Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 17: Pasukan yang Hancur


__ADS_3

“Daz! Di mana kau!”


Fell berjalan terseok-seok. Bahunya terluka parah. Darah segar mengalir deras dari lukanya. Banyak mayat yang bergelimpangan.


Fell menatap ke arah tumpukan mayat di depannya. Tampak sosok pria dengan baju compang-camping. Rupanya itu adalah Daz. Ia tak sadarkan diri, Fell langsung mendekati tubuh kakaknya.


“Hei! Bangunlah. Jangan mati, Daz!”


Fell sangat khawatir. Seluruh pasukannya telah dibantai. Hanya tersisa beberapa prajurit yang selamat dan menderita luka serius.


Datang titan berambut kuning yang mengenakan baju coklat. Ia menghampiri Fell dan Daz.


“Mereka benar-benar kuat!” ucap raksasa tersebut.


“Pikirkan nanti. Bantu aku menyelamatkan kakakku!” teriak Fell.


Siapa yang membantai pasukan Arcansas. Kenapa si kembar Wilson sampai babak-belur seperti itu.


 


Baru dua minggu ditinggal pergi oleh Arcansas. Justru sekarang prajuritnya banyak yang tewas.


“Daz! bangunlah!”


Fell terus memanggil nama kakaknya. Mereka memapahnya ke bawah pohon. Pegunungan Aranos menjadi mencekam penuh noda darah. Baru saja terjadi pertempuran yang tidak terduga.


“Cepat cari tanaman obat! Bantu aku membersihkan lukanya.” Fell menyuruh prajurit lain yang selamat.


Mereka bekerja sangat keras untuk menolong Daz yang terluka parah. Perutnya tertusuk pedang. Mulutnya mengeluarkan darah kental.


Setelah berjuang untuk menyelamatkan kakaknya, akhirnya Fell bisa bernapas lega. Sepertinya Daz akan baik-baik saja.


Arcansas tidak mengetahui keadaan pasukannya. Ia sedang fokus di Pulau Suin untuk mencari jawaban tentang mimpi anehnya.


Fell mengobati luka di bahunya lalu merebahkan tubuh di samping kakaknya. Ia sangat kelelahan karena bertarung habis-habisan.


Siapa mereka? Wanita cantik itu, kenapa begitu hebat. Fell melamun memikirkan pertempuran yang baru saja ia lalui.


“Fell. Kita harus melaporkannya pada Tuan Arcansas.”


Seorang pria gendut membuyarkan lamunan Fell. Pria itu duduk di samping si kembar.


“Jangan. Aku pasti dihukum jika Tuan mengetahui kejadian ini.”


“Tapi—”


“Hentikan. Biar kupikirkan nanti lagi,” ucap Fell.


“Baiklah. Mereka sungguh hebat. Bisa membantai pasukan sebanyak ini. Mereka bahkan mampu memojokkanmu dan kakakmu.”


“Ya. Aku tidak tahu siapa mereka.”


“Pendekar wanita itu sangat lincah. Terlebih lagi si pengguna cambuk, ia sangat mengerikan.”


“Siapa sembilan orang itu...” Fell bergumam.

__ADS_1


***


 


 


Raja Trill berjalan menuruni anak tangga. Beliau lalu mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya. Pabel berdiri di samping raja sambil menatap ke arah Hanzes.


“Bagaimana penyerbuan kalian?” ucap sang raja.


“Kami berhasil menghancurkan pasukan Singa Merah itu. Sayangnya kami tidak menemukan Arcansas,” sahut Hanzes.


“Begitu. Ada di mana dia.”


“Entah. Namun ada bocah kembar yang cukup merepotkan.”


“Terima kasih atas kerja keras kalian. Hanzes, kau yang memimpin pasukan ini, silakan bawa semua pendekar ke ruangan makan.”


Hanzes mengenakan topinya lalu berlalu meninggalkan raja. Ia memanggil delapan pendekar lainnya untuk menuju ruang perjamuan. Tampaknya raja telah menyiapkan hidangan mewah untuk sembilan prajurit pilihan itu.


Firtos berjalan dengan langkah tegap. Cemetinya tergulung dan tersampir di pinggulnya. Ujung cemeti itu bergoyang-goyang tiap kali terkena guncangan dari pemiliknya.


Ternyata yang memimpin penyerangan ke markas Arcansas adalah Hanzes. Sepertinya dia mau menuruti permintaan raja. Meski awalnya ia menolak dan selalu mengatakan tidak suka darah.


Satu-satunya pendekar wanita hanyalah Nie. Dia menjelma menjadi prajurit yang gagah berani seperti pria lainnya. Pendekar-pendekar itu telah sepakat untuk melawan Arcansas.


Mungkin saja perburuan akan terus berlanjut hingga mereka bisa memenggal kepala Singa Merah dari Suin. Saat ini mereka belum mengetahui kalau Arcansas berada di Pulau Suin. Apakah sembilan pendekar ini mampu membunuh Arcansas? Bagaimana reaksi Arcansas jika mengetahui pasukannya telah dikalahkan.


