Legenda Putri Batu Livinett

Legenda Putri Batu Livinett
Chapter 7: Pijakan


__ADS_3

Yeah!!!” Teriakan keras keluar dari mulut Daz. “Mati kau paman berperut buncit!” Daz menghunuskan pedangnya.


“Sebentar! Jangan bunuh aku. Kumohon!”


Bion memelas, ia sangat takut dan gemetaran. Kenapa ia justru memohon kepada musuh? Padahal ia termasuk orang yang tidak akan menyerah dan merendahkan harga dirinya di hadapan lawan.


Ada yang tidak beres. Fell menyadari hal itu. Mungkin saja Bion hanya berusaha mengalihkan perhatian untuk menyerang Daz secara licik. Fell berteriak keras untuk memperingatkan Daz.


“Jangan tertipu! Dia pasti mempunyai rencana licik!”


Daz langsung menghunuskan pedangnya kembali.


“Tidak! Aku tidak akan melakukan hal licik,” ucap Bion.


“Lalu kenapa kau menyerah?”


“Ampuni diriku. Aku belum menikah.”


“Kau mau mati masih memikirkan pernikahan? Tidak ada ampun untuk musuh. Aku harus menjalankan tugas dari Tuan Arcansas.”


“Bagaimana kalau aku bergabung dengan kalian? Biarkan aku melayani Tuanmu.”


“Tidak! Aku tak akan tertipu olehmu. Pasti kau orang yang licik!”


“Aku akan setia pada Tuan Arcansas. Tentu ada wanita cantik dari Suin, kan? Siapa tahu aku bisa menikahinya satu.”


“Tidak! Pantas saja kau tidak punya istri. Kau suka bermain tahi kerbau. Lebih baik kubunuh sekarang.”


Perdebatan alot terjadi di antara mereka berdua. Fell telah memisahkan diri setelah sebelumnya mereka mengeroyok Bion. Fell kini menghadapi raksasa abnormal dari pasukan musuh. Fell sangat lincah dalam setiap gerakan. Kali ini mereka memilih menggunakan senjata pedang. Biasanya mereka akan menggunakan panah seperti Arcansas.

__ADS_1


Bertahun-tahun senjata panah telah menjadi andalan yang selalu digunakan Arcansas. Baik dalam berburu atau melawan musuh yang mengganggunya. Ia sangat terkenal di kalangan orang timur.


Arcansas memiliki rambut yang hitam sedikit kemerahan, hal itu yang membuatnya dijuluki Singa Merah. Selain beringas dan suka berbuat kasar, ia juga ditakuti karena suka menyiksa tawanannya.


Arcansas akan mempermainkan siapa saja musuhnya yang berhasil tertangkap. Dikurung bersama serigala atau dimasukkan ke dalam kobaran api. Arcansas juga tidak segan menyiksa anak kecil yang kedapatan mengusik ketenangannya. Ini adalah kebrutalan yang tidak bisa dicontoh. Karena ia sungguh kejam pada siapa saja.


Julukan Singa Merah dari Suin melekat pada dirinya dan memberi predikat sebagai orang paling kejam di abadnya. Seolah dunia harus tunduk kepada Arcansas. Memang, sangat menyenangkan bila kita disegani, tapi menindas yang lemah sangatlah tidak terpuji.


Bagi insan yang tak punya kekayaan dan hanya memiliki rasa cinta di dalam hatinya, pasti akan merasakan kepedihan jika harus menghadapi Arcansas.


Kegelapan menyebar ke seluruh pembuluh darah, menggoyahkan keyakinan yang kokoh karena perbuatan keji, itulah yang ingin ditunjukkan Arcansas. Teriakan ketakutan dan kepedihan adalah kepuasan bagi Arcansas.


Arcansas bangkit lalu memandang ke depan. Salah satu prajuritnya berlari tergopoh-gopoh menggetarkan tanah yang ia pijak. Mungkin binatang kecil yang ada di tanah berteriak minta tolong karena diinjak oleh kaki-kaki jumbo.


Mayat semakin banyak bergelimpangan. Burung gagak mulai berdatangan dan mengitari area pertempuran. Bau amis darah membuat bulu hidung bergoyang-goyang. Perang bukan hanya dilakukan untuk merebut kekuasaan, tetapi juga untuk merebut sang putri.


“Tuan! Kami sudah berhasil membobol dinding yang menuju kamar sang putri.”


“Benarkah? Aku segera ke sana,” jawab Arcansas.


