Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Protocol 9


__ADS_3

Pertempuran pertama yang dilalui Marco mulai membuat nyalinya sedikit melemah. Melihat pasukannya banyak yang tewas dan terluka, rasanya sangat berat untuk melanjutkan lagi. Tapi kabur bukanlah prinsipnya, dia bukan pengecut. Meski mundur dalam peperangan adalah strategi kalau tidak ingin dibantai oleh musuh.


Pulang ke pangkuan orang tua lalu merengek seperti anak kecil, tidak mungkin. Dia tidak akan bisa bermanja-manja, apa lagi di dalam perang. Situasi itu mulai membuat mental Marco sedikit terusik. Sekarang dia tidak lagi berada di dunia masa depan, melainkan di masa kelam ketika kaumnya ditindas.


Merenungi nasib pun tidak ada gunanya, ini adalah pilihannya sendiri. Dia memutuskan mengikuti robot untuk menuju era perang ini. Melalui situs sialan bernama Protocol 9, membuat hidup Marco berubah drastis. Sangat menyedihkan kalau dirinya harus mati sekarang. Dia belum bisa memenangkan peperangan ini.


Perang ini terus berlangsung, Tink yang baru saja dihujani ratusan anak panah, tampak masih bisa berdiri. Sekitar 4 anak panah menembus dadanya, zirah yang ia gunakan terbakar. Lengannya tertancap 3 buah anak panah yang masih membara. Dia berjalan menuju ke arah Marco. Langkahnya tersendat, darah mengucur memenuhi tubuhnya. Dari belakang, seorang raksasa Trovolta mengejarnya dengan sangat cepat. Dia mengayunkan pedang tanpa bisa dihindari oleh Tink yang sudah terluka parah. Sekali tebas, tubuh Tink terpotong menjadi dua. Raksasa itu lalu menginjak kapalanya sampai hancur. Marco menelan ludah sambil menahan air matanya. Seluruh anggota pasukan yang menyaksikan kematian Tink berteriak memanggil namanya, Garben yang paling terpukul.


Setelah kematian Tink yang tragis, Marco menyusun kembali strateginya. Garben sangat ambisius untuk membalaskan kematian Tink. Dia benar-benar tidak terima, karena sejak kecil mereka selalu bersama. Sil mencoba menenangkan kawannya itu. Waktu terus berjalan, semua mendengarkan intruksi yang diberikan oleh Marco. Setelah memberitahu rencana barunya, Marco menghubungi Kolonel Grim yang sudah bersiap menggempur kapal-kapal perang milik pasukan Corvos. Dia juga mengabarkan kepada Sir. Hudson untuk mundur terlebih dahulu.

__ADS_1


Garben masih tampak sedih, dia melemparkan busur panahnya ke pasir dan melepas wadah anak panah yang tersampir di punggungnya. Marco mendekatinya lalu menepuk pundak Garben. Sejak dulu, Tink selalu setia menemani Garben. Ketika Garben sedang kesusahan, Tink selalu ada untuknya, dia benar-benar teman terbaik yang pernah dimiliki Garben. Wajar saja kalau sekarang dia begitu terpukul karena kematian sahabatnya itu.


Semua tak akan ada yang berubah, Tink tidak akan bisa hidup lagi. Sudah menjadi resikonya, bahwa semua bisa saja kehilangan nyawa ketika berperang. Satu yang mungkin terjadi, kemenangan akan menjadi milik mereka jika tidak menyerah. Namun, kalimat itu terdengar sangat menggelikan. Kalau terus berambisi dan tidak mundur untuk sejenak, justru kematian yang akan didapat. Strategi, tenaga, otak, kerjasama tim harus seirama demi kemenangan tersebut.


Kali ini Marco merencanakan untuk mundur terlebih dahulu. Ini bukan perang sembarangan, mereka melawan raksasa yang memiliki senjata serta kekuatan pasukan yang mengerikan. Dengan rencana yang telah disepakati, pasukan di sisi timur dan barat pelabuhan bersiap melontarkan granat. Setelah granat meledak, mereka akan mundur disusul pasukan udara yang akan memborbardir lawan dari udara. 10 pesawat tempur dikerahkan untuk menahan serangan dari Anak Suci, kekuatannya tidak bisa dianggap remeh. Setelah melakukan misi terakhir tersebut, Sir. Hudson bersama pasukannya akan melakukan pembersihan untuk menolong pasukan yang masih selamat dan terluka menuju ke arah Marco. Semua berjalan sesuai rencana tanpa ada halangan yang berarti.


