
Hamparan bunga dan berbagai sayuran bermekaran menghiasai ladang milik Tn. Franky. Terlihat dua bocah sedang berlarian sambil menarik seekor kambing. Mereka tampak ceria seolah tidak memiliki beban hidup. Dua anak kecil itu berumur 9 tahun, tapi bukan saudara kandung. Tidak ada ikatan darah dalam diri mereka. Karena mereka berdua adalah anak yatim piatu yang diadopsi dari panti asuhan di Kota Narb, selatan Kota Yiklaz. Kedua bocah itu dirawat oleh Tn. Franky dan istrinya.
Ladang tempat mereka bermain juga milik keluarga Tn. Franky. Dia dulu belajar berkebun dari temannya yang asli Cadzelt. Franky muda berteman dengan seorang anak dari wilayah barat yang terkenal pandai mengolah tanah serta ahli bangunan. Kemudian, setelah itu dia belajar mencari bibit tanaman yang bagus dari orang-orang Sandzelt. Karena mereka ahli botani dan mengerti macam-macam makanan yang bergizi. Dari ilmu yang telah ia dapat, kini Tn. Franky mengaplikasikannya di ladang miliknya.
“Tink, Garben! Kemarilah, sudah waktunya makan siang! Kalian tambatkan dulu kambing itu di batang pohon!” Teriak Tn. Franky.
“Aku belum lapar, Frank! Tink sepertinya yang sudah kelaparan!” jawab bocah berkulit gelap bernama Garben.
“Tidak! Aku juga belum lapar!” tukas bocah satunya yang bernama Tink.
Tn. Franky mengepalkan tangannya sambil melotot ke arah mereka. Akhirnya Garben dan Tink menurut lalu segera mengambil makan siangnya. Mereka begitu lahap menyantap makanan yang tersaji. Garben makan begitu banyak, dia memang paling kuat kalau disuruh menghabiskan semua makanan. Namun, tubuhnya tetap kurus kering.
“Jangan habiskan daging itu, sisakan untukku,” ucap Tink.
“Cepat ambil. Kalau tidak, akan aku makan,” sahut Garben.
“Makanan yang kupegang saja belum habis.”
“Sudah makanlah, jangan ribut. Kalau kurang, nanti bisa memasak lagi,” tukas Tn. Franky.
Akhirnya dua bocah itu tenang dan menikmati makanannya kembali. Setelah selesai, mereka meneguk minuman lalu melepas pakaian mereka. Sambil mengelus perut yang penuh dengan makanan, Garben bersandar di kursinya. Tink hanya melirik dengan wajah sinis melihat kelakuan Garben.
“Frank, kenapa kau tidak membuat kolam?” celetuk Garben.
__ADS_1
“Kolam? Kurasa tidak perlu. Memangnya akan kau gunakan untuk apa kalau memiliki kolam?”
“Untuk memandikan Tink yang bau badan.”
“Enak saja! Badanku tidak bau. Kau yang harus selalu mencuci mulutmu. Bau tidak sedap selalu ke luar dari mulut rakusmu itu,” sergah Tink.
Mereka selalu saja berdebat tentang hal-hal sepele. Tn. Franky mencoba melerai mereka. Telinganya sudah kebal dengan keributan yang selalu dibuat oleh dua bocah itu. Beruntung mereka selalu takut dengan kepalan tangan Tn. Franky. Meski sering berbuat onar dan suka mengambil makanan milik tetangganya dan berakhir kejar-kejaran sampai malam. Dua bocah tersebut sudah sangat dekat dengan Tn. Franky seperti anak kandung sendiri.
***
“Sungguh indah kenangan kita! Kenapa kau pergi secepat ini, Tink.”
Garben duduk di atas batang kayu sambil menatap api unggun di depannya. Dia membayangkan kenangan masa kecilnya bersama Tink. Masa kecil yang begitu menyenangkan. Meski lahir dari orang tua berbeda, namun ikatan mereka melebihi saudara kandung. Mereka sama-sama yatim piatu dan tidak mengenal siapa orang tua kandung aslinya.
“Hatiku belum bisa menerima kenyataan pahit ini.”
“Aku tahu itu, tapi kau jangan larut dalam kesedihan. Kalau kau terus bersedih, Tink pasti akan menertawaimu,” Derpaz berusaha menghibur.
