
Sang putri menyingkap gaun panjangnya yang terjuntai. Ia dikawal menuju sebuah ruangan di lantai paling atas. Raja Trill tidak ingin putrinya terluka atau pun diculik. Tentara terbaik telah dikerahkan untuk menjaga sang putri dari marabahaya.
Keganasan Arcansas betul-betul tidak dapat ditolerir lagi. Raja Trill berusaha memikirkan rencana untuk menahan Arcansas dan pasukannya. Wajah sang raja tampak tidak tenang, tangannya berkali-kali mengelus janggut. Akhirnya beliau memutuskan memanggil seluruh petinggi istana.
Perang pertama berhasil berhenti, Arcansas dan prajuritnya berbondong-bondong menuju tempat persembunyian. Gerombolan orang bar-bar itu terlihat seperti koloni semut. Mereka menuju bagian timur Pegunungan Aranos. Arcansas juga akan menyusun rencana baru untuk terus melakukan perang dengan Kaum Pedral.
“Perang pertama ini sungguh dahsyat. Hanya beberapa hari saja, sudah ribuan nyawa melayang. Kita harus memikirkan rencana baru untuk mengalahkan Arcansas,” ucap Pabel selaku penasihat Kerajaan Pedral.
“Saya sangat berharap ada prajurit hebat dari kubu kita. Selama ini, kekuatan tentara di kerajaan cukup kuat. Namun, 3 tahun terakhir sepertinya mulai menurun,” Raja Trill akhirnya bersuara. Pandangannya tertuju pada semua petinggi istana yang sedang berkumpul.
Sang raja berusaha mengevaluasi kekurangan pasukan yang dimiliki kerajaan. Mengingat, kekuatan Singa Merah dari Suin sangat mengerikan.
“Bagaimana jika kita kerahkan pasukan Arbitos untuk menghadapi Arcansas?” Pabel memberikan usul.
“Jangan! Kita belum bisa menggunakan mereka. Kau tahu hubungan buruk yang kumiliki dengan petinggi mereka. Kita masih beruntung karena mereka tidak melakukan kudeta,” Raja Trill tampak gelisah. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan irama jantungnya yang tidak karuan.
Ada masalah apa dengan tentara Arbitos. Sepertinya itu adalah tentara khusus yang memiliki kekuatan besar. Namun kenapa Raja Trill enggan menggunakan pasukan tersebut.
Untuk menguasai Benua Pegalisch, Arcansas diselimuti ambisi. Dia tentu tidak ingin kalah dalam perang, karena perang itu dia sendiri yang mengobarkan. Sehebat apa pun pasukan yang dimiliki Raja Trill, suatu saat mereka akan runtuh juga, begitulah yang dipikirkan Arcansas.
Dengan wilayah kekuasaan luas serta tanah subur, tentu akan memberi nilai tersendiri bagi Arcansas. Entah kenapa dia sangat berambisi menaklukkan benua itu. Mungkin karena pulau yang dia tinggali berukuran kecil dan mulai sempit. Pulau Suin tak sebanding dengan Pegalisch. Pulau itu hanya seperti serpihan tanah yang dihuni belatung.
Perang, pemberontakan, perampokkan, serta berbagai macam hal buruk tampaknya sudah biasa terjadi di zaman ini.
__ADS_1
Arcansas selalu memuji si kembar. Tampaknya ia sangat menyukai kedua bawahannya yang bernama Daz Wilson dan Fell Wilson itu. Kehebatan si kembar sangat diandalkan oleh Arcansas. Si kembar tersebut ibarat dua mata pedang yang siap melakukan apa saja untuk Arcansas.
Sebenarnya usia mereka masih 15 tahun. Namun tubuh si kembar tersebut tentu sangat besar, karena mereka memang asli keturunan raksasa. Meski mereka berdua sangat hebat, tapi Daz dan Fell selalu bertengkar. Hanya karena masalah sepele saja, mereka bisa bertarung habis-habisan. Mungkin itulah kelemahan si kembar yang belum bisa mengontrol emosinya.
Pasti perang akan terus berkobar untuk beberapa waktu ke depan. Raja Trill tentu tidak ingin tunduk pada Arcansas. Tidak mungkin bagi raja yang telah mendiami benua itu selama 30 tahun menyerahkan kekuasannya begitu saja kepada musuh.
