Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 5: Lemuria


__ADS_3

Saat ini pikiran Arcansas masih fokus kepada Batu Livinett yang terkenal itu. Permata yang bersinar terang, sangat menyilaukan, membuat Arcansas ingin segera memegangnya. Meski hanya sebuah cerita yang belum pasti kebenarannya, tapi membuat batu itu seolah diagung-agungkan. Mungkin jika batu itu dijual di pasar, harganya akan sangat mahal.


Bisa saja satu batu berukuran kecil akan menyentuh harga hingga ratusan ribu rath, bahkan jutaan rath. Batu yang berada di tangan Putri Livinett tentu sangat besar. Ukuran tubuh orang Suin dan Pedral hampir sama. Tinggi mereka sekitar 4-6 meter. Kecuali raksasa abnormal yang bisa memiliki tinggi hingga 8 meter.


Mata uang yang digunakan oleh orang-orang Pedral bernama rath. Pecahan terkecil 1000 rath, berupa kepingan logam. Logam bulat dan memiliki dua lubang di tengah. Ditulis menggunakan angka Hoinor. Deret angka yang ditemukan Kruil Hoinor, tokoh sejarah dari Pedral. Pecahan terbesar 100.000 rath, menggunakan logam yang lebih jumbo.


Pecahan terbesar memiliki nilai sama dengan harga 40 karung gandum. Jadi, jika ingin membeli binatang peliharaan yang harganya lebih tinggi, mereka butuh uang sekitar 2.000.0000 rath. Itu sudah bisa membeli binatang yang memiliki kualitas paling bagus. Misal tubuh gemuk dan sehat.


Orang di Pedral mengenal sistem pertukaran menggunakan logam dari para pendatang. Awalnya mereka bertukar barang hanya berdasarkan kualitas dan mempertimbangkan kegunaan. Jika tidak terlalu dibutuhkan, mereka cenderung membatalkan transaksi pertukaran.


Barulah produksi logam di Pegalisch terjadi di bawah perintah Raja Trill. Logam mulia seperti besi dan timah telah ditemukan di benua yang subur itu. Banyak pekerja yang menambang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka mnggali tanah dan mengolah bijih besi dari bebatuan yang ditemukan di sisi tenggara istana.


Semua sejarah penemuan logam dan timah, serta bijih besi yang sangat berguna itu ternyata kembali mengarah kepada kaum dari Pulau Suin. Dalam perkamen-perkamen tua, terdapat sebuah gambar kuno yang menceritakan sesuatu penemuan besar.


Lukisan kuno yang digambar menggunakan getah tumbuhan langka tersebut bisa terawetkan dengan baik. Getah tumbuhan yang digunakan berasal dari pohon legendaris yang tumbuh di sekitar situ. Mereka menyebutnya pohon Wora.


Padahal terdapat sebuah fakta lain. Bahwa sebetulnya pohon Wora yang disebut di dalam perkamen tua itu memiliki nama asli Sonokeling. Kisah ini masih berhubungan dengan Bangsa Lemuria. Bangsa itulah yang menyebarkan pohon Sonokeling di Pulau Suin.


Getah yang dihasilkan dari pohon Wora alias Sonokeling sangat kuat. Lengket, berwana coklat kemerahan, tahan lama tidak mudah luntur. Getah itu bisa dimanfaatkan untuk membuat tulisan di atas kayu, batu, dan perkamen. Sejarah bangsa-bangsa memang tidak akan selesai satu hari jika dibahas. Sungguh, yang namanya misteri tersembunyi masih sangat banyak.

__ADS_1


Catatan kuno yang menggambarkan sebuah penemuan itu membentuk gambar lubang besar. Lubang itu diyakini sebagai galian atau tempat pertambangan. Banyak gambar manusia di sekitar lubang itu. Mereka menumpuk bebatuan raksasa, mungkin batu-batu itu yang akan diolah menjadi logam. Mereka sudah bisa mengolah bijih besi untuk dijadikan sebagai senjata.


Ilmu tingkat tinggi seperti itu seperti jatuh dari langit dan siap memberi berkah kepada penduduk Suin. Tentunya berkat campur tangan makhluk yang disebut sebagai Bangsa Lemuria. Bagaimanapun mereka seperti koloni lebah yang memiliki kejeniusan tingkat tinggi. Namun, untuk saat ini Arcansas tidak tahu-menahu tentang bangsa itu.


