
Cinta itu adalah sesuatu yang fana. Ia tak terlihat tapi kau percaya bahwa itu ada. Cinta hanyalah ilusi yang menjelma menjadi khayalan berbalut mimpi tak masuk akal. Jika kau merasakan sakit di dada, itu tandanya kau jatuh cinta. Mungkin, ketika kau merasakan tidak nafsu makan, bisa jadi itu juga gejala cinta.
Cinta adalah penyakit, tapi cinta juga bisa menjadi obat. Tak ada penyakit yang lebih berbahaya dari cinta. Karena cinta bisa membunuh karaktermu, bahkan dirimu sendiri. Cinta menguras logika yang ada. Tidak hanya menguras air mata, tapi juga menguras segalanya.
Terasa indah, tapi menjadi mimpi buruk ketika kau kehilangannya. Ingin mendekap cinta, tapi hanya duri yang kau peluk. Cinta datang saat kau tak menginginkannya, tapi ia pergi ketika kau sangat membutuhkan. Cinta ibarat permainan setan yang megurungmu dalam lingkaran kebingungan.
Bayu senja yang berdesir lalu menerpa rambut, bisa dianggap cinta. Serigala buas yang mendatangimu, bisa menjadi cinta karena kau mampu menjinakkan. Teman adalah cinta, cinta adalah teman, tapi ketika teman tak bisa saling mencinta, itu sungguh menyakitkan.
Hati teriris, tubuh koyak karena orang yang kau cintai, tapi kau bahagia. Tubuhmu utuh, hatimu sehat, wajahmu tersenyum, tapi kau bersedih karena orang yang kau cintai. Begitu bahaya ketika cinta telah merasukimu. Ia akan memberikan teror yang menakutkan melebihi ancaman dewa kematian.
Jangan menjadi budaknya. Cinta memang begitu, karena cinta adalah sesuatu yang bisa membuat dua musuh saling bersatu—jika kita percaya cinta itu murni.
Cinta membuat bingung, karena cinta adalah kegilaan di atas altar batu yang retak. Cinta itu tarian jiwa yang diliputi duka, nyanyian hati yang dipenuhi tanda tanya. Karena mencari arti cinta dalam setiap kepala orang akan berbeda.
Livinett tak tega melihat Lian ikut menangis. Ia seperti menderita masalah yang lebih berat. Apakah hidupnya sudah benar-benar tak ada artinya, sehingga ia pernah merasa tidak pantas untuk hidup.
“Apa Arcansas sungguh baik padamu?”
Lian tidak menyahut, ia tak bisa membuka mulut. Bibirnya kelu dan bergetar, matanya terus berlinang air mata.
“Sungguh. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Kenapa kau jatuh cinta dengan orang sejahat dia.” Livinett kembali berkomentar.
Livinett merasa iba. Padahal tadi Lian berusaha membuat Livinett tidak bersedih, tapi justru Lian sendiri yang menangis karena perasaannya.
Apakah pria sejahat Arcansas bisa membuat wanita jatuh hati? Livinett berpikir tak menentu, ia jadi sadar. Rupanya meski pria itu kasar, nakal, ataupun kurangajar, masih ada saja wanita yang tetap mencintainya. Mungkin memang sudah takdirnya.
Suasana jadi kaku, setelah berusaha cukup keras, akhirnya Lian bisa berhenti menangis. Livinett jadi merasa lega. Mereka saling menatap, kemudian Livinett mengucapkan sesuatu yang membuat Lian terperanjat.
“Apakah Arcansas sangat berarti untukmu? Jika aku menikah dengannya, apa kau akan merelakannya?”
Lian kaget, mulutnya terbabang, seolah tak mampu untuk menjawab. Hatinya pasti remuk.
“Kenapa? Kenapa kau bertanya seperti itu?” sahut Lian.
“Tidak. Aku hanya ingin memastikan apakah kau masih waras atau tidak.”
Mereka kembali terdiam sejenak. Kemudian Livinett menarik napas dalam-dalam. “Dengar. Kau pasti sudah tahu, kalau Arcansas mengajakku menuju ke Pulau Suin. Apa kau tidak ingin ikut?”
“Aku sudah tahu itu. Kalian pergilah, aku tidak akan mendampinginya.”
“Kau yakin tentang itu?”
__ADS_1
“Ya. Lagi pula aku tidak pantas berada di sisinya. Dia lebih menginginkanmu.”
“Akan kubantu kau agar bisa memilikinya, asal kau membebaskanku.”
Lian terdiam, ia tak tahu harus memberi jawaban seperti apa pada putri tersebut.
“Tidak!” akhirnya ia bersuara. “Biarkan Arcansas mendapatkan kebahagiaannya sendiri, jika ia memang ingin menikahimu.”
“Jangan bergurau. Kau menyakiti dirimu sendiri. Lepaskan aku, dan kau dapatkan hatinya.”
“Sudah cukup. Kau turuti saja kemauannya.”
Lian lalu meninggalkan Livinett. Mungkin keputusannya sudah bulat. Tak ada yang bisa dilakukan lagi, jika Arcansas hanya mencintai Livinett, Lian tak mungkin merebut kebahagiaan Arcansas.
Lian lebih memilih membiarkan luka di hatinya mengering sendiri. Tak perlu ada pembebat untuk menutupi luka tersebut. Sekalipun ia berusaha keras, tetap saja itu mustahil untuk diwujudkan. Ia menyerah pada keadaan.
