Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 6: Wilson Bersaudara vs Bion


__ADS_3

Umur si kembar Wilson yang masih sangat muda tentu membuat mereka memiliki stamina yang lebih kuat. Berbeda dengan Bion yang lebih tua, ia kesusahan karena harus menandingi kekuatan yang penuh nafsu membunuh dari pemuda Wilson.


Bion mengatur napas yang mulai memburu tidak karuan. Aliran darah mengalir sangat cepat, dadanya berdetak kencang. Genderang kematian telah siap ditabuh untuk mengiringi kematiannya. Dalam perang sudah pasti hal apa pun bisa saja terjadi. Jangan lengah! Kalau lengah sedikit saja, nyawa akan melayang. Bion membatin.


“Coba saja bunuh kami kalau bisa. Justru kepalamu yang akan kupenggal!” celetuk Daz.


Mereka mulai menggila, semakin panas, sengit sekali pertarungan yang sedang berlangsung. Beberapa pasukan miliki Arcansas sudah berhasil mengambil alih bagian depan istana. Mereka telah menjebol pintu utama dan pintu lapis kedua.


Bongkahan dinding berhamburan, api berkobar di mana-mana. Pemandangan yang membuat mata sakit. Serangan musuh memang akan ditahan di depan pintu tersebut. Seperti itulah sistem pertahanan di dalam Kerajaan Pedral.


Kali ini, dalam rangka menggulingkan sang raja, Arcansas menjelma bagaikan malaikat kematian. Ketakutan telah menyelimuti setiap kali sang raja mengembuskan napasnya.


Kembang-kembang yang tadinya mekar indah dan penuh warna menjadi layu lalu berguguran. Tenggelam bersama kedukaan yang sangat memilukan. Bunga telah menangis, kemarau datang. Sang raja berselimut duka yang tiada akhir. Mungkin ada obat penawar agar kedukaannya tidak semakin berkarat. Namun sayang, rantai belenggu makin kuat dan ia terus terpuruk di dalam malam yang mencekam.


Penggawa-penggawa kuat miliik kerajaan mulai menciut nyalinya. Memang mereka tak segagah Arcansas yang penuh kehebatan dan beringas. Mereka juga tidak sesetia si kembar Wilson. Tetapi kesetian prajurit kerajaan berada pada tingkat yang berbeda terhadap sang raja. Pasukan Kerajaan Pedral tetap akan mempertahankan istana meski harus mengorbankan nyawa.


Ibarat seorang penulis yang bersenjatakan pikiran dan pena miliknya. Pasukan Kerajaan Pedral memiliki senjata kepatuhan dan keikhlasan. Dua hal itu mampu membuat mereka bertahan dan tidak takut mati. Meski hanya bersenjatakan dua hal yang dianggap remeh.


 


Sebuah Petunjuk


 


Meski hanya khayalan semata yang sangat semu dan tidak mungkin terjadi, tapi demi melayani Raja Trill, prajurit-prajurit telah membuang egonya. Mereka terus mengayunkan pedang, melontarkan anak panah, serta menghunuskan tombak demi melindungi kerajaan.


Kalau perang adalah jalan satu-satunya untuk bertahan dan membuat makmur, lalu apa jadinya masa depan. Apakah dengan berperang secara terus-menerus akan memberikan kedamaian.


Ini persis seperti yang terjadi pada kisah masa lalu dari sebuah bangsa yang misterius. Rahasia yang mulai terbuka secara perlahan. Sebuah kisah besar tentang awal mula peradaban baru setelah Erona Filder.


Tabir yang kelam perlahan menyingsing lalu memberikan sinar harapan untuk masa depan. Panas yang berkepanjangan seakan sirna dan tergantikan oleh siraman hujan yang menenangkan. Musim gersang musnah dan tidak akan kembali lagi.

__ADS_1


Sebuah petunjuk besar awal mulanya sebuah kisah kehidupan. Perlahan mulai terungkap bahwa Bangsa Lemuria yang pernah bertemu dengan pendahulu Arcansas adalah korban perang dan suka berperang juga.


Sudah tiga hari berturut-turut Arcansas bermimpi hal yang aneh. Mimpi tersebut menampilkan sebuah kisah kuno yang terus terngiang di kepalanya. Makhluk aneh nan kerdil, percakapan membingungkan, semua tak bisa dipahami Arcansas.


Ia tidak fokus dalam perang dan kembali lagi mengingat mimpinya. Di dalam mimpi itu ia bertemu sosok yang menceritakan kisah yang membuat Arcansas gundah. Kisah ini adalah kisah pertempuran yang menimpa sebuah kaum misterius.


Kaum itu mengaku datang dari suatu planet yang sangat subur. Dalam mimpinya, Arcansas seakan meyakini kalau mimpi itu seperti nyata. Karena setiap kejadian mampu menggetarkan tubuhnya. Antara mimpi dan kenyataan seperti tidak memiliki batas lagi. Semoga saja Arcansas tidak menjadi gila karena mendapat mimpi tidak jelas seperti itu.


