
Tanpa basa-basi lagi, Arcansas langsung melontarkan anak panahnya, tapi bisa dihalau oleh Hanzes dengan pedang. Sama seperti tadi, pedang raksasa itu memang mampu mematahkan serangan Arcansas.
Hanzes mengayunkan pedangnya dengan sangat brutal, sabetan pedang itu sudah pasti mempunyai daya hancur yang kuat, tubuh bisa remuk bila terkena serangan tersebut.
Duel semakin sengit! Pendekar lain tampak menyaksikan pertarungan itu. Si kembar Wilson terkejut ketika melihat tuan mereka sedang jadi bahan tontonan.
Si kembar juga terkejut ketika melihat orang-orang di dekat Tuan mereka, sembilan orang itulah yang membantai pasukan Arcansas.
Pertarungan si nyentrik Hanzes dengan Singa Merah dari Suin berbeda dengan sebelumnya. Saat melawan Dahi Besi alias Liobo, Arcansas menggunakan pedang sejak awal, kali ini Arcansas menggunakan panah, dan berganti mencabut pedangnya.
Sungguh badas! Akhirnya Arcansas memakai pedang berukiran aneh tersebut. Seperti yang telah diketahui, Hanzes adalah pengguna pedang tipe satu. Kini, dua pedang legendaris saling bertemu.
Sebelumnya Arcansas juga mampu menumbangkan Liobo dengan pedang yang memiliki ujung bergerigi dan mengerikan. Apakah takdir telah ditentukan sejak awal lahirnya pedang tersebut?
“Ada apa? Kau sudah kelelahan, hah?” teriak Hanzes.
Arcansas menarik napasnya, pundaknya naik-turun. Dia memang terlihat kelelahan, dari tadi sudah mengeluarkan banyak tenaga. Ia mengamuk dan membunuh banyak prajurit. Apa Arcansas masih bisa bertarung lagi?
“Jangan bertanya seperti itu, kau akan segera mati.” Sahut Arcansas.
Pengguna dua pedang legendaris itu saling menatap penuh amarah. Arcansas menggenggam erat gagang pedangnya, busur panahya masih tergeletak di tanah.
Busur panah milik Arcansas juga sangat besar, selain pedang, busur itu adalah senjata yang paling sering digunakan. Meski saat berburu ikan, Arcansas menggunakan tombak, tapi ia juga akan menggunakan tombaknya dalam pertempuran. Walaupun hanya sesekali.
Arcansas mempunyai gerakan aneh ketika menggunakan tombak, sangat sulit dijelaskan. Bahkan, si kembar Wilson selalu kagum ketika Arcansas menggunakan tombak.
Singa Merah itu memang ahli dalam menggunakan berbagai macam senjata. Ia juga ahli menyusun rencana, meski sering susah mengingat nama orang yang baru dikenal.
Kelebihannya menggunakan senjata didapat sejak ia masih berusia remaja. Arcansas sudah sering mengikuti perburuan di hutan bersama orang-orang yang lebih tua.
Dahulu, saat ikut berburu bersama orang tuanya, hal tragis terjadi. Kelompok Arcansas, termasuk orang tuanya, menemui binatang yang sangat buas.
Kala itu, Arcansas pergi berburu ke wilayah lain. Tepatnya kepulauan Winora, bagian Negara Win. Terletak di dekat Benua Pedral. Hanya sebuah negeri kecil, kini telah lenyap karena air laut naik.
Di sana, muncul monster mengerikan yang hingga sekarang dikenal dengan julukan Onbir. Negeri Win dari dahulu kala sudah menjalin hubungan baik dengan penduduk Pulau Suin sejak masa pemerintahan Hogba.
Tidak aneh jika terdapat kemiripan dari kedua pulau itu, yaitu sama-sama mengembangkan dunia menulis. Nathus Samar dan orang Win sering berdiskusi. Hingga lahirlah sebuah kisah yang tak disangka.
Negeri Win memiliki penduduk yang gemar bercerita, akhirnya Nathus memutuskan untuk menuliskan cerita itu menjadi sebuah dokumen.
Monster mengerikan bernama Onbir awalnya hanya dianggap mitos semata untuk menghibur anak kecil. Tetapi, tidak disangka kalau binatang buas itu benar-benar ada.
