
“Mohon tenang. Jangan berdebat, kalian akan bekerja sama dalam satu tim,” sang raja bersuara.
Hanzes memakai kembali topinya, ia lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil melenguh panjang.
“Aku tidak suka bermain darah, aku tidak akan bergabung dengan pasukan sampah ini!” Hanzes berucap dengan nada sarkas.
Tiir langsung beranjak dari kursinya. Ia berdiri sambil melotot ke arah Hanzes. Tampaknya Tiir tidak terima dengan ucapan yang dilontarkan pria bertopi itu.
“Aku juga tidak sudi satu tim dengan pria bertopi kumal sepertimu! Aku yakin, topimu tidak pernah dicuci,” Tiir berbicara dengan suara lantang.
“Diam kau! Kumismu sungguh menggelikan, membuatku ingin menebasnya.”
“Kurangajar! Kau harus diberi pelajaran.”
Emosi semakin memuncak. Tiir mencabut kembali pedangnya. Hanzes membenarkan posisi topinya lalu mengeluarkan sebuah pedang berbentuk aneh.
Pedang yang dikeluarkan Hanzes sangat luar biasa besar. Sepertinya itu pedang paling besar yang pernah ada. Dari tadi tersarung di belakang kursinya.
Hanzes dujuluki pendekar pedang raksasa, raja dari pengguna pedang tipe satu. Ada tiga tipe pedang yang diketahui hingga saat ini.
Tipe pertama adalah pedang jumbo yang hanya mampu diangkat oleh titan hasil persilangan antara orang Pedral dan Arimp. Hanzes selalu menggunakan topi untuk menutupi rambutnya yang berwarna biru, ibunya berasal dari Kaum Lanz.
Tipe kedua adalah pedang yang digunakan pendekar sekelas Bion dan Liobo serta digunakan oleh banyak kalangan termasuk prajurit biasa. Pedang ini sama ukurannya dengan pedang tipe 3, tapi lebih ringan.
Kemudian tipe ketiga adalah pedang yang digunakan Arcansas. Pedang dengan tempaan khusus, dibuat langsung oleh pembuat pedang ternama dari Suin. Tidak banyak yang menggunakan tipe ketiga ini, karena hanya ada dua pedang.
Pedang tipe ketiga memiliki ujung tajam bergerigi. Terdapat ukiran aneh yang tidak diketahui artinya. Pedang ini termasuk pedang paling langka.
Satu telah digunakan oleh Arcansas, tapi pedang satunya tidak diketahui siapa penggunanya. Mungkin saja masih ada di Pulau Suin, atau telah terkubur di lautan.
__ADS_1
Justru pedang tipe tiga ini adalah pedang dengan kualitas paling baik. Karena pengolahannya lebih bagus. Ditempa dengan penuh kekuatan oleh pembuatnya.
Suara dentuman karena ujung pedang raksasa yang digunakan Hanzes membuat lantai ruangan bergetar. Tiir tidak gentar, ia justru semakin bersemangat untuk melawan Hanzes.
“Topimu itu sudah kumal, pria nyentrik berambut biru. Gayamu sungguh menjijikkan!” Tiir memancing Hanzes agar lebih emosi.
“Jangan pernah menghina rambutku. Ini adalah kebanggaan yang diwariskan dari ibuku.”
“Aku tidak peduli. Cepat maju, akan kuhabisi kau.”
Kedua pendekar bernama Hanzes dan Tiir sudah siap pada posisinya. Seluruh tamu undangan beranjak dari kursi masing-masing karena keributan itu, kecuali Firtos.
Saat Hanzes dan Tiir mengangkat pedangnya, tiba-tiba sebuah serangan muncul. Pedang raksasa yang sangat besar milik Hanzes terlepas dari tangan. Terpelanting dengan keras di lantai.
Ada sesuatu yang melilit pedang tersebut. Rupanya itu adalah sebuah cemeti raksasa. Siapa lagi kalau bukan Firtos. Pendekar itu selain pengguna panah juga menggunakan sebuah cemeti atau cambuk sebagai senjata.
Akhirnya Firtos bersuara, salah satu pendekar dengan julukan Triad Cartax yang hebat. Suaranya begitu berat, ia membuat merinding siapa saja yang mendengarnya. Firtos menatap tajam ke arah Hanzes dan Tiir.
Pecut yang ada di tangannya bagaikan ular, terlihat hidup dan berbisa. Sungguh aura yang sangat kelam. Hanya sekali sabetan, pecut itu mampu menjatuhkan pedang raksasa milik Hanzes.