Ia berjalan menuju medan perang yang berantakan. Potongan tangan, mayat tanpa kepala dengan anak panah di dadanya, ada juga mayat yang matanya tertancap pedang. Semua hanya pemandangan mayat yang makin menumpuk. Bangkai para prajurit yang gugur seolah tidak ada harganya. Mereka hanya sebagai pijakan untuk sampai ke puncak.


Kenapa Arcansas berada di posisi paling belakang dalam perang? Ia masih menerapkan prinsip kepemimpinan dengan mencontoh kawanan serigala. Serigala-serigala yang berjalan bergerombol memiliki sebuah formasi unik. Biasanya pemimpin serigala akan berada di barisan paling belakang. Ia akan melindungi kawanannya dari bahaya.


Arcansas melangkahkan kaki memasuki Istana Pedral. Ia menuju tempat Putri Livinett berada. Penjagaan di depan pintu sangat ketat, ada prajurit berjumlah 9 orang, berbadan kekar lengkap dengan senjata.


“Hentikan langkahmu! Jangan coba-coba mendekati kamar ini!” teriak salah satu penjaga.


Arcansas tetap melangkah. Ia mampu merobohkan prajurit yang berjumlah 9 orang dalam sekali serang. Sungguh dahsyat kekuatan yang dimiliki Singa Merah dari Suin.

__ADS_1


Pasti prajurit-prajurit itu adalah pilihan terbaik Raja Trill. Namun, saat berhadapan langsung dengan Arcansas mereka semua tidak ada apa-apanya. Tidak bisa dianggap remeh, kekuatan besar milik Arcansas sangat berbahaya.


Raja tidak tampak dari tadi, rupanya ia sedang ada keperluan lain. Arcansas dengan leluasa mendobrak pintu kamar yang tinggi itu. Ia langsung meringsek masuk untuk menemui Putri Livinett di dalam.


Raja Trill pasti sudah menyiapkan pengamanan terbaiknya. Rupanya ruangan itu kosong, hanyalah kamar tipuan untuk mengelabui Arcansas. Sekarang Arcansas geram karena merasa dipermainkan.


“Kenapa kosong?”


“Kami yakin kalau putri dibawa ke dalam kamar ini.”


“Bodoh! Cepat temukan keberadaannya. Jangan membuang-buang waktu atau kupenggal kepalamu.”


“B...baik, Tuan.”


Arcansas sangat kesal karena terkecoh oleh Raja. “Sialan si tua itu. Dia berani mempermainkanku, akan kuhabisi dia!”


Arcansas murka, ia menampakkan kekesalan yang luar biasa. Pipinya mengeras, gerahamnya bergemeletuk karena emosi yang meluap-luap. Ia mengepalkan tangan dan melangkah keluar kamar. Ada di mana si putri tersebut. Arcansas sudah tidak sabar ingin merebut batu permata misterius itu.


Hanya gara-gara sebuah batu, perang sampai dilancarkan Arcansas. Tujuannya tetap untuk menguasai Benua Pegalisch, tapi ia ingin memiliki batu tersebut terlebih dahulu. Kini ia sedang terlena dengan cerita tentang batu bernama Livinett. Padahal kekuatan batu itu hanya diceritakan secara turun-temurun.


Namun mau bagaimana lagi, sudah banyak yang mempercayainya. Dongeng, legenda, atau mitos sering menjelma menjadi racun yang sangat kuat sehingga mempengaruhi banyak kepercayaan. Terlepas dari semua itu, tergantung kita mau percaya atau tidak.


Menggenggam bara api, tentu akan dilakukan oleh Arcansas untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Meski tangan harus bengkak, kulitnya terkelupas, sudah tidak ia pedulikan lagi. Mungkin itu perumpamaan yang tepat untuknya. Karena haus kekuasaan ia menjadi buta, ambisi di dalam dirinya meronta dan tak bisa dibendung lagi.


Sepuluh menit kemudian anak buah Arcansas berhasil menemukan lokasi Putri Livinett. Daz dan Fell sudah selesai membereskan pasukan di bawah. Si kembar lalu menyusul tuan mereka ke istana bagian atas.


Raja Trill sampai sekarang tidak menunjukkan batang hidungnya. Mungkin saja beliau sudah bunuh diri karena takut dengan Arcansas. Sepertinya itu tidak mungkin dilakukan oleh Raja Trill. Ia adalah lelaki dengan keteguhan hati yang kuat seperti baja. Beliau takkan mudah menyerah, apa lagi memberikan kekuasaannya begitu saja kepada Arcansas yang bar-bar.


Sebagai raja, beliau harus bisa memilih keputusan yang terbaik demi kelangsungan kerajaan dan masyarakatnya.

__ADS_1


__ADS_2