Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 29: Dormogat! Panji Merah Darah


__ADS_3

Tidak ada wujudnya, hanya suara bisikan. Apakah ia berhalusinasi, atau otak di dalam kepalanya mulai tidak berfungsi dengan baik sehingga memunculkan bunyi seperti itu. Mungkin saja memang dia dalam keadaan kurang baik.


Arcansas mencoba tenang, ia berjalan menyusuri jalan setapak yang ada. Tanah sedikit bergetar terkena hentakan kaki. Arcansas memelankan langkahnya agar tanah yang ia pijak tidak longsor.


Apa kau sudah menemukan batu asli itu?


Tiba-tiba suara aneh kembali terdengar. Tidak salah lagi, memang ada orang di sana yang bersama Arcansas. Sudah pasti ia sedang mengerjai Arcansas.


“Sipa yang berbicara!?” teriak Arcansas.


Tak ada yang menyahut, hanya gemerusuk daunan yang tertiup angin. Tampak pohon kecil yang tumbuh di sana, Arcansas menuju ke arah batang pohon berwarna coklat itu. Daunnya saling beradu ketika diterpa angin. Desik daun yang menggelitik telinga, membuat Arcansas memalingkan pandangan.


Ia kembali melongok ke bawah, jurang yang dalam itu seperti mulut Onbir yang siap melahapnya. Ia jadi teringat kembali dengan kematian orang tuanya yang dimakan Onbir.


Ia mencoba menepis semua pikiran negatif. Baginya, kejadian mengerikan tersebut sudah berlangsung sangat lama. Tidak akan ada yang bisa ia lakukan untuk mengembalikan kedua orang tuanya.


Onbir adalah musuh terbesarnya sejak kejadian itu. Arcansas akan terus memburu Onbir di mana saja. Bahkan, jika di neraka mereka masih dipertemukan, Arcansas bersumpah untuk terus membunuh Onbir berkali-kali.


Mati kemudian mati lagi, berkali-kali mati. Mungkin itu yang ada dalam benaknya, ia sudah tidak peduli dengan yang namanya memberi ampun pada Onbir. Kala itu, ia masih sangat lemah, sehingga tidak bisa melawan monster mengerikan tersebut, dan hanya bisa menyaksikan tubuh orang tuanya koyak ditikam Onbir.


Silav yang membuat Arcansas menjadi pemuda kuat. Dengan tulus, pendekar dari Pulau Winora itu melatih Arcansas berbagai ilmu perang dan cara menggunakan senjata. Saat itu saja, Arcansas sudah dikenal oleh penduduk Win sebagai rajanya para pemburu.


Arcansas sering mendapat banyak hewan buruan, bahkan tidak ada yang mampu menyainginya. Sekali berburu, ia bisa menghabisi semua hewan yang ada di hutan kecil.


Ia sadar dari lamunan akan kedua orang tuanya. Kini ia semakin waspada. Suara yang seolah bersemayam di dalam kepalanya tidak terdengar lagi.


Arcansas mendadak merasa pusing, semua menjadi berputar. Ia ambruk tak sadarkan diri. Apa yang terjadi, mungkinkah itu hanya mimpi? Kenapa ada bisikan yang menanyakan tentang batu.

__ADS_1


Entah berapa lama Arcansas tak sadar, ia kembali membuka mata. Sekarang ia berada di atas batu besar. Ia duduk bersila di atas batu tersebut, terdengar gemercik air di dekatnya. Ada banyak butiran air yang menetes dari atas, lalu menyerang dengan ganas. Hujan yang begitu dingin.


Aliran deras berada di dekat batu tersebut. Arcansas berada di sungai. Hujan makin lebat, debit air pasti akan naik dengan cepat jika ia tak segera pergi. Arcansas juga tidak tahu kedalaman sungai itu.


Tenanglah. Sekarang kau bisa memiliki batu yang asli.


Kembali suara misterius terdengar. Arcansas jadi semakin tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Mungkinkah ia dipermainkan oleh sesuatu yang gaib—atau semacamnya.


“Siapa kau! Tunjukkan wujudmu!”


Arcansas berteriak dengan lantang, belum ada yang menyahut, apa memang ia sudah menjadi gila? Tidak! Sesuatu memang sedang berbicara dengannya.


Aku adalah cerminan dari dirimu.


