Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 14: Cemeti Misterius


__ADS_3

Misteri dusta yang menerpa semua kalangan seakan tiada hentinya. Di dalam suatu komunitas atau organisasi pasti ada saja orang yang licik dan suka berdusta. Mungkin saja di antara sembilan pendekar itu ada orang yang memiliki tujuan tersendiri.


Kebanyakan orang-orang di masa itu tidak suka diperintah dan tidak mau bekerja dengan orang lain. Mereka lebih memilih hidup tanpa aturan dan tidak suka dikekang.


“Permisi! Maafkan karena saya terlambat. Apakah acaranya sudah dimulai?” tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan.


Semua mata tertuju kepada sosok gadis yang berdiri di depan pintu. Ia termasuk titan kelas sedang, tingginya sekitar 5 meter. Ia mengenakan kalung yang mencolok. Dua pedang tersarung dengan rapi di pinggul kirinya.


Apa dia juga termasuk pendekar? Kenapa seorang wanita? Mungkinkah ia pendekar wanita satu-satunya?


“Haha!” Pria berkumis tertawa sangat keras. “Ada seorang wanita yang ikut bergabung, kuharap kau sudah lebih hebat, Nie!”


Nama wanita itu Nie, baru saja disebut oleh pria berkumis tebal. Sepertinya memang benar dia adalah salah satu pendekar yang diundang raja. Apa benar dia adalah pendekar? Kenapa semuanya pria sedangkan dia wanita sendiri?


Mungkin raja tidak membeda-bedakan gender. Siapa saja yang memiliki kemampuan diizinkan untuk menjadi petarung hebat.


“Baiklah. Berhubung semua sudah berkumpul. Maka saya selaku pemimpin acara sekaligus asisten sang raja, izinkanlah untuk membuka acara ini. Pertama, saya akan membacakan nama dan asal saudara sekalian. Kemudian berdiskusi masalah inti, sesi terakhir adalah perjamuan makan. Apakah semua sudah siap?”


“Siap!” jawab sang wanita bernama Nie.


Hanya dia seorang yang memberikan jawaban. Sedangkan 8 pendekar yang lain sibuk sendiri-sendiri. Ada yang mengelus ular peliharannya, ada juga yang sibuk mencabut bulu ketek. Semua tampak aneh dan kaku. Sang raja hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan semua tamunya.


“Ehem! Bisa kita mulai?” Pabel bertanya sekali lagi.


“Ya.” Jawab pria bertopi lebar.


“Selamat datang Roan dari wilayah timur, Tiir dari wilayah tenggara, Giimr dari wilayah selatan, Joan dari wilayah barat daya, Karl dari wilayah barat, Firtos dari barat laut, Kika dari wilayah utara, Hanzes dari timur laut, dan Nie dari pusat kota. Sembilan orang terpilih ini berhak menyandang gelar pendekar. Atas permintaan sang raja, kalian diperbolehkan untuk melakukan pembunuhan terhadap orang Suin.”


“Ah...!! Tunggu. Sudah kukatakan, aku tidak mau bermain darah. Itu menodai tanganku. Aku sangat membenci darah.” Pria bertopi kembali bersuara.


Ia tampak keberatan dan sangat membenci darah. Padahal ia adalah pendekar yang tentu tidak terlepas dari yang namanya senjata dan darah. Apa lagi kondisi perang seperti sekarang. Membunuh sudah menjadi hal biasa.

__ADS_1


“Kau bisa menjadi penyusun strategi jika tidak mau menyentuh darah, Tuan Hanzes.” Pabel menanggapi pria yang memakai topi.


Pria bertopi itu rupanya bernama Hanzes, ia berasal dari wilayah timur laut. Di wilayahnya memang dipenuhi oleh penduduk yang tidak suka makan daging. Kebanyakan dari mereka adalah vegetarian.


Apakah pendekar lainnya akan setuju dengan rencana sang raja? Atau mereka justru membangkang lalu melakukan pemberontakan?


Aroma tak sedap merebak di ruangan rapat. Para tamu undangan mengangkat tangan untuk menutup hidung. Bau aneh yang sangat menyengat ternyata berasal dari pendekar yang mengenakan rantai besi sebagai kalung. Pendekar itu bertubuh gemuk, lehernya hampir tidak terlihat karena tertimbun daging. Badannya benar-benar mirip ****.


“Hentikan kelakuanmu, Kika! Bulu ketiakmu menjijikkan. Semua jadi menghirup bau busuk ini,” ucap Hanzes.


Orang yang dipanggil Kika menoleh dan kembali mencabuti bulu ketiaknya. “Ini ritualku. Jangan mengganggu.” Sahut pria bernama Kika.


Kika adalah titan dari wilayah utara. Ia memiliki hidung seperti paruh gagak. Senjatanya adalah sebuah tombak yang sangat kuat.