Konon, binatang itu akan muncul saat malam hari diterangi cahaya bulan purnama. Ia akan mencari mangsa dan membantai siapa saja yang dijumpai. Banyak penduduk di kaki pegunungan yang takut dengan Onbir.
Bukan legenda belaka, Arcansas berjumpa dengan Onbir saat berburu, binatang buas itu merenggut nyawa kedua orang tua Arcansas ketika hutan sangat dingin dan diterangi cahaya bulan.
Sudah cukup lama sejak pemerintahan Hogba runtuh, binatang mitos itu ternyata masih ada, dan benar-benar nyata. Ayah Arcansas tewas tercabik-cabik kuku panjang yang dimiliki Onbir. Arcansas juga melihat ibunya meregang nyawa ketika seluruh tubuhnya dijadikan santapan oleh binatang buas itu.
Ketika Hogba masih hidup, Onbir pernah ingin menguasai seluruh wilayah. Tetapi, eksistensi binatang mengerikan itu mulai redup selama beberapa tahun setelah runtuhnya Kastil Dum.
__ADS_1
Barulah, Onbir muncul dihadapan Arcansas. Arcansas yang masih bocah sangat ketakutan, kelompok berburunya sudah tewas semua, bahkan orang tuanya mati mengenaskan di depan matanya. Arcansas kebingungan saat berhadapan dengan monster tersebut.
Silav
Tangannya gemetar, ia merasa ingin pingsan. Saat ketegangan menghantui dirinya, tiba-tiba muncul seseorang yang mengenakan baju aneh. Ia adalah pria yang membawa busur panah, lengkap dengan anak panah yang berwarna kuning.
Arcansas berpikir, mungkin saja orang itu pemburu dari Win. Kepulauan Winoria memiliki deretan pulau berjumlah delapan. Masing-masing pulau sangat ramai dan sering dijadikan sebagai lokasi berburu. Bahkan, rakyat Win sendiri rela tinggal di hutan demi mendapatkan buruan yang besar.
Arcansas kaget ketika pria asing itu tiba-tiba berdiri di depannya.
“Si...siapa kau?” tanya Arcansas.
Pria asing tersebut menoleh, ia tersenyum ke arah Arcansas yang masih kurus kering. Dulu, Arcansas memang memiliki tubuh titan kecil, tidak memiliki daging. Arcansas terlihat seperti anak kekurangan gizi.
Tanpa menjawab ucapan Arcansas, pria berpanah itu langsung menyiapkan busur dan memasang anak panah. Dengan sangat cepat, anak panah melesat ke arah Onbir dan mengenai bagian dadanya.
Onbir mengeluarkan suara yang sangat mengerikan, mungkin karena ia merasakan sakit. Tubuh binatang buas itu sungguh kuat, berwarna coklat dan memiliki gigi yang sangat tajam. Kukunya sangat panjang, berdiri dengan dua kaki meski tubuhnya sedikit bungkuk. Matanya berwarna merah, dan ia tidak memiliki telinga.
Raungan Onbir seakan mampu memecahkan gendang telinga, tanpa menunggu lama, pria asing itu kembali menyiapkan anak panahnya.
“Matilah kau monster sialan! Kau tidak akan bisa menguasai seluruh isi dunia ini!”
“Beraninya kau melawanku?!!!” teriak Onbir.
Sungguh mengejutkan, ternyata binatang buas itu bisa berbicara. Arcansas terbelalak ketika mendengarnya. Pendekar misterius itu langsung melepaskan anak panahnya, tiga sekaligus ... hancurlah tubuh Onbir itu menjadi berkeping-keping.
“Terima kasih sudah menolongku,” ucap Arcansas.
“Ya. Sekarang kau aman.”
“Kau...kau sangat hebat.” Arcansas memuji dengan suara gemetar.
Pria asing itu terkekeh, ia merasa tersanjung. Siapa dia, kenapa kemampuannya begitu mengagumkan?
“Perkenalkan. Namaku Silav, aku asli penduduk di negeri ini.”
“Si...hai, Silav! Panggil aku Arcansas.”
Mereka saling berkenalan, pria yang baru saja menyelamatkan si kecil Arcansas adalah Silav. Namanya cukup keren, apa dia pendekar yang sedang berburu? Kemampuannya sungguh luar biasa.
“Oh. Arcansas. Nama yang sangat bagus, kalau boleh tahu apa arti namamu itu?” Silav duduk bersila di hadapan Arcansas.
