Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 32: Hamlet


__ADS_3

Lorong itu semakin memanjang, Arcansas berdiri sendiri dan tidak mengenali tempat tersebut. Seingatnya, ia masih berada di bawah tanah reruntuhan kastil. Entah mengapa sekarang ia berada di tempat asing.


Seperti mimpi sebelumnya, ketika ia berada di lembah yang mengerikan. Kini ia berada di antara tembok kokoh yang memanjang. Terdapat titik yang berpendar kian terang. Arcansas berjalan menuju ke arah cahaya tersebut.


Rupanya di depan ada sebuah pintu keluar. Kini Arcansas memijakkan kakinya di luar, ia menatap ke seluruh penjuru.


Sungguh mengagumkan, ia berdiri di atas pegunungan. Pemandangan indah terbentang di sana. Tiba-tiba dari atas langit muncul benda berbentuk aneh. Bulat dan memantulkan cahaya matahari. Silau sekali saat mengenai mata.


Muncul sosok asing, ia memiliki tubuh lebih kecil dari Arcansas. Sosok itu melontarkan sesuatu lalu meledak hingga membuat Arcansas terpental ke belakang.


Arcansas merasa pening, ia memegangi kepala. Sosok kerdil itu sudah berada di hadapannya, di antara kaki raksasa milik Arcansas.


“Kau diberkati, wahai raksasa dari Suin!” ucapnya.


“Siapa kau!?” Arcansas menyahut.


“Namaku Hamlet. Akulah yang memimpin bangsaku ketika melakukan perjalanan menuju ke Suin.”


“Ham...mer?” Arcansas kumat. Ia tidak bisa langsung mengingat nama yang baru didengar.


“Hamlet! Bukan Hamer. Kau harusnya cerdas seperti leluhurmu yang lain.” Pria kerdil itu tampak kesal.


“Leluhur? Kau mengenal leluhurku?”


“Ya. Mereka adalah keturunan yang menjadi harapan kami di masa depan.”


“Apa maksudmu. Kau ini siapa, dan ini berada di mana?”


“Kau berada di tempatku 10.000 tahun yang lalu, dari tahun tempatmu berasal. Artinya, kau kembali ke masa lalu.”


“Sepuluh ribu...tahun katamu?”


“Ya. Tahun pada zamanku dikenal dengan sebutan tahun Sebelum Masehi dan Masehi. Aku berasal jauh sebelum hancurnya tempat ini.”


“Sebelum Masehi dan Masehi? Hancur—apa maksudnya tempat ini hancur.”


“Pulau Suin adalah pulau baru, akibat hancurnya Bumi. Kau tinggal di planet bernama Bumi!”


“Bumi? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.”


Arcansas mencoba mengingat. Tentu saja ia pernah dengar, karena ia bermimpi tentang Bumi.


“Ya. Kau pasti ingat. Akulah orang Lemuria yang berasal dari Bumi, jauh sebelum bangsamu lahir.”


“Jadi kau yang datang dalam mimpiku?”

__ADS_1


“Tidak. Itu hanya sebuah ikatan yang terhubung melalui sebuah alat deteksi. Pesan yang kukirimkan sepuluh ribu tahun lalu, akan tersimpan di dalam ruang hampa, tepatnya di luar bumi, bahkan di luar galaksi kita. Pesan tersebut akan diterima oleh orang yang punya niat untuk memiliki batu Livinett dan memiliki ambisi besar.”


“Aku tak paham dengan ucapanmu. Kembalikan aku ke tempatku!” Arcansas kesal.


“Tidak bisa. Kau akan kembali sendiri setelah kau mengetahui semua jawaban yang ada. Bukankah kau ingin memiliki batu Livinett?”


“Ya! Kenapa kau bisa tahu tentang batu itu?”


“Bangsa kamilah yang membawa batu itu hingga berada di Bumi lagi. Awalnya kami adalah penghuni Bumi. Kami terpojok ketika perang melawan Atlantis. Kaum kami lebih tua daripada Atlantis, tapi kami kalah dalam perang. Sehingga mengembara menjadi penjelajah galaksi.


“Anta...lis?”


“Atlantis! Apa kau tidak tahu? Sungguh, kau lebih bodoh dari si tua Hogba!”


“Kau...kau mengenal Hogba?”


“Tentu saja. Dia adalah orang Suin yang pertama berjumpa dengan kami. Doug Hogba memiliki anak bernama Gerald Hogba. Gerald memerintah Suin, ia mendirikan Kastil Dum.”


“Tapi ... kenapa tahunnya jauh sekali? 10.000 tahun bukan waktu yang singkat.”


“Tidak. Itu hanya 5000 tahun sebelum Hogba dan kau lahir! Hitungan tahun di tempatmu menggunakan Gerkach. 5000 Gerkach sama dengan 10.000 Masehi yang lalu, ketika Bumi hancur akibat manusia modern.”


“Manus...manusia modern?”


“Karena tidak diterima oleh penghuni baru di Bumi. Kami pergi lagi meninggalkan Bumi, semua kaumku mengembara di luar angkasa. Hingga kembalilah kami ke Bumi tepat 10.000 tahun lalu, saat Bumi sudah hancur.”


