Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 23: Sembilan Pendekar


__ADS_3

Amukan Monster


Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mereka bertiga sampai di Benua Pegalisch. Mereka sempat terombang-ambing dan melawan badai. Kapal mereka berukuran sedang, dan bisa memuat 10-20 penumpang.


Arcansas mendapat tambahan orang, mereka adalah titan yang sedang melakukan perburuan dan memutuskan untuk ikut berperang.


“Jadi ini tanah Pegalisch. Rasanya memang berbeda. Berapa lama menuju pegunungan itu?” tanya Ulvir.


“Sekitar sehari.”


Arcansas bersama 18 orang lainnya, termasuk Ulvir dan Lian. Selain Lian, ada satu wanita lagi yang ikut. Prajurit wanita itu cukup hebat, karena bisa bergabung dengan pemburu itu.


Sebelumnya mereka berburu binatang di hutan untuk dipersembahkan kepada penjual. Jika harga rendah, mereka tidak akan menjualnya. Sudah pasti dimakan sendiri, harga jual kepada pedagang hewan menurun drastis pasca bencana. Sedangkan, para pedagang menaikkan harga daging sesukanya kepada pembeli.


Hal ini membuat perekonomian di Pulau Suin hancur. Kejahatan meningkat pesat, banyak yang memilih untuk mencuri demi bertahan hidup. Rumah-rumah rusak, ladang serta anggota keluarga banyak yang hilang. Bencana memang membawa kerugian dan tak bisa diprediksi.


“Apa pasukanmu cukup kuat untuk membuat raja di negeri ini kalah?” ucap pria berambut keriting.


Arcansas hanya melirik. Ia enggan menjawab dan terus berjalan.


“Jawablah. Dia bertanya padamu,” celetuk Ulvir.


“Cukup untuk membuat benua ini hancur. Aku memiliki prajurit yang kuat-kuat.” Ucap Arcansas.


“Sepertinya akan menarik. Tidak salah lagi, kita benar-benar tepat memilih untuk ikut berperang. Pasti tanah ini akan memberi kehidupan yange lebih baik.” Ucap pria berambut keriting.


Arcansas dan orang-orang barunya bermalam di hutan. Pegunungan Aranos tinggal beberapa kilometer lagi. Setelah istirahat, mereka melanjtukan perjalanan. Enam hari di lautan rasanya membuat tubuh lelah.


Kini mereka harus berjalan untuk menuju markas. Menempuh perjalanan yang ekstrim, sudah pasti memberikan efek yang luar biasa terhadap mental dan badan. Selat Krokalm cukup ganas, beruntung mereka bisa selamat.


“Ini tempatya. Beberapa langkah lagi kita memasuki perkemahan pasukanku.” Kata Arcansas.


“Kenapa sepi sekali?” Ulvir menukas.


Ada yang aneh, Arcansas langsung berlari memasuki wilayah persembunyian pasukannya. Dia memelankan langkahnya, sekeliling hanyalah deretan tanah yang menggunduk dan ditancapi anak panah serta pedang.

__ADS_1


Daz dan Fell ternyata ada di dekat situ. Mereka terkejut melihat Arcansas sudah kembali.


“Ke mana yang lainnya?” tanya Arcansas.


Si kembar tampak bingung, mereka ketakutan dan bersedih. Akhirnya Daz memberanikan diri untuk berkata.


“Pasukan kita telah dibantai, Tuan.”


Sudah tertipu karena batu Livinett palsu, sekarang Arcansas mendapati pasukannya telah dihancurkan. Ia sungguh marah, tangannya mengepal sangat kuat. Rahangnya juga terlihat mengeras.


“Sialan orang-orang di benua ini! Mereka akan kuhancurkan!” Arcansas berteriak penuh kemurkaan.


Akhirnya amarah paling mengerikan keluar dari dalam diri Singa Merah tersebut. Apakah ia akan membunuh sang putri.


Gerbang depan istana yang baru diperbarui terlempar. Hancur! Ledakan sangat keras terdengar hingga ke ruang paling atas. Raja Tril terperanjat, ia langsung berlari keluar kamar.


Para pengawal serta penghuni kerajaan yang lain juga kaget. Keributan sudah terjadi di luar, pasukan penjaga diserang tiba-tiba. Sisi kanan gerbang sudah runtuh, bersamaan dengan jatuhnya tiga titan.


Siapa lagi pelakunya kalau bukan Arcansas. Dia seperti kehilangan akal, bagaikan anjing rabies. Ia menerkam dan membunuh siapa saja yang ada di depannya. Jiwanya benar-benar dikuasai amarah. Ia murka karena pasukannya dihancurkan dan telah ditipu.


