Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 28: Livinett dan Lian


__ADS_3

Ketika hari mulai gelap, perapian telah dinyalakan. Para prajurit berpesta untuk merayakan kemenangan. Kemenangan yang menjadi pembuka untuk langkah selanjutnya. Arcansas sangat yakin bisa menguasai Benua Pegalisch dalam waktu dekat.


Ia seakan lupa dengan mimpi yang menghantuinya, tentang bangsa misterius bernama Lemuria. Akankah Arcansas bisa mewujudkan semua keinginannya? Seperti apa Lemuria itu dan apakah tempat bernama Bumi benar adanya? Mungkin jawaban segera mendekati Arcansas.


Ulvir dan si kembar sempat bertanya pada Firtos. Kenapa Firtos memilih berkhianat dan bergabung dengan Arcansas. Ternyata tidak ada alasan selain untuk balas budi. Firtos meyakini kalau Arcansas pernah membantu melawan Liobo.


Ketika malam semakin larut, banyak prajurit yang sudah terlelap. Lian masih sibuk membereskan sisa makanan di dapur umum. Tenda untuk dapur lebih besar, berada di bawah tebing.


Deretan pegunungan seolah memberi segalanya untuk mereka. Mulai dari air, makanan hingga udara yang segar. Lian selesai dengan kesibukannya. Ia dan para koki lain mulai membersihkan diri masing-masing.


Kain tebal yang dikenakan Lian mulai kumal. Ia berencana mengambil baju yang lain di dalam tenda besar tempat Livinett dikurung. Arcansas sudah terlelap bersama si kembar Wilson. Hanya beberapa prajurit yang berjaga di dekat tumpukan kayu.


Kobaran api unggun masih menyala di beberapa titik, ada titan wanita yang tidur dengan posisi aneh, ia tidur menungging. Siapa lagi kalau bukan Filiora. Prajurit pria yang tadi menguntitnya terlihat di dekat wanita itu. Dua pria itu terkekeh dan memandangi tubuh Filiora yang sintal.


Lian masuk ke dalam tenda, Livinett meringkuk di dalam kegelapan. Dengan cahaya obor, Lian mengambil balok kayu lalu duduk di dekat Livinett. Mereka terpisah jeruji besi.


Livinett membuka mata lalu memandang ke arah wanita itu.


“Sudah kau habiskan makananmu, Tuan Putri?” tanya Lian.


Livinett tak menyahut. Lian menarik napas. Ia merasa kasihan melihat keadaan putri tersebut. Hanya karena perang, ia jadi menderita.


“Izinkan aku berbicara denganmu—kalau berkenan.”


Tetap hening, Livinett tidak menyahut. Ia seperti kehabisan semua tenaganya. Bahkan untuk membuka mulut saja tak mampu.


“Aku tahu ini menyakitkan, tetapi kau harus kuat. Arcansas pasti membebaskanmu.”


Lian terus saja berbicara. Ia tak peduli apakah Livinett mendengarkannya atau tidak.


“Jangan melihat Arcansas sebagai penjahat. Meski dia suka kasar, tapi hatinya memiliki sisi baik. Dia pasti tidak akan menyakitimu.”


Livinett langsung bangun. Ia menatap Lian dengan penasaran. Kenapa ada wanita yang mengatakan Arcansas adalah orang baik.


“Apa maksudmu?” akhirnya Livinett bersuara.


“Tidak—maksudku—masih ada sisi baik, dia punya itu.”


“Kenapa kau berbicara seolah dia orang baik. Aku tak mengerti—sungguh.”


“Arcansas pernah menolongku yang hampir mati—dia mengobatiku.”

__ADS_1


“Aku tidak paham dengan ucapanmu. Jika dia orang baik kenapa mengobarkan perang dan membunuh banyak orang tak berdosa.”


Lian jadi terdiam ketika mendengar pertanyaan Livinett. Dua wanita itu sedang membahas sosok pria kejam bernama Arcansas.


“Dengar—mungkin ini seperti mencari pembelaan. Cobalah dari dua sisi untuk menilai tentangnya.”


“Dari sisi mana yang kau inginkan. Dia itu hanya penjahat—”


“Apa kau mencintainya?” celetuk Lian.


Livinett tidak paham dengan pertanyaan wanita itu. Kenapa Lian tiba-tiba masuk dan mengajak Livinett berbicara.


“Kau sangat cantik, Putri Livinett. Percayalah—tidak sepertiku.”


“Hei. Apa yang kau bicarakan? Siapa namamu?” tanya Livinett.


“Namaku Lian”


“Lian—apa kau mencintai pria itu? Aku tahu dari sorot matamu.”


Lian langsung terkejut. Ia tak menyangka kalau Livinett akan membalikkan kata-kata yang tadi diucapkan Lian sendiri. Sepertinya Livinett curiga dengan tingkah Lian yang menunjukkan kalau ia memiliki perasaan pada Arcansas.


Lian memerah wajahnya, ia memalingkan muka. “Tidak. Aku—hanya—”


“Apa kau akan menerima Arcansas? Untuk—menikahi....”


“Tidak!” Livinett memotong ucapan Lian. “Jangan berpikir yang aneh-aneh. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku membenci dia!”


“Kenapa bisa? Apa sudah tak bisa lagi untuk dimaafkan? Bagaimana jika kalian bisa berdamai, dan menghentikan perang. Mungkin—Arcansas akan menuruti ide tersebut.”


