Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Protocol 5


__ADS_3

“Hey, Tinos. Jika kau ingin menjadi orang cerdas, jangan pernah menangis hanya karena mainanmu rusak.”


“Tapi mainan ini baru satu bulan. Aku butuh waktu empat bulan untuk mengumpulkan uang sebelum membeli konsol game ini. Game ini sangat canggih karena aku dapat memproyeksikan diriku di dalamnya.”


“Perbaiki! Jika kau ingin membeli lagi itu sangat mudah dilakukan.”


“Tapi aku tidak tahu cara memperbaikinya. Ibuku pasti akan memarahiku jika dia tahu mainanku rusak. Uangku sudah habis untuk membeli konsol game seharga 5000 dizt ini.”


“Serahkan padaku, akan aku tangani.”


“Benarkah? Hey, hey! Benarkah kau akan memperbaikinya?”


“Iya. Berikan padaku.”


Tinos merasa sangat senang karena Marco bersedia memperbaiki mainan miliknya. Koulos melompat-lompat di kamar Marco karena saking bahagianya. Marco hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar saja, hanya butuh waktu satu jam, mainan yang rusak sudah selesai diperbaiki oleh Marco. Tinos benar-benar gembira karena tidak akan di marahi oleh ibunya.

__ADS_1


Itulah saat-saat terakhir Koulos bersama Marco. Saat yang sangat menyenangkan sebelum Marco dikabarkan menghilang empat bulan lalu. Tinos Koulos duduk termenung di teras rumahnya. Dia mengayun-ayunkan kakinya yang sangat mungil sambil memegang mainan yang dulu diperbaiki Marco. Dia menatap langit yang membentang sangat luas. Tinos merasa sangat kesepian tanpa adanya Marco. Hatinya seperti kehilangan sosok yang begitu dekat dengannya.


Selama empat bulan terakhir dia selalu bermain sendiri. Ketika dia berkunjung ke rumah Marco, dia merasa sangat kasihan dengan ibunya Marco. Nyonya Teilen terlihat sangat sedih, matanya sayu dan badannya jadi semakin kurus akibat kehilangan putra kesayangannya. Tuan Virpie juga sempat mengambil cuti dari rumah sakit selama dua bulan untuk mencari Marco serta mendampingi istrinya yang sangat terpukul.


Hari demi hari yang dilewati Tinos menjadi lebih membosankan tanpa ada canda tawa dari Marco. Dia rindu dengan kisah yang selalu diceritakan oleh Marco. Cerita heroik serta kisah fantasi dari Negeri Win yang menjadi cerita favoritnya. Kisah seorang pendekar bermata satu yang menyelamatkan dunia dari ancaman monster bernama Onbir. Pendekar itu bernama Silav, dia kehilangan mata kirinya akibat tertusuk jari Onbir. Cerita itu adalah cerita paling mengesankan yang pernah diceritakan oleh Marco kepada dia. Tinos ingin sekali bertemu dan mengetahui keadaan Marco sekarang.


Siang itu, Tinos memutuskan untuk berkunjung ke kediaman Virpie untuk melihat kamar Marco. Tanpa susah payah, dia pun diizinkan masuk ke kamar Marco. Sesampainya di kamar, dia berusaha menahan air matanya yang ingin menetes. Tinos memandangi semua sudut kamar dan barang-barang milik Marco. Bayangan Marco masih melekat di kamar itu. Tinos merasaa begitu rindu, aroma keringat Marco, suara tawanya, kejahilannya dan kejeniuasannya.


Tinos duduk di kasur sambil mengusap konsol game-nya. Dia berpikir tentang keadaann Marco, apakah dia baik-baik saja, sedang di mana dan sedang melakukan apa? Seandainya Tinos punya alat untuk melacak keberadaannya. Saat dia termenung tiba-tiba dia teringat sesuatu yang pernah diucapkan oleh Marco.


“Apa maksudmu?” Tinos merasa bingung.


“Komputer yang dibelikan oleh ibuku 2 tahun lalu, sudah aku sempurnakan, komputer itu tidak hanya dapat menemukan barangku yang hilang, tetapi juga dapat menemukanku di mana saja aku berada. Karena komputer ini sudah dilengkapi alat pelacak untuk mendeteksi panas tubuh.”


Tinos mengingat percakapan yang pernah dilakukannya bersama Marco. Dia beranjak dari tempatnya duduk, sepertinya ide bagus baru saja melintas di dalam kepalanya. Tinos berpikir, mungkin komputer itu masih bisa berfungsi untuk melacak keberadaan Marco. Akhirnya dia melakukan rencananya dengan cara meminta izin untuk meminta komputer lama milik Marco. Tinos ternyata sudah bertambah cerdas, dia berharap komputer tersebut dapat menemukan keberadaan Marco saat ini. Setelah menyusun kalimat terbaiknya untuk meminta izin membawa pulang komputer lama milik Marco. Akhirnya dia diperbolehkan memilikinya, karena Virpie juga merasa itu lebih baik daripada tidak terpakai.

__ADS_1


Tinos kembali ke rumahnya dengan membawa komputer tersebut dan meletakkannya di dalam kamar. Dia merakit komputer milik Marco. Semua masih normal tidak ada kerusakan sama sekali. Komputer tersebut berhasil menyala dengan sempurna. Tinos tersenyum karena ini pertama kali bagi dirinya melakukan eksperimen. Jantungnya berdebar-debar karena akan melakukan sebuah misi besar. Misi untuk mencari keberadaan Marco, orang yang telah dianggap sebagai kakaknya sendiri.


