Lembaran Baru Hidupku

Lembaran Baru Hidupku
Boleh


__ADS_3

Jihan langsung menuju dapur setelah menyiapkan segala kebutuhan suami dan anak bungsunya. Anggota keluarga bertambah dan otomatis hidangan di meja juga harus di tambah porsinya. Setiap pagi Ia menyiapkan sarapan besar di bantu Bibi dan putrinya. "Hari ini sarapan pakai apa Bu?" Tanya anak gadisnya. "Masak nasi goreng aja ya." Jawabnya langsung di tanggapi anggukan oleh Jalwa.


Jeff terbangun dari tidurnya. Pria itu masih mengenakan baju koko. Setelah sholat subuh tadi Ia kembali tidur karena benar benar mengantuk. Otak cerdasnya kini sedang memikirkan sang istri. "Apa wanita itu tidak lelah dan mengantuk?" Pertanyaan itu berputar di benaknya. Bagaimana tidak, Jihan dari semalam Ia gempur habis habisan sampai menjelang subuh tadi baru mandi dan sholat. Dan sekarang wanita itu sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan. Benar benar istri yang luar biasa dan penuh tanggung jawab.

__ADS_1


"Kirain belum bangun." Ucap Jihan memasuki kamar melihat suaminya sedang duduk di tepian ranjang. Jeff tersenyum melihat wanita cantik dengan daster sederhana dan rambut diikat asal itu. Ia berdiri melangkahkan kaki lalu memeluk Jihan dengan erat. "Mandi sana. Ini sudah jam 6." Jeff menggeleng masih dalam posisi memeluk istrinya. "Papa nggak ke kantor Ma. Papa mau tidur siang sama Mama. Papa juga nggak kasih izin Mama buat ke kantor." Jawabnya. "Iya. Tapikan mandi dulu." Pria itu melepaskan pelukannya tiba tiba. Ia menangkup wajah sang istri dan mencium bibi mungil itu dengan penuh kelembutan. "Ayo mandi bareng." Dengan penuh semangat Ia menggendong tubuh ringan Jihan untuk diajak mandi bersama.


Semuanya sedang sarapan bersama. Jihan duduk makan bersama Juma setelah selesai mengambilkan makanan untuk suaminya. "Jeff. Kamu masih libur?" Tanya Papa. "Masih Pa. Beberapa hari ke depan masih ambil cuti." Jawab Pria itu sembari memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. "Papa antar kalian sekolah nanti." Lanjutnya. "Tidak dengan Ibu?" Tanya Juma karena biasanya di antar oleh Jihan. "Ibu libur dulu antar Juma. Gantian sama Papa ya. Papa kan belum pernah antar Juma sekolah." Jelasnya dan bocah tampan itu mengangguk setuju. "Ma. Jason pulangnya agak telat. Mau ke cafe dulu sama Julian juga." Ucapnya meminta izin. "Iya hati hati." Jawab wanita Jihan. "Ibu. Jaffan mau pake motor aja ke kampus." Kata remaja itu sembari memakan sarapannya dengan lahap. "Adek kamu gimana? Dia pakai gamis pasti ribet kalau di bonceng pakai motor." Jalwa menggeleng. "Nggak kok Bu. Jalwa bisa." Jihan menghela napas pasrah. "Hati hati. Jangan ngebut di jalan. Jangan lupa pakai helm juga." Pesannya.

__ADS_1


Juma duduk di samping Papanya yang sedang mengemudi. Kedua kakaknya yaitu Jordan dan Dika sudah diantar dan tinggal dia seorang. "Juma mau punya adek nggak?" Tanya Jeff. "Juma nggak mau adek." Jawabnya cepat. "Kenapa?" Jeff ingin tau alasan putranya. "Nanti kalau punya adek Ibu nggak sayang lagi sama Juma." Jawabnya. Ia tersnyum mendapat jawaban polos dari bocah tampan itu. "Mana mungkin Ibu tidak sayang sama Juma lagi. Buktinya ada saudara baru juga Juma tetap di sayang Ibu. Jadi Juma nggak perlu khawatir. Ada adik juga Juma tetap di sayang Ibu." Jelas Jeff panjang lebar. "Jadi Juma mau punya adek nggak? Papa pengen lo punya anak lagi. Boleh kan?" Bujuk Jeff. Juma menatap Papanya dengan lekat. "Boleh." Jawabnya sambil tersenyum. "Love you son." Ucap Jeff ketika mobil sudah berhenti. Ia mengusap kepala putranya dan mencium kening Juma dengan penuh kasih. "Love yo too Papa." Jawab Juma membalas ciuman lalu segera turun. Jeff yang telah memastikan anaknya benar benar masuk ke sekolah langsung melajukan mobilnya untuk pulang.


Jihan yang sedang tidur tiba tiba merasakan pelukan erat yang membuatnya seketika terbangun. "Sudah pulang." Ucap wanita itu. "Sudah." Jawab Jeff tersnyum kemudian mencium bibir sang istri. "Juma setuju punya adik Ma. Ayo kita buat." Jihan membelalakkan matanya menatap sang suami. Baru juga mau istirahat sudah disuruh bekerja lagi. "Bercanda. Paling benih yang tadi malam sedang berproses di sini. Mama istirahat saja." Tangan kekarnya mengelus lembut perut rata Jihan. "Gimana jadi Papa dari banyak anak? Enak?" Tanya Jihan mengalihkan topik pembahasan. "Enak. Papa bahagia punya banyak anak. Makannya Papa minta lagi." Jawabnya. Ia benar benar ingin memiliki anak dari rahim satu satunya wanita yang dicintai nya yang tak lain tak bukan adalah Jihan.

__ADS_1


Jeff memeluk istrinya. Ia mengusap punggung wanita itu dengan lembut agar tidur Jihan nyaman. Masih seperti mimpi rasanya. Kebahagian hati tak bisa diungkapkan lagi dengan kata kata. Sekarang dia disini dengan wanita yang begitu Ia cintai. Dalam lubuh hatinya Jeff berjanji akan membahagiakan Jihan dan membangun keluarga yang bahagia.


__ADS_2