Inilah mimpi yang Arcansas alami, ada sosok misterius yang mengatakan kalau ia adalah korban perang atau lebih tepatnya pelarian. Sosok itu kabur bersama beberapa anggota lainnya yang berhasil selamat dari serangan besar yang dilakukan bangsa lain.


“Apa yang membuatmu kabur?” tanya Arcansas.


“Serangan Kaum Atlantis menyudutkan kaumku. Sebagian kaumku kabur dari tempat asal kami yang bernama Bumi, planet itu sangat subur. Kemudian kami singgah di planet tak bernama untuk waktu yang cukup lama. Lalu mencoba kembali lagi ke Bumi. Namun di sana telah dihuni oleh makhluk baru keturuan Adam.”


“Atlantis, Bumi, dan Adam?” Arcansas bingung.


“Ya. Saat kami kembali, mereka menyebut kami Alien. Lemuria adalah nama kaumku, gunakan semua ilmu yang kami miliki jika kau ingin merebut Benua Pegalisch.”


Siapa mereka, Lemuria itu apa. Kenapa mereka datang di mimpiku? Arcansas membatin. Ia memang belum mengetahui sejarah bangsanya meski ia tahu ada reruntuhan Kastil Dum. Namun, Pulau Suin sudah tinggal sedikit karena dampak dari letusan Gunung Hiopi.


Jika saja Arcansas mengetahui perkamen-perkamen tua di Kastil Dum. Mungkin ia bisa menemukan petunjuk terkait kebenaran Bangsa Lemuria.


Mimpi itu selalu terulang dalam tidurnya. Hanya saja mimpi terakhir terasa lebih lama karena sosok misterius dari Bangsa Lemuria menyuruh Arcansas untuk kembali ke pulaunya. Arcansas disuruh meneliti reruntuhan Kastil Dum di Pulau Suin sebelum benar-benar lenyap.


Mungkinkah Arcansas bisa menemukan jawaban atas mimpinya itu. Apakah ia akan tetap berada di Benua Pegalisch untuk mencuri Batu Livinett, atau justru menuruti sosok misterius di dalam mimpinya tersebut? Jawaban masih belum terungkap karena Arcansas belum mengetahui apa-apa.


 


Sang Pelukis


 

__ADS_1


Jauh sebelum perang pecah, keadaan di dalam istana masih damai. Deimr selalu menikmati hari-harinya sebagai pelukis. Ia sering bersantai bersama Pabel setiap kali memiliki waktu luang. Memandangi bukit di belakang istana, sambil bersenandung lirih ia melukis. Terkadang ia merawat tanaman. Deimr sungguhlah orang paling tersantai.


“Mengapa kau melukiskan istana ini? Lebih bagus jika kau melukis pemandangan.” Pabel mengkritik Deimr yang sedang fokus melukis.


“Aku masih belajar agar lukisanku jadi lebih bagus.”


“Apa seni hanya sebatas melukis?” tanya Pabel.


“Tidak.” Deimr meletakkan kuas yang ia pegang. “Seni itu bermacam-macam. Kau tahu? Lukisanku ini sangat jelek, dulu saat berdagang, aku mencuri lukisan mahal lalu kutukar dengan lukisanku yang jelek. Mencuri juga termasuk seni.”


“Bodoh. Kau sejak dulu berada di istana, kapan kau berdagang?”


“Kau lupa? Aku ini sering menyamar untuk membaur bersama masyarakat.”


“Kau sudah hidup nyaman di istana, kenapa masih mencuri lukisan?”


“Karena seni adalah perjuangan.”


Pabel hanya mengelengkan kepala mendengar kisah Deimr yang kurang ajar. “Apa kau pernah menjual lukisanmu?”


“Tidak. Aku tidak akan menjualnya walau dibayar mahal. Penolakan juga termasuk seni.”


“Baiklah. Berarti mati juga seni, aku akan membunuhmu, itu seniku.” Pabel kesal.


Deimr memang suka membahas seni. Tidak ada yang lain selain kata ‘seni’ yang membosankan dan selalu keluar dari mulutnya.


“Kau akan menodai seni jika membunuhku. Aku ingin bertanya padamu, apa kau pernah melukis?”


“Ya. Lukisan terbaik yang pernah kulukis adalah kotoran domba gurun yang sedang diare,” ucap Pabel dengan nada kesal.


“Bagus. Beruntung itu bukan kotoranmu sendiri. Kau akan menodai seni jika menggambar kotoranmu.”

__ADS_1


Pabel semakin kesal dengan perkataan Deimr. Percakapan bodoh seperti itu sering mereka lakukan. Meski petinggi istana, mereka tetap mempunyai sisi lain sebagai orang biasa.


__ADS_2