“Bau ketiak ini masih lebih baik daripada mencium aroma darah. Harusnya kau menyukai bau ketiaknya Kika,” celetuk pria yang membawa ular. Pria itu mengelus-elus kepala ularnya.


“Kau menghinaku, hah?” Hanzes melepas topi yang ia pakai.


“Akan kupatahkan lehermu jika menghinaku lagi. Dasar Giimr manusia lendir!”


Hanzes tak terima karena merasa dihina oleh pria yang membawa ular. Ternyata dia bernama Giimr dari wilayah selatan. Giimr tampak menyeringai, dia juga mulai terusik dan ingin menantang Hanzes.


“Siapa yang kau sebut manusia lendir? Dasar pecundang!”


“Diamlah! Kalian mengganggu konsentrasiku!” teriak pendekar berkumis lebat dan mengenakan anting di telinganya.


Seluruh pendekar menoleh ke arahnya. Kecuali pria gendut yang wajahnya terdapat codet dan memiliki satu daun telinga. Dari tadi pria gendut itu diam saja, ia tidak peduli dengan keributan di sekitarnya.


Pria berdaun telinga satu itu bernama Roan. Ia dari wilayah timur, Roan memiliki pembawaan yang cuek dan tenang. Sudah gendut, punya codet di wajah, berdaun telinga satu, tapi sikapnya sangat cool. Apakah ia bisu? Entahlah.


“Konsentrasi? Omong kosong! Kau hanya sedang membayangkan Nie telanjang.” Hanzes menyergah.

__ADS_1


Pria berkumis tebal itu tak terima. “Apa katamu?! Dasar pria nyentrik berambut aneh!”


“Brengsek! Dasar anak muda tapi sudah kumisan! Akan kuhancurkan mulut busukmu itu, Tiir!”


Tiir hanya melenguh. Ia lalu mencabut pedangnya yang tersarung.


“Jangan pernah menghina kumisku, dasar pembual! Silakan hancurkan mulutku kalau bisa. Kau bilang tidak suka darah tapi kau paling haus darah di antara kami.”


“Karena kalian membuatku kesal! Konsentrasi apa yang kau bicarakan. Kau pasti berkonsentrasi membayangkan Nie telanjang.”


“Tuan Hanzes! Tuan Tiir! Tolong hentikan perdebatan kalian. Saya sungguh malu mendengarnya,” suara wanita bernama Nie menggelegar.


“Benar. Sudah cukup keributan ini. Sekarang kita harus segera memulai diskusinya,” Pabel menyela.


Pendekar macam apa mereka? Kenapa satu sama lain saling bertengkar. Apakah mereka tidak bisa akur sebentar saja? Tinggal pendekar bernama Joan, Firtos, serta Karl yang masih tenang. Tentu termasuk si gendut bercodet.


Joan, Firtos, Karl sepertinya memiliki kepribadian yang lebih baik. Mungkin saja mereka bertiga tidak suka berdebat.


Si gendut Roan juga sungguh misterius, codet di wajahnya menandakan kalau ia gila bertarung. Mungkin saja akibat pertarungannya, ia kehilangan daun telinganya.


Joan, Firtors, dan Karl punya kesamaan, rambut mereka berwarna coklat dan memiliki mata lebar. Ketiga pendekar tersebut sama-sama menggunakan panah sebagai senjata. Tapi Firtos memiliki satu senjata andalan lagi, yaitu sebuah cemeti.


Tiga pendekar itu yang terkuat karena mereka memiliki julukan Triad Cartax. Lebih tepatnya trio monster dari Pegalisch.


Firtos dari wilayah kecil di barat laut. Sedangkan Joan dari dataran tinggi di sisi barat daya. Karl adalah pendekar kuku beruang dari wilayah barat. Ketiga pendekar itu berasal dari barat yang memiliki wilayah lebih subur dari lainnya.


Joan, Firtos, dan Karl disebut Triad Cartax karena busur panah mereka dibuat dari bahan yang sama dengan memadukan besi dan emas, serta kekuatan mereka hampir setara.


Cemeti yang digunakan Firtos dibuat menggunakan kulit beruang. Sedangkan pendekar kuku beruang alias Karl mendapat julukan tersebut karena ia memiliki kuku yang kuat.


Beruang di daratan barat memiliki kulit dan kuku yang lebih kokoh dari baju tempur. Mungkin terdengar aneh, tapi beruang di sana adalah jenis yang paling berbahaya dan sulit ditaklukkan.

__ADS_1


Cartax memiliki arti monster. Kata baku untuk menyebutkan sesuatu yang hebat, berbahaya, dan beringas. Berasal dari bahasa yang sering digunakan orang Pedral.


__ADS_2