Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 34: King Arcansas


__ADS_3

Semua tercengang karena melihat Firtos jadi kerdil. Si kembar Wilson tak percaya dengan kejadian tersebut, apalagi Arcansas, dia hampir copot matanya. Batu Livinett hancur menjadi serpihan kecil.


Satu serpihan saja ukurannya sebesar genggaman tangan Firtos yang sudah menjadi kerdil. Tiba-tiba saja, hal aneh itu merebak, mengenai beberapa prajurit milik Arcansas.


Sampailah giliran Daz, ia menyusut. Ulvir justru berlari ke arah serpihan batu dan mengambilnya. Ia kabur dengan membawa serpihan batu tersebut, tapi kondisi tubuhnya belum menyusut. Secara bergantian tubuh-tubuh prajurit Arcansas menjadi seperti kurcaci.


Ulvir terus berlari menyusuri sungai, hutan, serta menempuh ribuan kilo. Ia terseok-seok, sesekali berhenti untuk istirahat. Serpihan batu yang ia pegang membuat wajahnya rusak, ia mengalami penyusutan tubuh lebih lamban. Diawali dari bagian jari tangannya yang menyusut satu-persatu.


Serigala miliknya menjadi sangat kecil, ia menginjak serigala tersebut karena hampir tak terlihat oleh matanya. Ulvir tiba di tepi pantai, ia menceburkan diri ke dalam Selat Krokalm. Apakah Ulvir ingin mati di lautan?


Sedangkan, pasukan Arcansas sudah menyusut semua. Mereka kabur dari medan perang. Livinett serta Raja Trill membiarkan Arcansas pergi.


Sudah dua minggu semenjak kejadian mengerikan tersebut. Arcansas tidak percaya bahwa batu itu justru membuat tubuhnya menjadi mini.


Waktu terus berlalu, hingga hal tak terduga muncul. Arcansas yang memiliki tubuh mini, menemukan ide menakjubkan. Ia membuat rencana penyerangan yang sangat cerdas. Arcansas beserta pasukan kerdil mengembangkan senjata tak terduga.


Panah miliknya yang sebelumnya dengan mudah ia gunakan, kini menjadi terlihat begitu besar. Arcansas menyimpan panah tersebut di perkemahan.


Raja Tril menganggap remeh Arcansas. Kini Arcansas telah kembali dengan kekuatan baru. Sebuah senjata yang memiliki daya hancur sangat kuat telah lahir.


Arcansas menciptakan senapan angin dengan peluru yang mempu menumbangkan raksasa. Tidak hanya itu, bola segenggam tangan juga tercipta, sebuah bola yang mampu menghancurkan tubuh raksasa. Arcansas jadi semakin cerdas semenjak tubuhnya menyusut.


Dalam mimpi terakhirnya, ia bertemu kembali dengan Hamlet. Kata Hamlet, kecerdasan itu akan terus ada hingga generasi berikutnya.


Bahkan, Arcansas dan pasukannya yang kerdil mampu menciptakan pembangkit listrik dengan memanfaatkan aliran sungai. Pengetahuan Arcansas makin bertambah, ia lebih cerdas dari Raja Trill dan pasukannya.


Perang kembali berkobar, Arcansas telah siap dengan rencana baru. Raja Trill sungguh tak menyangka, ketika Arcansas datang lagi untuk melakukan perlawanan. Dentuman, raungan, serta suara tembakan terdengar.


Pasukan raja telah hancur, banyak yang tewas. Hanya tinggal beberapa saja prajurit yang tersisa. Livinett murka, ia kesal dengan Arcansas. Pasukan kerjaaan yang berbadan besar bisa dibantai oleh pasukan kerdil milik Arcansas.


Ketika perang terjadi, rupanya dari balik bukit, Ulvir mengamati jalannya perang. Ia ternyata selamat dari lautan mengerikan itu. Tubuhnya tidak menjadi kerdil, wajahnya sungguh menyeramkan, karena rusak. Mungkin terkena efek dari serpihan batu ajaib itu. Ia melihat Arcansas yang terus berjuang merebut Pegalisch.


