
Keringat dingin mengalir melalui kening Arcansas. Napasnya memburu, pupil matanya tampak mengecil. Ia terlihat sangat ketakutan. Lian dan Ulvir terkejut karena Arcansas tiba-tiba bangun dan berteriak.
Lian langsung mendekati Arcansas. Mereka bertiga tidur di dalam ruang bawah tanah beralaskan daun yang lebar. Seharian penuh mereka menelusuri isi ruangan tersebut. Hanya perkamen berisi gambar pedang yang baru ditemukan.
Malam terasa panjang, seolah tidak ada lagi pagi untuk mereka. Arcansas masih ketakutan. Entah apa yang terjadi di dalam mimpinya.
Api unggun yang dibuat oleh Ulvir masih menyala meski mulai redup. Suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit lalu membentur batu juga samar-samar terdengar.
“Ada apa!? Kau bermimpi buruk?” tanya Lian.
Arcansas berusaha mengatur napasnya. Mungkin sebelum tidur ia memikirkan banyak hal atau memang sedang gelisah. Ulvir menguap sambil mengucek matanya.
“Mimpi ini. Aku mimpi lebih buruk dari biasanya,” sahut Arcansas.
Lian dan Ulvir semakin penasaran. Apa maksudnya lebih buruk dari biasanya. Apakah ia bermimpi bertemu makhluk asing lagi?
“Kau bermimpi apa?”
“Entah. Aku tidak yakin menyebutnya, mungkin ini mimpi kekalahanku.”
“Apa maksudmu?”
“Semua prajuritku telah dikalahkan oleh orang misterius.”
“Prajurit? Apa maksudmu prajurit yang ingin merebut Pegalisch?” Ulvir menukas.
“Ya. Mereka telah dibantai.”
“Itu hanya mimpi. Sudahlah, kau mungkin terlalu memikirkan semua prajurit yang kau tinggalkan, sehingga terbawa mimpi.”
“Tidak! Mimpiku terlihat sangat jelas dan nyata!” Arcansas menyergah.
Ia tampak tidak terima dengan pendapat Ulvir. Apakah mimpinya begitu buruk sehinga ia sampai ketakutan seperti itu. Jika memang pasukannya hancur, itu hanya di dalam mimpinya saja. Mungkinkah Arcansas mempunyai kelebihan? Mampu melihat kebenaran melalui mimpi?
“Tenanglah.” Lian menasihati.
Ulvir beranjak dari tempatnya lalu menambahkan kayu dan daun kering ke dalam bara api. Tak butuh waktu lama, api kembali membesar.
“Aku menjadi khawatir dengan semua anak buahku yang ada di Pegunungan Aranos.”
“Pegunungan Ara...? Aranos?” ucap Ulvir.
“Ya. Mereka kutinggalkan di sana dan melakukan gencatan senjata. Perang sedang kuhentikan.”
“Jadi mereka tidak sedang berperang saat ini. Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku harus kembali ke benua itu. Masalah di sini dan lainnya bisa dipikirkan belakangan. Sebenarnya aku ingin mencari tahu informasi tentang batu Livinett ini.”
Arcansas mengeluarkan sebuah batu. Itu adalah batu dari putri Kerajaan Pedral yang ia dapatkan karena berhasil mengalahkan Liobo.
__ADS_1
“Hah! Batu ini...!?” Ulvir terperangah.
Pria itu tampak terkejut dengan batu yang dipegang Arcansas. Sedangkan Lian hanya menatap batu tersebut. Ulvir seperti orang idiot, mulutnya menganga lebar.
“Kau tahu tentang baru ini? Namanya batu Livinett.”
“Yah! Ya-ya-ya. Jelas aku tahu! Batu yang kau pegang itu palsu.”
“Palsu?” Arcansas memicingkan matanya.
“Coba pinjam.”
Arcansas mengulurkan tangan untuk menyerahkan batu itu pada Ulvir. Setelah menerima, Ulvir langsung melemparkan ke api unggun. Sontak hal ini membuat Arcansas marah.
“Apa yang kau lakukan, dasar bodoh! Kenapa kau melemparkannya ke dalam api!?”
“Coba perhatikanlah lebih dahulu. Batu itu meleleh.” Ulvir menunjuk ke arah api.
Terlihat jelas, batu tersebut hancur dilahap api. Batu Livinett yang konon katanya memiliki kekuatan ajaib, ternyata mudah hancur.
“Kenapa bisa?” Arcansas heran.
“Jelas. Karena itu batu palsu.”
“Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau pernah melihat batu tersebut?”
Ulvir tampak terdiam. Ia menundukkan kepalanya. Kantong yang ia bawa dan berisi barang miliknya, diambil. Ulvir membuka kantong yang terbuat dari kulit tersebut.
Sepertinya itu sebuah perkamen sama seperti yang kemarin ditemukan. Akan tetapi, perkamen yang dipegang Ulvir memiliki ukuran lebih besar. Lian dan Arcansas tampak memandangi perkamen tersebut.
Batu Palsu
“Jawaban?”
“Ya. Simaklah semua yang ada di dalam perkamen ini.”
Arcansas langsung membukanya. Ia membaca dengan saksama. Lian juga ikut membaca tapi tidak paham maksud dari tulisan yang ada di situ.
