Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Protocol 1


__ADS_3

Kota Yiklaz tahun 9000 Gerkach.


Dinding kokoh menjulang tinggi mengurung pemuda bernama Marco. Ruangan itu hanya memiliki satu pintu besi, sangat gelap dan pengap tanpa lubang udara. Terdapat satu tempat tidur berukuran kecil dan sebuah toilet tanpa pintu. Sudah 4 bulan dia dikurung di dalam ruangan yang seperti neraka. Penjaga berkata kalau ini demi keselamatannya.


Marco sangat merindukan dunia luar. Sekarang dia hanya bisa pasrah dan meringkuk seperti seekor singa di dalam kandang. Entah apa yang diinginkan oleh orang yang menculiknya. Marco mencoba menghancurkan dinding dengan menendangnya berkali-kali. Namun apa daya, dia tidak mampu membobol dinding setebal itu.


Selama berminggu-minggu, dia hanya bisa makan, minum, dan tidur. Makanan yang dikirimkan oleh penjaga memang lezat. Namun, makan sendiri di dalam kandang seperti binatang, rasanya sangat tidak enak. Saat kita makan bersama dengan teman atau keluarga, pasti akan membuat rasa makanan menjadi lebih nikmat. Meski yang dimakan seadanya, tapi karena kebersamaan, cita rasa makanan bisa meningkat menjadi berkali-kali lipat.


Marco masih terkurung selama beberapa hari ke depan, sampai akhirnya dia bisa keluar dari neraka gelap tersebut. Setelah dibebaskan, kini dia dijanjikan akan dipertemukan dengan seseorang yang akan membuatnya terpesona. Benar saja, Marco digiring ke dalam ruangan yang sangat luas. Tempat itu adalah laboratorium untuk melakukan penelitian. Entah siapa yang akan menemuinya di dalam laboratorium seperti itu.


Marco duduk sambil memandangi setiap sudut ruangan. Banyak tabung dengan berbagai ukuran yang berisi air raksa. Di sebelah kiri berbaris sebuah kostum aneh yang digantung dengan sangat rapi. Di sebelah kanan dekat pintu masuk, tertata meja dengan mikroskop listrik lengkap dengan meja preparat serta warna-warni kertas lakmus. Di hadapannya terpasang layar komputer dengan ukuran raksasa berhiaskan kabel yang tersusun dengan cantik.


Selang beberapa saat, seseorang pria menggunakan jas berwarna kuning mendekatinya. Pria itu memiliki raut wajah yang sedikit tua dengan tatapan sayu. Sepertinya dia terlalu lama bekerja di dalam kandang yang penuh ilmu sesat ini. Pria tersebut datang bersama pria yang mirip dengan Marco, rupanya itu hanya sebuah robot. Robot yang sangat sempurna, karena begitu mirip dengan Marco. Pria berbaju kuning itu melambaikan tangan ke arah Marco. Setelah sampai di hadapan Marco, pria itu mengulurkan tangan untuk menyalami Marco.


Marco terlihat marah, dia menampik tangan pria tersebut. Marco ingin menyerang pria itu, tapi dihalangi oleh robot yang mirip dengannya.


“Sialan! Apa yang kau lakukan padaku, huh!? Akan kuhajar kau!” teriak Marco.


“Duduklah. Aku akan sedikit meminta waktumu.”


Marco terus memberontak, tapi akhirnya dia berhasil diam dan duduk. “Untuk apa kau mengurungku?”


“Namaku Sonits, Nolas Sonits. Kau bisa memanggilku sesukamu, harusnya kau sudah tahu namaku.”

__ADS_1


“Ya, aku tahu dari robot ciptaanmu yang membawaku ke dunia ini.”


“Bagus. Aku tidak perlu menjelaskannya lagi.”


“Kenapa kalian mengurungku di dalam ruangan gelap? Apa yang kalian inginkan!?” Marco terus memanas karena dirinya telah diperlakukan dengan sangat kejam.


“Demi keselamatanmu, kau adalah satu-satunya aset penting yang kami punya untuk saat ini. Aku tahu kau memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan denganku karena kau dari masa depan.”


“Aku masih tidak mengerti dengan mau kalian. Sekarang aku mau pulang saja.”


“Kau tidak bisa pergi begitu saja. Kau akan tetap berada di sini.”


“Hah? Dunia ini tidak ada yang menarik bagiku!” bentak Marco.


“Nanti kau akan menemukan kesenangan itu, dunia ini memiliki hal menarik yang harus kau ketahui.”


Marco memalingkan badannya dan melangkah menuju deretan baju-baju aneh yang digantung seperti di toko baju. Nolas mengikuti lalu berdiri di samping Marco. Lelaki tua itu memandang kostum-kostum berwarna putih, kemudian bibirnya menyunggingkan senyuman.


“Ini adalah Zirah Keabadian. Baju tempur yang membawa bencana dan akan membawa kedamaian,” ucap Nolas Sonits sambil menatap Marco.


“Nama yang cukup konyol.”


“Ya. Memang itulah kenyatannya. Sudah lima bulan Kaum Yazelt ditindas akibat zirah ini.”

__ADS_1


“Perang Remains?” Marco menoleh ke arah Nolas.


