.
"Ehmm,,ustadz menganggu yaaa?"tanya ustad Zul merasa tak enakan.
"Saya ngantuk ustadz,,,"jawab kia setengah sadar,dan kemudian meralatnya.
"Ehh nggak ustadzzz,,nggak ada apa-apa...Kenapa ya?ehmmm ada yang bisa saya bantu ustadz,?,,"ustadz Zul menahan tawanya mendengar suara kia yang terbata-bata yang berusaha meralat perkataannya yang awal.
"Eumm,,kalau kamu ngantuk ya udah,nanti ustadz Zul telfon lagi askia."usatdz Zul sengaja memancing kia,yang pasti akan mengeluarkan kata-kata panjangnya.
"Ehhhh,nggak kok ustadzzzzz,,saya baru bangun maksudnya...ustadz Zul mau tanya apa?,,bagaimana kabarnya dengan Safinah ustadz?"dan benar saja kia bercerocos panjang di ujung sana.
"Hhhhhhhhhha..."tawa ustadz Zul pecah karena tebakannya tidak melesat.
Sedangkan di ujung sana kia menjauhkan ponselnya dari telinga karena kaget dengan suara tawa sang ustadz.
"Apaan sih,,ngapain juga nelpon orang ketawa-ketawa giniii.."gumam kia cemberut sambil membenarkan tidurnya.
"Kamu ngomong apa askia..?"
"Saya belum ngomong apa-apa kok ustadz."jawab kia dengan mata membulat takut ustadz Zul mendengar gumamannya.
Ustadz Zul hanya tersenyum mendengar jawaban kia,karena gumamannya tadi jelas terdengar di gendang telinganya walaupun dengan suara kecil.
"Ehmm,,,jadi gini askia,,apa benar Safinah tinggal di kampung Bayuwangi?"tanya ustadz zul pelan.
"Iya,benar ustadz,?"jawab kia.
"Dekat sama pesantren tahfidh itu nggak,?"
"Masih jauh itu ustadzz,rumah Safinah agak masuk pedalaman.Kalau nggak salah,gang yang dekat dengan kebun teh,tapi saya nggak tau rumah nomor berapa ustadz,,saya udah lupa."jelas kia.
"Eumm,,kamu pernah ke rumahnya Safinah?"tanya ustadz Zul lagi.
"Belum ustadz,"jawab kia singkat.Ustadz Zul mengernyitkan dahinya mendengar alamat yang diberikan oleh kia,dan kurang puas dengan jawabannya.
"Ohh,,gitu yaa.Eumm boleh saya tau nama ayahnya Safinah?"tanya ustadz zul,mungkin dengar mengetahui nama orangtuanya bisa memudahkan untuk mencari alamat rumah Safinah.
"Safinah tinggal sama ibunya ustadz,ayahnya sudah lama meninggal.Sedangkan kakaknya sudah nikah,dan tinggal bersama suaminya."jawaban kia membuat ustadz Zul berfikir,jika Safinah adalah anak bungsu dari keluarga kecilnya.
__ADS_1
"Eumm,,berarti Safinah cuma berdua sama kakaknya ya,?"tanya ustadz Zul memastikan.
"Iya ustadz,"jawab kia.Setelah itu,ustadz Zul diam beberapa saat,seperti memikirkan sesuatu.
"Askiaa,, terimakasih infonya yaa,maaf sudah menganggu mu tidur."ucap ustadz Zul ingin mengakhiri telponnya.
"Iya ustadz,sama-sama."jawab kia di ujung sana,dan benar saja begitu ustadz Zul mematikan teleponnya,kia langsung melanjutkan tidur nyenyaknya di kamar ber AC.
***
Sorenya,ustadz Zul sudah rapi dengan baju berwarna kuning dan sarung berwarna hitam,tak lupa juga peci hitam beludru yang selalu ia kenakan.
Beliau akan pergi ke kampung bayuwangi,yang hanya berjarak sekitar lima kilometer dari pondok Al hidayah.Niatnya,untuk mengantarkan titipan kiai Rahman untuk penerimanya.Dan juga,ustadz Zul bertekad untuk mencari alamat rumah Safinah nantinya.Ustadz Zul mengambil kotak hitam yang berisi kitab itu,dan mengambil kunci motor matic hitamnya.
"Bismillahirrahmanirrahim..."ucap ustadz Zul menarik nafas beratnya.Jakunnya yang sedikit menonjol terlihat naik turun,ketika beliau menelan salivanya.Hati dan fikirannya dipenuhi dengan nama Safinah.Bahkan,bisa dikatakan tujuan utamanya ini adalah pergi ke kampung Safinah,sedangkan mengantar titipan sang kiai adalah sambilannya.
"Semoga aja ya Allahhh...tolong hambamu ini yang hampir gila karena cinta ini ya Allahhh..."gumamnya sendiri sambil menyalakan motornya.
"Druuuuuuu"suara deru motor ustadz zul yang baru saja berlalu.
Ustadz Zul membawa motor dengan kecepatan maksimal,beliau membelah beberapa kampung untuk menuju ke kampung Bayuwangi.Tidak sampai setengah jam,motor matic hitam itu mulai masuk area pesantren tahfidh yang dimaksud oleh kiai Rahman.Ustadz Zul mulai melirik setiap rumah di gang pesantren itu,mencari rumah yang bernomor tujuh belas.
Karena terlalu fokus mencari-cari angka tujuh belas,ustadz Zul sampai lupa kalau jalanan di sana rusak dan banyak yang bolong.
"Cittttttttttt,,"suara rem dicekat sangat kuat.