Perkamen tersebut sudah kotor bagian luarnya, tapi tulisannya masih lengkap dan bisa terbaca.
“Kau mendapatkan perkamen ini di sini?” tanya Arcansas.
“Benar. Aku mendapatkannya saat singgah di sini. Sebenarnya aku ingin mencari batu tersebut. Ternyata batu itu dimiliki oleh seorang putri. Banyak cerita yang beredar dan aku mendengarnya bahwa batu yang asli memiliki kekuatan ajaib.”
Arcansas kembali fokus membaca tulisan-tulisan di perkamen itu. Hingga akhirnya ia menemukan kalimat yang membuatnya merinding. Ditulis menggunakan huruf Nath murni. Ejaan yang masih kuno dengan pola tulisan tangan yang indah.
Keaslian akan terlihat, tak mampu terbakar, akan memancarkan cahaya kehijauan di dekat api. Itulah kalimat yang tertulis di perkamen. Pantas saja Ulvir langsung mengetahui kalau batu itu palsu.
__ADS_1
“Apakah batu yang asli akan benar-benar memancarkan cahaya hijau?”
“Entahlah. Karena aku tidak tahu batu itu seperti apa. Saat kau berkata batu Livinett, aku hanya ingin memastikannya dengan cara membakarnya.”
Arcansas duduk bersila dan melanjutkan membaca. Setelah selesai, ia memasang wajah marah. Sudah pasti kesal karena telah ditipu oleh Putri Livinett.
“Aku akan kembali ke Pegalisch. Akan kuberi pelajaran pada putri busuk itu!”
Tiba-tiba Arcansas mengutarakan niatnya. Ulvir menelan ludah lalu membenarkan lengan bajunya yang terlipat.
“Jika kau ingin kembali ke benua itu, aku akan ikut denganmu.”
“Ikut?”
“Ya. Aku juga ingin melihat batu itu. Kau bisa gunakan nyawaku untuk tambahan kekuatan. Pasti pasukanmu akan setuju jika aku bergabung.”
Arcansas memandangi Ulvir. Agaknya pria itu bisa diandalkan, tidak ada salahnya mengajak pria itu ke dalam pasukannya.
“Terserah kau. Aku akan berangkat sekarang juga.”
“Bagaimana denganku? Apa kau juga mengizinkanku untuk ikut denganmu ke Pegalisch?” tiba-tiba Lian menyela.
“Kau? Jika kau sudah siap mati dalam perang tidak masalah. Ada beberapa wanita yang mengikutiku, mereka banyak yang tewas karena penyakit. Wanita itu lemah!” ucap Arcansas.
“Aku lebih baik mati, karena hidupku juga sudah tidak punya tujuan.”
“Terserah kalian. Aku mau menuju ke Pegalisch sekarang, perjalanan memakan waktu lima sampai enam hari menggunakan perahu layar.”
Mereka pun bersiap. Arah angin pasti berubah-ubah setiap tahun. Benua Pegalisch dan Benua Tsandor saling berdekatan dan terpisah Selat Krokalm. Dan sudah pasti dari Pulau Suin akan melalui selat tersebut.
Di selat itu sering terjadi badai, terkadang angin sangat ganas, mampu menenggelamkan kapal layar. Tiang-tiang layar patah, air bergelora, angin sangat kencang. Pokoknya di selat itu seperti mempertaruhkan nyawa.
“Dengar. Jika kalian ikut, kalian harus menuruti semua perintahku. Aku yang berkuasa atas pasukanku.”
“Jangan berbicara seperti itu. Aku punya tujuan untuk melihat batu itu, beruntung kau bisa menggunakan kekuatanku.”
“Kau sendiri yang menawarkan. Aku tidak memintamu untuk ikut berperang.”
Lian hanya bisa diam mendengar perdebatan dua pria itu. Mereka terus adu mulut sambil membereskan perkakas dan mematikan api unggun.
“Kita sudah dapat informasi terkait pedang kembar ini. Meski tidak utuh karena hanya ada gambar dan tahun pembuatan, setidaknya kita tahu kalau pedang ini adalah pedang menakjubkan,” ucap Ulvir.
“Pedang tetaplah pedang, jika kau tidak bisa menggunakannya sudah pasti akan patah.” Arcansas menanggapi dengan nanda sarkastis.
“Kita lihat nanti, pedang siapa yang membunuh orang-orang Pegalisch lebih banyak.”
“Pedangku selalu haus darah, jangan tanyakan lagi, sudah pasti pedang milikku yang lebih banyak membunuh.” Tukas Arcansas.
Lian bergidik ngeri mendengar percakapan sadis yang dilakukan Ulvir dan Arcansas. Mereka begitu santai membicarakan membunuh dan darah. Apakah lelaki suka sekali merenggut nyawa orang tanpa merasa kasihan?
__ADS_1
Mereka bertiga keluar dari reruntuhan dan menuju ke pelabuhan. Pesisir pantai tampak lengang. Bau abu vulkanik masih merebak di mana-mana. Air laut tampak menari-nari, mereka berkejaran dan saling memburu.
Segerombolan burung melayang di atasnya, ada yang menukik dan menyambar ikan. Jangan tanyakan lagi ukurannya seberapa, sudah pasti sangat besar. Sungguh luar biasa, tubuh-tubuh raksasa yang menghuni tanah tersebut.