
Arcansas menyunggingkan senyum, Livinett justru membuat kesepakatan sendiri untuk menyerahkan batu itu.
Sepertinya tidak akan merugikan Arcansas. Mungkin untuk saat ini ia bisa menuruti kata-kata putri itu terlebih dahulu.
Arcansas tentu mempunyai rencana lain, dia sangat licik dan pandai menipu. Bisa saja setelah mendapatkan batu tersebut, ia akan kembali menyerang istana. Tujuan utamanya adalah menguasai Benua Pegalisch, tidak mungkin Arcansas mudah dirayu begitu saja.
Fell memiringkan kepala, ia tampak ragu dengan jawaban yang akan diberikan oleh Arcansas. Tuannya itu selalu memilih hal yang tidak mengenakkan. Semua yang ia pilih berujung petaka. Misal saja, saat ia memilih makanan untuk pasukan, ia justru memilih makanan yang sudah basi. Terpaksa mereka makan makanan yang sudah tidak enak.
“Tuan.” Fell mendekat ke arah Arcansas. “Bagaimana kalau tawarannya kau tolak. Ajukan sendiri tawaranmu, katakan pada mereka seandainya kau yang menang, kau akan ena-ena dengan Putri Livinett.”
“Itu hanya keinginanmu, Fell” ucap Arcansas.
Fell mundur, ia menyerah. Tidak mungkin Arcansas akan menuruti kata-katanya. Sungguh konyol jika harus mengajukan kesepakatan seperti itu.
“Baiklah. Aku tidak akan menerima batu darimu, Nona. Aku akan ena-ena denganmu untuk semalam. Bagaimana? Tentu kalau aku berhasil mengalahkan pria ini.”
Welah!!! Fell terkejut, ia langsung menoleh ke arah tuannya. Ternyata Arcansas justru mengucapkan tawaran tersebut. Mantap, nih. Kalau Arcansas menang, Fell pasti bisa mengintip Arcansas yang sedang ena-ena dengan Putri Livinett.
“Kau tidak pantas disebut pendekar karena kelakuanmu!” ucap Putri Livinett.
Sejurus kemudian, Arcansas melepaskan pedang dari sarungnya. Ia menghunuskan ke arah Livinett, namun ditangkis oleh Liobo.
“Kita akan mencari tempat, kan?” ucap Liobo.
“Ya. Tanganku hanya kepleset,” sahut Arcansas.
Serangan barusan menimbulkan angin yang kuat sehingga menyambar penutup wajah yang dikenakan Putri Livinnet. Gagang pedang yang digunakan Liobo juga tersangkut di rumbai-rumbai penutup wajah tersebut, penutup terlepas dari wajah sang putri.
Semua tertegun melihat paras cantik yang muncul dari balik penutup wajah. Arcansas tidak mengedipkan mata. Ia sungguh terpesona dengan kecantikan yang tiada tandingannya. Putri Livinett benar-benar memiliki paras cantik jelita, ia pantas dinobatkan sebagai perempuan paling cantik di jagad raya. Arcansas belum pernah melihat yang secantik itu.
__ADS_1
“Baik! Sudah kuputuskan, aku akan menang melawan Lonos ini! Kemudian aku akan menikahimu, Livinett!”
“Bodoh! Namaku Liobo! Kau harus mengingat dengan baik nama orang yang akan membunuhmu.”
“Ah. Iya Liobo. Akan kuingat. Sekarang cepat tentukan tempat pertarungan kita.”
Raja Trill tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Putrinya jadi bahan taruhan. Arcansas sungguh tidak termaafkan. Ia harus dihukum berat. Pabel juga merasa geram melihat kelakuan penjahat di hadapannya. Arcansas pantas disingkirkan.
Kekuatan Liobo sepertinya sebanding dengan Arcansas. Singa Merah dari Suin akan melawan Dahi Besi dari Arbitos. Liobo terkenal dengan serangan mematikan miliknya. Ia akan menggunakan dahinya untuk mengakhiri pertarungan.
Dahinya itu dikatakan lebih keras dari besi dan mampu menahan sabetan pedang paling tajam. Kabar yang beredar, ia sama-sama berdarah dingin seperti Arcansas. Liobo pernah membantai 10.000 penduduk yang dicurigai sebagai pendatang ilegal dan menyebarkan penyakit mematikan.
Dua pria paling badas dan sadis akan saling berhadapan. Pertarungan mereka pasti akan sangat seru. Mereka sama-sama kuat serta kejam. Namun, Arcansas tidak memiliki pengetahuan atau informasi apa-apa mengenai Liobo. Sebaliknya, Liobo juga hanya mendengar sepak terjang Arcansas dari mulut orang-orang. Baru kali ini mereka saling berhadapan.
Pertarungan seolah berasal dari dua dunia yang berbeda. Pertarungan dari surga dan neraka yang tiada tandingan. Akhirnya mereka sepakat untuk bertarung di arena latihan tempur milik kerajaan.
