Lembaran Baru Hidupku

Lembaran Baru Hidupku
Mama


__ADS_3

Yang lama masih tahap revisi ya....


Moon maap atas ketidaknyamanannya. Author sudah lapor ke platform untuk menghapus beberapa episode.


Masih ingat betul peristiwa yang menyayat hati. Dua tahun lalu di kala subuh pukul setengah lima. Riza sudah berdiri untuk menjadi imam di musholla tempat biasa untuk sholat bersama. Pria itu berkata untuk merapatkan shaft kemudian tersenyum dengan pandangan lurus ke Jihan yang berada di shaft belakang dan di balas senyuman oleh wanita itu pula.

__ADS_1


Satu rakaat telah usai berlanjut ke rakaat kedua. Di kala sujud terakhir tak ada kata lagi yang terucap untuk duduk. Setelah menunggu cukup lama semuanya duduk tanpa di perintah oleh imam dan dengan jelas mereka masih melihat Riza dengan posisi sujud. "Ayah." Ucap Jaffan terkejut saat tubuh ayahnya terguling dalam keadaan tidak bernyawa.


Semuanya terpukul atas kejadian itu. Sang Imam meninggalkan mereka tanpa pesan apapun. Jihan tak bisa berkata apa apa. Pria yang selama ini mengisi hatinya telah tiada untuk selamanya. Ia menangis, meraung sembari memeluk putra bungsunya. Bukan hanya menjanda namun anak anaknya juga telah menjadi yatim sekarang.


Jihan sangat terpukul. Bahkan wanita itu tak mau makan dan keadaannya memburuk dengan berpulangnya Riza. Butuh waktu satu setengah tahun untuk menata hidupnya kembali. Bukan perkara yang mudah menerima kepergian orang yang begitu Ia cintai. Semuanya butuh proses dan perjuangan. Karena anak Ia bangkit dan karna anak pula lah Ia bertahan.

__ADS_1


Jaffan meraih tubuh adiknya dan di dudukkan di kursi. "Mau pakai apa?" Tanya Jihan yang menyiapkan makan untuk putranya. "Nasi goreng pakai nugget." Jawab Juma. "Ok." Jihan mengangguk bergegas menyiapkan sesuai keinginan anaknya. "Mama ke kantor?" Tanya Julian. "Iya. Mama ada janji sama Om Satria." Jawabnya sambil duduk. "Kalau kamu pulang nanti belikan Papa mie ayam ya." Ucap pria paruh baya itu membuat Jihan tersedak. "Pela pelan Bu." Ucap Jalwa memberi minum. "Papa kenapa tiba tiba pengen mie?" Tanyanya heran. "Pengen aja." Ia tersenyum menatap putrinya.


Jihan dalam perjalanan menuju kantor. Wanita itu membelokkan mobilnya karena melihat sosok yang begitu familiar tengah di gandeng oleh seorang polisi. "Jordan." Panggil Jihan yang baru keluar dari mobil. "Mama." Pekik remaja itu langsung memeluknya. "Anda Mamanya?" Tanya polisi. "Ah iya." Jawab Jihan agak kesulitan. "Mari ikut kami ke kantor." Wanita itu mengangguk segera kembali ke mobilnya.


"Dasar pembuat onar." Gerutu Jeff memasuki kantor polisi. Ia terpaksa membatalkan meeting karena mendapat telpon dari Jihan bahwa anaknya sedang bermasalah. "Kenapa lagi kamu?" Tanyanya menghampiri Jordan yang duduk sambil memeluk Jihan. "Putra bapak?" Tanya salah seorang polisi mempersilahkan Jeff untuk duduk. "Iya Pak. Kenapa lagi dia?" Tanyanya tak sabaran. "Anak bapak membolos, mengendarai mobil tanpa ada SIM, STNK, dan bahkan tanda pengenal pun tak ada. Dia juga melanggar lampu merah." Jawab polisi itu menjelaskan. "Masukkan ke sel saja Pak." Ucap Jeff membuat semua yang ada di sana terkejut tak terkecuali Jihan. "Saya nggak mau ribet ngurus kenakalan anak ini. Masukkan ke sel atau bapak apakan terserah." Lanjutnya. "Papa." Keluh Jordan mengguncangkan lengan Papanya. "Ma." Ia beralih ke Jihan karena tidak mendapat respon. "Di selesaikan dengan baik baik Pak. Lagipula Jordan masih di bawah umur jadi tidak mungkin di sel kan? Saya akan bayar denda." Ucap Jihan meminta untuk jalur damai.

__ADS_1


Jeff masih berada di parkiran. Pria itu menatap tajam putranya yang sedang memeluk Jihan. "Berulah lagi kamu." Ucapnya kesal. Ia membuka tas Jeff dan mengambil dompet remaja itu. "Mulai sekarang Papa nggak kasih uang jajan ke kamu. Minta bekal Bibi. Nggak ada lagi main kemana mana." Tegasnya. "Pa. Masa nggak ada uang sama sekali. Gimana nanti Jordan ke kantin?" Keluhnya. "Kan Papa sudah bilang kalau minta bekal Bibi. Lagipula kamu jam 12 sudah pulang. Yang bikin lama kamu nggak pulang pulang itu kelayapan." Jawab Jeff kesal. "Pulang kamu. Supir sudah jemput." Lanjutnya. "Mau pulang sama Mama." Ia mengeratkan pelukannya ke Jihan. "Pulang." Tegasnya tak mungkin di bantah lagi. "Love you Ma." Ucap Jef mengecup pipi Jihan kemudian bergegas pergi.


"Maaf merepotkan kamu Ma." Kata Jeff membuat Jihan melotot. "Kamu panggil aku apa?" Tanyanya. "Ma. Sama seperti Jordan." Jawab Pria itu tersenyum. "Jangan sembarangan kamu." Kesal Jihan. "Kenapa sih Ma? Kalau marah begitu malah bikin gemas." Ucapnya menggoda. "Astagfirullah. Ada ya orang kaya kamu." Ia bergegas pergi kemudian masuk ke mobilnya. "Mama." Gumam Jeff tersenyum menatap mobil Jihan yang meninggalkan parkiran.


__ADS_2