Selain itu, penduduk Suin di masa lalu memang telah memiliki daya khayal tinggi. Mereka bisa membuat pekerjaan menjadi lebih mudah. Memanfaatkan alam sekitar untuk menunjang kehidupan. Mereka juga mampu membuat sebuah adonan yang menjadi cikal bakal komponen pembuatan dinding. Mereka mencampurkan tanah dengan air lalu dibakar. Teknik ini sama dengan membuat batu-bata.


Mereka mampu memetakan wilayah Suin yang tidak terlalu luas. Jika membuat sebuah peta, tentu butuh penalaran yang tinggi. Kondisi geografis, topografi tanah, posisi sungai dan lainnya digambar secara akurat. Peta yang nyaris sempurna. Hal ini sangat tidak mungkin dilakukan tanpa melihat pemandangn dari udara.


Ada gambar di dalam reruntuhan Kastil Dum yang mengisahkan bahwa mereka dibantu untuk melakukan semua itu. Gambar-gambar di perkamen itu juga tidak sedikit yang berbentuk aneh. Terdapat gambar sosok yang berbentuk seperti manusia. Namun tubuhnya sangat kecil karena ada gambar sosok yang lebih besar. Mungkin saja sosok raksasa itu adalah orang Suin. Dan yang kerdil adalah Kaum Lemuria. Arcansas tidak tahu pasti dengan kebenarannya karena tidak menyaksikan sendiri.


Namun ada yang membuat Arcansas kehilangan fokus. Dia bermimpi aneh dalam tidurnya. Ia berada di sebuah tempat yang sangat asing. Dikelilingi oleh makhluk aneh yang memiliki wajah seperti dirinya. Empat gunung membentang ke arah laut. Ada sungai yang penuh dengan ikan raksasa. Entah, dia sendiri tidak paham arti mimpinya tersebut.


Sebuah mimpi yang mampu mengganggu Arcansas. Apa ada petunjuk dari mimpi tersebut, ataukah hanya bunga tidur semata.


***


Fell berhadapan langsung dengan Bion. Pemimpin pasukan milik Raja Trill sungguh berbeda. Sorot mata tajam, tulang wajahnya sangat tebal dan kokoh. Bion bak monster yang haus darah.


“Halo, Paman! Kau terlihat kelelahan.”

__ADS_1


“Jangan banyak bicara. Aku akan menebasmu!” Bion menyeringai. Ia menanggapi ucapan Fell dengan penuh amarah.


“Sepatu perangmu terlihat keren, apa itu corak aslinya?”


“Ini tahi kerbau!”


“Jorok sekali. Kau suka bermain tahi rupanya.”


“Diamlah dan aku akan membunuhmu!”


Dua bilah pedang saling beradu, berdesing dan memercikkan sedikit api karena gesekan yang kuat. Tangan kokoh milik Bion membuat Fell mundur beberapa langkah. Debu beterbangan, tanah terus bergetar setiap kali mereka melangkah. Mereka beradu pedang dengan penuh semangat.


Pertarungan mulai seimbang, tapi karena Bion memiliki fisik yang lebih kuat dari Fell, ia mulai menyudutkan Fell. Serangan bertubi-tubi diterima oleh Fell Wilson. Hampir saja Fell tertebas kepalanya, ia berhasil menghindar dengan cara merunduk. Tak hanya sampai di situ, Bion terus mencecar Fell. Pemuda itu tak sanggup lagi menahan pemimpin pasukan itu. Bion sungguhlah kuat.


Ketika semakin terdesak, beruntung Daz muncul dan membantu Fell. Kini mereka bertarung bersama melawan Bion. Dua lawan satu, sungguh pertempuran yang berat sebelah. Namun mau bagaimana lagi, inilah perang. Tidak ada lagi rasa belas kasihan.


“Ouw! Rupanya kalian bocah kembar. Sangat menarik, kalian akan mati di tanganku!” Bion mencoba mengancam.


Sabetan demi sabetan dilancarkan oleh si kembar. Meliuk, melompak, lalu menerjang. Mereka bertarung habis-habisan. Keringat mulai membanjiri wajah.

__ADS_1


__ADS_2