Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 20: Bergegas ke Kastil


__ADS_3

“Sepertinya bahan dan tahun pembuatan pedang ini juga sama.” Celetuk Ulvir.


“Ya. Pedang ini sudah cukup tua. Karena pedang zaman sekarang tidak seperti ini. Besi ini mungkin ditempa dengan penuh kekuatan dan perasaan.”


Lian hanya bingung menyimak pembicaraan kedua pria yang baru saja bertarung. Pria asing bernama Ulvir memiliki mata yang aneh. Mata sebelah kirinya terlihat seperti buta.


“Apakah pedang ini membuatmu ingin segera melanjutkan perjalan?” tiba-tiba Lian menyela.


Arcansas menoleh ke arah gadis itu. Pria bernama Ulvir juga tampak penasaran dengan gadis yang baru saja bersuara. Arcansas terus terdiam dan hanya memandang wajah Lian.


“Kenapa tidak menjawabku? Ada apa, jangan menatapku seperti itu,” Lian tampak canggung.


“Ehm...ada yang ingin kutanyakan padamu.” Sahut Arcansas.


“Bertanya? Apa yang ingin kau tanyakan?”


“Kenapa tadi kau ada di sampingku saat aku terbangun?”


Lian langsung terkejut, pipinya memerah. Ia bingung mau menjawab apa, pandangannya beralih ke arah api unggun yang masih bergoyang meski nyalanya sangat kecil.


“Ah. Tadi aku ingin membangunkanmu karena mendengar suara aneh, tapi kau susah sekali dibangunkan.” Jawab Lian ngawur.


“Benarkah?”


“Hem. Benar.”


Tiba-tiba Ulvir tertawa. Serigala dibelakangnya berlari dan menyundul-nyundul ke dada pria tersebut. Kenapa ia tertawa? Apakah geli karena terkena bulu serigala. Mungkin saja Ulvir tahu sesuatu sehingga ia tertawa.


“Kenapa kau tertawa?” tanya Arcansas.


“Oh. Hohoho.... ini serigalaku sangat ingin dimanja.”


“Kenapa kau membawa serigala bersamamu?”


Ulvir menegakkan badannya dan mengelus serigala itu. “Aku menemukannya saat mengembara, ia terluka karena terjatuh dari tebing.”


“Oh. Begitu rupanya.”


“Ngomong-ngomong, siapa gadis ini?” tanya Ulvir.


“Namaku Lian Erie, Tuan.”


Lian langsung memperkenalkan diri. Ulvir terus tersenyum memandangi gadis itu. “Lalu kau sendiri, siapa namamu?” Ulvir menanyai Arcansas.


“Namaku Arcansas.”

__ADS_1


“Mungkinkah... kau ini si raja buas itu? Singa Merah yang kejam?” ucap Ulvir.


“Ya. Rupanya kau tahu namaku.”


“Sungguh kebetulan yang luar biasa. Tak kusangka bisa bertemu dengan pendekar hebat sepertimu.”


“Jangan melebih-lebihkan atau kubunuh kau.”


“Tidak salah lagi. Sikapmu sungguh buas. Kenapa kau ada di hutan ini?”


“Bukan urusanmu!” sahut Arcansas dengan ketus.


“Baiklah. Maaf sudah mengganggu waktu tidur kalian. Sebentar lagi terang, apa kalian akan kembali tidur?”


“Tidak! Aku akan langsung melanjutkan perjalanan.”


“Boleh aku ikut?”


Ulvir mengagetkan Arcansas. Kenapa dia berkata ingin ikut.


“Apa maksudmu?”


“Biarkan aku bergabung denganmu. Sepertinya akan lebih menyenangkan jika ada teman dalam perjalanan. Selama ini aku selalu kesepian karena mengembara sendirian.”


Arcansas mematikan api unggun dan membereskan senjatanya. Masih ada daging yang tersisa, ia mengambil lalu memakannya sambil jalan. Lian mengekor di belakang Arcansas. Ulvir beranjak dan menatap punggung kedua orang itu.


“Jika kau ingin menuju ke reruntuhan kastil, aku bisa memandumu saat sampai reruntuhan itu!” teriak Ulvir.


Tiba-tiba Arcansas berhenti dan membalikkan badannya. Dia tampak berpikir, kenapa pria itu bisa tahu bahwa Arcansas ingin menuju ke reruntuhan.


“Apa maksudmu, Virly! Kau mengetahui semua tentang reruntuhan kastil itu, huh!?”


“Ya. Aku mengetahuinya dan bersedia membantumu asal kau memanggil namaku dengan benar! Namaku Ulvir, ingat itu!”


“Ah. Iya. Lakukan sesukamu!” Arcansas kembali berjalan.


Akhirnya pria bernama Ulvir ikut mendampingi Arcansas menuju ke reruntuhan Kastil Dum. Perjalanan mereka pun berlanjut.