“Mana mungkin dia mau berdamai. Hatinya telah dikuasai kegelapan dan hawa nafsu semata.”


“Baik—tidurlah, Tuan Putri. Jika butuh sesuatu, kau bisa meminta bantuanku.”


“Terima kasih.”


Lian meninggalkan tenda tersebut. Penjaga yang berada di depan pintu tenda juga terlelap sangat nyenyak. Hanya tawa kecil yang terdengar dari perapian di dekat tiang pancang yang kokoh. Tiang itu menguatkan menara pandang, dua titan berada di atas. Mereka melambaikan tangan ke bawah.


Sepertinya sedang bergurau, tidak ada penyusup yang datang. Kondisi perkemahan itu bisa tenang hingga pagi. Lian berjalan menuju tendanya yang berdampingan dengan tenda milik Livinett dikurung.


Arcansas tidur pulas, ia seperti tak peduli dengan keadaan sekitar. Tetapi, ia tiba-tiba menunjukkan mimik wajah yang sangat tidak mengenakkan untuk dipandang. Ia bergerak ke sana-sini, menendang tumpukan kayu di dekatnya, sesekali mengerang.

__ADS_1


Ia tidur telentang, berguling, lalu berputar seperti baling-baling. Untung tidak di dalam tenda, jika di dalam tenda, sudah pasti tendanya ambruk.


Rupanya bukan kebiasaannya, dia sepertinya sedang bermimpi aneh. Napasnya semakin cepat, seperti orang yang terkena asma. Tangannya mengepal, kaki menendang-nendang. Keningnya berkerut, keringat dingin mengalir di wajahnya. Apakah ia sedang mimpi buruk?


 


 


Arcansas mengejang, menggeliat seperti cacing. Napasnya memburu, bibirnya berdecut mirip bayi yang sedang menyusu pada ibunya. Awan-gemawan tampak menutupi bintang.


Tangannya menggenggam erat. Urat di lengannya menampakkan wujud seperti barisan cacing berwana hijau. Angin bertiup kencang, pohon di sekitar meliuk-liuk.


Arcansas terbangun. Dadanya kembang-kempis. Arcansas memandangi sekeliling, ia tampak bingung. Semua tempat terasa asing baginya. Di sisi kanan terdapat sebuah tebing yang sangat tinggi. Arcansas melongok ke kiri, rupanya ada sebuah jurang yang sangat dalam.


“Hoi!”


Arcansas berteriak, suaranya bergema, seperti terperangkap dalam ruang hampa nan cekung lalu dipantulkan kembali menuju telinganya. Suara gaung dari teriakannya masih samar terdengar sebelum ia selesai menarik napas untuk kedua kalinya.


Diam sejenak, batu-batu besar tampak di bawah tebing, rumput lebat, juga sebuah jalan setapak nan kecil. Apa ia berada di Pegunungan Aranos? Arcansas tampak berpikir, sepertinya ia berada di kaki gunung.


Memang jurang yang ada di kirinya tampak gelap, dalam dan sempit. Namun, saat ia menatap jauh ke depan, masih ada lagi dinding miring yang mengapit Arcansas.


Ia berada di sebuah lembah, merasa yakin bahwa ia memang terjebak di ngarai, ia segera mundur beberapa langkah. Ia memasang telinga baik-baik, matanya menatap tajam ke arah tenggara, ada sungai di bawahnya, semakin yakin kalau dia memang berada di antara dua tebing.


Di bawah memang terdapat ngarai yang lebih dalam dengan aliran air yang deras. Apa-apaan semua itu, kenapa kondisi itu seperti undakan bersusun yang semakin menjorok ke bawah.


Mungkinkah itu lembah yang menjadi pintu penghubung untuk menuju dunia kematian? Lembah yang berada di antara tebing itu serasa beku, Arcansas merapatkan pakaiannya. Mulutnya mengeluarkan uap, seperti sedang mengemut salju. Asap-asap kecil ikut menari tatkala Arcansas mengembuskan napas.


Tebing yang miring terlihat seperti sebuah capit kepiting. Siap menjepit Arcansas yang sedang berdiri di antara dua tebing itu.


Tebing tersebut lebih tinggi daripada ukuran tubuh Arcansas. Sangat tinggi, bahkan tidak mungkin bisa didaki. Arcansas tak mampu melompat untuk sampai ke atas.


Dia tampak seperti semut yang berada di bawah pohon raksasa. Tubuhnya seolah tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan tebing besar itu.


Seumpama ia terjun ke bawah, juga rasanya sangat dalam. Mungkin ia akan melayang-layang cukup lama sebelum akhirnya tercebur ke sungai. Saking dalamnya, pasti perlu ribuan anak tangga untuk menuruninya.


“Apa ada orang di sini?!”


Arcansas kembali berteriak, segera gaung terdengar kembali. Hanya ada dirinya, tidak ada siapa-siapa di dasar lembah itu. Jurang yang berada di bawah sepertinya hasil retakan ketika tebing itu terbelah. Sungai besar itu juga lebih mirip sebuah cekungan tanah yang terisi air dan mengalir deras ke arah timur.


Arcansas...

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara bisikan, suara itu seperti berada di dalam kepala Arcansas. Bisikan yang memanggil namanya, entah berasal dari mana. Arcansas langsung waspada, ia menoleh ke kiri-kanan, tidak ada siapa-siapa. Ia mendongak, hanya ada langit gelap yang sangat tinggi.


__ADS_2