Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 26: Pengkhianat!


__ADS_3

 “Hoi, apa kau sudah tidak sanggup melawanku?”celetuk Hanzes.


Arcansas melakukan kuda-kuda aneh, matanya terpejam. Ia akan melakukan apa kali ini, mungkinkah jurus lebih hebat yang akan ia keluarkan? Sedangkan, Putri Livinett sedang menuruni anak tangga untuk menemui Arcansas.


Babak baru dunia percintaan yang kelam dimulai!


Angin ribut menerjang istana dan medan pertempuran. Saking kencangnya, hampir saja menerbangkan titan yang kurus. Arcansas kembali membuka mata lalu mengambil busur panahnya.


Ada yang berbeda, tatapannya sangat mengerikan dengan mata berwarna merah. Arcansas melesat! Ia memegang busurnya sambil melangkah mundur. Mungkin saja ia menentukan jarak untuk melontarkan anak panah.


Angin bertiup kencang, menerbangkan debu, sampah, serta daun-daun kering di sekitar Arcansas. Langit menjadi gelap tertutup awan pekat. Apa terjadi sesuatu di atas? Ataukah fenomena mengerikan ini tanda berakhirnya dunia.


Semburat cahaya membelah kolong langit, suara gemuruh mendebarkan dada. Semua prajurit saling merapat, mereka tampak bingung dan ketakutan. Mungkinkah alam akan mendatangkan bencana besar.


Sembilan pendekar memandangi Arcansas. Firtos menatap lekat, ia tak mengedipkan mata meski pendekar lain ada yang sampai menutup mata karena takut terkena debu.


Karl, Joan, dan Firtos, mereka sangat tenang. Barangkali sesuatu yang bersifat menghancurkan segera menghantam kerajaan. Firtos menyiapkan cemetinya. Ia menarik napas lalu memutar cemeti tersebut di atas kepalanya seperti baling-baling.


Hal mengejutkan justru menimpa para pendekar, Firtos menyerang delapan pendekar menggunakan cambuk mengerikan itu. Delapan pendekar terjatuh ke tanah. Tidak mustahil Firtos bisa melakukan hal itu dengan cemeti miliknya, masalahnya, mengapa Firtos menyerang delapan pendekar lain?


Apakah ia ingin maju dan melawan Arcnansas sendirian. Akan sangat berbahaya jika itu terjadi. Tidak! Dia memiliki niat berbeda. Tak salah lagi, Firtos berkhianat!


“Hoi! Apa maksudnya ini!?” Hanzes merintih.


Ia jatuh telentang dan pedangnya ikut terpelanting. Karl dan Joan bangkit, mereka melangkah ke arah Firtos. Tatapan dua pendekar itu sungguh mengerikan. Mereka murka dengan keputusan Firtos.


Firtos menggenggam erat gagang cemetinya. Ia bungkam, karena memang kebiasaannya yang tak banyak bicara. Hanya tatapan mengerikan yang terpampang jelas di wajahnya.


Firtos menuju arah Arcansas. Ia melompat lalu berdiri di belakang Arcansas. Arcansas melesatkan anak panahnya! Badai semakin besar ketika anak panah diluncurkan. Seluruh medan yang dilalui anak panah itu terbakar. Ribuan prajurit membuat barikade untuk melindungi istana.


Dahsyat! Mengerikan, amat sangat menakutkan, entah ungkapan takut seperti apa lagi yang bisa dikatakan. Panah yang diluncurkan Arcansas langsung mengenai barikade dan delapan pendekar!


Langit semakin gelap, kilat terus menari seolah membelah langit menjadi dua. Terlihat pendar cahaya yang semakin membara! Disusul teriakan kesakitan, rintihan, dari orang-orang yang meregang nyawa.


Bisa diperkirakan, ada kurang-lebih 1000 prajurit titan tewas. Satu buah anak panah milik Arcansas bisa menjatuhkan korban sebanyak itu.


