
Pagi Hari.
Jeff berjalan dengan wajah datar dan aura dinginnya diikuti beberapa orang di belakang. Para karyawannya berbaris dengan rapi sambil menyapa untuk menyambut kedatangan Sang CEO. Langkah tegap Jeff berbelok menghampiri sosok wanita yang berdiri di antara karyawan yang lainnya. "Sebutkan peraturan karyawan di kantor ini " Ucapnya begitu tegas. Wanita itu dengan takut takut sambil menunduk mulai menyebutkan peraturan karyawan satu per satu. "Tau kesalahan kamu?" Tanyanya. "Tau Pak." Jawabnya pelan. "Peraturan kantor ini rok wanita di larang di atas lutut. Kenapa kamu pakai ini? Mau bekerja atau menggoda?" Mulut pedas Jeff mulai beraksi. "Maaf Pak. Rok saya masih basah." Jeff mengangkat tangannya menandakan tidak menerima alasan. "Pakai celana bisa. Kamu mau bekerja atau menggoda memperlihatkan paha kamu itu. Ganti sekarang juga." Wanita itu mengangguk kemudian buru buru mengundurkan diri.
__ADS_1
Will memasuki ruangan bosnya. Pria itu duduk di sofa tanpa di persilahkan. "Ada apa?" Tanya Jeff yang duduk santai sambil meletakkan kakinya di atas meja. "Perhiasan pesananmu sudah jadi. Mau di kemas bagaimana? Mereka menghubungiku." Ucap Will berdiri. Ia berjalan menuju kulkas untuk mengambil minuman dingin dam kembali lagi duduk di sofa. "Hubungi saja mereka untuk mengosongkan tempat. Aku akan kesana untuk memilih sendiri." Jawabnya langsung di tanggapi anggukan oleh Will. Pria itu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang sebelum bosnya mengamuk.
Jeff sampai di tempat Ia memesan perhiasan. Pria duduk sambil melipat kedua tangannya membiarkan beberapa orang mengambilkan kotak untuk dia pilih. Beberapa kotak sudah berjajar di depannya dengan berbagai pilihan warna. Jeff mencocokkan dengan perhiasan cantik yang sudah siap di depan mata. "Yang putih." Ucap Pria itu setelah sekian lama menimang nimang.
__ADS_1
Ketika Jihan duduk bergabung tiba tiba Jeff datang. Pria itu duduk berjongkok di depannya sambil memperlihatkan cincin indah dengan berlian cantik di tengah. "Will you marry Me?" Ucapnya sambil tersenyum menatap wajah cantik wanita di depannya yang memasang ekspresi kebingungan. Semua ini seakan jebakan atau bagaimana? Jihan hanyut dalam pikirannya sendiri bertanya tanya dalam hati. Ia bimbang dan tak tau harus menjawab apa. Wanita itu memejamkan mata teringat dengan pesan suaminya beberapa hari yang lalu. Memang benar anak anak butuh sosok Ayah dan Jeff kadidat utama karena telah dekat dengan mereka. 'Apa ini mau kamu Mas.' Batinnya dalam hati. Ia menarik napas dalam dalam dan menghembuskan nya perhalah. "Bismillah. Yes I Will." Jawabnya langsung mendapat tepuk tangan dari orang orang. "But...." Ucap Jihan membuat suasana hening seketika. "Kamu harus mendapat restu dari anak anak." Tuturnya. "Sudah kami restui Bu." Jawab Jaffan. "Juma juga." Sahut bocah tampan itu sembari menatap Ibunya dengan mata berbinar. "Orang tua aku. Papa, Ayah dan Bunda." Ia mencari yang lain. "Sudah." Sebuah suara datang dari pintu utama. "Sudah kami restui nak." Jawab Ayah sembari mengulas senyum. "Jordan?" Jihan menyipitkan matanya. "Of course Jordan pasti setuju Ma." Jawab remaja itu cepat. "Mari menikah. Sekarang." Ajak Jeff membuat calon istrinya membulatkan mata. Bisa bisanya pria itu berkata seenak jidat harus menikah sekarang. "Menikah itu bukan perkara mudah. Kamu butuh persiapan dan lain sebagainya." Jawab Jihan.
Jihan duduk berdampingan dengan Jeff. Karena pria itu bahkan sudah menyiapkan segalanya. Ayah Jihan dan Jeff sedang berjabat tangan untuk ijab qobul. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Jihan Faradina Al Rasyid dengan mas kawin 3 set perhiasan dari 3 jenis logam mulia dan seluruh harta yang engkau miliki di bayar tunai." Ucap Ayah Jihan membuat semuanya terkejut dengan mas kawin yang di berikan oleh Jeff. "Saya terima nikah dan kawinnya Jihan Faradina Al Rasyid dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Jawab Jeff dalam satu tarikan napas. "Sah." Ucap para saksi. Jihan mencium tangan suaminya di balas ciuman lembut oleh pria itu. "Stop." Ia membungkam mulut Jeff yang hendak menautkan bibir. "Bukan budaya sini. Jangan sembarangan kamu." Lirihnya sambil melepaskan tangan dari mulut sang suami. "Maaf Ma." Ucap Jeff sambil tersenyum membuat semua orang tergelak.
__ADS_1