
Jeff tergesa gesa memasuki rumah Jihan. "Ma." Ia menghampiri Jihan yang sedang duduk memangku Juma sembari mengobrol dengan yang lain. "Jordan nggak ada." Ucapnya kemudian ikut duduk. "Gimana bisa nggak ada?" Tanya Jihan ikut panik. "Semalam aku pulang jam 12 dari kantor. Aku pikir Jordan sudah tidur makannya aku juga langsung tidur. Tapi waktu sarapan pagi tadi nggak ada. Kata Bibi dari semalam memang Jordan pergi katanya sudah dapat izin dari aku makannya satpam bolehin dia pergi." Jelas Jeff. "Mungkin di rumah temannya Om." Jaffan menduga duga. "Kamu tau rumah temannya nggak?" Tanya Papa. "Enggak Om. Jeff sudah suruh orang cari tapi belum ada kabar juga." Jawabnya lemah.
Jeff mengemudikan mobilnya pelan sembari mengamati sekitar untuk mencari keberadaan Jordan. Ia sedang bersama Jihan sementara yang lain berpencar. "Masa kamu nggak tau teman Jordan sama sekali?" Tanya Jihan. "Enggak Ma." Jawabnya meskipun membuat Jihan kesal tapi wanita itu memilih untuk diam karena sedang genting. "Lurus. Sekitar dua kilometer belok ke kanan. Dika pasti ada disana." Ucap Jihan. Tanpa banyak bertanya Jeff langung melakukan sesuai dengan keinginan wanita itu.
__ADS_1
"Ayo sama Papa." Jeff meraih tubuh Juma agar pindah ke gendongannya. Bocah tampan itu tak banyak protes hanya diam menurut saja. "Jordan pasti ada disana." Kata Jihan sambil menatap beberapa remaja yang sedang asyik berkumpul. "Mama tau darimana?" Tanya Jeff membuatnya mendapat tatapan tajam. "Jordan pernah cerita." Jawabnya ketus kemudian bergegas pergi.
Mata Jordan membola melihat kedatangan Mama dan Papanya. "Jordan." Jeff dengan kesal memanggil putranya. "Mama." Ia tak menghiraukan Papanya langsung memeluk Jihan. "Kamu kenapa tidak pulang?" Tanya Jihan namun tidak mendapat jawaban.
__ADS_1
Jeff begitu kagum dengan cara Jihan mengatasi masalah. Alih alih dengan kemarahan wanita itu sangat lues dalam memberikan petuah baik dengan kata katanya yang lembut. Sikap juteknya seketika hilang di saat seperti ini. "Dulu Tante juga sering balapan liar seperti kalian." Kata Jihan membuat mereka memasang wajah terkejut. "Iya. Sampai sekarang koleksi motor tante masih ada di rumah." Lanjutnya meyakinkan. "Awal awal tante senang dapat banyak teman satu tongkrongan dengan hobi yang sama. Tante pulang malam setiap hari hanya untuk kumpul dan adu kecepatan di jalan. Namun lama kelamaan tante merasa semuanya salah. Banyak dari teman tante yang memberi pengaruh buruk seperti merokok, alkohol sampai *** bebas. Itu salah satu yang membuat tante akhirnya keluar. Sekarang mungkin kalian tidak. Tapi nanti lama kelamaan kalian kenal banyak orang yang mungkin lebih dewasa akan membawa kalian ke hal hal tersebut. Tante dua kali kecelakaan parah hingga hampir meninggal. Namun tuhan berbaik hati memberikan kesempatan Tante sampai sekarang. Jadi untuk kalian yang masih di tahap ini. Kalian masih muda, masih banyak yang harus kalian lakukan. Bersenang senang boleh. Melampiaskan kekesalan atas urusan hidup juga boleh. Tante juga mengalaminya. Kalian bisa alihkan ke hal yang lebih positif seperti skateboard, volley, basket, atau apapun itu kalau mau di dekat cafe tante ada nanti biar Jorda ajak ke sana gratis dan fasilitas lengkap. Ada yang harus kalian bahagiakan dan banggakan. Jika tidak ada orang tua minimal kalian bangga untuk diri sendiri. Jadilah pemuda baik dan sukses kedepannya." Ucap Jihan panjang di tanggapi anggukan. "Makasih Tante. Boleh peluk?" Jihan mengangguk sembari tersenyum membiarkan mereka memeluknya.
Jeff menggendong Juma yang tertidur pulas diikuti Jihan dan Jordan membawa makanan yang mereka beli tadi. "Jordan kamu kemana aja?" Tanya Julian langsung mendapat kode dari Mamanya untuk memelankan suara karena Juma sedang tidur. "Dari semalam menginap di rumah temannya." Jawab Jeff meletakkan Si bungsu dengan hati hati di sofa.
__ADS_1
"Ma." Panggil Jeff menghampiri Jihan yang sedang memberi makan ikan membuat wanita itu menghela napas. Sampai mulutnya berbusa pun sepertinya pria itu tak gentar sama sekali. Jihan lelah mengomel memilih untuk diam saja. "Terimakasih." Ucap jeff di tanggapi anggukan. "Kenapa cuek begitu sih Ma. Kalau sama anak anak tadi manis banget." Jeff mengeluh. "Apaan sih." Jihan menatap kesal hanya di tanggapi senyuman oleh pria di depannya. "I Love You Ma." Ucapnya sembari menatap Jihan wajah cantik Jihan dalam dalam.