Delapan pendekar memiliki fisik yang lebih kuat dan gesit, mereka bisa menghindar sebelum terkena serangan tersebut. Jika mereka tak sempat mengelak, sudah pasti akan memberi kerugian bagi kerajaan. Ditambah lagi Firtos telah membelot dan memihak pada Arcansas.


Panah pemberian Silav sungguh menakjubkan. Panah tersebut mampu menjatuhkan prajurit dalam jumlah banyak, mungkinkah panah itu berkekuatan mistis? Arcansas tersungkur dan kulit tangannya terkelupas. Mungkin efek dari menggunakan panah itu.

__ADS_1


Livinett muncul dari balik pintu istana setelah serangan berakhir. Kobaran api yang membakar tubuh prajurit masih menari-nari. Bau daging yang terbakar menusuk hidung. Livinett bergidik ngeri ketika ia berjalan melewati ribuan mayat prajuritnya. Mereka telah berkorban demi kerajaan.


“Apa yang Anda lakukan di sini Tuan Putri!” Nie berteriak.


Pendekar wanita itu langsung mendekat ke arah putri. Kika, Roan, Tiir, Giimr, serta prajurit yang selamat merapatkan barisan untuk melindungi Livinett.


“Jangan lengah! Ia bisa menyerang kapan saja,” ucap Tiir.


Tak disangka, Roan maju dengan gagah berani. Ia mencabut pedang yang lumayan besar. Meski masih kalah dengan ukuran pedang milik Hanzes. Roan yang hanya memiliki daun telinga satu terlihat akan melakukan perlawanan.


Roan langsung menuju ke arah Arcansas yang masih belum berdiri. Dengan sigap, Roan mengayunkan pedangnya untuk menebas Arcansas. Semua mata tertuju pada adegan tersebut, si kembar Wilson tak mungkin sempat untuk menyelamatkan Arcansas.


Terdengar lolongan serigala milik Ulvir, Firtos melakukan serangan terhadap Roan. Roan ambruk terkena sabetan cemeti milik Firtos. Ayunan cambuk itu merobek perut Roan, tapi Roan masih sanggup berdiri lagi.


“Sialan! Kenapa Firtos melakukan ini semua!” teriak Giimr.


Ia berlari ke depan untuk membantu Roan yang hampir terbunuh. Disusul Tiir dan Karl. Akhirnya, Karl yang memiliki julukan Triad Cartax juga ikut melakukan pergerakan.


Karl melolos anak panahnya lalu membidik ke arah Firtos. Anak panah yang dilontarkan Karl meliuk-liuk tak terarah, susah ditebak akan ke mana. Ujung anak panah itu berputar lalu menghujam menuju dada Firtos.


Firtos mengayunkan cambuk berkali-kali, timbulah angin yang kuat dan menerbangkan debu di sekitarnya. Anak panah tersebut tertahan lalu jatuh ke tanah.


Keadaan semakin buruk. Daz, Fell, serta Ulvir berhasil menyerang Hanzes dan pendekar yang menjaga Livinett. Sesuai rencana, kedatangan Arcansas bersama sisa pasukannya adalah untuk merebut Putri Livinett yang telah menipu Arcansas.


Serigala peliharaan Ulvir berlari menuju ke arah Livinett. Mulut serigala itu dipenuhi darah, taringnya tajam siap mengoyak daging menjadi bubur. Serigala itu dihadang oleh prajurit bertombak.


Nie terpojok, ia menggunakan dua pedang dan berhadapan dengan Daz. Pendekar wanita tersebut memakai pelindung kepala, rambutnya dikucir. Titan wanita yang menakjubkan. Sayang, satu pedangnya telah patah kerena menerima serangan kuat dari Daz.


Di sisi lain, Hanzes melawan prajurit wanita yang baru datang dari Suin bersama Arcansas. Pedang tipe satu milik Hanzes sudah meronta ingin menyobek perut wanita itu.


“Halo cantik! Kenapa kau berpihak pada iblis itu?” tanya Hanzes.