Ketika perang sampai puncaknya, Arcansas mendadak berteriak keras. Badai datang, dan dari atas muncul sebuah benda yang sangat besar. Ternyata itu adalah busur panah yang selalu digunakan Arcansas.


Wajahnya penuh kemurkaan, Arcansas menusuk perutnya. Ia berubah lagi menjadi raksasa. Semua terkejut melihat kekuatan yang dimiliki Arcansas. Ia langsung menyiapkan anak panah, lalu melontarkannya ke arah Raja Trill dan pasukannya.


Sang raja tewas seketika. Livinett menyaksikan dari atas istana. Ia marah bercampur sedih dan terus mengutuk Arcansas.


“Kalian tidak akan pernah mendapatkan kejayaan. Perang akan terus menghantui kalian, menderitalah selamanya tanpa akhir! Kutukan batu Livinett akan terus ada selama kalian tidak bisa mewujudkan kedamaian. Tak akan ada lagi batasan umur bagi pencuri batu milikku dan penghancur kerajaan!” teriak Livinett.


Ia sangat bersedih karena ayahnya tewas. Wanita itu ternyata tahu cara menggunakan kekuatan batu tersebut. Arcansas kembali menyusut, tangannya terbakar karena menggunakan busur panah.


“Menikahlah denganku! Kau tidak akan kusakiti, aku telah berhasil merebut tahta ayahmu!”

__ADS_1


 “Tidak! Aku lebih baik mati!”


Mendadak, Livinett terjun dari atas istana yang sangat tinggi. Ia melesat ke bawah, tubuh titannya berdebum keras. Kepalanya menyentuh tanah lebih dahulu, dan pecah seketika.


Arcansas terbelalak, sisa-sisa pasukan raja melarikan diri. Mereka kabur meninggalkan istana. Mungkin saja meninggalkan benua. Delapan pendekar juga ikut tewas! Ulvir justru merinding, ia berkeringat ketika melihat kekuatan Arcansas. Ulvir berlari, ia kembali lagi ke Selat Krokalm.


Berhari-hari ia melakukan perjalanan, lalu menceburkan diri ke laut, sampailah ia di Benua Tsandor. Tubuhnya sangat kelelahan, Ulvir merangkak, ia beristirahat di dalam gua. Apa yang akan ia lakukan di sana? Kenapa justru lari ketakutan. Tubuhnya tetap berukuran raksasa hingga sekarang, sungguh aneh. Jarinya yang menyusut juga sudah normal.


Arcansas makin terpuruk semenjak kematian Livinett. Ia murung dan menyalahkan dirinya. Sungguh mengejutkan, Arcansas memutuskan untuk menjadi orang baik dan adil memimpin benua itu. Ia sadar, tidak akan lagi bisa mengembalikan Livinett ke dunia.


Berita tentang jatuhnya kekuasaan ke tangan Arcansas telah sampai ke seluruh penjuru Pegalisch. Banyak yang memilih untuk tunduk padanya, tapi tidak sedikit juga yang memilih untuk meninggalkan benua.


Livinett yang cantik harus tewas mengenaskan karena ulah Arcansas. Lambat laun, Arcansas membangun Pegalisch menjadi lebih baik. Ia memerintah dengan sangat tegas.


Istana Cansas, itulah nama istana miliknya. Wilayah yang tadinya berjumlah sembilan, kini ia jadikan menjadi empat wilayah saja agar ukurannya lebih luas. Arcansas menamai dirinya sebagai King Arcansas.


Arcansas membuat persembunyian untuk mengembangkan sebuah penelitian. Ia memilih Kota Yiz. Lokasinya di dekat Pegunungan Aranos.


Ternyata ia rutin bertemu dengan Hamlet. Hamlet datang membantu Arcansas menyusun serta mengembangkan pemerintahan.


