
Api unggun masih meliuk-liuk diterpa angin, cahayanya terpancar menerangi sekitar sehingga menimbulkan bayangan malam yang sangat khas. Hutan lebat bersenandung dengan suara-suara serangga. Beberapa daun kering berguguran, bergemerisik lalu jatuh di atas rumput. Lian tampak membereskan daging yang masih tersisa lalu bersiap untuk tidur.
Malam semakin larut. Arcansas duduk bersandar pada batang pohon. Lian memperhatikan pria itu. Tanpa disadari, Lian tersenyum sendiri saat melihat Arcansas. Pria yang dijuluki Singa Merah dari Suin ternyata tidak sekejam yang dibicarakan orang-orang. Mungkin itu yang terpikirkan oleh Lian.
“Arcansas. Jika kau mau menghabiskan dagingnya tidak masalah. Sudah kututupi menggunakan daun. Bolehkah aku tidur duluan?” ucap Lian.
“Ya.”
Arcansas menyahut dengan singkat. Ia meletakkan pedang di samping pinggulnya. Busur serta anak panah ia letakkan di dekat perapian.
Baju yang dikenakan oleh Lian tampak tebal. Sepertinya ia tidak akan kedinginan. Tidak butuh waktu lama, akhirnya wanita tersebut terlelap.
Arcansas beranjak dari tempat duduknya. Ia kembali menuju ke perapian untuk menghangatkan tubuh. Rambutnya yang berwarna coklat kemerahan tampak jelas karena diterangi api. Sekitar sepuluh menit kemudian, ia kembali bersandar di batang pohon. Sepertinya kantuk juga mulai menyerangnya.
Sebelum terlelap, Arcansas berkeliling sebentar di sekitar api dan beberapa meter ke arah selatan. Sepertinya aman dan tidak ada binatang buas atau musuh yang mengintai. Arcansas lalu kembali dan ingin segera tidur.
Perlahan, sedikit demi sedikit, Lian membuka kelopak matanya untuk mengintip. Dengan diterangi cahaya dari api unggun, ia bisa melihat Arcansas yang mulai memejamkan mata.
Lian kemudian membuka kedua matanya secara leluasa. Pria yang sedang dipandanginya tampak memakai baju tipis. Lian bangun dari rebahannya.
Wanita itu beranjak dan melangkah ke arah Arcansas dengan menjijit kakinya. Sangat perlahan agar tidak membangunkan Arcansas. Pria itu tidur pulas, kedua tangannya ia letakkan di atas perut, rambutnya menempel pada batang pohon. Mungkin ia sangat kelelahan.
Lian melangkah dengan sangat perlahan, seolah rumput yang ia injak menjadi kapas. Memantul, lembut, tidak berbunyi sedikit pun, rumput seolah mengerti dengan keinginan Lian. Setelah sampai di samping Arcansas, Lian melonggarkan pakaian yang ia kenakan, ia tarik kain tersebut. Kain yang ia pakai sangat tebal.
Cuaca memang sangat dingin, apa lagi di tengah hutan seperti. Entah apa yang ada di dalam benak wanita tersebut. Lian mendekap Arcansas yang sedang bermimpi indah.
“Setidaknya kain ini bisa mengurangi rasa dinginmu, Arcansas.” Ucap Lian lirih.
Rupanya Lian menjulurkan kain yang ia pakai, kain itu cukup panjang dan mampu membalut tubuh Arcansas yang besar. Kain lembut dengan bahan yang sangat bagus, memiliki rumbai-rumbai dan terjuntai hinga mata kaki ketika Lian berdiri.
Mungkin ini bentuk kepedulian seorang wanita terhadap pria yang sudah menyelamatkan nyawanya. Malam semakin dingin, rasanya hawa dingin itu seperti jarum yang menusuk kulit hingga menembus tulang.
Wanita itu menatap wajah Arcansas. Tanpa sadar, tangannya mengelus pipi Arcansas yang ditumbuhi jambang.
Ada apa ini? Apakah wanita itu jatuh hati kepada monster keji itu? Ketika Lian mulai terlelap, tiba-tiba ada suara berisik di semak-semak. Telinga Arcansas peka karena suara itu juga lumayan keras.
__ADS_1
Arcansas terbangun dan langsung berdiri, ia menatap sekeliling. Lian kaget dan membuka matanya. Arcansas mengambil pedang yang bersandar di pohon. Ia berjalan dengan cepat ke arah api unggun untuk mengambil busur panahnya.
Sekitar sepuluh meter di depan, ada semak belukar yang sangat rimbun. Arcanas langsung memasang anak panah pada busurnya. Mungkin saja itu seekor **** hutan atau rusa. Saat ia akan membidikkan anak panah, tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dari atas.
