Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 10: Duel Mematikan


__ADS_3

Mereka telah mengerti jika Arcansas tidak akan mundur. Bila suatu keputusan telah ditentukan, maka ia akan terus maju meski ribuan anak panah menghujaninya. Ia teguh akan keyakinan yang dimiliki. Semangat di dalam hatinya selalu menggebu-gebu.


Ambisinya meluap-luap. Tekadnya kokoh bagaikan pilar besi yang tak bisa ambruk.


Arcansas yakin bahwa ambisi tidak berdosa. Semua yang ia lakukan murni dari dalam hati. Begitu juga dengan Raja Trill. Rasa keadilan sangat besar. Meski wataknya berlawanan dengan Arcansas. Dimana ada kebaikan, pastilah ada kejahatan.


Sejak pertama kali adanya kehidupan hal itu pasti sudah ada. Banyak hal saling berlawanan, semua itu bisa dinalar. Penguasa di langit pasti telah menentukan semuanya.


Kaum Tsandor, Kaum Pedral, dan Kaum dari Suin pasti mengerti ada kekuatan yang lebih besar di atas mereka. Tentunya di langit atau di mana saja pasti terdapat kekuatan yang tak tertandingi.


Mereka yakin pasti ada kekuatan misterius yang mampu menciptakan segalanya di jagad raya. Saat ini pengetahuan mereka masih terbatas dan hanya menebar kerusakan. Berperang dan membuat senjata untuk saling menghancurkan. Padahal, di reruntuhan Kastil Dum ada sesuatu yang sangat penting. Di sana terdapat sebuah rahasia yang belum diketahui banyak orang.


Beruntunglah Arcansas karena ia asli orang Suin. Kehidupan demi kehidupan berlalu dengan cepat. Setiap ada yang mati, Arcansas memikirkan ke mana perginya nyawa mereka. Apakah mereka akan kembali hidup? Pertanyaan paling mendasar di dalam kepalanya sebagai makhluk sangatlah wajar.


Kenapa mereka mati dan tak bisa bangun lagi. Apa di dalam tubuh ini terdapat mesin yang memberi kehidupan. Arcansas sudah memiliki pertanyaan semacam itu.


Ilmu pengetahuan yang dibicarakan sosok misterius yang mengaku orang Lemuria apakah benar ada? Tiba-tiba Arcansas mengingat mimpi itu. Ia menjadi buyar konsentrasinya. Akhirnya sadar ia telah berdiri di tengah medan tempur untuk melawan Liobo.


“Angkat pedangmu sekarang,” perintah Liobo.


“Jangan memerintahku! Tanpa kau suruh pedangku akan merobek perutmu.”


Arcansas gusar dengan kata-kata Liobo. Ia tidak suka diperintah oleh siapa pun. Arcansas adalah lambang kebebasan, ia menjujung tinggi keterbukaan dan bebas melakukan apa saja sesuai kehendaknya.


“Bagus. Seranglah aku sekuatmu, jangan menahannya.”


Arcansas terkekeh, ia merasa sangat diremehkan oleh Liobo. Petinggi pasukan Arbitos itu memiliki lengan yang kuat dan sorot mata tajam. Seperti elang, ia menatap menembus dada dan menyebarkan ketakutan. Tatapan yang mengerikan seolah mampu membuat tulang meleleh.


“Cih! Baru kali ini aku harus bertarung menggunakan pedang. Biasanya aku lebih suka menggunakan panah. Baiklah, akan kupengal kepalamu! Hyah!”


Arcansas dan Liobo berlari, mereka memulai pertarungan. Suara pedang yang beradu membuat gatal telinga. Sabetan demi sabetan diluncurkan secara bergantian.

__ADS_1


Menghindar, membungkuk, menikam, melompat, saling serang tanpa ada celah sedikit pun. Sungguh pertarungan dua titan yang sangat menegangkan.


Arcansas terus mencecar Liobo dengan pedangnya. Hampir saja leher Liobo tertebas, ia menghindar ke kiri. Arcansas melancarkan pukulan kilat menggunakn punggung pedangnya. Dengan sangat cepat ditangkis oleh Liobo. Mereka terus beradu pedang, saling menahan. Wajah mereka memerah, urat di dahi seolah ingin keluar.


Hyah!


Mereka mundur bersamaan, lalu maju kembali dan menghunuskan pedang dengan lebih cepat. Sring!! Mata pedang saling bertemu, memercikkan sedikit api. Daz dan Fell sungguh terpukau melihat gerakan super cepat itu. Mereka meliuk, menendang dan mencecar satu sama lain. Pertarungan masih seimbang.