“Kata orang tuaku, artinya besar, satu, dan ternama. Begitulah, Arcansas nama pemberian mereka.”
Arcansas menangis, ia bersedih karena kedua orang tuanya tewas diterkam Onbir. Silav tampak mengerti kesedihan yang dialami bocah itu.
“Jangan bersedih. Nyawa kedua orang tuamu pasti senang karena Onbir sudah musnah.”
__ADS_1
“Kenapa ada binatang mengerikan seperti itu di sini?”
“Sebenarnya, binatang buas itu jumlahnya banyak, mereka ingin menguasai semua wilayah di dunia.”
“Semua wilayah?” Arcansas mengusap air matanya.
“Ya. Mereka sudah ada sejak dulu, bahkan, katanya satu benua sudah berhasil mereka kuasai, yaitu benua di dekat Tsandor. Benua Pegalisch, penghuni asli di sana telah musnah dan wilayahnya diduduki Onbir. Hingga sampailah seorang pahlawan yang berhasil mengambil alih benua itu, Onbi dapat berkamuflase, ia bisa menjadi tak terlihat.”
“Tak terlihat katamu?”
“Benar. Karena itu, Benua Pegalisch disebut sebagai benua kosong. Ada yang bisa menguasai benua tersebut, seorang Pedralian. Ia bernama Trill, sekarang dia sudah berkuasa di sana. Karena Raja Trill memiliki orang-orang hebat, maka ia mampu mengalahkan Onbir.”
“Lalau kenapa masih ada Onbir di sini?”
“Sebagian Onbir ada yang kabur dari benua itu. Kalau boleh tahu, berapa usiamu?”
“Aku delapan tahun.” Sahut Arcansas.
“Masih sangat belia. Jika kau mau, ikutlah denganku. Akan kuajarkan ilmu perang, menggunakan senjata, dan lain sebagainya.”
Arcansas berpikir sejenak, ia merasa bingung karena menerima ajakan pria bernama Silav.
“Baiklah. Aku akan ikut denganmu. Kau akan ke mana setelah ini?”
“Mengembara ke semua tempat, hingga aku menemukan orang yang tepat,” sahut Silav.
Arcansas memicingkan matanya, ia tak mengerti dengan ucapan Silav. “Menemukan orang tepat?”
“Ya.”
“Baiklah.” Sahut Arcansas, “ehm ... boleh aku bertanya sesuatu padamu?”
“Silakan.”
“Kenapa matamu hanya satu?”
Silav tertawa, ia merasa malu untuk menceritakan. “Ini adalah aib bagiku. Mataku hilang saat melawan Onbir, terkena kukunya yang sangat tajam.”
“Begitu. Binatang itu sungguh mengerikan.”
Arcansas beranjak dan mengikuti pria bernama Silav. Mereka akhirnya pergi mengembara di seluruh pulau, dan memasuki benua Pedral. Terungkap, rupanya Arcansas sudah pernah mengunjungi Pedral, tempat asal Raja Trill yang menguasai Pegalisch.
Arcansas belajar banyak dari pria bernama Silav. Pendekar itu sungguh hebat, hingga akhirnya Silav mengajak Arcansas untuk meruntuhkan kekuasaan seorang Perentif. Ia merupakan pejabat di Pedral yang sangat kikir dan kejam. Pejabat itu bernama Kerunas
Silav mati karena melawan bawahan Kerunas yang sangat hebat. Sebelumnya, Silav memerintahkan Arcansas mencuri sebuah pedang di tempat senjata Kerunas. Di sinilah Arcansas mendapatkan pedanga tipe satu. Ketika kembali, Arcansas menjumpai Silav yang sudah sekarat.
Silav memberikan busur panahnya kepada Arcansas.
“Akhirnya aku menemukan orang yang tepat untuk menggunakan busur panah ini. Dan juga, pedang yang kau bawa, akan mewujudkan semua mimpimu, sesuai arti namamu, Nak. Satu, besar, dan ternama, kau akan menjadi orang hebat!”
__ADS_1
Silav tewas! Tidak terduga, Arcansas langsung marah, dan membunuh bawahan Kerunas dengan jurus yang sama seperti milik Silav, yaitu langsung melontarkan tiga buah anak panah dan menghasilkan ledakan dahsyat.