"Bukkkkkkk."suara kotak hitam berisi kitab itu jatuh karena ustadz Zul tak sempat menahannya.
"Astaghfirullahhhhhh...."ucap ustadz Zul kaget.Wajahnya panik dengan apa yang baru saja terjadi.Dengan cepat,ustadz Zul turun dari motornya dan mengambil kotak tersebut untuk meletakkan kembali di motornya.Keringat mulai mengalir di dahi ustadz Zul,bukan karena apa.Di sana ada dua orang perempuan cantik yang menyaksikan ustadz Zul yang hampir jatuh.Andai saja ustadz Zul bisa menghilang untuk sejenak,agar tidak merasakan malu yang luar biasa seperti ini."Huftttt,,"ustadz Zul membuang nafasnya.
Saat ustadz Zul ingin melajukan motornya kembali,wanita paruh baya dengan wajah yang cantik,dengan balutan baju muslimah tadi,mendekat ke arahnya.
"Ustadz,,tidak apa-apakah?"tanya wanita itu dengan suara sangat lembut.,mengingatkan ustadz Zul kepada ibundanya di kampung sana.
"Eumm,,Alhamdulillah saya tidak apa-apa Bu,,"jawab ustadz Zul menahan malu namun menampilkan senyum manisnya.
"Hati-hati ustadz,di sini jalannya memang rusak."kata ibu itu lagi.
"Iya,,makasih Bu.Kalau gitu saya jalan dulu."ucap ustadz zu,dan langsung meneruskan perjalannya agar tidak berlama-lama dengan orang yang sudah melihat kejadian yang memalukan itu.
Kini ustadz Zul melajukan kendaraannya perlahan-lahan,dan melihat nomor rumah yang dilewatinya sudah mencapai nomor dua puluh ke atas.
__ADS_1
"Lho,kok dua puluh.Berarti tujuh belas kelewat dong.!"serunya dalam hati.
"Ya Allahhh,,apes banget sih.Belum juga nyari rumahnya Safinah,ini aja udah keliling kayak pengirim paket."akhirnya,ustadz Zul memutar motornya kembali mencari rumah yang bernomor tujuh belas yang telah dilewatinya tadi.
"Ini diaaa!"ucap ustadz Zul lega.
"Lhoo,inikan rumah ibu yang tadi..?"gumamnya sendiri.
"Waduhhhh,,,ini benar apess banget ya Allahhh.!Jadi rumah nomor tujuh belas yang ini,?,pantesan aku nggak lihat tadi,orang udah maluu gara-gara jalan rusak kek gini,,lagii!!."ustadz Zul mengomeli jalan yang bolong yang dilewatinya.
"Astaghfirullahhhhhh,,malu bangett ya Rabb,,huft.."dengan menahan malu,ustadz Zul turun dari motornya memegang kotak hitam itu,dan melangkah ke depan rumah nomor tujuh belas itu.
"Assalamualaikum..."suara ustadz Zul memberi salam.
"Waalaikum salam..."jawab seorang wanita dari dalam,dengan suara yang berbeda dari ibu yang berbicara dengan ustadz Zul barusan.
"Ceklek,"suara pintu terbuka.
"Deg,,,"tatapan ustadz Zul langsung mengena ke dalam mata seorang gadis cantik yang keluar dari balik pintu.Tapi itu tak berlangsung lama,ustadz Zul hanya sekedar memberinya dan langsung pamit,menyusul sang pujaan hati ke kampungnya yang entah cintanya dibalas seperti doa yang selalu dipanjatkannya.
"Ini ada kiriman dari kiai Rahman,di pondok Al hidayah.."ucap ustadz Zul tanpa berbasa-basi lagi.
"Ohh terimakasih banyak ustadz,,ini ustadz Zul ya?kata kiai Rahman beliau mengirimnya pada ustadz Zul."kata gadis itu.
"Benar,saya ustadz Zul."jawab ustadz Zul sangat terlihat gelagatnya yang tergesa-gesa.
"Siapa aisss?"suara lain muncul dari balik pintu.
"Ini bundaa,,,"
"Ehh inii ustadz yang tadi kan?"tanya bunda Aisya pada ustadz Zul,tanpa mendengar habis jawaban dari Aisya.
"Iya Bu,,"jawab ustadz Zul membuang mukanya karena malu.
"Saya tadi mencari rumah yang bernomor tujuh belas,mau kirim titipannya kiai Rahman,ternyata udah kelewat tadi."jelas ustadz Zul tanpa menunggu ditanya.Ingin ustadz Zul langsung pergi dari sana,dan segera menuju rumah Safinah,namun sepertinya ini akan sedikit memperlambat niat utama ustadz Zul.
"Masyaallahhh,,,jadi anda ustadz Zulll?,,mampir dulu ustadzzz!"ajak sang bunda.Sedang Aisya mencuri-curi pandang ke arah ustadz Zul yang sedikitpun tidak melirik ke arahnya.
"Nggak usah Bu,,saya mau ke suatu tempat,jadi tidak bisa berlama-lama."jawab ustadz Zul sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.
"Padahal,bunda dan Aisya sudah menunggu ustadz dari tadi,bunda juga sudah menyiapkan jamuannya."ucap sang bunda.
__ADS_1
"Ohh jadi nama gadis ini Aisya."bisik hati ustadz Zul dengan sedikit menoleh ke arah sang gadis yang terlihat malu-malu.
"Lain kali saja Bu,,"ucap ustadz Zul menolak secara halus.Dan masih memanggil wanita paruh baya itu dengan ibu,walaupun bunda Aisya menyebutkan dirinya dengan sebutan bunda.