Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 33: Tidak Ada Cinta


__ADS_3

Hamlet menghilang, Arcansas tak paham. Ia hanya menangkap kata-kata terakhir pria itu. Mencuri batu? Pasangan cantik? Hamlet sudah pergi, Arcansas tak mendapatkan jawaban apa-apa lagi.


“Hoi! Tunggu! Siapa jodohku? Apakah Livinett?”


Tidak ada yang menyahut. Tiba-tiba muncul sebuah cahaya yang sangat menyilaukan. Arcansas merinding, ia merasakan hawa yang begitu dingin. Ia membuka mata dan telah berada di ruang bawah tanah, reruntuhan Kastil Dum.


Mentari mulai bersinar. Arcansas melihat sekeliling. Ulvir mendekat, Fell juga tampak khawatir.


“Dari mana saja kau ini?” tanya Ulvir.


“Entah. Aku tak bisa menjelaskan. Di mana Livinett?”


“Kukira ia pergi bersamamu. Kami juga tidak tahu, karena kau muncul tiba-tiba di sini saat kami kembali. Kau dari mana?” Ulvir mengulangi pertanyaannya.


“Aku dari tadi di sini,” sahut Arcansas.


Ulvir bingung, ia tak mengerti dengan jawaban Arcansas. Jelas-jelas tadi ruang itu kosong saat Fell dan Ulvir bangun.


“Sudahlah. Sekarang cari putri itu. Kami tak mengerti dengan ucapanmu,” kata Ulvir.


Mereka bertiga menelusuri seluruh ruangan. Semua pintu telah terbuka. Tidak ada siapa-siapa. Kecuali perkakas berkarat dan penuh lumut serta debu. Tiba-tiba Fell mengambil sebuah gulungan. Itu perkamen, di dalamnya menjelaskan tentang batu Livinett dengan lebih detail.


“Lihat yang kutemukan! Perkamen ini menjelaskan tentang batu itu!”


Arcansas dan Ulvir langsung mendekat. Mereka membaca isi gulungan tersebut, ditulis menggunakan huruf Nath.


“Kenapa batunya bernama Oragon? Harusnya bernama Livinett, kan?” celetuk Fell.


Setelah selesai membaca perkamen tersebut, Arcansas jadi yakin, bahwa ia benar-benar bertemu dengan Hamlet dari Lemuria. Batu itu berukuran besar untuk orang Lemuria. Mereka mendapatkannya di galaksi Milkyway.


“Apa itu Milky?” Fell bingung.


“Itu nama galaksi. Kita berada di Galaksi Milkyway, tempat kita berpijak ini adalah Bumi, tempat kita tinggal sekarang. Bumi berada di dalam galaksi Mlikyway,” ucap Arcansas.


Ia berubah menjadi lebih cerdas. Bahkan bisa mengetahui galaksi lain dan planet setelah membaca perkamen tersebut. Pengetahuan yang tertulis di perkamen itu sepertinya sengaja ditingalkan oleh orang Lemuria agar orang Suin mencatatnya untuk dipelajari.


“Galaksi?” Ulvir dan Fell menyahut berbarengan.


“Ah. Lupakan! Ternyata benar. Doug Hogba adalah ayahnya Gerald Hogba. Kastil ini didirikan oleh Gerald.”


“Apa kau bicara sesuatu? Hogba?” Ulvir menyela.


“Ya. Sekarang aku sudah tahu kalau batu ini mampu memberikan kekuatan besar jika kita membuat hati hancur.”


“Apa maksud tulisan ini. Hati hancur? Kita menghancurkan hati mayat?”


“Entah! Lihatlah. Di sini tertulis bahwa batu itu jatuh dan hilang di dasar Lembah Varasol yang ada di Benua Pedral.”


“Benua Pedral?” Ulvir mengerutkan kening. “Bukankah itu tempat asal Raja Trill?”


“Ya.” Arcansas menjawab singkat. Ia tiba-tiba tersadar akan sesuatu. “Ternyata begitu—”


“Kau mengatakan sesuatu?” tanya Ulvir.


“Tidak. Sekarang temukan putri itu. Aku tak mau ia pergi jauh.”