“Tepat sekali. Di masa depanmu pasti orang-orang sudah mengetahui tentang perang ini.”


“Jadi, ini bukan lelucon? Hey! Apa aku benar-benar berada di tahun 9000?” tanya Marco.


Perang Remains adalah perang antara Yazelt melawan Trovolta, dua negara yang dipisahkan oleh Selat Krokalm. Marco asli orang Yazelt, sedangkan Bangsa Trovolta adalah bangsa yang mendiami Benua Tsandor. Saat perang terjadi, leluhurnya ikut andil dalam pertempuran melawan Kaum Trovolta yang ingin melakukan kudeta terhadap Kaum Yazelt, karena peradaban Kaum Yazelt lebih maju dan sangat canggih. Namun, tubuh Kaum Yazelt berukuran kecil dan pendek. Berbeda dengan Kaum Trovolta yang berbadan raksasa.


Bangsa Yazelt adalah keturunan langsung dari King Arcansas. Raja yang berkuasa pada tahun 7000 Gerkach. Beliau menguasai satu benua bernama Pegalisch. Benua tersebut terbagi menjadi empat wilayah bagian dan dihuni oleh empat keturunan King Arcansas. Jauh di timur, wilayah itu dihuni oleh Kaum Sandzelt. Bagian barat dihuni oleh Kaum Cadzelt, sedangkan bagian selatan didiami keturunan King Arcansas yang menamai diri mereka Kaum Kyuzelt. Tersisa bagian utara, di mana Kaum Yazelt inilah yang menduduki wilayah tersebut. Selama 2000 tahun kehidupan mereka berlangsung sangat damai.


Namun, tepatnya tahun 9000 Gerkach. Perang bermula saat petinggi Trovolta dari Benua Tsandor yang bernama Roz Fruilt, ingin meminta purwarupa atau prototype baju zirah yang telah dikembangkan dengan teknologi komputer versi Genzolda. Teknologi ini lebih canggih karena mampu membuat zirah tersebut menyatu pada kulit dan memaksimalkan tenaga penggunanya. Bisa dibilang, untuk pertahanan negara, zirah tersebut sangat cocok jika dipakai oleh prajurit. Namun, setelah Roz mendapatkan prototype tersebut dan berhasil menyempurnakannya, dia menyerang Kaum Yazelt untuk mencuri semua teknologinya.


Nolas memasang wajah semakin serius. “Ini bukan sebuah gurauan. Ini benar-benar kenyataan, aku tidak mungkin membohongimu saat situasi sedang kacau seperti ini. Sudah lima bulan di atas sana, Kaum Trovolta membantai Kaum Yazelt. Semua karena ulah Roz Fruilt, dia berhasil meminta purwarupa baju tempur ini dan menyempurnakannya. Setelah itu mereka membentuk pasukan bernama Corvos dan mendeklarasikan perang untuk menguasai semua teknologi yang ada di negara ini.”


“Benarkah? Lalu ini berada di mana? Kenapa terasa aman dan tidak ada kekacauan sama sekali?”


“Laboratorium ini berada di kedalaman 10 meter di bawah tanah. Mereka belum mengetahui akses menuju kemari. Namun, cepat atau lambat mereka pasti akan segera menemukan tempat ini. Di sinilah aku berjuang menyempurnakan zirah ini dan meneliti zirah yang telah mereka kembangkan. Sampai saat ini aku belum dapat menemukan kelemahan dari zirah yang mereka sempurnakan. Meski sebenarnya pembuatan zirah itu menggunakan komputer versi Genzolda yang dikembangkan olehku, tapi, mereka telah memodifikasi zirah tersebut.”


“Apakah kau menghabiskan waktumu di sini setiap waktu?”


“Ya. Anak dan istriku pergi mengungsi berkat Kaum Cadzelt dari wilayah barat yang membantu kami. Kumohon agar kau mau membantu kami,” Nolas Sonits memelas.


Marco termenung untuk sesaat, lalu berjalan menuju layar komputer raksasa di sebelah kanannya. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan sangat kuat. Dia menoleh ke arah Nolas dan berkata bahwa dia siap membantu. Meski dia tidak mengetahui banyak hal tentang teknologi di zaman ini. Dia juga tidak tahu harus membantu apa.

__ADS_1


Marco akan membantu perang, asal dia diberitahu kejadian sebenarnya kenapa bisa sampai ke dunia ini. Nolas pun berjanji akan menceritakan semua yang dialami oleh Marco dan yang belum dia ketahui. Nolas melangkah ke arah Marco sambil tersenyum. Sepertinya dia merasa sangat senang. Dia meminta maaf terkait perlakuan sebelumnya yang telah mengurung Marco seperti binatang di dalam ruangan gelap nan sepi.


Sungguh suatu keberuntungan bagi Nolas karena mendapatkan orang yang dapat diandalkan. Marco menjadi cahaya harapan untuk Nolas. Perjuangan seperti apa yang akan mereka lalui. Entahlah, Nolas Sonits, ilmuwan tercerdas dari masa lalu yang bertemu dengan Marco, pemuda paling malas dari masa depan dan tidak suka bergaul dengan banyak orang. Sejarah besar akan terungkap dengan jelas.


__ADS_2