Kini Hamlet hilang secara misterius dan tak pernah lagi mendatangi Arcansas. Sebelumnya, ia sempat berpesan pada Arcansas untuk merahasiakan lokasi ruang bawah tanah tersebut.


Ruangan itu bisa bertahan hingga ribuan tahun lamanya, asalkan benua tidak hancur. Arcansas mulai kesepian, ia semakin gundah karena merasa ada yang kurang.


Sudah lama sejak perang berakhir, busur panah miliknya ia sembunyikan. Bahkan, si kembar dan prajurit lainnya tidak tahu letak busur panah tersebut. Panah pemberian Silav sangat berarti untuk Arcansas.


Lian menuliskan segala hal yang dilakukan Arcansas. Semua kegiatan serta berbagai kisah ia abadikan di dalam catatan. Si kembar Wilson telah bersumpah setia pada Arcansas untuk terus menjaga benua apapun yang terjadi.


Arcansas memiliki bayi laki-laki dari pernikahannya dengan Lian. Arcansas memberi nama bayi tersebut Realo. Benar, Pangeran Realo kelak akan menggantikan King Arcansas sebagai raja.


Akhirnya busur panah yang selama ini tak bernama, ia beri nama Panah Realo. Seperti nama putranya. Keberadaan busur panah itu seperti ditelan kegelapan, tidak ada yang tahu.


Kedamaian berlangsung cukup lama. Selama kepemimpinan Arcansas banyak yang hidup makmur di benua tersebut. Empat wilayah yang dibentuk oleh Arcansas hanya diberi nama wilayah timur, selatan, utara, dan barat.


Setelah 27 tahun menjadi raja, Arcansas tiba-tiba menghilang secara misterius. Tidak ada yang tahu ia ada di mana. Kini, Pangeran Realo yang telah dewasa, menikah dengan seorang wanita dari Kota Yiz. Realo memiliki empat orang anak. Mereka adalah Sandzelt, Cadzelt, Kyuzelt, dan Yazelt.


Kelak, nama-nama putra Realo akan menjadi nama empat wilayah di Pegalisch. Waktu terus berlalu. Kota Yiz yang berada di utara, dekat Pegunungan Aranos, diperluas dan berganti nama menjadi Kota Yiklaz.


Kaum yang menghuni wilayah Pegalisch masa ini adalah anak-anak Pangeran Realo. Bagian utara dihuni oleh mereka yang dikenal dengan nama Kaum Yazelt.


Sedangkan, jauh di timur, wilayah itu dihuni oleh Kaum Sandzelt. Bagian barat dihuni oleh Kaum Cadzelt, sedangkan bagian selatan dihuni Kaum Kyuzelt.


Jadi, semua kaum yang menghuni Pegalisch adalah keturunan King Arcansas. Sandzelt, Cadzelt, Kyuzelt, dan Yazelt adalah cucu Arcansas. Generasi terus berganti dan berkembang.

__ADS_1


Namun, ada hal yang aneh. Si kembar Wilson tetap abadi. Mereka berdua tidak mati sejak Arcansas menduduki benua tersebut. Bahkan, zaman telah berubah, si kembar tetap abadi.


Apa yang terjadi? 100 tahun berlalu, 200 tahun, 500 tahun, 1000 tahun, hingga 2000 tahun berlalu. Wilson tetap hidup dan wajah mereka tidak menua. Rambut mereka tetap berwarna pirang. Ada yang salah dengan semua ini.


Mereka bersembunyi di Hutan Lumbor. Sudah terlalu banyak kehidupan pahit yang ia lalui. Melihat orang-orang mati, kelahiran, kejahatan, dan banyak hal lainnya. Sampailah ia pada zaman yang sudah sangat jauh dai masa Arcansas.


Zaman ketika senjata menjadi semakin canggih. Seperti Kaum Lemuria yang dahulu memiliki kecanggihan. Kini ada satu kaum keturuanan Arcansas yang sangat cerdas. Mereka adalah orang-orang Yazelt.


