Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 11: Tangan Keadilan


__ADS_3

Orang Pedral percaya bahwa setelah Erona Filder berlalu, orang-orang mulai menjadi cerdas. Mereka meyakini bahwa orang sebelum adanya fenomena Zaman Kebekuan memiliki otak yang bodoh.


Zaman Kebekuan atau Erona Filder hanyalah sebuah kisah tanpa bukti karena tidak ditemukan catatan yang menuliskan hal tersebut.


Berbeda dengan orang Suin, mereka memiliki otak lebih cerdas. Di sana sudah mengenal baca tulis menggunakan huruf kuno. Bahasa mereka disebut Bahasa Nath. Komunikasi mereka menjadi lebih lancar satu sama lain karena adanya bahasa tersebut.


Penemu rentetan huruf Nath adalah Nathus Samar. Ia diyakini sebagai orang jenius pertama yang mengenalkan dunia tulis-menulis di kalangan pendahulu orang Suin. Jauh sebelum Arcansas lahir di Suin sudah cukup maju.


Konon, 100 tahun sebelum lahirnya semua ras, dikatakan bahwa ras Suin telah ada. Arcansas belum pernah menelusuri reruntuhan Kastil Dum. Jadi dia belum tahu asal muasal moyangnya. Zaman memang berkembang sangat cepat.


 Semua yang telah terjadi membeku dan terawetkan bersama zaman yang tertinggal. Mereka berada di masa lalu menjadi sebuah sejarah. Terekam menjadi sebuah kisah yang akan dipelajari oleh generasi berikutnya. Begitulah secara terus-menerus dan berulang-ulang.


Sejarah yang terukir akan menyimpan banyak jawaban jika tetap utuh. Ibarat sebuah rekaman di dalam ingatan seseorang. Ketika ia tumbuh dan melangkah ke depan, ia akan menyimpan berbagai kisah petualangan dan bermacam ilmu yang ia dapatkan selama mengembara. Mengarungi kehidupan yang penuh dengan rintangan. Kepala mereka terisi dengan pelajaran baru secara berkala.


Hal yang telah berada di masa lalu tidak mungkin bisa kita putar kembali. Karena waktu selalu berjalan ke depan. Berpikir juga begitu, siapa yang memiliki pola pikir ke belakang ia akan tertinggal, tapi siapa saja yang berpola pikir maju ia akan berkembang dan menjadi lebih baik. Namun, mempelajari sejarah bukan berarti memiliki pola pikir ke belakang.


Arcansas telah memutuskan untuk menyelidiki arti mimpinya. Ia penasaran dengan mimpi yang menghantuinya 3 malam berturut-turut. Seperti sebuah wangsit dari langit, bahwa ia harus mencari sesuatu. Jika ia bisa menemukan jawaban atas mimpinya tersebut mungkin saja ia mampu untuk menguasai Benua Pegalisch.


Raja Trill sejak dulu dikenal sebagai pria yang selalu berbuat adil. Beliau adalah pelopor berdirinya gerakan Tangan Keadilan. Organisasi itu tumbuh besar. Kerajaan yang ia besarkan memiliki cukup orang yang mempunyai tekad dan minat sama. Semua itu tentu menjunjung keadilan.


Orang-orang yang sangat menyukai keadilan dan kedamaian membentuk organisasi Tangan Keadilan untuk memakmurkan kehidupan.


Banyak yang bergabung baik dari kalangan penduduk asli atau pun pendatang. Raja Trill yang berasal dari Pedral mampu menyatukan perbedaan di bawah bendera kerajaan yang sama. Keadilan satu dan mutlak.


Kedamaian akan terwujud jika keadilan ditegakkan. Itulah yang diyakini sang raja. Dulu jarang sekali terjadi pemberontakan dari wilayah luar benua. Baru kali ini, orang bar-bar dari Suin nekat melakukan invansi.


“Kau tidak akan bisa menguasai benua ini, Arcan! Tekadmu sangat lemah.” Liobo mengejek.


Arcansas hanya melenguh sambil menangkis serangan Liobo. “Jangan meremehkanku, bahkan lautan dan langit akan kukuasai jika aku mau!”


Pertarungan semakin sengit. Mereka mulai meningkatkan serangan satu sama lain. Lengan Arcansas terluka terkena sabetan pedang milik Liobo. Sedangan dada Liobo tergores pedangnya Arcansas. Dua monster itu masih sanggup berdiri dengan tenaga prima.

__ADS_1


Berhenti sejenak untuk mengatur napas. Keringat mulai membasahi wajah mereka. Sudah cukup lama berduel. Namun belum terlihat siapa yang akan memenangkan pertarungan.


“Menurut Anda siapa yang akan memenangkan duel ini?” Pabel berucap dengan suara lirih.