Lembah—mungkinkah lembah itu yang ada di dalam mimipinya? Arcansas pernah bermimpi berada di suatu tempat seperti lembah. Jika itu benar, berarti batu Livinett memang hilang di Lembah Varasol, sehingga Raja Trill menemukannya.

__ADS_1


Batu bernama asli Oragon itu dinamai Livinett oleh Raja Trill. Ia lalu memberikan batu itu pada putrinya. Putri Livinett adalah pemilik batu Oragon.


Mendadak, Arcansas menjadi aneh. Ia seperti kerasukan. Ia memegangi kepalanya dan mengerang kesakitan. Rupanya Arcansas melihat gambaran masa depan. Tidak! Mungkin sosok dua wanita yang ia lihat.


“Ada apa?” Fell bingung.


“Aku menemukannya! Livinett berada d hutan sisi tenggara! Segera susul mereka.”


Mungkinkah ... Arcansas mendapatkan kekuatan baru? Melacak seseorang melalui pikiran? Entah—yang jelas ia bisa mengetahui posisi Livinett. Tak butuh waktu lama, pengejaran dilakukan. Mereka berlari sangat cepat. Menggetarkan tanah yang dilalui.


Mereka bisa menyusul Livinett. Sungguh terkejut ketika Arcansas juga melihat Lian bersama sang putri.


“Kenapa kau melarikan diri? Lian, kenapa juga kau bersama Livinett?” Arcansas menujuk mereka berdua.


“Aku tak bisa bersamamu. Aku harus kembali menemui ayahku!” sahut Livinett.


“Biarkan dia pergi, Arcansas.” Lian menimpali.


“Kau! Kenapa kau membantunya kabur?”


“Aku tak punya pilihan lain...aku...”


Lian tak bisa menjawab. Lidahnya kelu, ia menatap Arcansas, pria yang ia cintai. Lian tak bisa berbuat banyak.


“Aku harus menikahimu, Livinett.”


“Tidak!” Livinett menaikkan suaranya.


“Baiklah. Kuberikan penawaran. Berikan aku batu yang ada padamu, maka pernikahan kita akan diundur.”


“Kenapa tidak? Aku akan menguasai benua besar itu, kau akan hidup bahagia denganku.”


“Caramu kotor! Aku tak mungkin memaafkanmu!”


“Sudah cukup perdebatan ini.”


Arcansas maju, ia lalu meraih tangan Livinett. Lian terjatuh, ia tak bisa mencegah, karena Arcansas lebih kuat. Arcansas mendekap Livinett dengan erat. Ia memelankan suaranya.


“Apa yang harus kulakukan agar kau menerima cintaku?”


“Le...lepaskan aku...! Kau...tak harus menikahiku! Masih ada wanita lain yang bisa mendampingimu! Kau! Kau sangat kasar, aku tak suka padamu.”


Livinett meronta, ia merasa tak enak pada Lian. Apalagi yang harus disembunyikan, Livinett tahu Lian sangat mencintai Arcansas.


“Lepaskan. Kau menyakiti lebih banyak orang! Sekarang kau menyakiti wanita lain!”


“Wanita lain? Siapa yang kusakiti. Aku hanya ingin memilikimu.”


“Lihat! Lepaskan aku, lalu lihatlah! Wanita yang tersungkur di belakangku, ia menangis melihat kau melakukan ini padaku! Lepaskan dekapanmu.”


Livinett menunjuk Lian yang tak kuasa menahan air mata. Wanita itu menangis, hatinya pasti hancur berkeping-keping.


“Lian...?” celetuk Arcansas.


“Ya! Lian mencintaimu! Apa kau tidak bisa mengerti perasaannya?”


Arcansas mundur beberapa langkah. Ia tercenung, menjatuhkan kedua lututnya di atas tanah. Suasana hutan jadi senyap. Fell dan Ulvir hanya diam.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara orang berteriak dari belakang. Mereka adalah rombongan yang berlari bersama Daz. Daz Wilson datang menyusul Arcansas ke Suin.


