Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 16: Tiba di Suin


__ADS_3

“Yang Mulia! Tangan Keadilan mengirimkan utusannya.”


Tiba-tiba Deimr memasuki ruang pertemuan. Pabel serta raja menoleh ke arahnya. Deimr menyerahkan sebuah gulungan yang terbuat dari kulit lembu kepada sang raja. Hanzes yang sebelumnya ribut dengan Tiir sudah kembali tenang dan menyarungkan pedangnya.


“Tuntutan mereka akan segera terkabul. Segera berikan balasan kepada Kortov.”


“Baik, Yang Mulia.”


Deimr pun beranjak meninggalkan ruang pertemuan. Firtos tampak menggulung cemetinya. Sampai detik ini Joan serta Karl belum bersuara. Termasuk si buruk rupa dari timur alias Roan. Raja kembali fokus pada pertemuan, kini mereka memasuki tahap diskusi untuk menentukan strategi baru.


“Apa yang baru saja Anda setujui?” tanya Pabel.


“Kortov meminta kerajaan segera menghentikan perang. Jika kita butuh bantuan, Tangan Keadilan akan mengirimkan pasukannya.”


“Sungguh beruntung karena ada organisasi besar seperti Tangan Keadilan.”


Sang raja mempersilakan Pabel untuk melanjutkan memimpin diskusi. Rasanya sangat susah memberi arahan kepada pendekar yang suka ribut.


Dari awal pertemuan banyak sekali kejadian yang tak terduga. Pendekar-pendekar yang diundang raja ke istana, memiliki sesuatu yang sangat langka.


Mungkin karena kekuatan, serta merasa hebat, banyak yang bersikap seenaknya. Bahkan di hadapan sang raja mereka berani membuat keributan.


Bukan keputusan terbaik yang didapat, bisa saja justru pertarungan antar pendekar karena arogan serta sifat keras kepala mereka. Beruntung Firtos bisa mencegah keributan tersebut.


“Baiklah. Jika kalian sudah bisa tenang. Sekarang akan kita tentukan rencananya. Pastinya ini demi kedamaian di benua ini.”


Pabel bersuara dengan lantang. Ia mulai lagi memimpin rapat. Hanzes tampak tenang dan bisa mengikuti rapat dengan baik. Si gendut Roan tetap diam tanpa mengucapkan sepatah kata.


Di lain wilayah, tepatnya di Pulau Suin. Arcansas telah sampai di pesisir selatan. Ia melihat pulaunya rusak parah. Letusan Gunung Hiopi benar-benar tragedi besar.


Sedangkan, pasukan di Gunung Aranos diserahkan kepada si kembar Wilson. Daz serta Fell yang bertugas mengurusi pasukan selama kepergian Arcansas.


Singa Merah dari Suin itu telah kembali ke kandangnya. Ia melihat tanah kelahirannya yang sudah porak-poranda. Beberapa mayat masih terlihat dan mengeluarkan bau busuk. Pulau Suin tinggal setengah, semoga saja reruntuhan Kastil Dum masih ada.


Ketika Arcansas berjalan menyusuri deretan pohon Wora. Ia dikejutkan dengan sosok wanita yang sedang tergeletak. Arcansas menghampiri wanita tersebut.


“Kau baik-baik saja?” Arcansas bertanya dengan nada lembut.


Wanita itu tidak menyahut. Tubuhnya tampak sangat lemah serta ada beberapa luka di lengan dan wajahnya.


Arcansas membawa wanita tersebut untuk bersandar di batang pohon. Si wanita itu batuk dan mulai bisa berbicara.


“Terima kasih...” ucapnya lirih.


“Kenapa kau bisa ada di sini?”

__ADS_1


Tepat setelah Arcansas melontarkan pertanyaan tersebut, wanita itu pingsan. Sepertinya ia harus segera ditolong. Arcansas membawa wanita itu ke sebuah bangunan yang masih bagus meski atapnya ada yang rusak.


Bedasarkan pengetahuan yang dimiliki Arcansas, ia segera mencari tumbuhan obat untuk merawat luka pada wanita itu. Arcansas sudah mengenal obat-obatan alami. Kecerdasan penduduk Suin tidak perlu dipertanyakan lagi.


Siapakah wanita tersebut, kenapa ditemukan dalam keadaan menyedihkan begitu. Kondisinya seperti habis bertarung. Tidak mungkin kalau disebabkan oleh letusan gunung.


Tanah masih tertutup abu vulkanik. Pohon, daun, rumput, semuanya berwarna abu-abu. Sisa-sisa material letusan Gunung Hiopi masih sangat banyak.


