Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 8: Dahi Besi dari Arbitos


__ADS_3

“Maaf, Tuan! Kami sedikit terlambat karena ada beberapa titan abnormal yang susah dibereskan,” ucap Daz Wilson.


“Tidak masalah. Sekarang bergegaslah menuju kamar Putri Livinett. Kita rebut batu miliknya.”


“Apa kita tidak jadi menculik putri juga?”


“Kalau sempat, culik sekalian saja.”


“Baiklah.”


Setelah sampai di kamar paling atas, tepatnya ruang ketiga, mereka dihadang 20 prajurit sekaligus.


Pertarungan tak terelakkan, si kembar Wilson maju melawan prajurit yang menjaga pintu. Arcansas langsung mendobrak pintu tersebut. Ia mendapati sosok wanita yang sedang berdiri di samping ranjang.


“Akhirnya aku menemukanmu, Putri Livinett!” teriak Arcansas. “Ikutlah denganku, aku akan membuatmu bahagia, asal batu Livinett milikmu kau berikan padaku.”


Putri Livinett menggunakan penutup wajah. Arcansas melangkahkan kaki dan ingin menyentuh tubuh putri kesayangan Raja Trill. Namun hal tak terduga terjadi, sebilah pedang nan tajam datang dari luar jendela. Pedang itu melesat cepat ke arah Arcansas. Beruntung Arcansas bisa mengelak.


Pedang tersebut menancap di dinding. Siapa gerangan yang melemparkan pedang itu. Dia pasti orang yang sangat kuat dan memiliki lengan bagus.


“Kau tidak akan bisa menyentuh Putri Livinet, wahai Singa Merah dari Suin!”


Suara misterius tiba-tiba muncul. Siapa yang bicara barusan? Arcansas membalikkan badan. Si kembar Wilson masih di depan pintu, mereka sedang menangani prajurit yang tadi menjaga pintu.


“Siapa kau!? Keluarlah!” teriak Arcansas.


“Aku di belakangmu!”


Deg! Arcansas terkejut dengan kemunculan pria misterius itu. Dia tiba-tiba ada di belakang Arcansas tanpa diketahui kapan munculnya. Dia pasti bukan orang sembarangan. Arcansas mundur beberapa langkah lalu memasang kuda-kuda.


Pria itu pasti yang melemparkan pedang tadi. Arcansas kaget bukan kepalang, ada orang yang mampu membuatnya mengangkat tangan untuk bersiaga.


“Kuakui kehebatanmu karena mampu masuk sejauh ini, Arcansas.” Ucap pria itu sambil tersenyum.


Putri Livinett melangkah ke belakang pria misterius yang baru saja datang. Arcansas menerka-nerka, ia mencoba mencari tahu pria itu. Apakah ia petinggi kerajaan, atau komandan tertinggi di dalam pasukan kerajaan yang sebenarnya.


“Terima kasih sudah menolongku, Tuan Rey.” Livinett terlihat tenang.


Arcansas bingung, siapa orang yang baru saja dipanggil Rey. Arcansas tidak pernah melihat atau mengetahui asal-usul pria tersebut.


“Siapa kau?” Arcansas kembali bertanya.

__ADS_1


“Akan kuperkenalkan diriku. Sungguh tidak sopan jika kau tidak mengetahui nama orang yang akan membunuhmu. Namaku Rey—Rey Liobo, ingat itu baik-baik.”


“Baiklah. Namaku Arcansas, senang bisa mengenalmu.”


“Bisa kita lanjutkan?” tanya pria bernama Rey Liobo.


“Ya. Aku akan segera menghabisimu,” ucap Arcansas penuh percaya diri.


Si kembar Wilson selesai membereskan tikus-tikus yang ada di luar. Mereka berdua lalu menyusul Arcansas.


“Itukah putri yang ingin kau ajak ena-ena, Tuan? Kenapa wajahnya ditutupi seperti itu?” tanya Fell.


Arcansas hanya menoleh ke arah Fell.


“Diamlah, dasar bodoh!” celetuk Daz.


“Suka-suka! Kau mau ena-ena juga, ya? Itu putri yang katanya cantik.”


“Kubilang diam, Fell!”


Fell hanya melenguh kesal, karena baru kali ini ia diabaikan oleh tuannya. Arcansas tidak menanggapi ucapan yang dilontarkan Fell barusan. Bagaimana mau menanggapi, yang dibahas oleh Fell hanya ena-ena.


Sebelumnya, saat pertama kali membuat kekacauan, Daz juga sempat ditawari ena-ena oleh wanita. Fell mungkin iri karena tidak diajak ena-ena oleh seorang wanita. Lagi pula si kembar Wilson itu masih berusia 15 tahun.