Darah akan berceceran di mana-mana, banyak harta yang dikorbankan, waktu serta tenaga terbuang. Perang tentu tidak ada yang indah, karena hanya melahirkan kesengsaraan. Betapa kelamnya kehidupan ini, saling membunuh hanya untuk merebutkan kekuasaan.
Seperti apa kisah batu misterius milik putri Raja Trill, mungkinkah kekuatan batu itu akan terungkap? Sedahsyat apa kekuatan penggawa-penggawa kuat yang dimiliki Arcansas? Sejarah baru segera dimulai.
Si Kembar Wilson
Pulau Suin telah sunyi karena ditinggalkan oleh sebagian penduduknya untuk mengikuti Arcansas. Kini pasukan yang dipimpin Arcansas sedang bersembunyi di sisi timur Pegunungan Aranos. Pegunungan yang membentang beberapa kilometer hingga ke batas Kota Yiz, kelak kota ini akan berganti nama menjadi Yiklaz.
Arcansas sedang sibuk membersihkan busur panahnya yang kotor, dia bersenandung lirih dan belum menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Daz.
Fell Wilson mendekat ke arah kakaknya. Langkahnya sangat berat, tanah yang ia pijak bergetar setiap kali raksasa itu berjalan. Fell adalah adik dari Daz, tapi Fell memiliki tubuh lebih tinggi. Mereka kembar identik, wajahnya benar-benar sama persis. Dengan rambut yang juga sama-sama pirang.
__ADS_1
Benua Pegalisch ditumbuhi pepohonan yang berukuran jumbo, gunung juga menjulang tinggi. Sungai-sungai terbentang lebar dan panjang. Terutama Sungai Oxin yang menjadi sungai terbesar. Benua yang sangat cocok dihuni oleh para raksasa. Hewan-hewan juga memiliki ukuran tubuh yang besar.
“Jika kau takut, lebih baik tidak usah ikut berperang, Daz.” Arcansas menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Daz.
Sejurus kemudian disusul dengan tawa keras dari mulut Fell.
“Benar. Kau lebih baik tidur saja, Daz. Aku tidak mau satu medan perang dengan penakut sepertimu,” celetuk Fell.
“Diam kau. Dasar bocah kurang ajar,” Daz memasang wajah kesal.
Fell menjulurkan lidahnya ke arah Daz. Mereka lalu diam, tangan mereka kembali bekerja, menyiapkan anak panah.
“Dengar. Berlatihlah, kita akan melakukan serangan kedua di istana. Membuat keributan di pusat kota tidak membuatku puas,” ucap Arcansas.
“Baiklah. Jangan khawatir, kami akan berlatih,” Fell menyahut. Ia lalu pergi bersama Daz untuk berlatih.
Pengikut Arcansas yang lain juga sibuk dengan kegiatan masing-masing. Di sudut timur terlihat raksasa yang sedang kepayahan mengatur api untuk memasak, ada juga yang sibuk mengelus serigala peliharannya. Serigala yang sangat luar biasa besar. Tentu bukan serigala biasa, semacam Direwolf. Namun, serigala itu memang dari ras raksasa tentu ukurannya lebih jumbo dari Direwolf.
Si kembar Wilson sudah lama mengikuti Arcansas. Mereka tidak memiliki orang tua sejak kecil. Jadi Arcansas yang merawat dan melatih ilmu pedang, panah, serta tombak. Si kembar juga dilatih berburu sejak kecil dan harus hidup mandiri.
Pertumbuhan si kembar itu sangat cepat, mereka benar-benar memiliki bakat bertarung. Arcansas sangat senang dengan kemajuan kedua bocah kembar tersebut. Rasanya, tidak sia-sia merawat mereka sejak kecil. Asal-usul orang tua si kembar itu tidak ada yang tahu. Mereka sudah ditelantarkan sejak usia 5 tahun.
Ras raksasa dari Pulau Suin sedikit berbeda. Mereka memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dibanding dengan raksasa dari benua lain. Dahulu, mereka juga sudah mampu menciptakan kendaraan beroda untuk mengangkut kayu. Mereka juga mampu mengolah tanah dengan sangat baik.
__ADS_1
Di Kerajaan Pedral. Raja Trill sedang bingung menyusun rencana baru untuk mengusir Arcansas. Kalau bisa tidak hanya mengusir, tapi juga menangkapnya dan mengeksekusi si pengobar perang itu. Sang raja menyadari tidak akan mudah. Perang pertama yang berkobar saja sudah menewaskan lebih dari 1200 jiwa.