
Bion dan para prajurit telah bersiap. Pasukan berpanah berlarian membentuk barisan sesuai yang dikomando. Secepat kilat barisan telah rapi. Tangan mereka mengangkat busur dan memasang anak panah. Mata para prajurit memicing, membidik ke arah depan. Barikade kuat dibentuk untuk menahan serangan.
Keributan semakin menjadi. Tahi kerbau yang mulai mengering di sepatu Bion sedikit menganggu. Komandan itu tampak murka, wajahnya merah padam. Giginya bergemelatuk, urat di dahi muncul semua. Matanya tajam menatap ke depan.
Prajurit gundul tadi kembali berlari memasuki barisan. Ia prajurit yang sangat tidak menyukai Bion. Sang komandan dianggap sebagai orang paling menjengkelkan karena suka marah-marah.
Prajurit gundul siap bertempur. Ia mengangkat tangannya yang memegang pedang. Ini adalah pertempuran pertama bagi si gundul. Tubuhnya tinggi hampir menyamai Bion. Tulang pipinya terlihat keras dan menonjol. Sepertinya ia prajurit yang lumayan hebat.
“Aku harus bisa menghajar mereka,” ucap si gundul. Ia memasang kuda-kuda di belakang pasukan berpanah.
Debu makin mengepul mengepung istana. Pagar dinding yang menjulang kokoh, pasti akan segera hancur. Pertempuran sengit di istana segera dimulai.
Pagar dinding yang menjulang tinggi roboh di beberapa sisi. Muncul beberapa titan dari Suin. Sudah pasti mereka semua prajurit Arcansas yang siap membuat kekacauan.
“Hoi!! Kita datang untuk menculik Putri Livinett!!” teriak Fell sambil mengangkat tangan.
“Bodoh! Jangan kasih tahu rencana kita pada mereka,” celetuk Daz.
“Memangnya kenapa? Lagian kita sudah pasti menang.”
Fell dengan percaya diri mengumumkan tujuan sebenarnya dalam penyerangan kali ini. Fell memang suka bergurau, dia kalau bicara sering ngawur. Membocorkan tujuan kepada lawan, dia sungguh punya keberanian yang besar.
“Dasar ceroboh! Dengarkan aku, Fell! Kalau kau bisa membunuh 2000 musuh, akan kubuatkan kau makanan lezat.” Daz memberi tantangan, mereka bertaruh siapa yang bisa membunuh lebih banyak lawan.
__ADS_1
Fell membusungkan dada lalu menepuk-nepuk dengan tangan. “Siapa takut!” kemudian jari telunjuk ia arahkan kepada sang kakak. “Kalau kau tidak menepati janjimu akan kuhajar kau.” Fell mengancam dengan wajah ngeri.
Rencana penculikan ini menjadi ajang pertandingan bagi bocah kembar. Arcansas membiarkan kelakuan kedua bocah kembar itu. Dia sudah tahu kehebatan dari Wilson bersaudara. Fell Wilson memiliki kecepatan yang dahsyat. Dia bisa bergerak ke sana ke mari dengan leluasa.
Sedangkan, Daz memiliki akurasi bidikan hampir sebanding dengan Arcansas. Dia juga sangat cerdas dan bisa menyusun rencana dengan cepat jika dalam keadaan terdesak. Raksasa dari Suin memang bar-bar, tapi mereka memiliki kecerdasan yang tinggi. Hal ini cukup ditakuti oleh petinggi-petinggi kerajaan Pedral.
Tidak ada yang tahu kenapa ras raksasa dari Suin memiliki otak yang lebih jenius. Kemampuan berpikir, analisis, kreatifitas, semuanya dapat mereka lakukan dengan baik. Dunia ini masih menyembunyikan berbagai misteri. Asal mula munculnya ras bar-bar dari Suin tidak diketahui secara pasti. Bisa disebut ini adalah era pertama dalam kehidupan.
Ini adalah abad yang baru lahir, sejarah akan berjalan dan terus menciptakan sejarah baru.
Menurut sisa reruntuhan Kastil Dum yang berada di sisi selatan Pulau Suin, tepatnya di tepi pantai yang menghadap Samudera Kulfik. Ditemukan sebuah catatan kuno, saat itu tidak ada orang yang bisa melakukan baca dan tulis selain orang-orang Suin.