“Akhirnya kalian kutemukan. Kapal kalian hanya ada dua orang yang menjaga. Rupanya kalian di sini. Tuan! Lihat! Aku berhasil! Batu Livinett telah berada di tanganku!” teriak Daz.


Semua terkejut, terutama Livinett. Sang putri tidak menyangka kalau si pirang itu berhasil menemukan batu Livinett.


Arcansas langsung bangun, ia tersenyum. “Baiklah! Livinett! Jika kau tetap tidak mau menikahiku, aku akan menunggu lain waktu. Sekarang aku harus meruntuhkan kekuasaan ayahmu. Batu ini akan membuatku menjadi raja.”


“Tidak! Kau tidak akan bisa melakukannya. Terkutuk kau!”


“Apa katamu? Diamlah, setelah aku membunuh ayahmu aku akan menikahimu. Aku mencintaimu, tapi tidak dengan Ayahmu.”


“Tidak ada cinta untukmu! Dasar iblis!”


Arcansas tidak menggubris, ia segera pergi. Tubuh raksasa miliknya begitu indah ketika terkena sinar mentari.


“Tunggu!” tiba-tiba Livinett menyuruh mereka berhenti. “Lian! Apakah kau akan tetap mencintai pria itu?”


Lian mengangguk.


“Meski ia tidak lagi seperti sekarang?”


Sontak, Lian mendongak, ia menatap Livinett. Apa maksud ucapannya itu?


“Arcansas! Kau tidak akan mampu menggulingkan kekuasaan ayahku!”


“Kita lihat saja nanti! Kalian, bawa putri itu kembali ke Pegalisch.” Arcansas memerintahkan prajurit bawahannya.


Mereka akhirnya kembali ke Pegalisch. Setelah mendapatkan batu permata indah milik Livinett, yang konon bisa mengabulkan keinginan. Arcansas berniat melakukan serangan lagi.


“Kenapa kau menyusul kami?” Fell bertanya pada Daz.


“Terlalu lama kalau harus mengirim surat dan menyuruh prajurit. Asal kau tahu, Firtos sungguh hebat, karenanya, kita berhasil mendapatkan batu itu. Aku menyusup ke dalam istana saat Firtos melawan pasukan kerajaan.”


Daz menceritakan kisahnya saat mencuri batu itu. Arcansas, Ulvir, dan Fell memegang batu itu bergantian. Permata yang sangat indah.


Setelah menempuh perjalanan selama seminggu, mereka sampai di Benua Pegalisch. Mereka langsung menyiapkan pasukan untuk menghabisi sisa pasukan Raja Trill.


Pertempuran segera berkobar untuk yang terakhir. Penentuan yang akan membuat sejarah baru.


“Wahai Pak Tua! Kali ini kau akan mati di tanganku! Putrimu akan menjadi milikku beserta seluruh kerajaan dan benua ini!” Arcansas berteriak sangat lantang.


“Tidak akan kubiarkan impianmu menjadi nyata!” Livinett tiba-tiba merebut batu yang dipegang Fell.


Ia berlari ke tengah, berdiri di antara pasukan Arcansas dan pasukan kerajaan.


“Batu ini—akan memberikan kekuatan untuk kami dan kerajaan! Aku tak pernah mencintaimu! Sekarang berakhirlah sudah semua kejahatanmu!”


“Kembalikan batu itu, atau aku akan memanahmu!”


Livinett tidak menggubris ancaman dari Arcansas.


“Apa kau percaya karma? Karma yang langsung terjadi dan membalas pelaku kejahatan, aku menyebutnya sebagai karma instan.”


Arcansas, Ulvir, Daz, Fell dan semua yang ada di medan perang heran. Mereka tak paham dengan ucapan Livinett. Dengan sigap, Firtos berlari ke arah Livinett, ia langsung merebut batu tersebut. Tiba-tiba saja Firtos mundur, tangannya mengeluarkan asap ketika memegang batu itu.


Batu Livinett pecah menjadi berkeping-keping. Saat itu juga, tubuh raksasa Firtos menyusut, semakin kecil, hingga akhirnya ia benar-benar menjadi kerdil. Apa yang terjadi? Kenapa batu itu hancur?

__ADS_1


__ADS_2