Raja Trill terus memandang ke bawah. Dua orang bengis dan sadis sedang bertaruh untuk mendapatkan putrinya. Sungguh kurang ajar Si Arcansas itu. Dia seenaknya menggunakan putri raja sebagai bahan judi.


“Entah. Sepertinya pertarungan ini akan berlangsung lebih lama.”


 


Pemenang


Tiba-tiba saja Arcansas mengangkat pedangnya dan menghadap Raja Trill.


“Wahai sang raja. Aku akan meminta batu permata yang dijanjikan putri Anda. Aku tidak jadi membawa dia, tapi jika kelak aku berubah pikiran, maka aku akan menculik putri Anda untuk dijadikan istri!”


Sang raja sungguh tercengang mendengar pernyataan Arcansas. Jika dia ingin mengincar batu saja tidak masalah. Namun jika ia benar-benar ingin merebut Putri Livinett, ia harus dibunuh.


Liobo tampak kesal. “Dasar! Dia memanfaatkanku seolah aku ini budaknya. Tua bangka bau tanah!” ucap Liobo.


“Kau kesal pada rajamu? Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?”


“Apa maksudmu?”


“Bergabunglah bersamaku untuk menguasai benua ini.”


“Dasar serigala! Aku tidak sudi bekerja denganmu. Kau orang yang tidak bisa dipercaya.”


Arcansas tersenyum mendengar ajakannya ditolak oleh Liobo. “Baiklah, siapkan dirimu. Berarti tidak ada lagi kesempatan untukmu.”


“Aku selalu siap untuk melawanmu—”

__ADS_1


Secepat kilat Arcansas menghujamkan pedangnya dan menembus perut Liobo. Darah segar mengalir dari tubuh titan itu. Liobo ambruk dan memegangi perut sesaat setelah Arcansas mencabut pedangnya. Sakit sekali pasti, tertusuk di ulu hati oleh senjata tajam dan dicabut dengan kasar. Pendarahan sudah pasti deras.


“Si....sialan...! Aku tidak bisa melihat gerakannya.” Liobo meringis kesakitan.


Arcansas membalikkan badan. Seluruh orang yang menyaksikan duel tersebut terkejut. Terutama Putri Livinett dan Raja Trill. Liobo yang gagah perkasa ambruk bersimbah darah. Ia kalah telak di tangan Arcansas. Rupanya sedari tadi Singa Merah itu hanya bermain-main.


“Kau terlalu menganggapku remeh, Lonos! Bersyukurlah karena aku tidak membunuhmu.”


“Namaku ... Liobo, dasar ... goblok!”


 Si kembar Wilson berdiri dengan wajah sumringah. Mereka sudah yakin kalau Tuan Arcansas pasti akan memenangkan duel maut tersebut. Rey Liobo kalah dalam duel pertama dengan Arcansas. Sepertinya ini akan berbuntut panjang. Liobo pasti menyimpan dendam kepada Arcansas.


“Yeah! Jangan pernah meremehkan kekuatan Tuan kami!” Fell jingkrak-jingkrak.


Pasukan Arcansas yang lainnya berada di depan istana, mereka mulai berkumpul. Semuanya menunggu sang pemimpin keluar dari istana yang super besar itu.


“Di mana putrimu, Raja Keriput!?” Arcansas berteriak.


Ia tidak sabar menerima hadiah yang sudah dijanjikan. Sesuai kesepakatan, Putri Livinett harus menyerahkan batu miliknya jika Arcansas berhasil mengalahkan Liobo.


Benar saja, kekuatan Liobo sepertinya masih terlalu jauh berada di bawah Arcansas. Singa Merah dari Suin tampak menikmati pertarungannya dengan komandan pasukan Arbitos tersebut.


Napas Livinett terengah, ia berkeringat. Putri tersebut menuruni anak tangga menghampiri Arcansas.


“Baiklah! Kau berhak menerima batu ini dariku!” Livinett menyahut.


“Bagus! Segera berikan padaku.”


Sang putri tidak punya pilihan lain. Ia harus menyerahkan batu berharga miliknya. Padahal itu adalah hadiah dari ayahnya dan sudah dimiliki sejak kecil.


Pertarungan antara Liobo dan Arcansas telah usai. Batu Livinett telah diterima oleh Arcansas dan ia pun merasa senang. Segera setelah urusan selesai, ia kembali lagi ke markas bersama pasukannya yang masih hidup dan terluka.

__ADS_1


Ia akan merayakan kemenangan bersama si kembar dan juga prajurit lain. Arcansas berencana menggelar pesta besar. Mereka menyembelih banyak binatang yang berhasil dikumpulkan dari para pedagang dan rumah penduduk.


__ADS_2