Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 30: Cinta dan Ambisi


__ADS_3

“Apa rencanamu setelah ini?”


Firtos yang terkenal tak banyak bicara, kini menjadi lebih cerewet semenjak bergabung dengan pasukan Arcansas.


“Sepertinya aku akan segera melakukan perjalanan.”


“Ke mana?”


“Kembali ke pulauku. Ada yang harus kuselesaikan di sana.”


“Apa kau akan membawa semua prajuritmu? Jika mereka tetap di sini akan sangat berbahaya. Aku memang pernah membantai mereka bersama delapan pendekar suruhan Raja Trill.”


“Kalian sangat kuat karena bisa mengalahkan prajurit yang bernaung di bawah panji-panji Suin yang berkibar gagah. Punggawa-punggawa hebat yang kumiliki sampai terpojok.”


“Sebenarnya semua prajuritmu sangat susah dihadapi. Kami saat itu mati-matian melawan, terutama si kembar berambut pirang itu.”


Arcansas terkekeh, ia tak menyangka pasukannya akan dihancurkan oleh orang yang sekarang berada di dekatnya.


“Bagaimana kalau keadaan di sini kuserahkan padamu. Ketika aku kembali ke pulauku, kau berwenang mengatur keadaan di perkemahan ini.”


Firtos terkejut, ia tak menyangka Arcansas akan mempercayakan semua itu padanya.


“Apa kau serius dengan ucapanmu?”


“Ya.” Arcansas mengangguk.


Arcansas membawa Firtos ke tanah lapang. Seluruh prajurit yang sedang bekerja terfokus pada dua pria itu. Atas perintah Arcansas, semua berkumpul membentuk lingkaran.


“Kita akan punya pemimpin baru. Hari ini! Secara resmi, aku memilih Firtos sebagai pemimpin divisi keempat di bawah bendera Dormogat!”


Sorak-sorai terdengar saling bersahutan tatkala Arcansas mengangkat tangan Firtos ke atas. Dengan gagah berani, ia ikut mengepalkan tangan dan memberi hormat kepada semua prajurit. Meski ada yang bingung dan saling berbisik, kenapa Arcansas langsung mempercayai orang dari Peglaisch.


“Ia akan menggantikan Torakh yang telah gugur! Kuharap kalian bisa menghormatinya!”


“Tuan. Kenapa kau begitu mudah percaya padanya. Sedangkan dia merupakan pengkhianat kerajaan. Apa Anda tidak khawatir jika ia hanya ingin menyusup ke kelompok kita?” teriak salah satu titan.


“Aku tahu kalian tidak akan langsung menerima keputusanku ini. Setidaknya, beri dia kesempatan, semoga ia bisa membawa dampak bagus untuk pasukan kita!”


Tak ada lagi yang bisa dilakukan, Arcansas sudah membuat keputusan, jika masih ada yang menentang lagi, bisa jadi Arcansas akan marah dan membunuh anggota yang tidak setuju dengan keputusannya.


“Untuk menggantikan komandan pasukan ketiga! Aku akan memilih satu orang di antara kalian!” teriak Arcansas.


Semua kembali hening, mereka saling pandang. Siapa gerangan yang akan menyandang gelar komandan.


“Dengan penuh kesadaran, kupanggil kau untuk melayaniku! Majulah ke hadapanku! Ulvir! Kau akan menerima jabatan ini!”


Semua terperanjat, terutama Ulvir sendiri. Ia tak menyangka kalau Arcansas memberikan posisi penting. Ulvir melangkahkan kaki, seluruh mata tertuju padanya. Pendekar dari Suin yang baru saja bergabung, mendapatkan posisi terbaik.


Arcansas pasti sudah melihat potensi-potensi yang dimiliki mereka. Ulvir juga pengguna pedang legendaris sama seperti Arcansas. Sedangkan Firtos adalah pendekar hebat dari barat yang sangat kuat.


“Kalian akan melayaniku! Siap berkorban dengan segenap jiwa dan raga kalian. Selalu tunduk pada perintahku dan setia padaku selamanya!” Arcansas mengumandangkan pelantikannya.


“Ulvir! Kau dipilih sebagai komandan divisi ketiga menggantikan Serkalo! Firtos kau akan mengemban tugas berat bersama divisimu menggantikan Torakh! Siapkah kalian menjalankan perintah serta memikul beban besar di pundak kalian?”


“Ya, Tuanku!” teriak Firtos dan Ulvir bersamaan.


Mereka berdua berlutut di hadapan Arcansas. Dengan sebilah pedang yang terangkat, Arcansas mendeklarasikan keputusannya dengan lantang.


