
Satria seketika berbalik arah dan berjalan cepat melihat si pengganggu yang datang sembari membawa bunga di tangan kanan dan sesuatu lagi entah apa di tangan kirinya. Ia harus cepat memberitahu Jihan agar tidak mendapat omelan karena pria itu pasti akan membuat mood bosnya menjadi buruk dan Ji pasti akan menudingnya karena tidak bisa mengatasi Jeff.
"Satria." Suara bariton itu menghentikan langkah Satria. Tubuhnya menegang hingga terasa kaku. Perlahan Ia membalikkan badan dan sudah mendapati pria karismatik itu tepat berada di depannya. "Calon istriku ada?" Tanya Jeff. "Bos sedang keluar." Jawab Satria pelan. Menelisik dari ekspresi dan betapa gugupnya sekertaris wanita pujaan membuat Jeff tak yakin. "Kamu jangan bohong. Jika sampai ketahuan bohong jangan salahkan aku untuk mematahkan lehermu." Ucapnya dengan penuh penekanan dan tatapan tajam. Satria tak bisa berbuat apa apa selain mengaku. "Ada di ruangannya." Jawab pria itu. "Bagus. Bersikaplah baik padaku. Itu akan menguntungkan mu." Jeff menepuk pundak Satria lalu melenggang pergi. "Sialan." Umpatnya menghembuskan napas yang sedaritadi ditahan. "Dasar setan." Lanjut pria itu menatap punggung Jeff yang menjauh.
"Mama." Panggil Jeff sembari memasuki ruangan Jihan. Manik mata pria itu menelisik setiap ruangan namun tidak ada siapapun. "Kurang ajar." Gerutunya merasa di permainkan oleh Satria. Ia meletakkan bunga dan paper bag yang di bawanya di meja kerja Jihan. Beberapa map tampak terbuka dengan pulpen yang terpisah menandakan Jihan belum lama pergi. Jeff melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat biasa wanita itu istirahat. Dibukanya pintu berwarna gelap itu lalu memasukkan kepalanya ke dalam. "Ma." Panggilnya seketika langsung diam saat melihat Jihan sedang berdoa dengan khusyu sembari masih mengenakan mukena. Jeff menutup pintu kembali memutuskan untuk menunggu di sofa.
__ADS_1
Senyuman seorang pria terbit tatkala sosok wanita cantik berjalan menuju ke arahnya. "Apa ini?" Tanya Jihan berhenti di dekat meja kerjanya saat melihat bunga mawar dan paper bag ada disana. "Bunga." Jawab Jeff. "Tau. Maksud aku ini." Tunjuknya pada tas berbahan kertas dengan warna hitam itu. "Kerudung. Aku tadi lihat bagus dan teringat Mama. Jadi aku beli." Jawabnya sumringah. "Kamu tidak ada kerjaan ya?" Heran Jihan karena daripada sibuk di kantor seperti pebisnis pada umumnya Jeff lebih sibuk mengganggunya. "Kan ada asisten Ma. Untuk apa repot repot. Mama kan juga kerjanya begitu." Bisa saja menjawab. Padahal sebelum kenal Jihan Ia bekerja tak kenal waktu bahkan sampai tidak pulang juga. "Makasih." Ucap Jihan singkat. "Sama sama. Ma, hari ini mama longgar nggak? Temani aku ambil raport Jordan ya. Ini baru pertama kalinya jadi aku tidak tau." Jihan mengernyitkan kening menatap pria di depannya. "Iya. Biasanya Bibi yang ambil." Jelas pria itu untuk meyakinkan.
Jihan dan Jeff sudah sampai di sekolah Jordan setelah menjemput Juma. Wanita itu turun menggandeng tangan putranya diikuti Jeff yang menyusul lalu jalan di samping keduanya. "Jordan kelas apa?" Tanya Jihan. "Nggak tau juga." Jawabnya membuat wanita itu berdecak. Jihan menghampiri salah satu guru yang sedang duduk di bangku lorong sekolah. Ia langsung menanyakan kelas Jordan yang ternyata ada di lantai dua.
Selesai mengambil raport mereka singgah di restoran Jihan untuk makan siang. "Lihat nilai kamu banyak yang merah." Ucap Jeff memperhatikan raport anaknya. "Ya berproses pa. Yang merah kan sudah kurang lima." Jawab remaja itu yang sedang makan bersama Juma di suapi Jihan. "Udah sih. Nanti di perbaiki lagi. Makan dulu. Keburu dingin." Jeff tersenyum. Bagai mendapat sebongkah berlian. Ia begitu bahagia mendapat secuil perhatian dari Jihan. "Mau yang itu. Suapi dong Ma." Ucapnya membuat Jihan mendelik. Bisa bisanya Jeff begitu. Dasar tidak tau malu. Sambil menggerutu dalam hati Jihan terpaksa menyuapi pria itu.
__ADS_1
Sore hari waktu Jihan di khususkan untuk keluarga. Wanita itu mengobrol bersama anak anak dan Papanya di taman. "Juma jangan terlalu ke pinggir nanti jatuh." Tegurnya melihat Si bungsu yang berdiri di tepian kolam air mancur. Tak menjawab Ia berlari menghampiri dan memeluk Ibunya. "Pohon jambu airnya berbuah deh Ma. Kapan matengnya ?" Tanya Julian. "Itu sudah bisa dimakan. Sudah enak." Jawab Jaffan. "Ayo petik." Ajak Jason. "Nggak usah manjat ada semutnya. Pakai galah saja. Minta sama pak Bon." Mereka mengangguk lalu bergegas pergi.
"Manis." Ucap Jalwa makan jambu yang di petik kakaknya. "Papa nggak mau Pa?" Tawar Jihan. "Nggak ah. Kalian aja." Jawab Pria paruh baya itu. "Kapan kapan liburan yuk Ma." Ajak Julian. "Kemana?" Tanya Jihan. "Yang dekat dekat saja di asia tenggara." Jawabnya. "Ya. Nanti kalian cari hari libur sama negara yang mau di kunjungi. Mama akan siapkan tiket kalau sudah deal." Kata Jihan. "Makasih Bu." Jaffan langsung memeluk sang Ibu diikuti saudara yang lain.
Buat yang gabut nunggu up monggo di lirik novel sebelah ya. "Ku Renggut Mahkota Sahabat putriku."
__ADS_1
No pelakor. Jalan pintas di tempuh Ansel untuk membuat gadis yang di cintainya selalu berada di sisi. Bikin geregetan tapi bukan karna konflik perselingkuhan. Menceritakan perjuangan pria untuk meluluhkan sang istri yang terlanjur membencinya karena hal fatal yang telah Ia lakukan.