Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 18: Sisi Lain


__ADS_3

“Hoi. Aku tidak menyuruh untuk menggunakan uangmu. Simpan saja dan kita pergi dari sini.”


“Arcansas! Itu tidak baik. Kita harus membayarnya.”


Pemilik kedai jadi bingung. Sepertinya ia bimbang, marah, dan takut. Arcansas sangat kasar dan mengerikan.


“Nyonya. Berikan 1500 dizt saja. Kekurangannya tidak perlu kau bayar,” ucap pemilik kedai.


“Mana sifatmu sebagai pria!” Arcansas mendekat ke arah pemilik kedai. “Jangan mencoba memeras seorang wanita atau kubunuh kau sekarang.”


“Ampun, Tuan. Saya tidak bermaksud memeras. Namun sudah seharusnya kalian membayar makanan.”


“Arcansas. Jangan memperkeruh suasana.” Celetuk Lian.


Sungguh ada yang aneh. Kenapa Arcansas tampak membela wanita tersebut. Padahal Arcansas adalah makhluk buas yang kejam dan tidak pernah peduli dengan siapa pun.


Sejak kedatangannya di Pulau Suin. Ia justru menolong wanita bernama Lian, bahkan mengobatinya hingga sembuh. Kemudian kali ini ia membela wanita itu dan tidak ingin uangnya diserahkan kepada pemilik kedai.


“Terserah kau saja. Bayarlah, asal kau puas,” ucap Arcansas.


Akhirnya masalah pun selesai, pemilik kedai tampak senang, meski jumlah yang ia dapat masih kurang 500 dizt.


Orang di Pulau Suin menggunakan mata uang bernama dizt. Sudah lama mereka menggunakan mata uang tersebut, semenjak runtuhnya Kastil Dum.


Kastil tersebut dulunya milik seorang pria yang memerintah di Suin. Dialah yang memutuskan untuk memisahkan diri dari Tsandor. Karena merasa tidak ada sangkut paut dengan benua tersebut.


Sejarah yang ada di Suin tidak sama dengan milik orang Trovolta di Tsandor. Karena merasa tidak cocok dan sering terjadi perselisihan, akhirnya pemilik kastil melakukan gerakan untuk memisahkan diri dari Benua Tsandor.


Pemilik kastil itu adalah Hogba. Ia bersama bawahannya membuat rakyat Suin tunduk padanya. Salah satu tangan kanan Hogba yang berperan besar dalam sejarah berdirinya Pulau Suin adalah Nathus Samar.


Berkat Nath, banyak rakyat Suin yang bisa menerima pemisahan diri tersebut. Mereka tidak takut berdiri sendiri di atas tanahnya tanpa memerlukan bantuan dari Benua Tsandor.


Rupanya, sejarah di Suin lebih tua dari Benua Tsandor. Hal ini sudah diketahui oleh Nath dan Hogba. Maka dari itu mereka tidak mau bersatu dengan pemerintahan baru dari Tsandor.


Perlahan sejarah yang masih belum jelas mulai terungkap. Semoga saja Arcansas bisa menemukan semua kebenaran yang ada di masa lalu. Kebenaran tentang mimpinya serta tentang leluhurnya.


Arcansas sepertinya masih memiliki sisi baik, tapi tidak terlalu menampakannya. Mungkin ia malu untuk menunjukkan kebaikan hatinya. Dia hanya dikenal sebagai orang yang kejam dan suka menindas.


Saat penyerbuan pertama di Pegalisch saja, ia melarang Daz untuk memperkosa wanita. Mereka hanya memporak-porandakan pusat kota dan membunuh. Tetap saja itu tindakan yang kejam. Tidak ada yang tahu jalan pikiran Arcansas. Sepertinya dia sulit ditebak.

__ADS_1


“Terima kasih sudah membayar makananku, Lyran.” Ucap Arcansas.


“Siapa yang kau panggil Lyran?”


“Bukankah itu namamu?’


“Namaku Lian Erie. Bukan Lyran.”


Arcansas tampak malu dan terkekeh. Hal yang paling menonjol darinya adalah daya ingatnya yang aneh. Arcansas tidak bisa mengingat nama seseorang dengan baik.


Saat Liobo memperkenalkan diri, Arcansas tampak yakin dan bisa mengingat nama itu dengan mudah, tapi nyatanya Arcansas tidak bisa mengingat nama Liobo. Justru Arcansas memanggil Liobo dengan nama ngawur yaitu Lonos.


Pertama kali memanggil si kembar Wilson juga begitu. Arcansas membuat nama ngawur sendiri karena tidak bisa mengingatnya. Padahal nama si kembar cukup mudah diingat. Arcansas justru memanggil si kembar dengan sebutan Sonfa.


