
Raungan kesakitan, dentuman demi dentuman terus menghiasi medan perang. Mayat bergelimpangan semakin banyak. Darah berceceran di mana-mana. Semua pasukan dari Trovolta mulai kehilangan iramanya. Mereka semakin membabi buta dalam menyerang, tidak peduli lagi apakah itu kawan atau lawan. Sedangkan, pasukan Branco mulai bisa mendesak para raksasa, ada 10 buah kapal yang berhasil diambil alih.
Rencana Sir. Hudson adalah memukul mundur pasukan Corvos, sehingga masuk kembali ke dalam kapal. Ketika lawan telah berada di kapal, dengan menggunakan Zelcar, seluruh pasukan yang dipimpin Sir. Hudson akan pergi dengan sangat cepat. Kemudian pasukan udara yang dipimpin oleh Kolonel Grim akan memborbardir kapal-kapal perang itu. Jika rencana ini berjalan lancar, maka pasukan Branco akan menang telak.
Marco bersama rekannya yang memimpin 500 prajurit mulai memanas. Mereka seakan terseret ke dalam api semangat. Daratan yang mereka pijak terasa bergoyang. Jika menang maka kemakmuran akan tercapai. Kalau kalah, kesengsaraan yang akan mereka dapatkan. Menang, berarti masih bisa melanjutkan hidup. Mati, berarti akhirat menjadi tujuan akhir. Itulah yang diperoleh dari sebuah perang, tidak ada keindahan dalam sebuah peperangan. Saling membunuh dan menindas adalah hal buruk.
Pertempuran sengit, badas, menjadikan Marco semakin bahagia. Gejolak semangat di dadanya kian membara, dia barambisi untuk mengalahkan semua musuhnya. Ini masih permulaan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Semua masih menjadi misteri, Marco harus bisa mengontrol dirinya kalau tidak ingin mati muda.
Ratusan nyawa telah melayang. Ganasnya masing-masing pasukan menjadikan perang seolah tidak akan berakhir. Mengingat seluruh tentara yang memiliki ambisi serta emosi masing-masing. Kaum Trovolta begitu berambisi menaklukan Kaum Yazelt. Apa yang dicari dari sebuah perang yang melelahkan? Mereka semua sungguh egois, serta merusak tatanan alam seenaknya.
Yang lemah tertindas, sedangkan yang kuat semakin beringas. Jika kalian pernah memperhatikan adanya perbedaan pendapat antara laki-laki dan perempuan. Tentu, mereka juga akan bertengkar. Ini menggambarkan bahwa manusia tidak pernah merasa puas dan selalu mencari sesuatu yang lebih. Begitu juga dengan dua negara yang saling berseteru. Huru-hara seperti ini menjadikan dunia seperti neraka. Hanya karena ingin menjadi lebih kuat sampai menindas yang lemah. Tidak masuk akal, jika kau menelusuri semua sejarah yang terjadi selama ini. Banyak manusia yang lebih mementingkan harta serta urusan dunia. Penindasan terhadap kaum yang lemah sangat tidak dibenarkan.
__ADS_1
Permukaan laut di Selat Krokalm membiaskan ratusan pesawat yang meliuk-liuk di atasnya. Gelombang sesekali besar lalu mengecil tergantung tiupan angin. Sisi pelabuhan sebelah timur telah hancur. Beberapa kapal perang meledak sehingga asap gelap membumbung tinggi ke angkasa. Kobaran api kian ganas, bau amis darah merebak di seluruh penjuru dan menusuk hidung. Mayat terus bergelimpangan seolah nyawa tidak ada artinya
Marco mulai maju ke depan untuk mendapatkan posisi membidik yang baik. Dia mulai kehilangan beberapa persen daya baterai di busurnya. Sil mulai menyiapkan baterai cadangan serta anak panah baru. Derpaz serta Papilon membawa dua pleton pasukannya ke sisi timur utuk membantu Deart yang terlihat kewalahan karena posisi mereka yang kurang strategis. Hamparan pasir serta pohon kelapa menjadi saksi bisu pertempuran ini.
Pasukan di sisi barat pelabuhan yang dipimpin Rifiz mulai mampu memukul mundur para raksasa Trovolta. Jika mereka telah berhasil menyudutkan lawan, sehingga masuk ke dalam kapal. Maka rencana yang telah disusun tinggal melaksanakannya. Pemusnahan kapal dari udara akan segera dilakukan.
