Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 27: Cinta yang Membara


__ADS_3

Setelah berhasil mendapatkan Livinett, ia menyuruh semua pasukannya untuk segera meninggalkan medan tempur. Firtos mencabuk tanah, hingga membuat debu beterbangan.


Derap langkah prajurit milik Arcansas manambah debu kian pekat. Firtos ikut kabur bersama Arcansas, sebelum ia pergi, Karl sempat bercakap dengan Firtos.


“Kenapa kau memihak pada musuh?”


“Dia bukan musuh! Dia adalah penyelamat yang telah menghentikan kekejaman di barat lima tahun lalu.”


“Apa maksudmu?” Karl bingung.


“Ketika beredar wabah mematikan, banyak penduduk di barat yang bukan pendatang ikut dibantai oleh Dahi Besi dari Arbitos! Kau tidak akan lupa hal itu, kan? Liobo membunuh keluarga dan semua teman kita!”


“Apa hubungannya!”


“Dia! Arcansas adalah penyelamat yang memukul mundur Liobo dan pasukan Arbitos. Apa kau tidak ingat, ramalan cenayang dari Gunung Dokaan? Dia mengatakan kalau pendekar berpanah dan memiliki kekuatan besar akan menyelamatkan kita dari penindasan yang dilakukan Liobo.”


“Itu hanya ramalan nenek peyot! Tidak mungkin Arcansas membantu kita, kala itu Liobo memang mundur karena perlawanan dari kita!”


“Tidak! Semua seperti yang diramalkan! Dari atas tebing, aku melihat bentuk tubuh dan cara memanah seperti yang dilakukan Arcansas. Badai hebat, serta kilat yang terus menjilat dari langit, membuktikan bahwa orang waktu itu adalah Arcansas. Aku melihat ia melakukan kuda-kuda aneh sebelum melontarkan anak panahnya sehingga mampu menimbulkan kekuatan dahsyat.”


“Kau hanya terlalu memikirkan kata-kata cenayang tua itu. Lagi pula tujuan kita sudah tercapai, kan? Kita telah berlatih sangat keras, sehingga kini telah berhasil membunuh Liobo.”


“Ya. Tetapi aku akan mengikuti Arcansas.”


Ternyata Dahi Besi dari Arbitos alias Liobo telah tewas di tangan Firtos dan anggota Triad Cartax yang lain. Karl masih tak percaya dengan perkataan Firtos. Apa benar Singa Merah dari Suin itu pernah datang ke Pegalisch dan membantu mengakhiri penderitaan penduduk di barat yang dituduh sebagai penyebar wabah penyakit mematikan. Jika memang Firtos memihak Arcansas, selangkah lagi pasti Arcansas bisa berkuasa di Pegalisch.


Lian menyambut Arcansas yang telah kembali, mereka membawa tawanan wanita yang sangat cantik. Para koki serta beberapa prajurit yang menjaga perkemahan mendatangi Arcansas dan rombongan. Mereka terpana tatkala menatap gadis cantik yang dipanggul Arcansas. Livinett terus meronta, tapi tak bisa lepas dari Arcansas.


“Diamlah! Jika kau terus berisik, pernikahan akan segera kita langsungkan!” Arcansas mengancam.


“Aku tidak mau! Lepaskan aku sekarang juga!”


“Kubilang diam! Kau sangat menyebalkan karena berani menipuku. Tetapi, kau cantik, aku terpikat dengan parasmu itu. Menikahlah denganku.”


“Jangan harap! Aku bilang lepaskan, dasar sinting!”


Arcansas tidak menggubris lagi ucapan Livinett. Ia membawa putri ke perkemahan, lalu menyuruh prajurit bawahannya membuka kurungan. Livinet dikurung di dalam kandang besi yang sangat kuat dan besar di dalam tenda.

__ADS_1


Tenda tersebut cukup luas, tapi sunguh gelap di dalam. Si kembar Wilson merebahkan badannya di atas rerumputan. Memandangi beberapa puncak pegunungan yang terlihat.


Serigala milik Ulvir mendekati Lian. Serigala itu tampak lulut, ia berlarian, menyundul, dan mengibaskan ekornya. Serigala yang sangat besar itu memiliki mata yang indah.


Setelah selesai menghidangkan makanan, Lian memberi serigala itu sepotong daging. Semua prajurit tampak kelaparan setelah melakukan perang dan melakukan perjalanan panjang. Sangat luar biasa, dengan jumlah kecil, mereka mampu menyudutkan pasukan Kerajaan Pedral.


Raja Trill sudah pasti sedang ketakutan dan bersedih. Putri satu-satunya telah menjadi tawanan dan berada di kandang monster biadab bernama Arcansas.


Lian mendekati Arcansas yang sedang duduk di depan tenda. Di dalam tenda itu Livinett diam tak bersuara karena terkurung.