Layar komputer menyala dengan sempurna, meski terdapat noda yang menempel karena sudah lama tidak digunakan. Layar tersebut menampilkan beberapa aplikasi, salah satunya adalah Allfind. Nama aplikasi ini begitu asing bagi Tinos. Dia akhirnya membuka aplikasi ini. Setelah beberapa saat loading, akhirnya aplikasi terbuka. Tampilan aplikasi tersebut sangat sederhana, hanya memiliki beberapa menu. Di pojok kanan atas tertulis Analyze. Tinos mengeklik tulisan tersebut lalu muncul kotak kecil yang menampilkan radar. Di bagian bawahnya muncul kolom yang tertulis sensor telah aktif, masukkan nama/kode/type benda yang ingin Anda temukan.


Tanpa pikir panjang, Tinos langsung menuliskan nama Marco di dalam kolom tersebut. Aplikasi tersebut melakukan proses pencarian dengan menampilkan jarum yang berputar-putar pada radar. Tinos sungguh berharap apa yang telah dilakukannya dapat membuahkan hasil. Dia menunggu proses tersebut, sambil terus berharap ada sebuah keajaiban. Meski kemungkinannya sangat kecil bahkan terbilang mustahil. Dia mengingat kata-kata Marco yang selalu mengatakan jangan takut untuk mencoba. Kalau kau sudah takut sejak awal, maka ketakutanmu akan menguasaimu. Wejangan itu selalu ia ingat ke mana pun dan kapan pun dia pergi. Setiap ucapan dari mulut Marco seperti sebuah sugesti yang mampu membuatnya bersemangat dan bahagia.


Tinos terus memandangi layar komputer tersebut. Rasa cemas terlukis di wajahnya. Semoga saja komputer yang sudah lama ini bisa bekerja, dia membatin. Jika komputer tadi dapat melacak keberadaan Marco, pasti Tinos bisa bertemu kembali dengan si jenius itu. Tinos sama sekali tidak mengerti alasan Marco meninggalkan rumah. Apakah Marco sudah tidak waras atau memang tidak suka hidup dengan orang lain.


Semua kisah kelam yang pernah menimpa Marco, sudah diketahui oleh Tinos. Cerita tentang dirinya yang lebih suka mengurung diri di dalam kamar dan berhenti sekolah. Juga sindrom langka yang dia derita. Memang, setiap orang memiliki kepribadian masing-masing. Tidak bisa kalau harus disuruh sama persis dengan orang lain, itu melanggar kebebasan hidup.


Mungkin lingkungan yang membentuk karakter Marco menjadi introvert. Tidak mungkin dia bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Tapi, karena sering ditindas dan dikucilkan oleh teman sebayanya, Marco menjadi malas bergaul di dunia luar. Kamar pribadinya sudah menjadi tempat terbaik untuknya. Seperti surga yang siap menemaninya kapan pun. Tembok kamar yang tenang dan selalu tak peduli dengan apa saja yang dilakukan Marco. Sayangnya, dia telah terbawa ke dalam situs bernama Protocol 9. Apakah Tinos bisa menemukannya? Semoga saja bocah bergigi ompong itu berhasil.


Dulu, saat usia Marco masih 10 tahun, dia pernah mengalami hal yang sangat pahit. Kepahitan hidup yang ia rasakan seolah melebihi rasa pahitnya empedu. Inilah awal mula dia menarik diri dari lingkungan serta tidak mau bergaul dengan teman-teman lainnya. Bukan karena dia jelek, cacat, atau bodoh, justru sebaliknya. Dia menderita hyperthymesia, yaitu sindrom yang mungkin sangat mengesankan. Dia memiliki sindrom ingatan super. Dia mampu mengingat segala kejadian, wajah orang, tempat serta apa pun yang ia baca dan pelajari. Ingatannya benar-benar luar biasa, berbeda dari manusia normal pada umumnya.


Kegemarannya yang suka membaca buku sejak kecil, baik buku fantasi mau pun buku kedokteran milik ayahnya, membuat semua pengetahuannya di atas yang lain. Dia tidak dapat mengikuti pelajaran yang diberikan oleh gurunya, karena dia sendiri sudah mempelajari bahkan hafal semua isi buku. Marco dapat membaca sangat cepat, anehnya dia mampu mengingat semua isi buku tersebut. Materi, kesalahan cetak, halaman yang rusak atau robek, semuanya dapat ia ingat dengan sangat menakjubkan. Dia bisa membaca satu buku yang memiliki 500 halaman hanya dalam waktu 6 menit.

__ADS_1


Marco juga pandai memperbaiki barang yang rusak, memodifikasi sesuatu menjadi lebih keren. Otaknya memang benar-benar jenius melebihi ayahnya. Teman-temannya justru tidak mau mengenal dirinya karena menganggap sindrom yang diderita Marco adalah kutukan. Sejak saat itu, komputer dan kamarnya adalah kebutuhan sekaligus tempat paling nyaman bagi Marco. Sampai akhirnya dia bertemu dengan bocah yang bernama Tinos Koulos. Marco sudah berusia 18 tahun saat pertama kali keluarga Koulos menjadi tetangganya. Tinos yang berusia 8 tahun mulai mengenal Marco karena permainan Galaksi Tolids yang ada di komputer Marco. Sejak saat itulah mereka sering bermain bersama di kamar. Permainan ini begitu digemari oleh semua kalangan. Zaman super canggih yang ada di era ini benar-benar hebat. Robot, mobil pintar, pemotong rumput otomatis, dan berbagai macam benda canggih ada di Yazelt.


__ADS_2