“Lihatlah. Aku tak menyangka akan ada benda sehebat ini. Senjata kita zaman dahulu kalah maju. Kepalamu langsung meledak jika kutembak,” celetuk Fell.


“Diamlah. Kita harus mencari makan. Hutan ini jarang sekali dilalui orang. Jika ada yang lewat, kita curi semua makanan yang mereka bawa.”


“Iya. Aku tahu. Ini namanya pistol, kan? Orang yang kemarin kita sergap mengatakan ini adalah senjata hebat. Orang itu dari Yazelt katanya,” ucap Fell.


“Ya. Jelas itu hebat, zaman semakin canggih. Kita sudah tidak lagi berada di tahun 7000 Gerkach. Sekarang kita hidup di tahun 9000.” Sahut Daz dengan kesal karena mendengar ocehan adiknya.


Orang-orang Yazelt ternyata sangat cerdas. Perang mengerikan mungkin telah berakhir. Semoga saja kedamaian terus terjaga. Si kembar itu masih ada, apa mereka menjadi abadi karena kutukan batu Livinett 2000 tahun yang lalu? Mereka sudah hidup terlalu lama. Mungkin itu hukuman untuk mereka karena mengikuti Arcansas yang kejam.


Perang tidak ada yang indah. Putri Livinett tewas, dan akhirnya Lian yang mendapatkan hati Arcansas. Cinta memang tak bisa ditebak. Menentang langit, bengis, dan penuh ambisi, itulah Arcansas. Ia kini dikenang dengan sebutan King Arcansas. Raja terbaik dari segala raja pada 2000 tahun silam


 


 


 


Sekilas di masa depan. Tahun 9000 Gerkach.


Raungan Marco semakin keras, tubuhnya makin membesar hingga sebanding dengan tubuh titan milik Wilson. Anak Suci sedikit mundur dan bersiaga. Dari atas langit, sesuatu terlihat jatuh menuju ke arah Marco.


Wilson menunjuk benda yang meluncur ke bawah itu.


“Lihatlah. Seperti yang kuduga, ternyata keajaiban ada di pihak kita.” Wilson meloncat dan tertawa gembira, “itu adalah panah legendaris milik King Arcansas dari 2000 tahun silam, Panah Realo!”


Seluruh orang yang mendengar ucapan Wilson kaget bukan kepalang, terutama Tinos. Dia tidak menyangka Marco bisa berubah menjadi raksasa juga. Ternyata Daz dan Fell tidak berbohong jika dahulu seluruh leluhurnya bertubuh raksasa.


Busur yang lengkap dengan anak panahnya telah jatuh di hadapan Marco. Dengan perlahan, Marco bangkit dari tanah dan mengambil panah itu. Panah yang begitu besar dan kokoh, panah klasik namun memiliki energi tersendiri.


Anak Suci terbelalak matanya menatap apa yang baru saja jatuh. Kain yang menutupi sebagian wajahnya terlepas, sehingga terlihat wajah asli Anak Suci. Dia tahu, panah itu adalah panah yang digunakan untuk menguasai Pegalisch oleh Arcansas. Wilson terkejut saat melihat wajah Anak Suci....


Daz Wilson dan Fell Wilson kini bisa mengenali Anak Suci. Marco semakin berapi-api, dia lalu menyiapkan anak panah yang baru didapatnya. Panah Realo yang mampu membunuh 1000 raksasa dalam sekali tembak. Para titan dari Tsandor mulai berkumpul menjadi satu di belakang pemimpin mereka.


Anak Suci mengeluarkan jurus yang sangat aneh. Marco pun telah siap melepaskan anak panahnya dari busur. Slash! Anak panah melesat .... badai semakin besar ketika anak panah diluncurkan. Tangan Marco terbakar karena panah yang dia pegang begitu dahsyat. Wilson tidak menyangka, Marco bisa menggunakan panah itu....

__ADS_1


Protocol 9!


Keabadian adalah kesengsaraan. Livinett berlanjut ke Part II


__ADS_2