
“Di mana putriku? Bawa dia agar ikut bersamaku.”
“Tuan Putri sudah menuju ke sini, sebentar lagi sampai.”
“Baiklah.”
Di lorong utara, terdengar suara teriakan. Rupanya Deimr, ia berlari sambil melolong seperti anjing. Dinding istana seolah ingin runtuh karena getaran yang ditimbulkan oleh langkah kaki Deimr.
“Iblis itu datang! Segera mengungsi, selamatkan diri kalian!” Deimr terus berteriak.
Dia terlihat bodoh atau bagaimana? Tangannya menentang lukisan dan berlari menghampiri Pabel.
“Kenapa kau membawa lukisan jelek itu? Tinggalkan saja dan selamatkan diri,” ucap Pabel.
“Aku tidak akan membuang lukisan ini. Aku rela mati dengan lukisan tercintaku.”
“Kalau begitu, kau mati saja di sini. Yang Mulia, mari ikuti saya.”
Akhirnya Raja Trill melangkah ke arah menara, beliau bertemu putrinya di persimpangan. Menara itu nantinya akan menjadi jalur pelarian.
Di istana tersebut, memiliki jalur khusus saat darurat. Menara akan membawa ke ruang bawah tanah. Menuruni menara, masuk ke lorong, dan menuju ke tempat aman. Jalur evakuasi ini untuk raja dan para penghuni istana lainnya.
Para prajurit sedang berjuang mati-matian, demi menyelamatkan raja mereka. Putri Livinett sudah tahu ini akan terjadi, karena ia yakin Arcansas pasti datang lagi. Kemungkinan terburuk inilah yang sudah ia pikirkan. Karena jika Arcansas tahu batu itu palsu, pasti ia murka.
Livinett jadi gelisah, ia merasa kalau semua ini adalah kesalahannya. Kerajaan terancam hancur akibat ulah sembrono yang ia lakukan. Hingga ide buruk terbesit di dalam kepala Livinett.
“Ayahanda. Silakan pergi, selamatkan diri Anda. Saya akan menemui Arcansas.” Ucap Livinett.
Semua yang ada di dekat Livinett terperangah ketika mendengar ucapan tersebut. Kenapa sang putri justru ingin menemui Arcansas? Mungkinkah dia ingin menyerahkan batu yang asli kepada musuh?
“Tidak bisa! Kau harus menyelamatkan diri bersamaku,” sahut Raja Trill.
“Kumohon, biarkan aku menghentikan kekacauan ini. Semua ini karena salahku.”
“Apa maksudnya? Tuan Putri tidaklah bersalah,” Pabel menimpali.
“Benar!” celetuk Raja Trill. “Semua ini karena kesalahanku, menyuruh sembilan pendekar untuk menghancurkan Arcansas dan pasukannya. Ia pasti marah dan ingin membunuhku.”
“Tidak, Ayahanda. Semua ini pasti terjadi karena aku memberikan batu palsu kepadanya. Batu Livinett milikku masih ada bersamaku.”
Semua saling pandang, ternyata raja baru mengetahui apa yang dilakukan putrinya itu. Sungguh masalah yang rumit, raja jadi kebingungan. Ia tidak mungkin membiarkan putrinya keluar istana untuk menemui orang kejam seperti Arcansas.
Pabel terdiam, ia mencoba mencari solusi untuk menyelesaikan perdebatan. Raja dan putrinya saling menyalahkan diri sendiri.
“Ini sudah terjadi, biarkan semuanya. Sekarang kita harus menyelamatkan diri. Jika Arcansas datang ke sini karena merasa ditipu, biarkan saja. Tetapi, ada kemungkinan yang lebih besar, bisa saja ia murka karena pasukannya sudah dikalahkan oleh sembilan pendekar.”
“Kalian pergilah! Aku akan tetap menemui penjahat itu!” teriak Livinett.
__ADS_1
Arcansas vs Hanzes
Putri tersebut berlari meninggalkan sang raja. Semua mata terbelalak, tidak disangka Livinett akan senekat itu. Raja Trill berteriak memanggil-manggil nama putrinya. Sang raja ingin berlari menyusul, tapi ditahan oleh prajurit dan Pabel.
“Dengar. Yang Mulia harus pergi, serahkan Putri Livinett pada Liobo, sudah pasti pria itu akan menolongnya.”
“Aku tidak bisa membiarkannya pergi. Liobo tidak mungkin mau membantu kita, apa sembilan pendekar itu sudah maju ke medan perang?” tanya sang raja.
“Mereka benar-benar malas, Yang Mulia.”
Di lain tempat, tepatnya kamar para pendekar yang diundang Raja Trill. Delapan pria masih tertidur pulas, sedangkan yang sudah bangun hanya Nie. Wanita itu lalu menuju ke jendela. Ia terkejut ada keributan di bawah.
Nie segera berlari keluar kamar, ia membangunkan semua rekan pendekar. Si Hanzes sedang mendengkur sangat keras. Pendekar lain juga masih pulas tertidur.
“Bangunlah! Kita diserang!” teriak Nie.
Tidak ada respon, semua masih terus tertidur. Pendekar-pendekar itu sangat susah dibangunkan. Terutama pendekar nyentrik bernama Hanzes.