Desingan pedang yang saling berbenturan pasti akan memekakkan telinga. Si kembar Wilson melangkah di belakang tuan mereka. Sekarang semua menuju ke tempat pertarungan.
Tempat itu memiliki dinding tinggi dan tebal. Luasnya cukup untuk menampung 5000 prajurit titan. Maklum, kerajaan itu dibangun dengan sangat bagus. Raja Trill yang telah berkuasa selama 30 tahun memberikan yang terbaik untuk rakyat dan membuat pertahanan yang hebat. Meski semua itu mulai hancur semenjak kedatangan Arcansas.
Harapan satu-satunya yang masih tersisa berada di tangan Liobo. Raja Trill tidak bisa lagi berbuat banyak. Petinggi dari pasukan Arbitos itu seolah menjadi cahaya dari surga yang memberikan harapan besar bagi raja.
Putri Livinett mengekor di belakang ayahnya dan dikawal oleh 10 prajurit. Pabel terus berjalan sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Pertarungan dua makhluk sadis segera terjadi.
“Bagaimana kalau mereka berdua menghancurkan tempat ini?” Pabel berbisik ke telinga raja.
“Tidak masalah. Asalkan orang bar-bar dari Suin itu bisa dikalahkan. Aku tidak ingin kerajaanku jatuh ke tangan penjahat seperti dia.”
Pabel hanya diam mendengar jawaban sang raja. Orang-orang istana keluar untuk membantu para prajurit yang terluka. Kondisi kerajaan sungguh kacau. Tidak ada ketenangan sama sekali karena ulah Arcansas.
__ADS_1
Mengapa perang harus terjadi. Apa tidak ada jalan lain untuk menciptakan kedamaian. Perebutan kekuasaan hanya akan menimbulkan kesengsaraan.
Perang adalah sesuatu yang dibenci oleh langit. Namun kita justru menentang langit. Apa dengan perang semua akan merasakan kenikmatan? Sepertinya hanya ada jerit tangis yang penuh penderitaan. Nyawa melayang, harta benda musnah, wilayah menjadi hancur.
Kerusakan yang timbul hanya akan menjadikan rasa derita semakin menggumpal. Kesedihan di dalam hati makin mengeras dan tak bisa dihancurkan lagi karena diliputi kegelapan. Sangat dingin dan beku bahkan mata pedang yang tajam mungkin tidak mampu menyentuhnya.
Mimpi-mimpi ngeri dan teror yang semakin merebak membuat banyak orang ketakutan dan lari pontang-panting. Mereka gundah-gulana menjalani kehidupan. Seakan tidak ada harapan yang indah untuk hari esok. Perang adalah kehancuran, perang adalah kebinasaan yang nyata. Menghentikan perang sangat sulit jika masih ada hati gelap di salah satu pihak.
Apa dengan mengobarkan perang hidup akan menjadi lebih bermakna? Perang adalah penjara. Semua terbelenggu di dalam api derita yang tiada akhir. Membusuk di dalam sangkar bersama api kebencian. Terbakar menjadi abu di dasar lembah yang gelap. Perang haruslah berakhir.
Mungkin itu yang dipikirkan oleh Raja Trill. Ia sungguh membenci kerusuhan dan permusuhan. Tidak ada yang indah dari sebuah perang. Sebagai seorang raja, beliau merasa telah gagal.
Menjadi raja yang bijaksana dan adil sungguhlah sulit. Bukan perkara mudah, memimpin satu benua yang luas dengan jutaan penduduk. Ditambah lagi saat ada penyusup dan berbagai ancaman lain.
Keadilan memang harus ditegakkan. Akan tetapi, usia sudah semakin tua. Beliau mulai pesimis serta ingin menyerah saja. Namun jika kerajaannya jatuh ke tangan yang salah, pasti akan menimbulkan lebih banyak kekacauan. Perkara kecil menjadi besar jika tidak segera diselesaikan. Seperti halnya kobaran api yang akan semakin membesar bila tidak segera dipadamkan.
Perang adalah wabah yang mematikan semua orang, ia menjangkit tanpa pandang bulu dan merenggut nyawa siapa saja. Perang bak meteor, ia menghancurkan pendirian paling kokoh di dalam hati untuk menyerah.
“Lihatlah. Pedang yang digunakan oleh pria itu.” Daz menunjuk pedang yang tersarung di punggung Liobo.
“Kenapa memangnya?” Fell keheranan.
“Sepertinya pedang itu memiliki kekuatan sendiri. Ia terasa hidup.”
“Jangan mengkhayal yang tidak-tidak. Mana mungkin pedang hidup.”
“Hanya firasatku saja. Sepertinya ini akan menjadi pertarungan yang sengit dan lama berakhir.”
Fell menarik napas, “kita lihat saja nanti. Apakah duel yang mereka lakukan akan berakhir cepat.”
__ADS_1