Tiba-tiba muncul Raja Trill, ia berdiri di depan pintu kamar. Livinett langsung berlari ke arah ayahnya.


“Terima kasih sudah bersedia membantuku, Dahi Besi! Kau akan mendapat bayaran yang setimpal karena menyelamatkan istana dan putriku,” ucap Raja Trill.


Dahi Besi? Sang raja baru saja memanggil pria bernama Rey dengan sebutan aneh. Pria itu menoleh dan menatap sang raja. Ia lalu berjalan untuk mencabut pedangnya yang tertancap di tembok.


“Jangan samakan pasukan Arbitos seperti pasukanmu yang gila dengan uang. Aku tidak butuh bayaran yang kau tawarkan. Aku ke sini atas kemauan sendiri untuk menghadapi Singa Merah.”


Dia adalah Rey Liobo yang dibicarakan Raja Trill bersama petinggi istana. Apakah dia benar-benar hebat sampai-sampai sang raja ingin menggunakan pasukan Arbitos? Menilik kembali sejarah kelam yang pernah terjadi antara Rey dan Raja Trill, sepertinya hal itu akan sulit.


Namun hal mengejutkan justru terlontar dari mulut Rey, ia datang untuk melawan Arcansas atas kehendaknya sendiri. Akan seperti apa pertarungan mereka?


 


Penawaran


 

__ADS_1


“Inikah sang raja yang akan kita bunuh?” celetuk Fell. “Kasihan sekali, dia sangat tua, biarkan dia mati sendiri saja.”


“Jangan. Dia masih bisa dijadikan budak,” ucap Daz.


Daz Wilson dan Fell Wilson menatap ke arah Raja Trill. Mereka sungguh tidak mengira kalau sang raja ternyata sudah setua itu.


“Komandan pasukanmu telah kubunuh,” ucap Daz.”


“Benar. Sayang kami tidak membawa kepalanya ke hadapanmu,” Fell menimpali ucapan kakaknya.


Raja Trill terperangah, ia tak percaya jika komandan pasukan kerajaan berhasil dikalahkan oleh penggawa-penggawa milik Arcansas.


“Bion, kah? Jadi dia telah tewas,” sang raja tampak sedih.


Beliau lemas karena mengetahui pemimpin tertinggi di dalam pasukan yang selalu dibanggakan telah gugur. Saat berhasil mengajak petinggi pasukan Arbitos untuk bergabung, sang raja justru kehilangan orang hebat seperti Bion.


Daz maju beberapa langkah dan menyarungkan pedangnya.


“Oh, iya. Sebelum dia mati, dia ingin mengkhianatimu. Paman jelek itu memintaku untuk mengampuninya, dia ingin bergabung dengan kami asal aku tidak membunuhnya.”


Mendengar ucapan Daz, Raja Trill membelalakkan matanya. “Tidak! Dia tidak mungkin mengkhianatiku. Bion adalah orang yang paling setia.”


Pengawal yang berada di belakang raja memasang siaga. Mereka sudah siap dengan pedang dan tombaknya masing-masing. Di samping raja juga berdiri petinggi istana bernama Pabel.


“Kalau kau tidak percaya tidak masalah. Lagi pula orang itu sudah tewas.”


Suasana semakin memanas, Arcansas saling berhadapan dengan Rey Liobo.


“Dengar! Bagaimana kalau kita tentukan tempat pertarungannya sekarang?” ucap Liobo.


“Ya. Aku setuju. Tidak asik jika tidak memasang taruhan. Bagaimana?”


“Kedengarannya tidak terlalu buruk. Apa rencanamu?”


“Jika aku berhasil mengalahkanmu, aku akan membawa Putri Livinett.”


Liobo menoleh ke arah sang raja. Jawaban apa yang akan diberikan oleh Raja Trill. Ini sungguh pilihan yang sulit. Ia harus menjadikan putrinya sebagai bahan taruhan. Ini sudah kelewat batas.


“Tidak. Aku tidak akan mengizinkan kalian menjadikan putriku sebagai taruhan,” ucap sang raja.


“Lalu apa?” tanya Arcansas.

__ADS_1


“Tunggu!” tiba-tiba Putri Livinett bersuara. “Jika Arcansas berhasil mengalahkan Tuan Liobo, saya akan menyerahkan batu berharga milik saya. Silakan gunakan Batu Livinett sebagai taruhan, dan jangan pernah kembali lagi ke istana ini atau pun mencoba merebut kekuasaan ayahku.”


__ADS_2