Seluruh prajurit kembali bersorak. Pasukan baru, kekuatan yang lebih dahsyat. Arcansas berharap bisa menaklukkan Benua Pegalisch secepatnya.


Di dalam tenda, Livinett penasaran dengan keributan yang terjadi di luar. Ia tak bisa melihat karena terkurung di dalam kandang besi yang sangat kuat.

__ADS_1


Empat divisi sudah resmi pulih! Daz, komandan pasukan pertama, Fell komandan kedua, Ulvir komandan ketiga, serta Firtos komandan keempat.


Kegaduhan karena merayakan kebahagian belum berhenti. Arcansas kembali mengumumkan hal yang mencengangkan.


“Selain komandan! Kita juga mendapatkan ahli strategi baru yang akan menyusun setiap rencana perang dalam pasukan ini!”


Seluruh prajurit semakin bergelora, mereka berapi-api menantikan siapa yang akan dipilih oleh Arcansas.


“Sesuai kinerjanya, orang ini mampu membuat kacau pasukan Pedral dengan rencananya yang brilian. Secara resmi! Akan kutunjuk kau, Filiora! Untuk menempati posisi sebagai ahli strategi!”


Sorakan kembali bergemuruh! Prajurit yang hanya berjumlah tidak lebih dari 200 orang itu sangat bersuka-cita.


“Wah!! Si gadis bertubuh sintal itu. Aku tak menyangka dia bisa menarik perhatian Tuan Arcansas,” celetuk prajurit berkepala gundul.


“Kita belum sempat mengintipnya mandi. Bisa dibunuh kalau kita ketahuan mengintip,” prajurit berkumis lebat menyahut.


Mereka berdua adalah pria yang sebelumnya membututi Filiora saat mandi di sungai.


Filiora maju untuk menerima jabatannya. Sekarang Arcansas tidak perlu lagi khawatir meninggalkan prajuritnya. Ia segera menyusun rencana dan mempersiapkan segala sesuatu untuk menuju Suin.


Fell memutuskan untuk mendampingi Arcansas. Ia sempat tidak diizinkan untuk ikut, tapi setelah diskusi yang panjang, akhirnya Arcansas membiarkan bocah itu ikut ke Suin.


“Siapa lagi yang akan ikut ke sana?” tanya Fell.


“Aku dan Livinett. Dia akan kubawa bersamaku. Tidak, Ulvir juga akan ikut.”


Fell terperangah, ia tak mengira kalau tuannya akan membawa putri tersebut menuju Suin. Akan sangat merepotkan karena harus mengawasi sang putri.


Tidak ada penawaran lagi, pembicaraan berakhir. Akhirnya Livinett benar-benar dibawa Arcansas.


“Ikutlah!” Arcansas langsung menemui Livinett.


“Terserah. Kau mau terus membisu, aku tak peduli. Aku akan membawamu ikut bersamaku menuju Suin.”


Barulah Livinett membelalakkan matanya. Ia pun bersuara.


“Untuk apa kau membawaku ke sana. Aku tidak akan ikut denganmu!”


“Tidak ada yang bisa menghalangi keinginanku! Kau harus memberikan batu Livinett milikmu jika kau tidak mau ikut.”


“Batu itu tidak ada padaku!” sahut Livinett.


“Baiklah. Kalau begitu menikahlah denganku di Suin. Aku juga memiliki beberapa urusan yang harus diselesaikan di sana.”


“Aku takkan pernah sudi menikah dengan orang brutal sepertimu.”


“Aku mencintaimu. Diamlah dan turuti kata-kataku.”


“Kau bilang apa barusan? Mencintaiku? Apa ada cinta yang seperti ini? Kau menyiksaku!”


Arcansas terdiam, ia duduk di kursi. Entah apa yang membuatnya bungkam. Sedangkan Livinett masih terus mengomel.


“Keluarkan aku dari sini! Biarkan aku menemui ayahku!”


“Kau yang memutuskan untuk ikut denganku, kan? Saat aku menyerang kerajaanmu, kau justru keluar untuk menemuiku. Aku tahu itu.”


“Diamlah! Kau harusnya mati saja!” Livinett menangis.


Arcansas langsung menatapnya tajam.


“Apa aku membuatmu terlalu sakit?” ucapnya tiba-tiba.

__ADS_1


Ucapan lembut yang baru saja keluar dari mulut Arcansas, membuat Livinett terkejut.


“Ya!” jawab Livinett dengan diiringi isak tangis. “Kau membuat hancur semuanya, keluargaku, prajurit kerajaan, dan semua kedamaian yang kumiliki! Terkutuk kau!”


“Silakan kutuk aku sepuasmu. Kecantikanmu membuatku ingin memilikimu. Kukatakan lagi, menikahlah denganku. Maka aku akan membiarkan ayahmu hidup. Namun, ambisiku harus tetap terwujud, aku yang akan menguasai benua ini.”


