
Jihan benar benar hanya berbaring di ranjang. Setelah bermaaf maafan dengan para pekerja rumahnya yang baru pulang Ia istirahat lagi. Tubuhnya begitu lemas karena menolak makan apapun kecuali susu dan buah. Jangankan makan mencium bau makanan saja Wanita itu bisa mual mual dan itu sangat menyiksa.
"Kamu nakal ya di dalam." Ucap Juma yang sedang berbaring sambil mengusap perut Ibunya. "Lihat, Ibu sakit karena kamu. Kamu buat Ibu muntah muntah dan tidak mau makan. Kalau kamu keluar kakak akan cubit kamu." Lanjutnya mengomel. Jeff tersenyum mendengar penuturan si bungsu. Jujur saja Ia bahagia namun melihat kondisi istrinya yang seperti ini juga ikut tersiksa. Jihan semakin kurus dan sering pingsan hingga dokter menyarankan untuk bed rest dan harus menggunakan infus. "Masa adek kalau lahir mau di cubit." Wanita itu mengulas senyuman di wajahnya yang pucat. "Iya. Soalnya nakal." Jawab Juma. "Nakalnya sebentar. Nanti nggak nakal lagi." Sahut Papanya. "Mama mau sesuatu?" Lanjutnya bertanya sembari mengusap lembut kepala sang istri. "Enggak. Lagi nggak pengen apa apa." Jeff menghela napas mendengar jawaban istrinya yang selalu sama. "Mama belum makan sesuatu. Baru minum susu saja. Mama butuh makan juga. Nanti malah sakit lo." Ucap pria itu dengan raut wajah khawatir.
Siang hari cuaca begitu terik. Jeff berserta anak anak menghampiri Jihan setelah sholat dhuhur berjamaah. "Kamu makan dong Sayang." Ucap Papa duduk di tepian ranjang mengusap kepala putrinya. "Mual Pa." Jawabnya pelan. "Minum susunya dulu ya Bu." Ucap Jaffan membawakan susu dingin untuk Ibunya. Jihan mengangguk. Wanita itu segera duduk dibantu suaminya. "Pelan pelan." Ucap Jeff langsung membantu sang istri untuk minum. "Aku bisa Pa." Jihan menyangga gelasnya sendiri lalu segera minum. "Makan buah ya Bu." Bujuk Jalwa. "Jalwa sudah bawakan masa Ibu nggak mau makan." Lanjutnya memelas. "Iya." Jawab Jihan sambil tersenyum kemudian langsung di suapi putrinnya.
__ADS_1
Selepas anak anak pergi Jeff menemani istrinya istirahat. Pria itu mengusap lembut perut Jihan. "Sampai kapan akan seperti ini? Papa nggak tega lihat mama tersiksa seperti ini." Ia begitu prihatin dengan kondisi sang istri. "Papa kenapa nangis?" Jihan merasakan pundaknya basah. "Papa benar benar nggak tega lihat Mama menderita seperti ini. Kalau boleh Papa yang gantikan. Semua sakit Mama kalau bisa biar Papa saja yang rasakan." Jawabnya sambil sesenggukan. "Apa sih Pa. Mama nggak masalah. Mama justru malah bersyukur karena bisa merasakan seperti ini. Banyak wanita di luar sana yang begitu menantikan momen hamil begini." Jihan mengusap lengan kekar suaminya untuk menenangkan. "Nanti juga segera baikan. Papa jangan khawatir." Lanjutnya sambil tersenyum.
"Mau kemana Ma?" Tanya Jeff yang baru keluar dari kamar mandi buru buru menghampiri istrinya yang sedang berjalan pelan sembari membawa selang infus. "Mau mandi." Jawab Jihan. "Kan bisa tunggu Papa. Kenapa bandel banget sih. Kalau jatuh gimana? Kan bahaya. Nggak usah mandi saja. Tadi pagi kan sudah mandi." Tuturnya setelah mengomel. "Mau mandi. Nggak enak gerah." Pria itu menghela napas pelan mendengar jawaban sang istri. "Yaudah ayo." Ia segera menggendong istrinya untuk dimandikan.
Jeff mulai menyabuni tubuh istrinya dengan lembut sembari menahan sesuatu yang bergejolak di tubuhnya. Kulit Jihan yang begitu halus dan tubuh moleknya yang terendam di bawah air mampu membangkitkan apa yang tadinya tidur. Yah tau sendiri kan jika Papa Jeff harus puasa karena kondisi Mama Jihan yang lemah. Tidak mungkin hasrastnya harus di salurkan mengingat kondisi yang istri yang demikian. Jeff tak mau menyakiti wanita cantik yang sedang Ia mandikan itu.
__ADS_1
Jihan sudah berada di ranjang lagi setelah sang suami mengganti bajunya. Sementara Jeff masih di kamar mandi untuk menenangkan jiwanya. "Ibu." Juma berlari namun seketika di hentikan oleh Kakaknya. "Jangan nakal." Ucap Jaffan dengan tegas. "Jalan yang baik." Lanjutnya lagi sembari melepaskan tangannya yang sedang memegang lengan Juma. "Iya." Bocah itu berjalan kesal menghampiri Ibunya. "Ibu." Dika tersenyum menghampiri wanita itu. "Kalian sudah mandi?" Tanyanya di jawab anggukan. "Papa mana Ma? Tumben nggak nempel sama Mama." Tanya Jordan ikut berbaring bersama Juma. "Lagi mandi." Jawab Jihan. "Mama mau makan apa?" Tawar Julian di jawab gelengan. "Masa nggak mau makan apa apa sih Ma." Keluh Jason khawatir. "Mau buah atau apa Jalwa ambilkan." Sahut gadis cantik itu sembari mengusap lengan sang Ibu. "Nggak usah." Jawabnya sembari tersenyum.
"Mama mau kemana?" Jason buru buru membantu Mamanya untuk duduk. "Mau ke balkon." Ucap Jihan dengan suara lemahnya. "Tapi kondisi Ibu begini." Jaffan khawatir. "Sebentar saja. Ibu mau angin angin." Jawabnya memohon. "Baiklah. Jangan lama lama." Ia dan Jason bergegas membantu ibunya berjalan sedangkan Jalwa membawa infus.
Jeff baru selesai mandi. Pria itu langsung melangkah menuju balkon karena pintu balkon terbuka dan istrinya sudah tidak ada di ranjang. "Kenapa keluar sih Ma. Istirahat aja kenapa sih." Ucapnya memberi kecupan lembut kemudian ikut duduk. "Pengap di kamar terus. Mau rasain angin sore." Jawabnya. Jeff menghela napas. Pengap? Apanya yang pengap? Pintu balkon dan semua jendela besar terbuka jadi sirkulasi udara bagus. Lalu pengapnya sebelah mana? Ia bertanya tanya dalam hati. Menyingkirkan pemikiran itu Ia menggenggam tangan istrinya sambil duduk bercengkrama bersama anak anak.
__ADS_1