Lembaran Baru Hidupku

Lembaran Baru Hidupku
Maaf Aku Egois


__ADS_3

Jeff menyandarkan kepala sang istri di dada bidangnya sambil mengusap lembut lengan wanita itu. "Mama mau makan apa?" Ia menawari barangkali Jihan menginginkan sesuatu. "Enggak lagi pengen apa apa." Jawab nya pelan. "Jangan terlalu larut kesedihan Ma. Ikhlaskan. Mama kalau begini terus bisa sakit." Tutur Jeff. "Makan ya. Papa siapin." Ia membujuk karena sedari pagi istrinya belum makan. "Iya." Jawab Jihan membuat suaminya bergegas.


"Ada yang bisa kami bantu Pak?" Tanya Bibi melihat kedatangan suami majikannya. "Tolong siapkan makan ya. Saya mau buat susu dingin." Jawab Jeff sembari mengambil gelas dan kotak susu dari lemari. Seperti biasa Ia menambahkan beberapa es batu sesuai permintaan istrinya.


Jeff makan berdua sambil menyuapi istrinya. "Jangan pakai brokoli Pa." Keluh Jihan. "Iya. Maaf." Jawabnya menyingkirkan sayuran yang ada di piring. Pria itu kembali menyuapi lagi istrinya tanpa sayuran. Semenjak di tinggal Papanya sang istri begitu sulit makan bahkan sulit tidur juga. Saat tengah malam Jihan sering menangis. Ini membuat Jeff khawatir. Ia takut Jihan akan sakit jika terus seperti ini.

__ADS_1


Selesai makan Jeff mengajak istrinya jalan jalan di taman belakang agar rileks. "Mama capek?" Tanyanya di jawab gelengan lemah. "Kalau capek bilang ya Ma." Ia berucap lagi dan di jawab anggukan oleh sang istri. Jihan begitu irit bicara membuat Jeff sedikit terganggu. Wanita itu hanya akan merespon dengan gelengan atau anggukan dan sangat jarang berbicara ketika tidak terlalu penting.


"Ma. Papa mau bicara sama Mama." Ucap Jeff menggenggam tangan istrinya. Keduanya kini sedang duduk bersama di bangku taman. "Ma, Papa tau Mama sedih. Papa pernah merasakan juga rasanya kehilangan seperti apa. Mama sedih boleh tapi jangan abaikan Papa dan anak anak. Kami melihat Mama seperti ini sangat sedih Ma. Kalau Mama sedih masih ada kami. Beda dengan Papa dulu yang kehilangan seluruh keluarga Papa nggak ada yang bisa dibuat sandaran lagi. Ma, Mama jangan seperti ini terus. Selain bahaya untuk kesehatan Mama juga pikirkan anak anak kita." Ungkap Jeff panjang lebar membuat istrinya terisak. "Maaf aku egois." Jihan meluapkan tangisan dalam dekapan suaminya. "Tidak. Mama tidak egois. Mama hanya perlu waktu. Papa tau semua begitu berat. Namun jangan juga terlalu larut dalam kesedihan. Sudah, sekarang jangan menangis. Papa nggak suka." Ia mengusap air mata istrinya lalu mengecup bibir dan kedua mata wanita itu.


Jihan baru selesai mandi. Wanita itu sudah cantik dengan gamisnya. "Mandi Pa. Bajunya sudah siap." Ucap wanita itu menghampiri suaminya yang masih bercengkrama dengan Juma. "Iya. Makasih Ma. Papa mau mandi dulu Boy." Pamit Jeff mengecup kening anak dan istrinya.

__ADS_1


Jihan bersama Juma menghampiri Dika dan Jordan yang sedang sibuk dengan kelinci di halaman belakang. "Mau eskrim nggak?" Tawar wanita itu. "Mau." Jawab keduanya kompak bergegas berlari menghampiri Ibu dan adiknya. Jihan kemudian menyuapi kedua putranya setelah mereka duduk. "Pakai sendok juma saja." Bocah tampan itu memberikan sendoknya pada Jordan. "Makasih. Tumben." Jawabnya dengan senang hati. "Ibu suapi Juma. Kak Jordan suapi kan Dika." Jihan tersenyum ternyata ada udang di balik batu. Juma memberikan sendoknya pada Jordan tak lain dan tak bukan karena ingin disuapi sang Ibu. "Dasar licik." Dika mengacak acak rambut adiknya membuat bocah tampan itu sebal.


Malam hari acara pengajian dan peringatan tujuh hari kematian Papa sudah selesai. Semua tamu sudah pulang hanya menyisakan sahabat Jihan saja. "Ada apa sih kalian ribut mulu?" Tegur Jaffan melihat Juma dan Jordan yang berdebat. "Nggak." Jawab bocah tampan itu ikut duduk bersama Ibunya. "Sudah aku masukin Kok." Ucap Dika yang baru datang. "Kelinci lagi?" Tanya Carissa di jawab anggukan. "Jual aja Ji kalau pada ribut. Atau di sate enak." Celetuk Satria. "Bilang apa? Kamu aku sate mau." Sahut Jeff membuat pria itu langsung minta maaf. "Hehe Maaf Pak." Ucapnya sambil cengengesan.


"Kak aku pulang dulu ya." Ucap Mark memeluk kakaknya. "Iya hati hati." Jawab Jihan. "Kami pulang kak." Zulfa ikut memeluk iparnya. Jihan mengangguk kemudian memberikan ciuman dan pelukan pada kedua ponakannya. "Biar Papa yang antar." Ucap Jeff tak mengizinkan istrinya beranjak.

__ADS_1


"Tolong jaga kak Jihan ya." Pesan Mark sebelum memasuki mobil. "Tanpa kamu suruh aku akan menjaganya dengan baik. Jangan khawatir tentang itu." Jawab Jeff dengan tegas. "Baiklah. Kami pulang Kak." Ucapnya bergegas masuk ke mobil. "Dia pikir bisa hidup enak dari siapa?" Gumam Jeff melihat kepergian iparnya. Ia tau semua. Bukan Jihan yang bercerita namum Ia mengorek info dari sahabat sang istri. Hatinya juga ikut sakit mendengar cerita dari Satria atas perlakuan Mark yang mengakibatkan hubungan Jihan dan adiknya pernah menjauh dulu.


"Mau nggak Ma?" Julian datang bersama kembaran dan adik perempuannya ikut duduk bergabung. "Apaan nih?" Tanya Jihan melihat makanan yang di bawa putranya. "Asem asem kikil." Jawab Jason. "Mau coba deh." Belum juga tangannya memegang sendok Ia di tahan oleh suaminya yang baru datang. "Aman nggak?" Tanya pria itu memastikan. "Aman Pa. Nggak pedes kok." Jawab Jalwa. "Yaudah boleh." Putus Jeff. "Gimana Ma?" Tanya mereka. "Enak. Kenyal." Ucapnya sambil mengunyah.


__ADS_2