Di dalam tendanya, Arcansas telah selesai mengemas bekal serta senjata miliknya. Ia segera menemui Livinett untuk mengeluarkannya dari kurungan.
Filiora sedang bersemangat, ia sangat senang. Wanita itu mengayunkan pedangnya berkali-kali. Membuat prajurit di dekatnya mundur karena takut terkena tebasan.
“Hentikan! Itu sangat berbahaya. Pedang konyol macam apa itu. Mengerikan sekali!” celetuk pria gundul yang selalu menguntit.
“Maksudmu itu pedang milik Hanzes?” Firtos bersuara.
“Ya. Aku merebut darinya.”
“Sudah kuduga. Apa kau memiliki darah campuran?” tanya Firtos.
Filiora bingung, ia tak paham dengan perkataan pria tersebut.
“Apa maksudmu?”
“Hanya orang berdarah Pedral dan Arimp yang bisa mengangkat pedang sebesar itu.”
Wanita itu semakin tak paham. “Entah. Pedang ini seperti memilihku. Jangan banyak komentar atau kutebas kau dengan pedang ini!”
Sungguh menakjubkan. Semenjak perjalanan menuju Pegunungan Aranos, Filiora berada di barisan paling belakang. Wajar jika Firtos belum melihat pedang milik Hanzes yang sekarang telah diambil alih kepemilikannya oleh pendekar wanita itu.
“Tak kusangka. Kau lumayan juga, bisa menggunakan pedang tersebut.”
Firtos berucap lalu meninggalkan kerumunan tersebut. Filiora masih asyik pamer pedang besarnya. Sedangkan Fell tampak berlari menenteng busur panahnya. Ia segera menemui Arcansas untuk berangkat ke Suin.
__ADS_1
Di dalam tenda, tempat Livinett dikurung, terjadi lagi perdebatan antara Arcansas dan Livinett. Sang putri enggan mengikuti Arcansas, ia tak mau menuju Suin.
“Sudah. Jangan membangkang, kau tinggal ikut denganku!”
“Tidak! Kau suka memaksa dan kasar. Lebih baik aku mati di sini daripada mengikutimu.”
Mereka terus berdebat, Livinett tetap bersikeras. Akhirnya Arcansas memaksanya dengan sedikit kasar.
“Keluar. Kuikat tanganmu agar kau tidak macam-macam. Akan kulepas jika kau menurut padaku.”
“Lepas! Kau benar-benar keterlaluan. Aku ini wanita. Lepaskan!”
“Diam dan menurut saja.”
Mereka akhirnya berangkat, Arcansas, Fell, Livinett serta Ulvir. Empat orang itu menuju Suin dengan kapal yang lebih kecil. Lima prajurit turut serta untuk mengendalikan kapal agar berlayar sesuai arah.
Tanpa disadari oleh Arcansas ataupun yang lain, ternyata Lian ikut masuk ke dalam kapal terlebih dahulu. Lian bersembunyi di antara tumpukan barang, di dek paling bawah.
Kapal terombang-ambing, derit kayu terdengar setiap kali ada yang berjalan. Livinett dimasukkan di ruang yang cukup nyaman, berada di dek paling atas. Ada tiga lapis dek, paling tengah digunakan untuk memasak dan menyimpan barang yang tidak terlalu berat. Dek paling bawah digunakan untuk menyimpan daging, serta barang-barang yang berukuran besar.
Perjalanan sangat panjang, enam hari mereka sampai Suin. Mereka langsung berlabuh di pantai dekat reruntuhan kastil. Selat Krokalam tetap ganas seperti biasa. Livinett sering mogok makan. Arcansas menjadi kesusahan karena harus mengurus wanita itu.
Ulvir berjalan di posisi depan, Arcansas masih belum melepas ikatan pada tangan Livinett. Mereka pun sampai di reruntuhan. Fell kagum ketika melihat bagian dalam reruntuhan tersebut. Banyak sekali lumut yang menghiasi dinding.
Livinett memasang wajah kaku, ia sedikit takut. Mereka sampai reruntuhan tepat malam hari, Arcansas langsung menyuruh Ulvir dan Fell untuk menjaga Livinett. Para awak buah kapal dibagi menjadi dua kelompok. Ada yang menjaga kapal di pelabuhan, lalu ada yang menjaga pintu masuk ke dalam ruang bawah tanah di reruntuhan kastil.
Api unggun telah dibuat, mereka beristirahat. Penelitian dan pencarian perkamen maupun petunjuk lain akan dilakukan besok pagi. Mereka semua tidur pulas karena kelelahan. Tetapi, Livinett terus berusaha terjaga.
Tiba-tiba, sosok bayangan memantul di dinding. Bayangan itu tampak jelas, karena disinari api unggun. Livinett yang masih terjaga, menjadi ketakutan. Ternyata sosok dalam gelap itu adalah Lian. Ia bisa menuju reruntuhan karena orang-orang di kapal sudah terlelap.
Livinett sangat terkejut melihat kedatangan Lian. Livinett akhirnya dibebaskan oleh Lian. Tubuh wanita raksasa itu tampak gemerlap, pernak-pernik yang ada dipakaiannya memantulkan cahaya.
“Kenapa kau ikut ke sini?” Livinett berbisik.
“Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.”
Mereka berjalan mengendap-endap. Kakinya berjingkat agar tidak menimbulkan suara.
“Kau bohong. Sebenarnya kau mengkhawatirkan Arcansas, kan?”
“Tidak. Kumohon diam sebentar. Kita harus pergi dari sini.”
__ADS_1