Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 21: Keributan


__ADS_3

Selain dua pintu yang sudah dilihat Arcansas, masih ada lima pintu lagi yang belum terbuka. Tepatnya di lorong sebelah kanan, Ulvir sempat menelusuri lorong tersebut dan melihat ada lima pintu yang masih kokoh.


Karena saat itu niatnya hanya berteduh, ia tidak membuka pintu tersebut. Pikirnya hanya ada tanaman lumut, atau sisa-sisa senjata. Lagi pula Kastil Dum sudah lama hancur.


Misal di balik lima pintu itu ada sesuatu, emas atau apa saja yang bisa membuat kaya, pasti Ulvir akan mengambil semuanya.


“Ruangan ini baunya sangat menjijikkan.”


Arcansas menggerutu tatkala memijakkan kaki di dalam ruangan tersebut. Ada meja batu berukuran raksasa di tengah ruangan. Setiap sudut ruangan memiliki tugu batu yang cukup besar.


Terlihat cekungan di tengah meja batu yang terisi air dan ditumbuhi lumut. Apa membuka pintu ruangan tersebut telah mengeluarkan sesuatu yang mengerikan dari kegelapan? Pintu yang telah tertutup selama ratusan tahun.


“Kastil ini lebih tua usianya darimu,” ucap Ulvir.


Arcansas menoleh. “Kau menghinaku, hah!? Aku belum tua! Usiaku masih 27 tahun.”


“Kastil ini yang tua. Dasar!” Ulvir sewot.


Lian tampak mengamati semua yang ada di dalam situ. Ruangan yang sangat dingin dan mengerikan. Mencekam seperti di tengah pekuburan.


Tanaman rambat terlihat melilit tugu batu yang berlumut. Tanaman itu bisa tumbuh di dalam ruangan tanpa cahaya. Kegelapan yang sangat nyata, jika tanpa obor sudah pasti ruangan itu sangat mengerikan.


“Menurutmu meja raksasa dan cekung di tengah ini digunakan untuk apa?” tanya Arcansas.


“Sepertinya di sini merupakan tempat untuk meracik ramuan.” Sahut Ulvir.


“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?”


“Lihatlah. Ada ukiaran di tepi meja ini. Mungkin ini bukan hanya ornamen semata, pasti memiliki makna.”


“Kau menyebalkan sekali. Jangan terlihat seolah lebih pintar dariku.” Arcansas tampak kesal.


Singa Merah dari Suin memang berbeda. Ia tidak mau tersaingi oleh siapapun. Dasar tidak suka kekalahan. Hanya karena Ulvir memberikan pendapat yang cukup cerdas, Arcansas jadi tidak terima.


“Jangan bertengkar. Kita ke sini untuk mencari sesuatu, kan? Apa yang ingin kau temukan di sini?” Lian bertanya pada Arcansas.


Arcansas tampak terdiam. Ia memang belum menceritakan mimpinya secara detail pada wanita itu. Namun ada Ulvir, Arcansas memandang ke arah lelaki tersebut.


“Kenapa kau memandangiku seperti itu?” tanya Ulvir.


“Aku tidak mau kau mendengar tujuanku di sini!”


“Apa masalahnya. Lagi pula kita sudah ke mari bersama.”

__ADS_1


“Kau pasti akan menertawaiku!”


Wajah Arcansas tampak memerah. Ia menyilangkan dua tangan di depan dada. Lian mendekatinya.


“Jangan sungkan. Ceritakanlah, semoga kami bisa membantu apa yang ingin kau temukan di sini.”


“Aku ingin mencari arti dari mimpi aneh yang kualami.” Ucap Arcansas.


Lian tampak bingung, Ulvir terlihat berbeda, ia bereaksi sangat tak terduga. Ulvir tertawa terbahak-bahak. Dadanya kembang-kempis dan pundaknya naik turun.


“Kau memercayai mimpi dan datang ke sini? Dasar kekanak-kanakan!” celetuk Ulvir.


Arcansas langsung mencabut pedangnya lalu menyerang Ulvir. Dengan sigap, Ulvir menghentikan tawa, ia juga mencabut pedangnya. Serigala milik Ulvir melolong ketika melihat pertarungan terjadi.


Dua pedang saling beradu. Mereka bertarung. Arcansas sangat marah karena ditertawai oleh orang asing yang baru saja ia jumpai. Lian tampak panik melihat pertikaian itu.


“Hentikan! Kalian jangan seperti anak kecil!” ucap Lian.


“Huh! Kau juga menganggapku sebagai anak kecil?” sahut Arcansas.


“Bukan! Tidak ada gunanya saling bertengkar. Sekarang kita lanjutkan pencarian untuk menemukan sesuatu terkait mimpimu!”


 


 


Akhirnya Arcansas menghentikan serangan dan menyarungkan kembali pedangnya. Tampaknya ia mendengarkan kata-kata wanita tersebut.