“Bicara apa kau ini.”
“Hanya mencoba membuatmu tertawa. Ngomong-ngomong, seberapa kuatkah Anak Suci itu?”
__ADS_1
“Aku tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Kekuatannya sangat dahsyat.”
“Begitu. Baiklah, ayo bergabung dengan anak baru bernama Marco itu. Dia benar-benar berjasa kali ini. Karena strateginya, korban dari pihak kita tidak begitu banyak.”
Mereka mendekat ke arah Marco yang sedang minum bersama Sil dan lainnya. Luiz terlihat sudah mabuk berat, bicaranya nglantur tingkat sumur, begitu dalam. Dia juga menggoda perawat cantik yang sedang bertugas. Reil dan Papilon sedang sibuk membersihkan busur mereka, sesekali menenggak minuman dan bersenandung lirih.
“Ada berapa korban yang terluka serta tewas dari pihak kita?” tanya Derpaz.
“Sekitar 1502 korban luka ringan, 211 luka berat, dan 328 orang yang telah diketahui tewas,” jawab Sil.
“Begitu. Beruntung kita tidak kehilangan anggota lebih banyak.”
Mereka berbincang sambil sesekali berbuat usil. Semua pemuda itu tidak ada yang mengetahui bahwa Marco dari masa depan. Semua menganggap Marco dari tahun yang sama dengan mereka. Meski mencari asal-usul rekan ketika situasi perang sangat penting untuk menghindari penyusup, tampaknya Marco tidak mengundang kecurigaan sedikit pun, sehingga dia begitu disukai oleh rekannya. Hanya orang-orang di laboratorium yang mengetahui dari mana Marco berasal.
Malam semakin larut, angin menembus pori-pori. Kobaran api unggun sudah tidak terlalu besar. Tenda-tenda mulai sunyi karena banyak prajurit dan perawat yang sudah terlelap. Langit tampak cerah, ribuan bintang bertaburan di angkasa. Suara mendengkur, orang mengigau, terdengar dari beberapa tenda. Marco masih terjaga, dia sama sekali belum mengantuk. Ketika dirinya hanyut dalam perenungannya, dia membayangkan tahun yang ia tinggali sekarang. Siapa orang misterius yang bergabung dengan Marco kemarin? Sepertinya dia bernafsu sekali ikut berperang. Rambutnya sebahu dan kehebatannya sungguh dahsyat. Itu yang dipikirkan Marco sambil meremas busur panahnya yang tadi tersandar di sampingnya.
Kaum Trovolta tampak belum mengerahkan seluruh kekuatannya, meski mereka sudah menyempurnakan zirah yang dicuri dari Yazelt. Tampaknya mereka sengaja bermain-main untuk mencari kesenangan semata. Tubuh mereka lebih unggul dan memiliki armada tempur yang begitu hebat. Kalau dipikir-pikir, mereka seperti menginjak-injak harga diri Kaum Yazelt.
Selain cerdas, para keturuan King Arcansas juga memiliki harga diri yang sangat tinggi. Mereka tidak mau direndahkan dan dihina seenaknya. Mungkin tipe mereka adalah tipe manusia perfeksionis. Jadi, kalau ada yang berani merendahkan harga diri Kaum Yazelt atau pun keturunan King Arcansas yang lain, baik di wilayah barat, timur, utara dan selatan, siap-siap untuk ribut. Mereka sangat cinta kedamaian, asalkan jangan pernah mengusik mereka. Terlebih lagi jika kalian berani menghina dan menghancurkan harga diri orang-orang di Benua Pegalisch. Mereka tidak segan untuk melawan dan melakukan kekerasan. Jangan anggap remeh orang bertubuh pendek.
Pengorbanan masih belum berhenti. Harta, waktu, nyawa, dan keluarga, semuanya dipertaruhkan untuk mencapai kemenangan. Sebelum perang ini berakhir, kesengsaraan akan terus meliputi hari-hari orang kerdil itu. Semoga ada jalan untuk mengakhiri penindasan kejam yang dilakukan oleh Kaum Trovolta.
__ADS_1
Kisah Protocol 9 berlanjut di Noveltoon dengan judul Protocol 9, bisa cek profil akun saya di NOveltoon.