Sepuluh pleton prajurit titan keluar, mereka langsung berlari ke arah Arcansas. Di bagian selatan, masih ada lagi sekitar 900 prajurit. Dari belakang istana, juga masih ada. Penyerangan mendadak sudah tersebar, sehingga membuat prajurit kerajaan sigap.


Bisa gawat jika tidak ada sembilan pendekar itu, meski Arcansas tidak memiliki pasukan, tapi kekuatannya begitu dahsyat. Si kembar bersama prajurit yang tersisa mengikuti Arcansas. Beruntung mendapat tambahan kekuatan sepulang dari Pulau Suin, termasuk Ulvir.


“Aku tak menyangka kalau dia sebrutal itu,” celetuk Ulvir.


“Jangan heran. Dia akan meratakan tempat ini.” Sahut Fell.


Arcansas bersama pasukannya yang tidak lebih dari 100 orang, meringsek masuk ke dalam istana untuk berhadapan dengan pasukan istana yang memiliki prajurit sekitar 3200 titan.


Sungguh perbandingan yang begitu jauh. Apakah Arcansas ingin bunuh diri. Dari segi jumlah, ia sudah pasti kalah. Bahkan, mungkin saja kekuatan dari pasukannya tidak akan bertahan lama.


Si kembar maju ke depan, mereka melontarkan anak panahnya. Banyak titan dari pasukan lawan yang roboh. Ulvir ikut membantu, akhirnya ia bergabung dengan Fell.


Ulvir menggunakan pedangnya yang mirip dengan pedang milik Arcansas. Fell dan Ulvir saling adu punggung.

__ADS_1


“Kau datang dari Suin bersama Tuanku, apa yang membuatmu ingin bergabung dengan kami?” tanya Fell.


“Aku ingin ikut berperang juga. Jika wilayah ini bisa dikuasai, tentu aku ikut senang.”


“Sudah dapat nama baru apa dari Tuan Arcansas?” tanya Fell.


 “Dia memanggilku dengan nama Virly. Apa otaknya bodoh?” Ulvir terkekeh.


“Jangan menghinanya, atau otakmu yang akan keluar dari kepala.”


“Senang bisa bergabung dengan kalian.”


“Ya.”


Fell dan Ulvir kembali fokus melawan musuh. Daz maju di sisi barat, ia berniat menyusul Arcansas. Tameng raksasa dipegang di tangan kiri Daz, ia memakai baju tempur yang cukup berat.


Hujan anak panah datang dari istana paling atas. Deretan prajurit terlihat berjajar seperti itik. Mereka mengincar Arcansas. Ribuan anak panah berhasil dihalau oleh Arcansas dengan satu ayunan pedang.


Arcansas lalu menyarungkan kembali pedangnya, ia menggunakan busur panah lagi. Tiga anak panah langsung diletakkan pada busur. Arcansas membidik ke atas, ia mengincar pasukan berpanah tersebut.


Ajaib! Tiga buah anak panah tersebut terpencar dan mengobarkan api. Melesat cepat lalu menghujam ke bawah, mengenai pasukan berpanah. Hancur seketika! Ledakan terjadi sangat besar.


Apa-apaan kekuatan itu, dari mana Arcansas bisa mendapat kekuatan mengerikan seperti itu.


“Apa kau melihatnya, Fell?” tanya Ulvir.


“Ya. Aku tidak tahu kalau dia punya kemampuan seperti itu.”


“Kau tidak pernah melihatnya? Apakah dia monster?”


“Entah!”


Serangan bertubi-tubi diterima oleh Ulvir, ia mulai kewalahan, akhirnya Fell membantu pria itu. Fell memilih untuk menggunakan pedang, ia maju dengan beringas. Menebas musuh dengan sangat brutal.


Banyak tubuh titan yang berjatuhan dari atas. Arcanasas sudah sampai pintu kedua dan siap naik ke atas istana. Sedangkan di dalam istana kepanikan kian menjadi.

__ADS_1


Pabel berlari tergopoh-gopoh. Jantungnya seperti akan meletus karena memompa darah sangat cepat. “Yang Mulia. Carilah tempat aman, jangan sampai musuh menemukan keberadaan Anda. Saya akan membawa prajurit untuk mengawal.”


Sang raja menuruti perkataan Pabel, tapi ia masih bimbang. Ada keraguan di dalam hatinya yang membuat enggan meninggalkan istana.


__ADS_2