Arcansas kembali dengan membawa beberapa macam tanaman untuk dibuat sebagai ramuan. Ia meracik tanaman tersebut, lalu dijadikan minuman dan ada yang digunakan untuk menutup luka pada wanita tersebut.


Wanita itu siuman dan bisa mereguk ramuan yang dibuat Arcansas. Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Arcansas. Mungkin ia bisa bertanya kalau wanita tersebut sudah sadar.


Berkat ramuan yang dibuat Arcansas, wanita tersebut akhirnya sadarkan diri dan terlihat sehat. Hanya butuh beberapa jam hingga wanita itu bisa berbicara lancar.


Pertama kali membuka matanya, ia bingung. Wanita itu seperti orang linglung atau hilang ingatan. Ia menatap sekelilingnya. Mungkin ia kaget karena wajah asing yang ia jumpai. Siapa lagi kalau bukan Arcansas. Wanita itu terkejut ketika melihat seorang pria di hadapannya.


“Kau sudah sehat?” tanya Arcansas.


Wanita tersebut memandangi sekujur tubuhnya sendiri. Ia menatap tangan, kaki serta mengusap-usap wajahnya. Lukanya masih terbuka, namun darahnya sudah mulai mengering.


“Si...siapa kau?” wanita itu berucap.


“Aku Arcansas.”


Sepertinya ia sedikit pening. Mungkin ia masih trauma dengan kejadian yang menimpa dirinya. Wanita itu tampak sangat muda dan mengenakan pakaian seperti penduduk Suin pada umumnya.


“Ya. Namaku Arcansas. Siapa namamu?”


Wanita tersebut menundukkan kepalanya. Ia berusaha mengingat namanya.


“Namaku Lian Erie.”


“Erie? Kenapa kau bisa tergeletak di tengah jalan seperti itu?”


Wanita itu membenarkan posisi tubuhnya. Ia bersandar pada dinding lalu menarik napas.


“Aku habis dirampok.”


“Kasihan sekali dirimu. Beruntung kau selamat.”


Entah, apakah Arcansas sadar atau tidak dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan. Arcansas tampak simpati dan berbelas kasih kepada wanita itu. Ternyata ia bisa bersikap lembut.


“Terima kasih sudah menolongku. Ya. Aku beruntung, karena hanya barang bawaanku yang dirampas.”


Arcansas meletakkan kain kecil yang ia pegang. Busur panahnya bersandar di tembok. Wanita bernama Lian memandangi Arcansas dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

__ADS_1


“Apakah kau seorang pendekar?”


“Ya. Aku orang Suin. Sama sepertimu.” Sahut Arcansas.


“Benarkah?”


“Aku baru saja kembali dari Pegalisch.”


“Begitu. Pulau ini sangat memprihatinkan. Terkena banjir besar dan sekarang tertutup abu vulkanik.”


“Aku sudah tahu. Gunung Hiopi penyebabnya, kan.”


“Benar. Letusannya sungguh dahsyat. Kalau boleh tahu, kau dari desa mana?”


Arcansas tampak termangu. Ia terlihat enggan untuk menjawab. Tapi akhirnya ia membuka mulut dan memberitahukan kepada wanita tersebut.


“Aku dari wilayah timur. Desa Gilk yang dekat sungai.”


“Oh. Aku tahu. Sayanganya di sana sudah hancur.”


“Sepertinya begitu,” sahut Arcansas.


Wanita itu semakin antusias dan ingin bertanya lebih banyak hal kepada Arcansas.


“Tidak sedikit penduduk yang pergi ke Pegalisch. Sepertinya mereka melakukan pemberontakan untuk menggulingkan kekuasaan Raja Trill.”


Arcansas tersenyum lalu terkekeh. “Akulah yang mengobarkan perang tersebut.”


Lian langsung terperanjat. Wajahnya sangat kaget seperti melihat monster. Sepertinya wanita itu tidak mengenal siapa Arcansas. Meski mereka sama-sama berasal dari Suin.


“Ka...kau—apa kau Singa Merah?” Lian bergetar suaranya.


Arcansas mengangguk dengan penuh keyakinan. Lian tidak menyangka, ia sedang berhadapan dengan orang keji. Menurut rumor, Singa Merah sangatlah ditakuti. Banyak orang yang disiksa olehnya meski sama-sama orang Suin.


“Kenapa memasang wajah seperti itu. Kau takut padaku?” tanya Arcansas.


Wanita itu hanya terdiam dan menatap Arcansas.


“Jangan takut.” Ucap Arcansas.


“Ke—kenapa tidak membunuhku saja. Kau—menyelamatkanku.”


“Berterima kasihlah. Aku sedang tidak bergairah untuk membunuh yang lemah.”


Lian termangu lalu menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba bersikap tenang di hadapan monster itu.

__ADS_1


__ADS_2