
Nada sudah tak sanggup lagi.dia benar benar sangat merindukan pria itu.pria yang selalu ada saat ia butuhkan.pria yang selalu memperhatikan nya setiap hari.kini,baru beberapa jam saja tanpa dihubungi olehnya membuat Nada kalang kabut.rasanya tak sama seperti mendapat penolakan dari barra.Nada merasa berada jauh dari Vicky membuat hatinya merasa sungguh tak tenang.apakah dia benar benar telah jatuh cinta pada pria itu.
Nada berusaha bangun dari tempat tidur nya.kepalanya terasa pening.diraihnya gelas di atas mejanya.diteguk nya sampai minuman di dalamnya habis.
Nada lalu beranjak keluar kamar karena mendengar suara ketukan pintu dari luar."Itu pasti barra."batin nya.
"Selamat sore,perkenalkan..saya temannya pak barra.tadi beliau menelepon saya mengatakan bahwa saya disuruh datang kemari untuk memeriksa kondisi anda."dokter itu tersenyum di ambang pintu.
"mari silahkan masuk..."ucap Nada mempersilahkan dokter itu masuk.
setelah memeriksa Nada,dokter itu pun berpamitan untuk pulang.Nada merasa sangat kesepian sekarang.di rumah sebesar ini,hanya ada dirinya seorang.Nada dan barra memang enggan mempekerjakan seorang asisten rumah tangga.karena Nada ingin mengurus sendiri rumah nya itu.tiba tiba bayangan Vicky kembali hadir di fikiran Nada."Andai saja dia di sini."gumam nya.lalu Nada mencoba menghubungi nomor Vicky.tidak diangkat."ah sial..."Nada gusar,dibantingnya handphone nya di lantai.
__ADS_1
sementara itu,di restaurant.
Barra dan Vania sedang asyik makan berdua.tiba tiba mereka dikejutkan oleh suara seseorang.
"Mama...mama...aku kangen...."terlihat seorang anak kecil yang menggemaskan berlari ke arah Vania sambil memeluknya.
"Sayang...kamu di sini.mama juga kangen banget sama kamu.."sambil mencium pipi anak itu bergantian kanan dan kiri.di dudukannya anak itu di pangkuan nya.
"Mama lagi sibuk sayang.Agnes kan juga sekolah..mama janji besok mama akan mampir ke sekolahan agnes deh."ucap Vania mengelus rambut agnes.anak itu pun mengangguk.sambil memeluk Vania kembali.
Barra yang masih kaget tak percaya dengan apa yang dia lihat."Mama...anak ini memanggil Vania mama."batin nya.dilihatnya Vania begitu akrab dengan gadis kecil itu."Apakah Vania sudah menikah?dan ini anak nya?"Barra masih tak bisa berkata kata.
__ADS_1
Sementar itu Zidan yang sedari tadi memperhatikan Vania dan Barra merasa tidak enak akan tingkah anaknya itu.dihampirinya meja Barra dan Vania.
"Sayang..ayo kita pulang.katanya mau ke toko beli es krim."ucap Zidan sambil meraih agnes dari pangkuan Vania.gadis kecil itu pun bersorak kegirangan."Yey...es krim."Ucap agnes senang.
"Apa kabar mas..lama ga bertemu."Zidan mengulurkan tangan pada Barra.namun uluran itu tak tersambut.Barra yang merasa kaget dan cemburu melihat Zidan menggendong anak itu membuat hatinya bertanya tanya."Jadi Vania menikah dengan Zidan.dan ini anak mereka."dada Barra terasa sesak.Sementara Vania mulai merasa tak nyaman akan sikap barra pada Zidan.
Zidan yang merasa kehadirannya tak diharapkan segera berpamitan."Aku balik dulu yah Van.."sambil mengulurkan tangan pada Vania.Zidan merasa barra tak menyukai kedatangan nya.yang mungkin mengganggu makan mereka berdua.
"Iya mas..hati hati ya..dah agnes..."sambil mencium pipi gadis kecil itu.lalu melambaikan tangan pada Zidan dan agnes yang pergi dari restaurant itu.
sementara Zidan,pergi dengan hati yang sedikit sesak."Jadi mereka balikan."batin nya
__ADS_1