Tanpa disadari, ada sesuatu mencurigakan di atas. Ada orang yang mengarahkan anak panah ke arah Arcansas. Si kembar Wilson menyadari hal tersebut! Rupanya ada yang ingin bermain licik dan menyerang dari belakang.


 


Licik


 


“Di mana sang putri!?” teriak Pabel.


“Tenanglah, Pak Tua! Putrimu ada di atas sana.” Daz menunjuk ke arah atas.


Tampak Putri Livinett memegang busur panah dan telah siap meluncurkan anak panahnya. Siapa yang ia bidik? Siapa lagi kalau bukan Arcansas. Daz melesat ke arah Livinett. Ia beruntung karena bisa menghentikan kelakuan Putri Livinett.


“Mana sikap keadilanmu, Tuan Putri!” Daz memegang lengan Livinett.


“Lepasakan. Tidak ada keadilan untuk orang busuk seperti kalian.”


“Dunia ini akan dipenuhi kebusukan yang menari di atas nama keadilan jika Anda melakukan ini.”


Akhirnya Livinett menurunkan busur yang ia pegang. Ia tertunduk lesu, sungguh kelakuannya mencoreng keadilan yang dijunjung tinggi sang ayah.


“Apa yang kau tahu tentang keadilan. Kalian hanya orang bar-bar yang suka menindas orang lemah.”

__ADS_1


“Setidaknya kata-kata kami bisa dipegang. Tuanku tidak akan membunuh ayahmu saat ini. Karena Tuan Arcansas sedang fokus berduel dengan Si Liobo. Sepertinya pria itu sangat hebat karena bisa menandingi Tuan Arcansas.”


“Kalian tetaplah musuh kami. Jangan menasihati seolah kau mengerti perasaanku! Pergilah!”


Tiba-tiba Fell berteriak memanggil nama Daz.


“Hoi! Daz, kau mau ena-ena sendirian, ya? Kuhajar kau!”


Daz tidak menanggapi teriakan saudara kembarnya itu. Ia tetap fokus untuk menjaga Putri Livinett agar tidak melakukan hal yang membahayakan.


“Sekalipun kau melontarkan anak panah. Kau tetap tidak akan bisa membunuh Tuan Arcansas.”


“Aku tidak peduli! Aku benci dengannya, ia menyebabkan kekacauan di negaraku yang damai ini. Dia harus mati!”


“Tidak ada yang bisa kau lakukan. Inilah perang.” Daz merebut busur panah tersebut dari tangan sang putri.


Daz Wilson lalu menuju ke tempat semula menemui saudaranya. Ia mematahkan busur panah yang tadi akan digunakan untuk memanah Arcansas.


“Kenapa kau kembali? Sudah ena-ena, dan kau mengabaikanku?” celetuk Fell.


“Otakmu harus dicuci agar bersih, Fell!”


Memang, dari awal yang ada di dalam kepala Fell hanya ena-ena. Mungkin penduduk di Benua Pegalisch ini cantik-cantik. Banyak wanita yang membuat Fell tergoda. Apa lagi Putri Livinett itu.


Kecantikan yang dimiliki Putri Livinett tiada duanya. Ia menjelma seperti bidadari dengan parasnya yang indah. Di dalam istana, orang yang sering melukis Putri Livinett adalah Deimr. Ia selalu berbicara tentang keindahan dan seni, seolah hidupnya hanya untuk hal itu saja.


Pernah suatu ketika, Deimr pertama kali melihat wajah Putri Livinett, ia jadi tidak bisa tidur selama satu minggu. Ia gelisah dan tak dapat melakukan apa-apa. Pabel yang mengurus Deimr yang sedang mengalami masalah mental. Dia sampai seperti orang gila karena terus mengucapkan kecantikan sang putri.


Bahkan dalam tidurnya Deimr terus mengigau. “Seni adalah keindahan, kecantikan Putri Livinett adalah seni terindah!” ucapnya seraya mengepalkan tangan padahal matanya terpejam.


Deimr menggunakan warna-warna dari tumbuhan untuk melukis. Memadukan beberapa warna untuk membentuk warna baru. Rupanya Deimr sudah mengerti tentang seni sejak muda. Di masa lalu, jarang sekali lukisan. Barulah masa ini marak pelukis yang menjual lukisannya untuk mencari uang.

__ADS_1


__ADS_2