Kobaran api masih terlihat di beberapa titik. Banyak pohon kelapa tumbang karena keganasan para raksasa Trovolta. Perang Remains benar-benar membuat peradaban manusia seperti iblis. Ada hal lain yang membuat bingung Kolonel Grim, Hudson, dan Marco. Mereka penasaran, kenapa petinggi Trovolta sampai turun tangan ke dalam pertempuran ini.


Anak Suci itu terkenal paling kuat di antara raksasa yang lain. Dia seperti monster mengerikan dengan kekuatan besar. Kedudukannya benar-benar kokoh, tidak ada yang berani menentangnya. Apakah dia merasa terancam kalau tidak datang membantu? Karena pada perang kali ini yang lebih unggul adalah Kaum Yazelt. Setidaknya kali ini lebih baik, apakah mungkin karena tergabungnya Marco? Sehingga membuat tentara Branco menjadi lebih hebat. Bisa saja, mengingat jasa yang telah dilakukan oleh Marco pada perang kali ini. Dia mengkoordinir pasukaan pembuka jalan dengan baik. Biasanya garda depan adalah pasukan yang paling banyak menimbulkan korban. Baru kali ini, hanya sedikit dari mereka yang tewas. Grim dan Hudson tentu sangat bangga dengan kemajuan pasukannya.

__ADS_1


 Sampai detik ini, selama perang yang telah terjadi. Kolonel Grim belum pernah merasa sebahagia ini. Mengingat, sebelumnya selalu banyak korban yang berjatuhan. Kerusakan tentu masih sangat parah, kerena memang begitulah perang. Pelabuhan Herlour kali ini bertambah bobrok. Meski berhasil menahan serangan dari Trovolta, tentu semua ini belum berakhir.


Perang sebanyak 5 kali selama 6 bulan terakhir juga berakhir seperti ini. Kerusakan yang terjadi begitu dahsyat. Tapi baru kali ini korban dari Corvos begitu banyak. Kaum Yazelt sedikit bangga karena mampu mengimbangi lawannya itu. Meski perang ke 6 yang baru saja terjadi membuat mereka ketakutan karena petinggi dari Trovolta ikut hadir dalam peperangan.


Misalkan ada pemimpin pengganti dari Branco yang kehebatannya setara dengan Anak Suci, belum tentu Marco bisa menangani jumlah pasukan raksasa yang begitu melimpah ruah. Kalau mereka berhasil menghabisi setengahnya, tentu masih ada ribuan tentara lainnya yang akan terus berdatangan. Biar pun berdiri dengan gagah berani, dari segi kekuatan, pasukan Branco kalah jumlah dan senjata dari Trovolta.


Kolonel Grim membawa pasukannya kembali ke Desa Harfil untuk menerima perawatan dan beristirahat. Di tempat itu mereka mendirikan tenda-tenda untuk yang terluka. Para dokter dari Sandzelt menangani pengobatan dan memasok makanan. Tiga wilayah di Pegalisch saling membantu, karena jika Kaum Yazelt kalah, tentu mereka juga akan terkena dampaknya. Teknologi kesehatan, pangan, bangunan, dan lainnya sudah pasti akan diambil alih oleh orang-orang Trovolta.


Benua Tansdor yang mereka tinggali terbilang masih banyak lahan yang kosong. Dengan memanfaatkan peralatan, ilmu dokter, pertanian, pembangunan dari Benua Pegalisch. Mereka tentu akan membangun negara yang semakin kuat dan bertambah beringas. Keserakahan akan semakin menguasai orang Trovolta. Ini benar-benar harus dihentikan agar tidak merusak tatanan alam yang sudah digariskan. Karena, jika Trovolta berkuasa di dunia ini, yang ada hanya kehancuran dan peperangan yang akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2