Suara desingan pedang yang saling beradu, juga suara daging yang robek menghiasi pertempuran. Mata panah yang digunakan Marco sangat tajam karena dilengkapi teknologi tinggi, sehingga mampu menembus Zirah Keabadian yang dipakai pasukan Corvos. Seperti bunga yang kelopaknya berguguran, banyak nyawa yang telah melayang.
Ketika perang sedang serius, karena pasukan Branco unggul. Tiba-tiba muncul cahaya dari langit, sesuatu melesat cepat lalu menghantam perairan. Ada yang jatuh dari langit sehingga menyebabkan deburan air yang tinggi, menimbulkan pusaran besar dari bekas jatuhnya benda barusan. Selang beberapa saat, muncul sosok raksasa dari pusaran air. Dia berbadan seperti orang-orang Trovolta. Hanya saja dia tidak menggunakan zirah seperti pasukan lainnya.
Semua pasukan dari Trovolta tertawa lalu berteriak sangat keras secara bersamaan. Mereka meneriakkan kata ‘Anak Suci’ dengan lantang. Marco terkejut mendengar nama itu, tubuhnya serasa beku, tidak mau digerakkan. Benar, orang yang baru saja muncul adalah pemimpin Trovolta. Kenapa orang paling tinggi jabatannya sampai turun ke medan perang. Sudah pasti kekakuatannya akan sangat mengerikan.
__ADS_1
“Sil! Suruh semua pasukan mundur, menjauhlah dari dermaga sekarang juga!” teriak Marco.
“Baiklah!”
Sil serta Marco berusaha memberi komando kepada seluruh pasukannya untuk mundur. Luiz, Reil, dan Garben mendengar perintah Marco. Mereka segera berlari menjauhi dermaga bersama pasukannya. Derpaz dan Papilon masih membantu pasukan di sisi timur, mereka tidak tahu perintah dari Marco. Hanya saja, Tink mengabaikan perintah Marco, meski dia mendengarnya. Sil sudah berteriak berkali-kali, tapi tidak digubris sama sekali.
Tink terus meringsek masuk ke dalam pertahanan Corvos bersama 100 anak buahnya. Ada yang aneh dengan dirinya, sepertinya dia terlalu bernafsu untuk memukul mundur lawan. Tiba-tiba seluruh pasukan Corvos mundur dengan cara tidak wajar, mereka membentuk lingkaran menjauhi pasukan yang dibawa Tink. Apakah mereka takut dengan keberingasan Tink? Keren sekali dirinya. Garben terus memanggil-manggil namanya untuk mundur. Sayangnya, Tink sudah terlalu jauh dan semakin mendekati bibir dermaga.
Kobaran api raksasa terbang menuju arah Tink dan pasukannya. Api di udara itu berbentuk tajam lalu melebar menjadi seperti piring. Rupanya itu berasal dari panah yang dilontarkan oleh orang bernama Anak Suci. Seluruh permukaan air yang dilewati terbelah. Hanya dari satu buah anak panah bisa menghasilkan kobaran api raksasa seperti itu. Tiba-tiba api tersebut muncul mata anak panah sangat banyak. Lalu menghujami seluruh pasukan yang dipimpin Tink.
“Tink! Bodoh! Kenapa kau mengabaikan perintah kami!?” teriak Sil.
__ADS_1
Garben ingin menyusul ke arah Tink, namun langkahnya dihentikan oleh Luiz dan Reil. Sungguh malang nasib Tink, apakah dia masih selamat? Marco menjatuhkan kedua lututnya di atas pasir. Wajahnya tampak geram juga kecewa.
Pertempuran ini harusnya bisa unggul. Branco memiliki kekuatan pasukan yang hebat. Sil juga begitu ahli dalam menghindar, dia sangat gesit. Garben juga termasuk orang berbakat, dia sampai dijuluki Tameng Hitam karena tubuhnya memang kekar dan berkulit hitam. Dia memiliki kemampuan membaca gerakan bibir seorang meski orang yang dia lihat hanya bicara berbisik. Papilon dan Derpaz, kombinasi serangan mereka juga sangat mengesankan. Tink juga pandai melakukan berbagai tipuan kepada musuh. Tapi sayang, Tink adalah prajurit pemberani yang keras kepala.