Lembaran Baru Hidupku

Lembaran Baru Hidupku
Cinta Yang Sama


__ADS_3

"Juma belum mandi juga." Jihan berkacak pinggang melihat anak bungsunya memasuki dapur masih dengan penampilan yang acak acakan. Tak menjawab, Bocah tampan itu malah tersenyum kemudian berjalan cepat memeluk sang Ibu. "Hehe. Kan libur Bu." Jawabnya masih melingkarkan tangan di pinggang Jihan. "Libur juga harus mandi dong. Atau mau Papa mandikan." Sahut Jeff menghampiri keduanya. "Nanti habis sarapan Juma mandi Pa." Ia tersenyum kemudian menggendong putranya dan mendudukkan di meja pantry lalu memberikan biscuit coklat dan susu dingin kesukaan Juma. "Kelincinya sudah diberi makan belum?" Tanya Jihan sambil menyajikan masakan yang sudah selesai ke dalam piring di bantu Jalwa. "Belum Bu. Orang Juma tadi subuh tidur lagi dan baru bangun sekarang." Jawab Jalwa. "Masih kenyang Bu. Semalam kan makan banyak." Sahut bocah tampan itu sibuk mengunyah. "Lihat perut kamu yang kecil ini muat banyak ya..." Ucap Jeff mengusap perut Juma membuat empunya tertawa kegelian.


"Akh panas." Jordan mengibaskan tangannya di depan mulut. "Di tiup dulu dong. Itu kan masih mengepul main di lahap aja." Ucap Kakek sambil tertawa. "Hehehe...Lupa Kek." Jawabnya setelah menelan makanan yang ada di dalam mulut. "Hari ini kalian ke Cafe?" Tanya Jihan pada putra putranya. "Iya Bu. Jordan sama Dika juga mau ikut bantu." Jawab Jaffan. "Pulangnya siang atau sore? Kalau sore Ibu siapkan bekal." Julian mengangguk. "Kita pulangnya sore Ma. Nanti kita bantu siapkan bekalnya."

__ADS_1


Selesai sarapan Jihan kembali lagi ke dapur untuk menyiapkan bekal untuk anak anak. Ia masak sesuai keinginan para putranya. "Jason tolong kotak bekalnya di siapin." Ucapnya langsung di laksanakan. Jalwa dan yang lain menata nasi dan lauk pauk setelah semuanya matang. "Di dinginkan dulu jangan langsung di tutup. Ibu mau mandi." Pamitnya bergegas pergi karena sudah sangat gerah.


Baru saja keluar dari walk in closet Jihan dikejutkan dengan pelukan hangat dari sang suami. "Anak anak sudah berangkat. Baru saja. Katanya sudah di telpon karyawan cafe makanya nggak sempat pamitan sama Mama." Jeff menghirup aroma istrinya yang begitu khas dan menenangkan. "Juma mana?" Tanyanya. "Lagi tiduran di kamar sambil ngemil." Ia tertawa kecil dengan tingkah putranya.

__ADS_1


Siang hari cuaca begitu terik. Jeff tersenyum saat memasuki kamar istrinya sudah tertidur pulas bersama Juma. Padahal baru saja Ia tinggal sebentar untuk mengambilkan strawbery untuk Jihan. Tak mau menganggu. Ia dengan perlahan menaiki ranjang dan ikut tidur siang bersama.


Jihan terbangun dari tidurnya. Wanita itu mendapati suami dan putranya masih pulas. Pelan pelan Ia menyingkirkan lengan Jeff dan Juma kemudian turun dari ranjang.

__ADS_1


"Jalwa nggak tidur?" Tanya Jihan menghampiri putrinya yang sedang berada di dapur. "Nggak bisa tidur Bu." Jawab gadis itu ikut duduk bersama sang Ibu. "Ibu. Jalwa mau cerita sesuatu." Ucapnya sembari menggenggam tangan Jihan. "Ada apa? Cerita saja kalau ada masalah." Jalwa menganggukkan kepala. Ia mulai menceritakan masalah dengan temannya. Kesalahpahaman yang terjadi karna Jalwa tidak merestui hubungan temannya dengan sang pacar. "Kan Jalwa cuman kasih tau kalau pacarnya itu bukan laki laki baik Bu. Dia juga pernah deketin Jalwa dan teman Jalwa yang lain lagi tapi dia nggak percaya. Dia malah ngatain Jalwa iri. Padahal kan enggak." Jihan tersenyum sambil mengusap tangan putrinya. "Kalau Jalwa sudah berkali kali kasih tau dan teman Jalwa tidak mau dengar biarkan. Nanti akan ada titik terangnya sendiri. Yang penting kan Jalwa sudah berusaha. Tinggal nanti lihat bagaimana ke depannya saja. Sudah, yang seperti itu jangan di ambil hati." Gadis itu mengangguk kemudian memeluk Ibunya. Ia merasa lega karena beban yang mengganjal di hati bisa lega dengan bercerita pada Sang Ibu. Beruntungnya memiliki Ibu seperti Jihan yang begitu pengertian, perhatian, dan selalu bisa menjadi teman curhat serta memecahkan masalah. Walaupun sudah ada pengganti sang Ayah pun sikap wanita itu masih sama kepada anak anaknya. Jihan tidak berlebihan mencintai suami barunya. Semua terbagi rata dan seimbang. Betapa bangga Jalwa memiliki Ibu seperti Wanita yang tengah dipeluknya.


__ADS_2