Suara misterius itu kembali bergema, seperti mempunyai ruang sendiri di dalam kepala Arcansas. Aneh, tidak mungkin ada yang bisa memasuki alam pikirannya. Arcansas mencoba tidak mempercayai hal semacam itu.


Tidak ada pilihan lain, Arcansas nekat. Ia harus meraih tanah di tepi sungai, loncat dengan kekuatan penuh, tapi ia tak mampu memperkirakan jarak ke tepi. Sungai tersebut sangat lebar, jika batu tempatnya berdiri sebesar itu, pastilah batu itu juga memliliki sisi yang lebih besar yang terendam di bawah air.


Arcansas mencoba mencabut pedangnya, ia mengulurkan pedang tersebut ke dalam air. Hingga ketiak terendam, kedalaman masih tak bisa diprediksi. Dasar sungai tak tersentuh. Arcansas tak mungkin menceburkan diri, arusnya begitu ganas, dan sangat cepat.


Ketika hendak menarik kembali pedangnya, ia terpeleset lalu tercebur. Tubuhnya langsung tenggelam untuk beberapa detik, lalu muncul lagi dan ia langsung hanyut. Mulutnya terisi air, ia akan pingsan jika terlalu banyak menelan air. Arus sungguh tak bisa dilawan.


“Hah!”


Arcansas bangun, ia megap-megap. Ulvir langsung terperenyak, ia menjatuhkan bokongnya dengan keras ke tanah.


“Ada apa!? Kau bermimpi lagi?” tanya Ulvir.

__ADS_1


Arcansas terbangun karena tubuhnya digoyang-goyang oleh Ulvir. Ia masih berusaha mengatur napas, mimpi yang baru saja terjadi seperti nyata. Membuat Arcansas berkeringat sangat banyak. Mentari mulai merekah di ufuk timur, sebentar lagi langit akan cerah.


“Ah...!”


Arcansas hanya menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. Ia masih tak bisa berbicara, mungkin enggan. Mimpinya terbilang cukup mengerikan, ia yang memiliki kekuatan hebat seolah tak mampu melawan alam. Arcansas jadi merasa malu untuk menceritakannya pada Ulvir.


“Kenapa?” Ulvir masih menanyai.


“Tidak. Aku hanya mengigau seperti biasa.”


“Apa benar seperti itu?”


“Ya. Silakan pergi, aku tidak apa-apa.”


Ulvir meninggalkan Arcansas yang baru bangun. Sebenarnya Ulvir masih penasaran, mungkin saja memang mimpi mengerikan yang baru dialami Arcansas. Ulvir menerka, tapi ia tidak mau memikirkannya terlalu dalam, takut Arcansas marah.


Firtos baru selesai mencuci sepatu kulit yang biasa ia kenakan. Ia lalu berjalan ke arah Arcansas yang sedang merenung. Cambuknya tersampir di pinggul. Ke mana pun Firtos pergi, cambuk itu selalu tak terpisah darinya.


Firtos ikut duduk di dekat Arcansas. Mereka lalu berbincang, tampak para koki mulai sibuk memasak. Daging segar serta buah-buahan terlihat menggunung di keranjang dekat perapian. Lian sibuk mondar-mandir untuk meracik bumbu dan mengatur nyala api pada tungku besar.


Empat titan menyisiri area perkemahan, lalu kembali ke bawah menara. Mereka saling berkomunikasi dengan dua titan yang berada di atas menara pengawas.


Bendera Suin berkibar dengan indah, bendera yang berbentuk segitiga panjang, berwarna merah darah dan memiliki gambar dua lingkaran yang mengapit ujung panah. Melambangkan keberanian absolut dari orang-orang Suin.


Beberapa panji berkibar di sudut perkemahan. Ada empat divisi di bawah naungan panji yang sama. Dua pasukan di bawah perintah Daz dan Fell, satu pasukan dipimpin Serkalo, sekarang ia tewas. Kemudian panji terakhir dipegang Tarokh, ia juga telah tewas. Empat divisi sama-sama memegang keberanian dalam tanda kebesaran Suin, bendera Dormogat!


Aliansi terbesar pernah terjadi. Sebelumnya, Tarokh adalah pemberontak yang menyuruh Suin untuk bergabung kembali dengan Tsandor. Ia kemudian beraliansi dengan Arcansas untuk menaklukkan Pegalisch.

__ADS_1


__ADS_2