
Kerajaan Pedral
Dinding istana milik Raja Trill bergetar. Debu-debu kecil ikut luruh dari dinding, sebagian ada yang mengambang seperti asap. Terdengar gemuruh kaki yang menerbangkan debu makin banyak, seluruh prajurit tampak kelabakan. Ada yang membawa tombak, ada juga yang berpedang. Keamanan di depan kamar yang memiliki dua patung singa, telah diperketat. Di dalam kamar itulah Putri Livinett berada.
Tanah kembali bergetar, kembali terdengar ledakan untuk kedua kalinya. Semua orang di istana semakin panik. Pasukan terbaik milik Raja Trill siap menunaikan tugas untuk melindungi sang raja serta kerajaan.
“Kerahkan segalanya untuk melindungi raja!” teriak Bion sembari mengangkat pedang.
Setelah selesai berteriak, Bion justru terdiam. Ia seperti patung batu yang sangat kaku, mata tak berkedip, kepala menunduk. Bion terus memandangi kakinya.
“Ada apa, Komandan Bion?”
“Siapa yang meletakkan tahi kerbau di sini!?” Bion tampak menyeringai, kulit di sekitar hidungnya berkerut.
Prajurit yang ada di dekat Bion merundukkan kepala lalu menatap ke bawah. Tepat sekali, kaki Bion berpijak di atas tumpukan kotoran kerbau.
“Bagaimana rasanya? Hangat tidak?” celetuk prajurit berkepala gundul.
“Hangat gundulmu. Carikan aku air! Cepat!” komandan tersebut langsung memerintah si gundul.
Bion berbadan kekar, rambut yang panjang membuat tampilannya semakin gahar. Tangan kanan terlihat erat memagang pedang. Sedangkan, tangan kiri memegang sebuah tameng besi yang kokoh dan tampak hitam legam. Ia memakai baju tempur tebal, lengkap dengan sepatu besi, sayangnya sepatu besinya terkena tahi kerbau.
Si gundul membalikkan badan lalu berlari mencari air. Sembari berlari, ia juga berteriak. Prajurit gundul tersebut sangat tidak suka dengan Komandan Bion yang suka marah-marah.
“Komandan Bion menginjak tahi kerbau! Jangan dekat-dekat dengannya, kakinya bau tahi!”
Seketika Bion langsung memasang wajah masam karena mendengar ucapan si Gundul. Tak berselang lama, muncul salah satu prajurit yang menuju ke arahnya.
“Anak buah Arcansas berhasil meringsek masuk serta menghancurkan gerbang utama!” prajurit itu berteriak sambil berlari tergopoh-gopoh, menggetarkan tanah yang ia pijak.
__ADS_1
Bion semakin geram, dia berteriak dengan lantang kepada seluruh pasukan raksasa yang ia pimpin. “Buatlah barikade sekarang juga! Sepuluh baris! Letakkan dua baris pasukan berpanah di posisi terdepan!”
“Dunald!!” seluruh prajurit menyahut lantang dan mengangakat tangan.
Si gundul datang menenteng dua ember kayu berisi air. Ia lalu menghentikan Bion yang sedang berapi-api. “Komandan. Jadi cuci kaki tidak?”
“Tidak perlu! Tahinya sudah kering,” sahut Bion kesal.
Serangan Pertama
Pegalisch, tahun 6999 Gerkach.
Wanita cantik berambut coklat itu berlari ketakutan lalu terjerembap ke tanah berpasir. Posisinya telungkup, seketika rambutnya menutupi dahi. Ia langsung membalikkan badan untuk berusaha bangkit. Namun pemuda berambut pirang telah menghampiri sambil menghunuskan pedang. Mata pemuda tersebut tampak menakutkan seperti tatapan elang.
“Jangan, Tuan! Aku akan melayanimu asal kau tidak membunuhku,” ucap sang wanita sambil mengangkat kedua tangan.
Pemuda berambut pirang tersenyum lalu menoleh ke arah Arcansas. “Boleh tidak, nih? Dia menawariku.”
Arcansas melotot sambil mengepalkan tangan. “Kuhajar kau, Daz! Jangan macam-macam, tujuan kita membuat kekacauan. Habisi siapa saja yang berusaha melawan. Ambil semua makanan mereka!” teriak Arcansas.
“Baiklah! Semua orang di benua ini harus merasakan ketakutan!”
__ADS_1
Keributan terus berlanjut. Jeritan dan tangisan bersahut-sahutan sehingga membuat telinga gatal. Banyak warga lari tunggang-langgang mencari tempat aman. Ada yang bertubrukkan lalu jatuh. Tubuh-tubuh raksasa berdebum keras tiap kali membentur tanah.