“Kau hanya iblis busuk yang serakah! Aku tidak sudi berbicara denganmu lagi! Pergi!” Livinett menangis kian keras.


“Ya. Kita akan pergi bersama,” sahut Arcansas.


“Kuharap kau mati saja!” Livinett putus asa.


“Berhenti menangis atau akan kupukul wajahmu itu!”


Arcansas justru naik pitam, tapi wajahnya terlihat datar. Tangisan Livinett terus terdengar, telinga Arcansas semakin gatal.


“Diamlah! Kau putri yang manja! Kubilang diam!” Arcansas beranjak, ia hendak menjambak rambut sang putri. Melalui celah jeruji, tangannya hampir meraih rambut panjang milik Livinett.


Tiba-tiba aksinya dihentikan oleh Lian. Kapan ia di situ? Mendadak ia muncul seperti hantu. Arcansas menghentikan niatnya.


“Hentikan tangisan wanita ini!” ucap Arcansas lalu meninggalkan Livinett.


Lian mengangguk. Ia mendekat ke arah Livinett yang masih terkurung. Sungguh menyedihkan keadannya. Lian tak tega melihat putri itu tersiksa.


“Tuan Putri. Hentikan tangisanmu. Aku tidak akan bicara secara formal padamu. Seperti sebelumnya, aku sudah lancang denganmu. Sekarang, kumohon berhentilah menangis.”


Tangisan Livinett mulai surut, ia menatap Lian.


“Apa aku harus tersiksa seperti ini. Suruh dia untuk membunuhku saja!”


“Tuan Putri. Aku sudah mendengar semua pembicaraan kalian. Jika kau tidak mau menikah dengannya, itu tidak masalah karena hatimu sedang tidak baik. Cobalah untuk menerima keadaannya—maksudku—ia tak ingin menyakitimu.”


“Bicara apa kau ini? Jelas-jelas ia selalu kasar dan memaksakan semua kehendaknya.”


“Mungkin, aku tidak pandai menyimpulkan sesuatu hal. Tetapi, kurasa—Arcansas sungguh tulus—ia mencintaimu.”


Livinett tersenyum kecil, ia membiarkan air matanya masih mengalir. “Jangan bodoh. Tidak ada cinta yang seperti itu.”


“Apakah kau menyadarinya. Ketika ia tiba-tiba bertanya apakah ia terlalu membuatmu sakit? Ia menurunkan nada bicaranya. Ketika ia menyuruhmu berhenti menangis, ia ingin menjambakmu dan ingin memukul wajahmu agar kau diam. Dia tidak ingin melihatmu meneteskan air mata. Hanya saja—ia tidak tahu cara untuk bersikap lembut pada wanita.”


Livinett tak menyangka bahwa Lian akan berbicara seperti itu. Memang benar, Arcansas tadi terasa tidak memiliki niat untuk membunuh ataupun menyiksa Livinett.


“Ke...kenapa kau berbicara seperti itu padaku?”


Sekarang giliran Lian yang menitiskan air mata. Entah kenapa ia menangis, mungkin saja ia ikut merasakan penderitaan yang dialami Livinett.


“Kau beruntung, Tuan Putri,” ucap Lian.


“Keberuntunganku sudah habis karena terjebak di sini.”


“Kau bisa mendapatkan cinta darinya. sedangkan—sedangkan aku....” Lian sesegukan.


“Hei. Ada apa, kenapa justru kau yang menangis.”


“Aku ... tak bisa memilikinya. Aku mencintai Arcansas. Ia satu-satunya ... orang yang memberiku cahaya—ketika aku putus asa—”


Lian bicara terbata. Suaranya serak. Sungguh rumit, dua wanita itu saling berhadapan. Tidak ada yang mampu menjelaskan tentang situasi tersebut. Terkadang cinta membuat orang menjadi kehilangan kepribadiannya.


Lian terlihat sangat buruk, ia seperti terjatuh ke lubang gelap. Karena cinta adalah sesuatu yang susah untuk dijelaskan. Tak ada yang mampu lari dari cinta, jika cinta datang, ia bisa menjelma menjadi sebuah kesengsaraan juga kebahagiaan. Cinta adalah racun, begitu mengerikan ketika merasuk ke dalam hati.


Empedu yang pahit takkan bisa menahan manisnya cinta, bahkan ketika cinta berubah menjadi lebih pahit dari empedu, ia akan membuat hati membengkak dan mati. Perasaan akan terkoyak, rasanya lebih sakit daripada saat kita terkena sayatan pedang.

__ADS_1


__ADS_2