Pendekar yang lain sudah mulai bangun, menguap, ada juga yang meregangkan tubuhnya. Giimr, Firtos, dan Karl sudah keluar dan berada di lorong bersama Niee. Disusul Joan dan Tiir. Yang lain masih di dalam kamar masing-masing.
“Entah. Kemungkinan Arcansas yang menyerang,” sahut Niee.
“Jadi dia ada di sini? Pasti dia marah karena pasukannya sudah kita hancurkan.”
“Entah. Kalian bersiaplah, ambil senjata dan ikut bertempur.”
“Ah! Mengganggu tidurku saja!”
Giimr masih memasang wajah kesal. Semua pendekar berganti pakaian dan mengambil senjata. Prajurit suruhan Pabel sudah menunggu sembilan pendekar tersebut.
Hanzes berjalan dengan memanggul pedang raksasa miliknya, topi selalu menghiasi kepala orang itu. Firtos tampak garang dengan cemeti yang tersampir di pinggulnya. Dua pedang yang dibawa Nie juga terlihat haus darah. Joan, Karl, Roan, Tiir, dan Giimr berjalan dengan santai. Si Kika masih mencabuti bulu ketiaknya, ritual wajib yang tidak bisa dilewatkan.
Sembilan pendekar akan bertemu langsung dengan Arcansas. Apa yang akan terjadi? Pertempuran dahsyat pasti pecah, dapatkah Singa Merah melawan sembilan pendekar mengerikan itu? Bagaimana kalau Arcansas kalah dan tewas?
“Hei. Lendir, apa Singa Merah dari Suin benar-benar hebat?” celetuk Kika.
“Hah? Kau memanggilku lendir? Kubunuh kau!” Giimr menoleh.
Rupanya Kika meniru Hanzes yang suka mengatakan Giimr manusia lendir. Giimr sering membawa ular, tapi ular yang ia bawa memiliki sisik yang mengkilap, juga sedikit basah dan mengeluarkan cairan dari ekornya. Terkadang menetes seperti lendir.
“Bukankah itu namamu?”
__ADS_1
“Kau sengaja meledekku, hah?”
“Hanzes memanggilmu manusia lendir. Berarti itu namamu.”
“Sialan! Kuhajar kau...”
“Hentikan!” tiba-tiba Hanzes berteriak. “Kalian membuat telingaku gatal.”
Giimr hanya mendengus, akhirnya keributan berhenti. Pendekar-pendekar itu sering sekali bertengkar. Mungkin kalau dicampur dalam satu sel tahanan, mereka akan saling bunuh.
Kondisi di luar istana sangat ramai. Arcansas membara, ia meluapkan amarahnya dan membunuh ratusan prajurit. Si kembar Wilson juga terus bertempur bersama Ulvir.
Lian tidak tampak, ia memilih bersembunyi di Pegunungan Aranos. Peperangan adalah sesuatu yang menakutkan bagi perempuan seperti dia.
Arcansas kembali melontarkan 3 anak panah ke arah pintu masuk istana, tapi anak panah itu patah. Ternyata dihentikan oleh seorang pria yang memakai topi. Tidak salah lagi, itu Hanzes. Pedang raksasa baru saja terayun dan mematahkan serangan Arcansas.
“Halo! Singa Merah,” Hanzes menyapa dengan senyuman mengerikan.
Arcansas menurunkan busurnya. Raut wajahnya benar-benar beringas. Rambutnya telah berantakan, keringat mengalir deras membasahi seluruh tubuh.
Angin seakan berhenti bertiup tatkala Arcansas saling berhadapan dengan Hanzes. Helai rambut dengan warna biru milik Hanzses tampak mengintip dari balik topi.
Delapan prajurit lain muncul di belakang Hanzes dengan tatapan sinis, terutama Giimr. Pria itu langsung melangkah ke depan dan menghalangi pandangan Hanzes.
“Hoi! Siapa yang mengganggu tidurku!? Majulah, akan kupenggal kepalamu,” teriak Giimr.
“Minggir! Kau menghalangi poseku yang keren!” Hanzes mendorong Giimr ke samping.
“Pose? Kau berpose menggunakan topi jelek seperti itu? Tidak keren sama sekali,” tukas Giimr.
“Menyingkir dari sini, biar kuhadapi Singa Merah itu sendirian.”
Pendekar itu terus saja berdebat meski sudah di medan pertempuran. Arcansas hanya memiringkan kepalanya lalu menyiapkan anak panah lagi.
Triad Cartax berdiri saling berdekatan. Firtos berada di tengah, cemetinya serasa memberontak dan ingin membunuh. Aura kelam terpancar dari pandangannya.
Hanzes mendekat ke arah Arcansas. Beban tubuhnya dan juga pedang raksasa yang ia bawa membuat tanah bergetar hebat.
Hanzes melepas pedang besar itu dari sarungnya lalu mengarahkan ke arah Arcansas. Hanya menggunakan satu tangan, Hanzes mampu mengangkat pedang tersebut. Pria blasteran itu memang mengagumkan. Lengannya cukup kekar.
“Apa kau sudah siap untuk mati, monster dari Suin!?” tanya Hanzes.
“Siapa kalian?” Arcansas penasaran.
“Tidak penting siapa kami. Kau akan segera menemui ajalmu.”
__ADS_1
“Begitu. Kalian yang menyerang pasukanku?”