***
Kepulan asap tampak membubung menyelimuti area perkemahan. Asap putih dari api unggun itu terus meliuk-liuk mengudara seperti tubuh ular. Para titan dari Pulau Suin sedang bersantai, ada yang sedang mengupil dan memainkan rambut. Juga ada raksasa yang sibuk membersihkan darah di pedangnya. Tenda serta bangunan di sekitar berdiri dengan ukuran sangat besar. Pulau itu tidak terlalu luas dan hanya dihuni oleh beberapa ribu raksasa. Mereka bersiap melakukan perjalanan menuju Pegalisch.
Arcansas memiliki ambisi untuk menaklukkan Benua Pegalisch. Daratan benua itu memiliki tanah luas dan subur. Sangat indah, mungkin jika dipandang dari udara akan terlihat seperti surga. Air jernih tampak mengaliri Sungai Oxin, menuju jauh ke timur. Gunung Rez menjulang tinggi seolah menyentuh langit.
Benua Pegalisch yang saat ini dikuasai Raja Trill, menjadi sasaran utama Arcansas. Raja Trill berasal dari Pedral, ia berkuasa di Pegalisch semenjak 30 tahun silam.
Kerajaan Pedral yang dipimpin Raja Trill memiliki pasukan terlatih. Para prajurit kerajaan selalu berlatih keras setiap hari. Tak terlihat satu prajurit yang berleha-leha.
Namun Arcansas juga mempunyai kemampuan perang yang mumpuni. Selain panah, Arcansas juga ahli menggunakan pedang serta tombak. Lengannya sangat kokoh karena menggunakan busur panah yang besar dan berat.
Raja Trill semakin lemah, kulit wajahnya sangat keriput. Garis-garis di dahi sungguh menunjukkan betapa ia sudah sangat tua. Raja Trill berkuasa di Pegalisch mulai tahun 6969 Gerkach. Sekarang tepat tahun 6999 Gerkach.
Raja memiliki seorang putri bernama Livinet. Bulu mata sang putri seperti jarum runcing. Wajah sang putri sangat cantik dengan sorot mata yang terlihat meneduhkan, serta memiliki hidung mancung. Putri Raja Trill mempunyai sebuah batu permata, batu yang akan bersinar melebihi indahnya berlian dan juga intan. Batu itu bernama Livinett, sama dengan nama pemiliknya.
Batu permata itu berasal dari suatu lembah yang sangat dalam. Lembah gelap nan lembab itu berada di Benua Pedral, tempat asal Raja Trill. Menurut rumor yang beredar, batu itu memiliki kekuatan ajaib, tapi tidak ada yang tahu kekuatan ajaib seperti apa yang terdapat di batu Livinett.
Arcansas terus membakar rumah penduduk serta tempat dagang. Akan tetapi, salah satu penduduk berhasil lari. Ia terbirit-birit menuju ke istana untuk melapor pada Raja Trill.
“Akan kuambil alih kekuasaan di tanah ini! Sang raja akan kubunuh!” Arcansas berteriak lantang menyatakan niatnya.
Pesan tersebut ditanggapi oleh sang raja dengan sangat serius. Raja Trill tahu, itu bukan ancaman biasa karena Arcansas terkenal dengan kehebatannya. Dia lihai dalam menggunakan panah serta memiliki otak cerdas. Banyak orang yang segan padanya. Arcansas terkenal tidak ragu membunuh siapa saja yang menentangnya.
Kobaran api membumihanguskan bangunan di pusat kota. Asap hitam dan putih membuat dada sesak. Keributan yang dipicu Arcansas semakin menjadi-jadi. Banyak warga yang tewas di tangan Arcansas serta anak buahnya.
Jeritan serta suara bayi menangis membuat gendang telinga ingin pecah. Keadaaan sangat menyedihkan, mayat-mayat terus bergelimpangan. Arcansas semakin beringas dan menyerang tanpa belas kasih. Bahkan, orang yang sudah lanjut usia juga ia bunuh.
__ADS_1
Angin musim panas berembus mengiringi perang. Arcansas mengerahkan seluruh pasukan terhebatnya untuk melakukan invansi. Ada beberapa titan yang cukup tangguh, mereka ditempatkan di garda depan. Termasuk si kembar Daz Wilson dan Fell Wilson. Kekuatan mereka juga sangat dahsyat. Kecepatan, ketajaman mata, akurasi bidikan panah, serta taktik mereka cukup hebat. Si kembar itu mampu mengalahkan musuh dan jarang kerepotan.