“Semua karena salahnya. Ia menertawaiku!” Arcansas masih kesal.


“Kau tidak terima hanya karena aku berkata seperti tadi? Sudahlah! Aku akan membantumu menemukan apa yang ingin kau cari.” Sahut Ulvir.


“Entahlah! Aku sendiri tidak mengerti dengan diriku,” ucap Arcansas.


Lian menjadi bersimpati melihat Arcansas yang sedang dilanda kebimbangan. Seolah ia mengerti apa yang menimpa Arcansas. Lian mendekat ke arah Arcansas lalu mengusap-usap punggungnya.


“Tenanglah. Kau pasti akan menemukan jawaban.”


Akhirnya Arcansas tenang dan mau menceritakan detail mimpi yang ia alami. Ulvir dan Lian sungguh terkejut ketika mendengar mimpi aneh yang dialami Arcansas.


“Yang benar saja. Kau bermimpi bertemu sosok yang menyebut diri mereka Ras Lemuria?” celetuk Ulvir.


“Ya. Mereka menyuruhku untuk menuju reruntuhan ini.”

__ADS_1


“Tungu-tunggu!” Ulvir tampak sangat antusias. “Jika nenek moyang kita pernah menjalin hubungan dengan Lemut, atau apalah. Pasti Hogba mengetahui hal tersebut.”


“Hogba hidup 400 tahun lalu. Dia sudah sangat kuno. Mungkin kau benar.”


“Harusnya benar. Kastil ini pasti sudah berumur lebih dari 400 tahun.” Ulvir cukup tenang.


Lian terus menyimak percakapan dua pria itu. Dia baru saja mendengar kata Lemuria dari Arcansas.


“Apa kau tahu? 40 tahun lalu dilakukan penelitian di kastil ini. Mereka menemukan catatan yang menjelaskan tentang dunia tulis, menggunakan perkamen dan getah pohon Wora. Memang kata para orang tua, catatan itu memiliki gambar manusia aneh yang bertubuh mini dan sebuah pohon.”


“Tubuh? Mini katamu?”


“Ya. Berukuran sangat kecil. Anehnya pohon yang mereka tanam bisa tumbuh sangat besar seperti yang sering kita lihat.”


Ulvir sepertinya tahu banyak tentang sejarah di pulau tersebut. Arcansas masih bingung dan semakin pusing dengan penjelasan Ulvir.


“Lalu, di mana sekarang perkamen itu berada?”


Ulvir terdiam, ia mencoba mengingat. Sepertinya tidak ada yang aneh dengan yang baru saja diucapkan Ulvir. Jika memang sejarah itu benar, sudah pasti Kaum Lemuria juga ada.


“Aku lupa. Sudah sangat lama. Pemerintahan di Pulau Suin sudah dipegang oleh Teraman sejak 50 tahun lalu. Mungkin keluarga itu yang menyimpannya.”


Arcansas terkejut, ia mengingat sesuatu. “Teraman? Itu adalah keluarga jauhku. Kami masih memiliki hubungan, tapi tidak terlalu dekat. Teraman adalah keluarga bangsawan yang memegang kendali terhadap kebijakan di pulau ini. Ayahku adalah adik dari ayahnya Teraman tapi berbeda ibu. Ayah Teraman dan ayahku adalah saudara tiri.”


“Kau...jadi kau keturunan bangsawan juga?” ucap Ulvir.


“Mungkin bisa dibilang begitu. Aku tidak peduli dengan gelar bangsawan atau terhormat. Aku akan memiliki gelar sendiri sebagai raja!” ucap Arcansas.


Mereka akhirnya melanjutkan mencari benda atau apa saja yang bisa memberi petunjuk. Lian berjalan ke sudut yang kiri, ia menemukan sebuah lubang di tembok. Seperti sebuah rak.


Tembok itu sengaja dibuat seperti itu untuk meletakkan sesuatu. Ada sebuah kotak besi yang dihinggapi lumut. Sudah sangat lama tidak tersentuh oleh tangan.


Lian memberitahu Arcansas dan Ulvir, mereka pun membuka kotak besi tersebut. Alangkah terkejutnya ketika mereka menemukan sesuatu di dalam kotak itu. Sebuah perkamen tua yang terdapat gambar serta tulisan.


Gambar dua bilah pedang yang saling menyilang. Sangat persis dengan pedang yang digunakan oleh Arcansas dan Ulvir.


“Ini...! Apakah ini pedang yang kumiliki saat ini?” ucap Arcansas.


“Be..benar. Gambar pedang di sini sangat mirip dengan milik kita.”


“Aku tidak percaya ini...”


“Jadi. Pedang ini hampir sama usianya dengan kastil ini. Pedang dengan usia lebih dari 400 tahun!”

__ADS_1


__ADS_2