“Bumi adalah planet ketiga dalam galaksi Bima Sakti. Kau, Pulau Suin, Benua Pedral dan semuanya berada di Bumi, tepatnya 10.000 tahun dari sekarang, atau 5000 tahun sejak zaman kebekuan berakhir!”


“Apa!?” Arcansas terkejut. “Kau bilang zaman kebekuan?”


“Ya. Erona Filder menyelimuti Bumi ini. Semua penghuninya musnah, lalu lahirlah penghuni baru. Pertama kali yang mendiami Bumi di era Gerkach adalah leluhurmu, tepatnya 100 tahun sebelum semua ras lahir.”


“Selama 5000 tahun, kami terus memantau Bumi hingga mulai membaik. Akhirnya kami bisa datang lagi ke tanah kelahiran ini, meski segala tempat, bahkan bentuk benua berubah total. Kau berada di masa depan, generasi paling baru, jauh sesudah kaum kami.”


 


 


Bumi, tahun 7000 Gerkach.


Waktu terus berlalu, setiap detiknya terasa begitu cepat. Rasanya baru saja kemarin, tiba-tiba sudah berganti hari, bulan, bahkan tahun. Tak ada yang bisa menghentikan waktu.


Dunia ini dipenuhi berbagai misteri yang tak pernah ada habisnya. Segala pertanyaan membuat kepala ingin pecah, karena memikirkan berbagai hal sulit dijelaskan, meski sudah ada petunjuknya sekalipun.


Dalam hal ini, Arcansas mencoba mencerna semua penjelasan yang baru saja disampaikan Hamlet. Sosok misterius yang mengaku sebagai bangsa Lemuria telah berada di hadapan Arcansas.

__ADS_1


“Seandainya itu nyata, kenapa sekarang kau masih bisa menemuiku? Apa kalian abadi?”


Hamlet terdiam, ia tak menjawab. Hal tersebut membuat Arcansas semakin penasaran.


“Hei. Jawablah, apa maksud semua ini. Apa kau sengaja mempermainkanku?”


“Kami harusnya tidak abadi. Ikutlah denganku, jika kau ingin menguasai Pegalisch kau harus mengetahui semuanya.”


“Semuanya? Apa yang kau maksud?”


“Ada sesuatu yang harus kau miliki untuk mendapatkan benua besar tersebut. Aku tidak peduli dengan kejahatan yang kau lakukan. Setidaknya, masih ada ras cerdas yang bertahan di dunia ini.”


“Jika aku berada di Bumi, lalu kalian selama ini berada di mana?”


“Kami menjadi abadi, dan akan punah saat kau membantu kami. Aku dan kaumku yang tersisa tinggal di planet yang amat dingin, jauh dari matahari. Sebuah planet tanpa nama.”


“Apa maksud membantu kalian? Bagaimana caranya? Aku sama sekali tak mengerti.”


Mereka berjalan menyusuri lorong, sampailah mereka di tempat yang luas. Sebuah ruangan yang dipenuhi dengan berbagai macam benda asing.


“Apa ini semua?” Arcansas heran.


“Kau akan memiliki ini semua jika kau bisa merebut batu Livinett. Saat kau memiliki batu itu, kau bisa menyelamatkan kami.”


“Apa kau membawaku ke sini dengan semacam alat...atau...sebuah sihir?”


“Sihir memang ada, tapi kau berada di sini karena mesin waktu.”


“Me...mesin? Mesin waktu katamu?”


“Ya.”


“Seperti apa itu?”


“Kalian akan memulai dari awal dan mengembangkan segalanya dari nol! Keturunan kalianlah yang akan memajukan peradaban baru ini. Sebenarnya perputaran dalam kehidupan ini sepertinya sama. Hancur, lahir kehidupan baru, lalu punah, lahir kembali, begitu seterusnya. Setidaknya itu pengetahuan yang baru kami dapatkan.”


“Dia masa depan, kelak dunia akan menjadi lebih baik. Meski masih ada perang yang terus berkobar. Kau harus merubah sejarah—maksudku kau harus mengawalinya sejak sekarang. Ini adalah sesuatu yang tidak akan kau jumpai di zamanmu. Tetapi, benda ini akan sangat populer di masa depan, setelah kematianmu.”


“Kematian?” Arcansas mengerutkan kening. “Apa kalian juga mengetahui tentang kematian? Kenapa bisa ada kematian?”


“Itu sudah hukum alam, dan mutlak. Mati itu pasti menimpa semua yang hidup. Kau harus membantu kami, agar kami bisa mati.”


“Aku masih tak paham. Sekarang jelaskan secara singkat, lalu kembalikan aku ke tempat asalku.”


“Sekarang saatnya. Aku tidak akan menjelasakan apa-apa. Kau hanya perlu mengambil batu Livinett. Niscaya keajaiban akan terjadi, dan masa depan akan terjamin. Kaumku tak bisa melakukannya, hanya kau yang bisa. Generasi baru yang lebih brutal, berani, dan penuh ambisi. Satu pesanku. Wujudkan semuanya meski kau harus menentang langit! Selamat! Karena nanti kau akan memiliki pasangan yang sangat cantik.”

__ADS_1


__ADS_2