Kisah Dolt
Firtos tidak memiliki darah campuran, tapi kenapa ia begitu kuat dan mampu menjatuhkan pedang super besar tipe satu. Padahal pedang tersebut memiliki panjang sembilan meter dengan berat 4000 pound.
Bayangkan jika sebagai manusia kerdil mengangkat pedang seberat itu, tentu tidak akan mampu. Ras raksasa sungguh luar biasa.
Pedang tipe satu hanya tersebar di wilayah timur laut. Pedang yang asli tentu hanya bisa dipegang orang blasteran Arimp dan Pedral. Pedang yang dibawa Hanzes seratus persen asli. Bahkan, wilayah selatan yang dijuluki Rantai Besi atau pusat senjata, tidak mampu membuat pedang raksasa seperti milik Hanzes.
__ADS_1
Hanya tukang pedang legendaris yang membuat semua pedang itu. Ini mengarah kembali pada sejarah di Pulau Suin. Semua tipe pedang yang hebat itu muncul dari satu orang.
Dikisahkan, ketika perburuan mulai ramai, banyak senjata dibuat. Ada seorang pria yang diyakini sebagai pembuat pedang pertama. Pria itu bernama Dolt. Ia kemudian memiliki dua murid. Awalnya dua murid ini hanyalah membantu Dolt di bengkel pedangnya.
Lambat laun, dua murid ini mulai tertarik untuk membuat pedang sendiri dan membuka bengkel. Dolt lebih mencintai murid yang lebih muda, sehingga timbul rasa iri pada murid tertua.
Dua muridnya bersaing untuk membuat pedang terbaik, pedang raksasa tipe satu adalah buatan murid kedua, hanya ia yang bisa menggunakannya. Kemudian ia mengembara ke Benua Arimp, di sanalah ia memperbaiki pedang raksasa itu. Dengan kerja keras berhari-hari di bengkel pedangnya, murid kedua tidak pernah mengeluh. Alhasil pedang yang besar itu menjadi lebih sempurna sehingga bisa digunakan oleh Kaum Lanz.
Murid pertama tidak mau kalah, ia terus berusaha untuk melakukan yang terbaik. Sehingga lahirlah pedang tipe dua dan sangat ringan.
Untuk membuktikan pedang siapa yang terbaik, kedua murid Dolt sepakat untuk bertarung. Sayangnya, murid kedua mati di tangan murid pertama. Tidak hanya itu, murid pertama akhirnya menyesal lalu bunuh diri dengan pedang buatannya. Sang guru sangat bersedih karena dua muridnya tewas.
Akhirnya Dolt membuat 2 bilah pedang dengan ujung bergerigi. Pedang inilah yang disebut pedang tipe ketiga. Terdapat ukiran misterius pada pedang tersebut.
Sekarang pedang tipe tiga ini digunakan Arcansas, sedangkan satunya masih belum jelas keberadaanya. Di akhir hayatnya, Dolt meminta kakaknya untuk menuliskan sejarah pedang itu. Benar! Dolt mempunyai seorang kakak. Kakaknya bernama Nathus Samar, sedangkan Dolt bernama Dolthus Samar.
Semua perlahan terungkap. Kisah kakak beradik ini memberi peran penting dalam perkembangan zaman.
Nath adalah penemu huruf Nath, ia yang mengenalkan dunia tulis di kalangan orang Suin. Doth meminta kakaknya untuk mengabadikan kisah kedua muridnya serta sejarah pedang tipe ketiga.
Sejarah itu tertulis di dalam perkamen tua dan tersimpan di reruntuhan Kastil Dum. Mungkin Arcansas akan menemukan kebenaran tersebut, ataukah justru ia melewatkan sejarah ini? Mengingat Pulau Suin juga baru tersapu ombak akibat letusan Gunung Hiopi.
“Jika kalian tidak bisa diam, cambuk ini akan melilit leher kalian.” Firtos mengancam.
“Cih! Sekarang kau sombong sekali,” Hanzes menukas.
Akhirnya Tiir dan Hanzes tidak jadi bertarung. Mereka bungkam setelah melihat kemampuan Firtos. Tiir dan Hanzes memasang wajah masam dan jengkel.
Rapat bisa dilanjutkan, semua berkat pendekar bernama Firtos. Sosoknya benar-benar misterius. Apakah Firtos akan memberi kejutan lain? Cemeti yang ia bawa sepertinya sangat spesial.
__ADS_1