Sonfa sendiri memiliki arti cebol alias kerdil. Dalam bahasa Nath, ada beberapa kata yang sering dipakai sebagai bahan ejekan.


Entah Arcansas sengaja lupa atau memang tidak bisa mengingat nama dengan baik. Meski orang Suin rata-rata memiliki kecerdasan tinggi, hal kecil dan aneh seperti ini sering terjadi.


Kita tidak tahu apa penyebabnya, nama yang mudah diingat menjadi sulit, sedangkan hal sulit lainnya bisa diingat dengan mudah. Jika Arcansas lemah dalam mengingat nama yang baru dia dengar, mungkin raksasa lain dari Suin juga memiliki kelemahan berbeda.


Semua belum pasti, kecerdasan orang Suin masih belum jelas. Mereka memang unggul dalam banyak hal. Pembuatan senjata, mengolah tanah, membuat alat tani, dan mengembangkan obat-obatan. Mereka lebih mumpuni dibanding dengan ras lain.


Arcansas melanjutkan perjalanan untuk menuju reruntuhan kastil. Lian terus setia menemani Arcansas. Ketika memasuki hutan, Arcansas mengeluarkan anak panah dan memasang pada busurnya. Ia melontarkan anak panah dan langsung mengenai sasaran. Seekor rusa gemuk terkena anak panah tepat di perutnya lalu tumbang.


“Kita akan istirahat di sini saja. Lumayan daging rusa ini bisa menghangatkan badan untuk malam yang dingin.”


Arcansas lalu membuat api unggun dan menyusun daun untuk digunakan sebagai alas tidur.


“Gunakan ini untuk tidur.”


“Terima kasih. Lalu bagaimana denganmu?”


“Aku akan berjaga. Kalau mau aku bisa tidur sambil duduk bersandar pada batang pohon.”


Api unggun meliuk-liuk, Lian memanggang daging rusa yang tadi sudah disembelih menggunakan pedangnya Arcansas.


Orang Suin sudah mengenal pemantik untuk menyalakan api. Namun Arcansas tadi membuat api unggun menggunakan dua kayu yang digesek sehingga memercikkan api. Bukan hal sulit untuk raksasa seperti dia.


“Pedangmu tampak aneh. Kenapa ujungnya seperti itu?” tanya Lian.

__ADS_1


Arcansas menyarungkan pedangnya setelah membersihkan darah rusa tadi.


“Entah. Memang seperti ini sejak awal.”


“Kau tidak tahu kenapa seperti itu? Bukankah itu pedangmu?”


“Iya. Ini memang pedangku, tapi sejak pertama mendapatkannya sudah seperti ini. Mungkin sengaja dibuat bergerigi ujungnya.”


“Ukiran itu apa maksudnya?”


“Mana aku tahu. Sudah cepat panggang semua daging rusa itu.”


Lian mengangguk lalu melanjutkan memanggang daging rusa. Hawa memang terasa dingin, hutan itu sangat lebat. Ada beberapa deretan pohon Wora yang berjajar. Arcansas mendekat ke arah api untuk menghangatkan tubuhnya.


Lian memiliki paras yang cukup cantik. Sepertinya ia seumuran dengan Putri Livinett. Ia sangat cekatan dalam mengolah daging rusa. Wanita tersebut tampak terbiasa dengan hal memasak.


“Kenapa kau kembali ke pulau yang sudah hancur ini?”


“Ada sesuatu yang ingin kucari di reruntuhan kastil.”


“Apa yang kau cari?”


“Entahlah. Mungkin sebuah jawaban.”


Lian tampak bingung dengan ucapan Arcansas. Ia masih fokus pada daging rusa di tangannya. Akhirnya semua daging sudah terpanggang matang.


“Silakan ambil. Sudah bisa dimakan.”


“Baunya harum. Aku jadi lapar lagi meski tadi sudah makan di kedai sempit itu.”


Arcansas langsung mengambil bagian paha dan melahap dengan rakus. Lian terus memandangi pria di hadapannya itu. Dia tampak berpikir.


“Kau sangat baik, kenapa semua orang berkata kalau kau sangat kejam.” Tiba-tiba Lian berkata seperti itu.


Arcansas terkekeh. Dia geli mendengar pertanyaan wanita yang ada di hadapannya.


“Kau tidak mengenalku. Memang seperti itulah diriku, kejam dan tak berperasaan.”


“Tidak. Aku melihat kebaikan dalam dirimu.”

__ADS_1


“Diam dan makanlah atau kubunuh kau di sini.”


Arcansas melemparkan daging yang ia pegang ke dalam api. Dia tampak marah, mungkin saja dia malu karena dipuji Lian. Bagaimana ini, apakah Arcansas akan meninggalkan gadis itu sendirian.


__ADS_2