Asal-usul Ulvir masih belum jelas, ia mendapatkan pedang yang sama persis dengan milik Arcansas. Sepertinya akan semakin menarik, mungkin saja Ulvir bisa memberikan jawaban terkait mimpi aneh yang dialami Arcansas.


 


 


Kegelapan

__ADS_1


 


Gelap dan penuh debu, terdapat lorong dan semakin menjorok ke dalam. Tanah terasa kering, bau asin dari lautan menusuk hidung. Serigala milik Ulvir berlarian sambil mengendus.


Banyak batu dengan berbagai ukuran tersebar di sana-sini. Masih ada lorong menuju ke dalam tanah, reruntuhan kastil itu sungguh luar biasa.


Sebagian tanah masih basah dan bau belerang. Karena baru saja terkena banjir besar. Tanah sudah mulai mengering meski masih ada yang berlumpur.


Arcansas menjulurkan tangannya untuk membantu Lian. Wanita itu menuruni anak tangga yang sudah rusak dengan perlahan. Mereka lompat ke bawah dan mendarat di dalam ruang bawah tanah yang hampir hancur. Langit-langit terlihat seperti rahang ular, sesekali meneteskan butiran air dan mengenai batu di bawahnya.


Ulvir berjalan di belakang Arcansas, ia tampak mengarahkan Arcansas dengan sangat baik. Sepertinya benar kalau ia pernah singgah di reruntuhan tersebut dan mendapatkan pedang tipe tiga.


“Luruslah. Di sana ada dua pintu, sepertinya masih terjaga dan di dalamnya belum hancur,” ucap Ulvir.


“Dulu kau ke sini mencari apa?” tanya Arcansas.


“Aku hanya singgah untuk berteduh. Karena saat itu sedang hujan lebat, dan aku menemukan tempat ini.”


“Begitu. Kita butuh penerangan, buatkan aku api.”


“Dengan senang hati. Aku membawa pemantik yang kudapatkan dari seseorang.”


Akhirnya obor dibuat sehingga bisa menerangi langkah mereka. Dinding ruang bawah tanah itu masih tampak kokoh. Meski di atas hanya tinggal puing-puing serta beberapa pilar raksasa.


Lian terus memerhatikan langkahnya supanya tidak tersandung batu. Hawa ruang bawah tanah sangat dingin. Mungkin lebih dingin jika dibandingkan saat di hutan.


Obor yang mereka pegang apinya meliuk-liuk. Ada tumpukan tameng berkarat yang sebagian tertimbun tanah dan pasir. Terlihat juga juga ujung tombak yang berserakan di sudut ruangan meski kayunya telah hancur. Sepertinya itu bekas senjata yang sering digunakan saat kastil masih utuh.


Di mana mereka menyimpan semua perkamen-perkamen itu? Arcansas memandang sekeliling. Ia memutuskan untuk memasuki pintu sebelah kanan. Pintu itu terbuat dari baja kuat, gagangnya berkarat.


Bunyi kriet saat Arcansas membukanya membuat telinga geli. Karat serta debu berjatuhan. Lian menutup hidung dengan telapak tangan. Ulvir terlihat mengarahkan obor ke arah depan untuk menyinari Arcansas.


Mereka berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut. Kondisi dinding terlihat lebih baik daripada dinding di luar yang dipenuhi lumut serta tanaman rambat. Pasti dulunya kastil tersebut sangat besar dan megah.


Meski Arcansas lahir dan tumbuh di Suin, ia belum pernah memasuki reruntuhan kastil. Sudah hancur, terbengkalai, untuk apa dikunjungi. Ternyata di dalamnya menyimpan banyak misteri.


Bagian depan, sebelum hancur sepenuhnya, sempat ramai dikunjungi oleh orang-orang. Mereka melakukan penelitian dan menemukan peninggalan-peninggalan yang menjelaskan sejarah berpisahnya pulau itu dengan Tsandor.


Rentetan huruf Nath yang asli juga ditemukan di sana saat pertama kali di eksplorasi. Tidak ada yang mengetahui jika reruntuhan itu memiliki ruang bawah tanah yang sangat luas.


Di sinilah Arcansas berdiri sekarang. Para pendahulu tidak bisa menemukan lubang yang mengarah ke bawah tanah karena tertutup batu raksasa yang tak bisa dipindah.


Ulvir sempat curiga, ia melihat ada yang aneh dengan kontur tanah saat pertama mengunjungi reruntuhan itu. Ia mencoba menghancurkan batu tersebut, ia justru terperosok ke dalam.


Ruang itu sangat luas, bahkan diperkirakan lebih luas daripada kastilnya sendiri. Jadi yang pertama menemukan ruangan itu adalah Ulvir.

__ADS_1


__ADS_2