Bayangan itu melompat dan mendarat di hadapan Arcansas dengan kedua kakinya. Ternyata dia seorang pria, kemudian muncul seekor serigala raksasa dari balik semak-semak dan menghampiri pria misterius yang baru datang.
“Siapa kau!” teriak Arcansas.
Pria itu tampak membawa pedang, serigala di belakangnya menyeringai. Api unggun mulai mengecil seakan musnah sebentar lagi. Siapa dia, akankah menjadi musuh besar?
“Bolehkah aku bergabung di perkemahan ini?” sahut pria misterius.
“Jawab dulu pertanyaanku. Siapa sebenarnya dirimu?”
“Turunkan busur panahmu, aku tidak ingin menyerangmu.”
“Aku tidak akan lengah dan tertipu olehmu.”
“Tenanglah. Aku tidak ingin bertarung...”
Pria asing tersebut mencabut pedangnya lalu memasang kuda-kuda. Arcansas terbelalak matanya ketika melihat pedang yang dipegang pria tersebut.
“Pedang itu!?” ucap Arcansas.
“Kenapa kau terkejut? Aku tidak akan menarik pedangku jika kau tidak menyerangku duluan.”
“Dari mana kau dapatkan pedang itu?”
“Apa pentingnya buatmu? Kubilang tenanglah, aku bukan orang jahat.”
Arcansas membuang busur dan anak panahnya ke tanah, ia mencabut pedangnya lalu menyerang pria tersebut.
Pertempuran di tengah hutan dalam keadaan kurang cahaya terjadi. Api unggun tidak memberi penerangan yang cukup. Lian hanya berdiri di bawah pohon sambil ketakutan, ia tidak berani lari.
Sabetan pedang milik Arcansas ditangkis dengan baik oleh pria asing tersebut. Serangan bertubi-tubi dilancarkan Arcansas. Tampaknya pria asing tersebut juga ahli menggunakan pedang, ia mampu mengimbangi Arcansas.
__ADS_1
“Pedang itu? Sama seperti milikku!” ucap Arcansas.
Pria itu menatap pedang yang digunakan Arcansas, ia lalu menangkis serangan yang terus dilancarkan oleh Arcansas.
“Ya. Kau benar!! Kita memiliki pedang yang sama persis.”
“Kenapa kau bisa memiliki pedang itu, setahuku pedang milikku adalah pedang langka.”
“Aku akan menceritakan semuanya jika kau menghentikan seranganmu.”
Akhirnya Arcansas menurunkan pedangnya. Ia menatap pria itu dengan sorot mata yang tajam penuh tanda tanya.
“Baiklah. Akan kuturuti permintaanmu, tapi aku akan membunuhmu jika kau mencoba menipuku.”
“Ya. Silakan, aku tidak keberatan,” sahut pria asing.
Akhirnya pertarungan berakhir. Siapa sebenaranya pria asing itu, mungkin akan segera terungkap. Mereka duduk bersila di dekat api dan saling berhadapan. Lian berjalan mendekati Arcansas dan ikut duduk di belakang.
“Cepat katakan dari mana kau mendapatkan pedang itu?”
“Kau tidak sabaran sekali. Baik, kumulai dari mana, ya...” Pria itu tampak berpikir sejenak. “Nah. Dari sini saja, pedang ini kudapatkan saat mengembara ke selatan.”
“Ke selatan?” Arcansas memotong ucapan pria asing itu.
“Benar. Ketika itu sedang pertengahan musim panas. Namaku Ulvir, aku pergi mengembara sudah 2 tahun ini. Pedang ini kudapatkan dari reruntuhan kastil tua di tepi pantai.”
“Kastil tua? Apa maksudmu Kastil Dum?”
“Tepat sekali. Di sanalah aku mendapatkan pedang ini. Terkubur di antara bebatuan, tapi anehnya kondisi pedang ini tidak rusak atau berkarat sedikit pun.”
“Pedang milikmu sangat mirip denganku.” Ucap Arcansas.
Pria bernama Ulvir menatap tajam ke arah pedang yang dipegang Arcansas.
“Tidak salah lagi. Pedang kita benar-benar mirip, ujungnya bergerigi dan memiliki ukiran aneh.”
__ADS_1
Setelah melihat lebih detail, ternyata pedang itu memiliki sedikit perbedaan pada bagian ukiran. Pedang milik Arcansas memiliki ukiran lebih rumit dan terdapat 5 lengkungan pada coraknya. Sedangkan pedang milik Ulvir memiliki ukiran yang sederhana dan hanya memiliki 2 lengkungan corak.