
Hari ini sesuai dengan apa yang ia janjikan pada Nada,Barra mengantar wanita itu untuk menemui kekasihnya di Bandung.Mereka berdua mengendarai mobil warna hitam,membelah keramaian kota Jakarta sampai akhirnya mereka tiba di Bandung sore hari.
Sesampainya di depan rumah Vicky,Nada segera mengetuk pintu rumah itu.sampai akhirnya keluar sesosok laki laki yang selama ini dia rindukan.Nada segera berhambur memeluk lelaki itu.Seakan enggan melepasnya,matanya terisak.memendam kerinduan yang teramat sangat.Vicky juga merasakan hal yang sama.dia selalu menunggu kedatangan Nada,seperti yang dia janjikan sebelumnya.Bahwa dia akan menunggu Nada bersama anak mereka yang kini berada di kandungan nya.
"Silahkan masuk mas..."Vicky mengulurkan tangannya.menyambut Barra yang masih berdiri di dekat mobil.Barra segera menyambut uluran tangan itu.sebuah senyuman tersungging di bibir nya.
"Akhirnya...setelah penantian berhari hari.Dia mulai sadar akan perasaannya ya mas..."Ucap Vicky pada Barra sambil menatap wanita yang baru saja masuk ke rumahnya.
"Dia itu cinta banget sama elo.cuma kemarin kemarin belum nyadar aja.masih mikirin ego nya."Ucap barra santai.Lalu Vicky mengajak ke dua nya memasuki rumah itu.
Barra duduk di sebuah kursi kayu.terlihat ukiran indah di setiap sisi nya.Barra melihat sekeliling,terlihat Nada yang sibuk membuatkan minuman di dapur,dibantu dengan Vicky tentunya.terlihat sesekali Vicky menggodanya yang membuat mereka tertawa bersama sama.
"Ah..Van,andai kamu juga ada di sini sekarang.melihat kebahagiaan mereka."gumam Barra.Tiba tiba saja dia teringat akan Vania.Barra lalu mengeluarkan ponselnya.dihubungi nya nomor Vania.
"Assalammualaikum..."
"Waalaikum salam...lagi apa Van?"
"Nih lagi di depan aja mas.habis nganterin Agnes.barusan dia main ke sini..mas Barra lagi apa?"
__ADS_1
"Lagi mikirin kamu...kangen."
"Ish...mulai deh.."
"Beneran...aku kangen."
"Udah ah,aku tutup nih teleponnya..."
"Jangan dong..gitu aja ngambeg.nih aku lagi di rumah Vicky di Bandung.anterin Nada ke sana."
"oh...jadi sama mbak Nada."
"Iya..anterin dia ke rumah kekasihnya."
"Vicky itu pacarnya Nada..."
"Eh..tunggu,ini gimana sih..kok ceritanya jadi gini?"
"Udah..entar aku ceritain.tapi ga lewat telfon...aku tutup dulu ya Van...love you."
__ADS_1
"Tapi mas...."
"Mmuach...."panggilan telepon pun berakhir.Barra memandangi layar handphone nya sambil tersenyum simpul.sementara di ujung telepon,Vania masih bingung dengan ucapan Barra barusan.
"Maaf ya mas..lama bikinin nya."Ucap Nada sambil meletakkan tiga gelas minuman dan beberapa makanan ringan di meja.lalu segera menyusul duduk di sebelah Vicky.
"Makasih ya Barr..udah anterin Nada dengan selamat ke sini.jadi gimana kelanjutannya?"tanya Vicky menatap Barra.barra yang sudah tahu maksud pembicaraan Vicky segera menarik nafas dalam dalam.
"Besok aku akan hubungi pengacara.buat ngurus perceraian kami."Ucap Barra lega.dipandanginya wajah Nada di sebelahnya.Nada tersenyum ke arahnya.
"Makasih ya Barr..udah mau ngelepasin Nada buat aku."Ucap Vicky tulus.
"Santai aja.lagipula Nada cintanya sama kamu.jadi emang ini keputusan yang terbaik.semoga elo bisa buat Nada bahagia.ga kaya gue."Ucap Barra tegas.
"Pasti...pasti gue akan bahagia in dia..gue janji ga akan buat dia kecewa."Ucap Vicky sambil menggenggam tangan Nada.
"Trus gimana sama mama papa kita mas...?"Tanya Nada.
"Ga usah khawatir.aku yang akan jelasin semuanya ke mereka."Ucap Barra meyakinkan Nada.Wanita itu pun menggangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Besok kita ketemuan bertiga aja sama papa mama yank...kita jelasin semuanya.mereka pasti bakalan ngerti."Sambung Vicky pada Nada.Barra pun menyetujui usulan nya.
Setelah cukup lama mereka mengobrol,akhirnya Barra berpamitan pulang.Meninggalkan Nada bersama Vicky di rumahnya.