Jauh sebelum ini, orang Suin sudah mampu membuat perkamen-perkamen dari kulit binatang untuk media menulis. Perkamen itu dibuat dengan baik dan tahan lama. Jadi, orang yang mulai mencatat sejarah sebagai kisah di dalam perkamen adalah orang Suin. Catatan itu menceritakan sebuah kisah yang terjadi antara leluhur penduduk Suin dengan sebuah bangsa misterius.
Awalnya, diceritakan oleh orang-orang dari Benua Pedral. Bahwa sebelum kelahiran semua ras yang hidup di abad ini, dunia sempat mengalami kegelapan. Fenomena ini dikenal dengan sebutan Zaman Kebekuan, dalam bahasa kuno milik orang Pedral, disebut Erona Filder.
Selama 3000 tahun, dunia kosong tanpa penghuni. Mari sebut saja ini sebagai dongeng, karena orang Pedral percaya bahwa leluhur mereka yang menciptakan kehidupan ini. Namun belum ditemukan bukti baik catatan ataupun benda peninggalan yang menjelaskan kalau cerita itu asli atau tidak. Masih simpang siur, karena hanya diceritakan dari mulut ke mulut.
Bermula dari sebuah batu bernama Livinett, batu itulah yang akan menjawab semua misteri ini. Ternyata, batu Livinett ada kaitannya dengan kejeniusan yang dimiliki penghuni Pulau Suin.
Sebagian orang Suin telah mengetahui sejarah tentang abad Erona Filder atau Zaman Kebekuan. Diketahui 100 tahun sebelum lahirnya semua ras, para penghuni Suin telah ada. Mereka menjalin hubungan dengan sebuah bangsa misterius yang dikenal sebagai Bangsa Lemuria. Saat ini Arcansas belum mengetahui tentang sejarah tersebut.
Penghuni Pulau Suin telah lebih dulu ada dari penghuni Pedral. Hanya saja, yang masih menjadi misteri kenapa batu Livinett bisa ditemukan di lembah yang ada di Benua Pedral. Hal ini membuat kacau sejarah, mana yang benar dan mana yang hanya sebuah dongeng belaka.
__ADS_1
Penasaran
Si kembar Wilson telah menumbangkan puluhan raksasa. Pasukan milik Raja Trill mulai terdesak. Banyak titan yang bergelimpangan, darah berceceran di mana-mana.
“Daz! Kalau berhasil menculiknya, kau mau tidur dengan Putri Livinett tidak?” Fell menawari saudara kembarnya.
“Kita belum cukup umur, pasti tidak diizinkan oleh Tuan Arcansas.”
“Kau sungguh pengecut! Jangan bilang kalau tidak ingin ketahuan.”
“Ini pasti ide jahatmu. Kau sengaja ingin menjebakku agar aku dihukum Tuan Arcansas.”
“Kalau kau menolak ya sudah. Tidak masalah. Saat ada kesempatan aku mau bercinta dengannya, katanya dia sangat cantik. Aku penasaran.”
Si kembar memang suka membual. Kini mereka melanjutkan pertempuran melawan prajurit yang dipimpin Bion. Si kembar itu melangkah maju dan terus mengayunkan pedang.
Raja Trill masih berada di dalam istana, ia tidak bisa tenang. Di luar kondisi sedang kacau balau. Pertumpahan darah yang terjadi seakan memberikan teror yang sangat mengerikan untuk sang raja.
Arcansas justru mengangkat bahu, ia mengembuskan napas perlahan lalu meletakkan busur panah ke tanah. Ia berada di barisan paling belakang. Mungkin Arcansas tahu, dia tidak perlu mengerahkan kekuatannya. Dia hanya akan menggunakan pedang untuk perang kali ini. Anak buahnya sudah cukup untuk membuat kekacauan dan menyudutkan pasukan milik Raja Trill.
Arcansas menatap tajam, bola matanya seolah terpaku pada satu titik. Benar, sepertinya ia hanya memandangi riuhnya pertempuran. Kepalanya lalu menoleh, pandangannya beralih dan menatap istana milik Raja Trill. Apa gerangan yang ia pikirkan? Usut punya usut, rupanya Arcansas sedang membayangkan batu misterius yang menjadi bahan perbincangan setiap orang. Batu itu terus terbayang di pikiran Arcansas.
__ADS_1
Saat ini batu itu pasti sedang disembunyikan sang putri. Ditimang, lalu dipajang, mungkin saja putri tahu cara menggunakan batu ajaib tersebut, entahlah.