“Jangan biarkan pertahananmu terbuka, pria tolol!”


Hanzes terkekeh, wanita di hadapannya cukup berani juga.


“Siapa namamu! Aku Hanzes yang tak kenal ampun bahkan pada wanita. Kau akan mati di tanganku!”


“Senang bisa melawanmu! Aku Filiora, pedangmu sepertinya kuat! Aku tertarik untuk memilikinya.”

__ADS_1


Mereka berduel habis-habisan. Saling mencecar menggunakan pedang. Ukuran tubuh Filiora lebih pendek, ia sangat cekatan. Tangannya kuat dan mampu menahan serangan yang dilancarkan Hanzes.


Fell menghadang Tiir dan Giimr. Dua pendekar itu memojokkan Fell. Tetapi, tidak berselang lama, Fell mampu mengimbangi serangan Tiir dan Giimr. Ular yang ada di leher Giimr ikut menyerang dan berusaha menggigit Fell.


Pertarungan yang benar-benar gaduh. Arcansas mulai bangkit, ia belum mengerti kenapa Firtos berkhianat pada kerajaan dan memilih untuk membantu Arcansas.


Karl masih terus bertarung melawan Firtos. Karl yang dijuluki pendekar kuku beruang semakin ganas. Sedangkan Kika mencabut bulu ketiaknya lalu membantu menjaga Livinett dari serangan serigala serta prajurit milik Arcansas.


 


 


Joan menyambangi Arcansas yang masih belum berdiri sempurna. Joan merupakan pengguna panah yang cukup hebat, ia juga menyandang julukan Triad Cartax.


“Hatimu sudah beku, kau termakan kegelapan dan ambisimu!” Joan berucap.


Suaranya sangat berat dan serak. Ia juga termasuk pendekar yang memiliki sifat tenang seperti Firtos.


Arcansas tersenyum sinis. “Apa yang ketahui tetang diriku? Ambisiku lebih besar dari siapa pun!”


Arcansas mencabut pedangnya, ujung pedang itu siap mencicipi daging Joan.


“Kau pengguna panah dan pedang yang hebat,” Joan memuji.


“Tak usah basa-basi lagi, akan kuhabisi kau!”


Perang semakin memanas! Tak bisa lagi dihentikan. Siapa yang unggul sudah terlihat, kini pendekar suruhan raja telah terpojok. Arcansas mampu membuat kekacauan besar.


Joan kewalahan, padahal Arcansas tidak bisa maksimal menggunakan tangannya. Joan tersungkur, kakinya terkena sabetan pedang milik Arcansas. Sepertinya memutus tendon pada betisnya.


Arcansas langsung berlari menuju ke arah Livinett. Si kembar Wilson juga semakin menggila, mereka berdua membuat pendekar-pendekar dari Pegalisch kelabakan. Ulvir berhasil membantai prajurit yang menjaga Livinett. Ia sebentar lagi akan berhadapan dengan Kika! Arcansas datang dengan cepat, ia merobohkan semua prajurit yang menjadi dinding penghalang.


Sampailah Arcansas di hadapan putri tersebut. Dengan tatapan tajam, Arcansas langsung meraih tangan Livinett.


“Kau berani mempermainkanku! Putri yang sangat sembrono. Sekarang ikutlah denganku, kau akan kujadikan istri!” ucap Arcansas.


“Jangan harap aku akan menuruti kemauanmu. Sampai mati pun kau tidak akan mau menjadi istrimu!”


“Simpan ocehanmu untuk nanti! Kau akan kubawa pergi dari sini.”

__ADS_1


Dengan sigap Arcansas meraih pinggul Livinett, ia lalu memanggulnya seperti membawa karung gandum. Livinett telah di tangan Arcansas. Raja Trill tidak bisa berbuat apa-apa, ia terlambat datang. Semua karena Pabel yang menahan raja agar menuju ke menara.


“Mundur!” teriak Arcansas.


__ADS_2