 


 


 


 


“Tunggu, Arcansas.”


Arcansas menoleh ke sumber suara. Ia memandangi seorang gadis sedang berdiri menatapnya.


“Ada apa?” tanya Arcansas.


“Izinkan aku ikut denganmu.”


Sungguh mengagetkan permintaan wanita itu. Ia baru saja pulih, sekarang malah ingin mengikuti Arcansas.


“Aku akan menuju reruntuhan Kastil Dum. Perjalanan mungkin lebih berbahaya jika kau mengikutiku.”


Lian membisu, ia melangkahkan kakinya ke arah Arcansas. Luka di wajahnya masih sedikit terlihat.


“Tak masalah. Lagi pula aku tidak punya tujuan.”


“Benarkah? Apa kau tidak punya kampung halaman?”


Wanita itu memelas, tampaknya tekadnya sudah bulat. Ia benar-benar ingin mengikuti Arcansas.

__ADS_1


“Aku tidak punya siapa-siapa. Biarkan aku ikut, siapa tahu aku bisa membantumu selama perjalanan.”


Arcansas mengerutkan keningnya. Dahinya lengkung dan lebar. Ia menggenggam erat busur panahnya.


“Membantuku?”


“Em. Misalkan memasak untukmu. Setidaknya aku masih bisa berguna. Anggap saja—bentuk terima kasihku, karena kau menyelamatkanku.”


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Arcansas mengizinkan wanita itu untuk ikut. Perjalanan menuju ke selatan butuh waktu dua hari. Reruntuhan kastil itu ada di pesisir selatan, menghadap Samudera Kulfik.


Pulau Suin masih tertutup abu. Namun sekarang sudah sedikit luntur karena terkena air hujan. Selama perjalanan, mereka jarang menjumpai penduduk. Sepertinya memang banyak sekali korban jiwa akibat bencana letusan gunung dan banjir besar.


Arcansas menemukan sebuah bangunan yang terlihat masih bagus. Sepertinya digunakan untuk menjual minuman oleh sang pemilik. Arcansas memutuskan untuk istirahat dulu di kedai tersebut.


Sudah hampir malam, ia akan tetap melanjutkan perjalanan setelah makan. Karena rasa penasarannya sudah menggebu-gebu untuk segera mengetahui isi reruntuhan.


Ia ingin segera mencari tahu arti mimpinya dan menemukan kebenaran di Kastil Dum. Mungkin bisa beristirahat di perjalanan selanjutnya untuk bermalam.


“Jika kau ingin berubah pikiran, sekaranglah saatnya. Aku tidak bisa menjamin untuk melindungimu jika bahaya datang.”


“Keputusanku sudah bulat. Aku akan terus mengikutimu sampai reruntuhan kastil tersebut.”


“Ah... baiklah. Berdebat pun rasanya tak ada gunanya.”


“Terima kasih karena kau sudah menolongku saat itu.”


“Ya. Jangan dirisaukan.”


Mereka berdua memesan daging panggang berukuran jumbo. Arcansas terlihat seperti orang yang tidak makan selama satu bulan. Ia begitu lahap menyantap hidangan yang tersaji.


“Tolong pelan-pelan. Nanti kau tersedak.” Ucap Lian.


Arcansas tidak menyahut, ia hanya mengangguk dan terus mengunyah makanannya. Lian ikut makan tapi hanya sedikit lalu mereguk minumannya.


“Kenapa berhenti. Makanannya masih banyak.”


“Tidak. Aku sudah kenyang.” Sahut Erie.


Saat Arcansas sudah puas. Ia langsung ingin meninggalkan kedai. Si pemilik kedai menghampirinya.


“Maaf, Tuan. Anda belum membayar makanannya.”


Arcansas menoleh dengan tatapan sinis. “Hei. Kau mencoba memerasku? Aku tidak punya uang.”


“Tidak. Sudah seharusnya Anda membayarnya, Tuan.”


“Berisik! Sudah kukatakan aku tidak punya uang. Biarkan aku pergi atau kubunuh kau!”


Arcansas mengancam dengan nada kasar. Lian jadi kebingungan melihat keributan terjadi.


“Tenanglah!” Lian membuka suara. “Berapa semuanya, Tuan?” wanita itu bertanya pada pemilik kedai.


“Semuanya 2000 dizt, Nyonya.”


“Aku masih ada uang, tapi hanya 1500 dizt. Bagaimana kalau aku membantumu membersihkan kedai ini untuk melunasi kekurangannya.”

__ADS_1


Pemilik kedai tampak berpikir. Arcansas hanya memainkan bibirnya, sesekali jari telunjuknya masuk ke mulut untuk mencari sisa daging yang tersangkut di giginya.


__ADS_2