“Kenapa tanganmu sampai seperti itu?” tanya Lian.


“Hanya luka kecil,” Arcansas menyahut.


Lian beranjak pergi, tak lama kemudian ia kembali lagi dan duduk di samping Arcansas.


“Lihat tanganmu, akan kuobati.”


Arcansas tidak paham, kenapa Lian ingin mengobati lukanya. “Obat? Mengobati luka ini?” tanya Arcansas.


“Iya. Mana, ulurkan tanganmu.”


“Kau harus berhati-hati, jangan sampai terluka lagi.” Ucap Lian penuh perhatian.


“Diamlah dan lakukan saja pekerjaanmu,” Arcansas ketus.


“Ramuan obat ini sungguh mujarab. Di pegunungan ini ternyata banyak tanaman obat yang luar biasa.”


“Kubilang diam!” Arcansas melenguh.


Ia lalu memandangi Lian yang dengan tulus mengobati lukanya. Merasa tak enak, Arcansas mencoba untuk bertanya dengan lebih lembut.


“Kenapa kau tahu perihal tanaman obat?”


“Aku tabib. Dahulu, keluargaku semuanya memiliki pengetahuan tentang tanaman obat.”


Mengejutkan, ternyata wanita itu ada gunanya juga. Arcansas beruntung karena tidak membunuh Lian. Jika saja saat itu Arcansas membiarkan wanita tersebut mati, mungkin ia tidak akan mendapatkan kelebihan yang dimiliki Lian.

__ADS_1


“Rupanya kau bisa berguna. Di Suin tidak ada keluarga tabib yang terkenal. Hanya satu tabib yang hebat, ia ikut bersamaku ke sini, tapi sekarang tewas dibantai orang-orang kerajaan.”


Arcansas tampak kesal, karena pasukannya yang berharga telah hancur. Kekesalannya mulai mereda, ia baru saja membalas dendam dan menculik putri kerajaan.


“Tenanglah. Siapa wanita yang kau bawa?” Lian penasaran.


“Dia putri kerajaan yang telah menipuku. Wanita itu memberikan batu Livinett yang palsu kepadaku. Akan kunikahi dia, kecantikannya sungguh luar biasa.”


Lian jadi terdiam, ia berhenti lalu menundukkan kepala.


“Kenapa berhenti? Sudah selesai belum mengobati luka ini?”


“Sudah,” jawab Lian lirih.


Wanita itu lalu pamit meninggalkan Arcansas sendirian. Ulvir makan dengan rakus, si kembar Wilson juga tampak berebut daging. Arcansas mengambil daging yang dibawa Lian, lalu melahapnya.


Pegunungan Aranos kembali berisik. Filiora baru saja mandi di sungai. Ia kembali sambil memarahi dua pria yang mengekor di belakangnya.


“Sudah pasti kalian mengintipku! Akan kucongkel mata kalian!”


“Tidak. Kami sama sekali tidak melihatmu di sungai itu!” sahut prajurit berkepala gundul.


“Awas kalau bohong. Kuhajar kalian.”


“Benar. Kami tidak tahu kalau kau mandi di sungai. Kenapa tidak kembali mandi lagi? Kami akan mengawalmu.”


Lian mengepalkan tangannya ke hadapan wajah pria itu. “Kuremukkan kepalamu kalau macam-macam denganku.”


Sungai yang mengalir melalui Pegunungan Aranos adalah terusan atau anak sungai dari Sungai Oxin. Sungai Oxin mengalir dari Gunung Rez, melalui Istana Pedral, lalu bercabang ke arah pegunungan. Anak sungai Oxin bernama Sungai Xin, baru saja digunakan mandi oleh Filiora.


Air dari Sungai Oxin langsung mengalir ke Selat Krokalam. Sedangkan Sungai Xin menuju Danau Erol. Sebuah danau yang sangat besar, letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Herlour.


Perjalanan dari istana ke Pegunungan Aranos memakan waktu hingga lima hari. Itu waktu yang ditempuh para raksasa, bagaimana jika yang melakukan perjalanan adalah manusia berukuran normal alias kecil? Tidak cukup lima hari.


 Perbekalan terkadang habis, pasukan Arcansas mencari makan dengan merampas di rumah penduduk dan berburu kalau sempat.


Waktu yang cukup lama, karena Benua Pegalisch membentang sangat luas. Livinett sering tidak mau makan selama perjalanan, Arcansas jadi sering marah-marah.

__ADS_1


Kini, putri tersebut sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Hanya pasrah menunggu ajalnya, atau menikah dengan pria biadab. Arcansas sudah kepincut dengan kecantikan Livinett, meski putri itu telah menipunya. Tetapi, Arcansas tidak membunuh Livinett.


__ADS_2